Cerita Pendek

Pintu yang Mengambang

Daisy Rahmi - detikHot
Minggu, 05 Sep 2021 10:20 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Tidurku terusik bunyi yang akrab di telinga. Kelopak mata perlahan terbuka, menyipit saat terkena silau sinar matahari. Aku berguling dan duduk bersandar di batang pohon. Tak jauh dari tempat semula berbaring adalah sumber gemericik yang kudengar. Air mengalir dari celah batu jatuh ke parit berlumut. Kicauan burung terdengar di atas kepala. Diriku bangkit, menyusuri parit yang membelah padang rumput.

Semakin jauh berjalan, makin banyak yang terlihat. Bunga-bunga liar aneka warna tumbuh subur di semak yang kulewati. Awan berarak bak gumpalan kapas, sangat kontras di langit biru. Bola emas kini naik tinggi. Sengatannya membuat bulir-bulir keringat muncul di dahi dan pelipis Anehnya, aku tidak merasa capek. Bahkan ingin tinggal di sini selamanya. Tapi itu tak mungkin. Ada yang harus kulakukan.

Bagai bisa membaca pikiran, pemandangan sekitar berubah. Padang rumput hilang. Langit tidak lagi cerah. Gundukan batu cadas sejauh mata memandang. Angin berkesiur menerpa wajah, membuat napasku sesak. Tapak sepatu meninggalkan jejak di pasir. Mendadak aku sangat lelah. Tak ingin berhenti, kugigit bibir dan memaksakan diri maju dengan lutut gemetar.

Padang pasir terlewati. Meski di atas, bawah, dan sekeliling gelap gulita, jelas terlihat pintu yang mengambang beberapa senti dari lantai. Kulangkahkan kaki satu per satu hingga berdiri di depannya, serasa mirip seorang aktris di atas panggung dengan penonton yang tak kasat mata.

Pintu kayu itu tanpa kusen dan tak ada yang aneh selain kenyataan benda itu ada di udara. Aku ulurkan tangan mengabