Cerita Pendek

Nasi Orang Mati

: A. Warits Rovi - detikHot
Minggu, 19 Sep 2021 10:01 WIB
ilustrasi cerpen
IIustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Hosma meletakkan sepiring nasi di tempat tidur almarhum ayahnya. Di sisi piring itu juga ia letakkan lauk dan kuah sayur kesukaan ayahnya semasa hidup; kepala ikan beleda berpupur balado dan kuah bayam campur potongan wortel. Sebagaimana yang diyakini tetua Madura, Hosma juga percaya bahwa selama tujuh hari kematian, almarhum akan pulang untuk makan. Jika tidak disediakan makanan, ia akan menginjak-injak nasi yang disediakan untuk para pelayat sehingga nasi akan terasa masam, bau tubuh manusia, dan membawa penyakit.

"Makanan ini memang khusus kusediakan untukmu, Yah. Silakan dimakan, besok akan kusediakan lagi, asal ayah tenang dan tidak menginjak-injak nasi yang ada di dapur," getar bibir Hosma lirih. Kedua matanya tiba-tiba basah. Tangan kanannya merapikan piring dan dua mangkuk berisi lauk dan sayur agar rapat bersentuhan, berjarak sekitar 5 senti dari damar kambhang* yang sedang menyala di antara tebaran kelopak bunga.

"Andai tidak makan nasi Ki Hamidi, mungkin ayah tidak akan meninggal," kenang Hosma mengingat bulan lalu saat terjadi sedikit adu mulut antara ibu dan ayahnya ketika melayat almarhum Ki Hamidi. Saat nasi dihidangkan, Suliya --ibu Hosma-- berbicara setengah berbisik kepada ayah Hosma agar tidak makan, karena menurut petunjuk dukun, derita sesak napas yang diderita ayahnya akan kambuh jika makan nasi orang mati. Tapi ayah Hosma menepis saran itu. Ia tidak percaya pada mitos. Ibunya tetap memaksa sehingga sempat terjadi adu mulut. Beruntung Hosma yang berada di tengah-tengah mereka lekas melerai, dan ujung dari peristiwa itu; ayahnya tetap makan dengan lahap. Ibunya hanya bisa melirik kecewa, sesekali bibirnya menggetarkan kata-kata bernada marah.

"Mitos itu tidak ilmiah dan mati itu takdir, nasi orang mati tidak ada hubungannya dengan kematian," ucap ayah Hosma setiba di rumah dengan nada tegas meski terputus-putus karena sesak napas. Ibunya semakin marah setelah ayah Hosma menolak minum air yang diberikan dukun dan sebaliknya malah mengunyah seiris telur rebus yang diperoleh dari melayat almarhum Ki Hamidi.

Air mata Hosma berjatuhan mengingat kejadian itu. Lekas ia seka dengan ujung jilbabnya. Tiba-tiba pintu terkuak, Reyhan, adiknya berlari ke arah Hosma yang masih duduk di ranjang. Dengan segera Hosma menghentikan isak dan pura-pura tidak sedang menangis. Tangannya kembali merapikan piring dan mangkuk agar tampak terlihat sibuk.

"Kak! Kenapa ibu melarangku makan nasi yang disediakan untuk pelayat? Padahal aku ingin sekali makan nasi itu," ujar Reyhan dengan mata penuh pengaduan dan jari-jemarinya menarik baju Hosma. Hosma sebatas menatap mata cerlang adiknya, tak punya jawaban yang pas untuk menjelaskan maksud ibunya.

"O, ya. Aku ingin makan nasi ini saja, Kak!" imbuhnya sambil menunjuk nasi di dekat Hosma.

Hosma tersenyum. Perlahan kedua tangannya mengelus rambut Reyhan.

"Nasi ini buat ayah, tidak boleh dimakan Reyhan. Kasihan kan sama ayah."

"Ayah kan sudah meninggal. Mana mungkin dia bisa makan."

"Ayah memang meninggal, tapi arwahnya akan pulang dan akan makan, Rey."

"Hmmm. Tidak masuk akal."

"Begitu kata tetua Madura."

"Tetua mestinya punya akal. Kok itu tidak masuk akal."

Hosma menarik napas panjang dan mengembuskannya bersamaan dengan selipat senyum di bibirnya. Ia bingung untuk menjelaskan mitos kepada anak kecil.

"Reyhan! Kenapa kamu dekat ke nasi itu? Jangankan makan, menyentuh saja tidak boleh. Nanti kamu akan sakit," ucap Suliya yang seketika berdiri di pintu.

"Reyhan ingin makan nasi kita sendiri, Bu. Nasi sedekah untuk almarhum ayah," paksa Reyhan setengah merengek.

Ibunya tak menjawab sepatah kata pun. Ia bergegas ke arah Reyhan dan menarik lengannya kuat-kuat agar keluar. Reyhan sedikit meronta dan menangis, tapi ibunya tetap menariknya dengan kuat.

"Apa kamu mau sakit dan mati?"

Reyhan menggeleng seraya menyeka butiran air mata.

"Jika tidak ingin begitu, jangan makan nasi orang mati. Paham?"

Reyhan menggeleng tidak paham.

"Huh!" keluh Suliya terus menarik Reyhan hingga keluar pintu. Tangis Reyhan semakin keras. Hosma menatapnya dari dalam; menatap seorang ibu yang ingin menyelamatkan anaknya dari ancaman mitos.

***

Setelah nasi di ranjang ayahnya diganti yang baru, Hosma akan membuang nasi basi itu ke tempat yang jauh. Tapi ia diliputi rasa bingung dan bertanya pada dirinya, "Kenapa nasi itu masih ada? Katanya dimakan almarhum ayah?"

Pertanyaan mengganjal itu baru sedikit lenyap dari dadanya setelah suatu ketika Suliya menjawab, "Kata tetua Madura, yang dimakan arwah itu hanya rasanya, bukan nasinya." Sejak saat itu Hosma baru puas dan semakin semangat untuk mengganti nasi ayahnya setiap pagi.

Suliya bahagia mendengar pernyataan banyak orang yang mengatakan bahwa nasi sedekah keluarganya tidak terasa asam. Ia berkesimpulan jika almarhum suaminya benar-benar pulang dan makan nasi yang disediakan di ranjangnya-tidak menginjak-injak nasi di dapur yang disediakan untuk pelayat. Suliya selalu bercerita kepada siapa pun bahwa nasi sedekah untuk pelayat itu rasanya enak dan tidak asam. Ia tidak sadar ceritanya itu diam-diam didengar oleh Reyhan.

Pada sore menjelang magrib. Suliya melihat Reyhan sedang makan nasi yang disediakan untuk pelayati di dapur. Suliya sangat terkejut.

"Naaaak! Apa kamu ingin sakit?" suaranya melengking keras dengan ekspresi kedua mata terbelalak.

Reyhan hanya merespons ibunya dengan sebentuk tatap lugu dan senyum.

"Hentikan cepat dan muntahkan!"

Reyhan tak menjawab. ia malah semakin lahap dan kian cepat mengantar suapan demi suapan ke mulutnya.

"Berhenti! Muntahkan!"

"Enak, Bu."

Suliya tak mengeluarkan kata-kata lagi. Ia mengambil tangkai sapu dengan wajah memerah. Ia berpikir, kemarahannya baru akan reda jika tangkai sapu itu mendarat di betis Reyhan.

***

Nasi itu masih berasap. Terlihat tipis meliut-liut di depan cahaya damar kambhang. Demikian dengan kuah dan lauknya; semua masih hangat dan berasap. Sebelum jarum jam lurus di angka 7, Hosma harus menyiapkan suguhan itu di ranjang almarhum ayahnya. Sebab kini ia punya tugas tambahan menemani ibunya yang sakit karena terlalu khawatir pada Reyhan setelah makan nasi yang disediakan untuk pelayat.

"Sekarang hari ketujuh meninggalnya ayah. Andai tidak sakit, mestinya ibu menemui para pelayat di beranda," ucap Hosma kepada ibunya.

"Entahlah! Setelah Reyhan makan nasi yang disediakan buat para pelayat itu, aku jadi tidak tenang."

"Padahal Reyhan tenang dan aman-aman saja, Bu. Kenapa justru ibu yang cemas?"

"Kamu belum tahu rasanya jadi orangtua. Orangtua sangat wajar mencemaskan anaknya, dan itu bukti dari kasih sayang."

"Mencemaskan anak ada tempatnya, Bu. Kalau begini caranya, malah ibu yang tersiksa."

"Tak perlu kau lanjut perkataanmu itu, Hosma, jika kamu tak ingin durhaka."

Hosma terdiam, dan bibirnya sengaja dikunci untuk tak bicara hal itu lagi hingga beberapa hari, hingga lepas dari hari ketujuh kematian ayahnya. Sedang tubuh ibunya semakin ringkih, cuma menampakkan gelambir kulit yang meliputi dengkulan tulang. Daging tubuhnya seperti lenyap oleh sakit yang dideritanya, atau tepatnya lenyap oleh kecemasannya sendiri.

Sementara Reyhan yang dikhawatirkan sakit karena makan nasi orang mati itu malah semakin sehat dan setiap hari rajin membantu Hosma, mengganti tugas ibunya; mencuci piring, menyapu, menjemur pakaian, mengontrol aliran air dari kran, atau kadang membeli sembako ke warung sebelah.

Meski melihat Reyhan sehat, Suliya tetap tidak percaya pada keadaan baik anak lelakinya itu. Ia masih khawatir suatu saat Reyhan akan sakit karena telah makan nasi orang mati. Kekhawatiran itu semakin mengguncang batinnya ketika suatu pagi ia melihat Reyhan minum segelas air yang ada di kardus, sisa jamuan pada pelayat tempo hari saat masih dalam tujuh hari kematian suaminya.

"Adikmu semakin gila. Dia minum air gelasan sisa jamuan untuk para pelayat ayahmu," ungkap Suliya kepada Hosma.

"Itu air kan, Bu. Bukan nasi," jawab Hosma sedikit bingung.

"Sama saja."

"Apa air juga diinjak-injak arwah? Itu kan air dalam kemasan."

"Jangan banyak sergah, Hos. Panggil adikmu ke sini!. Biar kuingatkan dia."

Tak ada getar sahut apa pun dari bibir Hosma. Ia langsung memanggil Reyhan dan membawanya ke dekat Suliya. Mula-mula Suliya memegang kepala Reyhan dengan tangan kirinya yang begitu sulit digerakkan. Wajah Reyhan sedikit semringah, menduga ibunya akan memberinya nasihat, terlebih setelah jemari Suliya mengelus-elus rambutnya dengan lembut. Tapi kemudian yang terjadi sebaliknya. Suliya yang terbaring sakit itu memarahinya dengan suara keras. Ia disalahkan karena telah makan dan minum bahan yang disediakan untuk pelayat almarhum suaminya. Beberapa kali jeda dan beberapa kali membentaknya kembali. Dari semula, Reyhan hanya menunduk hingga Suliya berhenti bicara, barulah ia mengangkat wajahnya.

"Arwah ayah kan makan nasi yang disediakan di kamar, Bu. Jadi tidak mungkin menginjak-injak nasi yang disediakan untuk pelayat. Karena nasi itu tak diinjak arwah ayah, maka tidak akan mengandung penyakit, Bu. Begitu juga dengan airnya," jelas Reyhan kepada Suliya kemudian.

Beberapa saat Suliya mencermati perkataan anak bocahnya itu dengan hanya diam dan mengedipkan mata. Perlahan ia merasa apa yang dikatakan Reyhan benar. Kemudian ia tersenyum, meski ia sudah begitu lambat berbahagia dalam keadaan kritis karena perasaannya sudah bekali-kali disakiti oleh keyakinannya sendiri.

"Hosma! jika besok aku mati, tolong di ranjang ini sediakan nasi lagi ya, biar aku makan di sini dan tidak akan menginjak-injak nasi yang ada di dapur, agar kalian tidak ketularan penyakit," pinta Suliya membuat Hosma terkejut dan sejenak gugup.

"Ibu tidak makan nasi orang mati, jadi tidak mungkin mati," hibur Hosma menggenggam erat telapak tangan ibunya yang lemas dan dingin.

"Mestinya memang begitu, seharusnya aku tidak sakit karena selama ini sudah berusaha keras tidak makan nasi orang mati. Tapi kok begini ya?" bibir Suliya gemetar.

"Makanya jangan terlalu percaya mitos, Bu!"

Suliya tak menyahut apa-apa. Ia hanya memejamkan mata. Telapak tangannya yang digenggam Hosma semakin lemas, seperti terlepas.

Gaptim, 2021

Keterangan:

*) Lentera kecil tanpa leher, sumbunya hanya ditegakkan dengan bekas tutup botol dan menggunakan minyak jelantah. Liut cahayanya biasa digunakan orang Madura sebagai tanda-tanda dalam membaca nasib.

Warits Rovi lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Buku cerpennya yang telah terbit Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Pertemuan Emosional Jisoo BLACKPINK-Jung Hae-in di Teaser 'Snowdrop'"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)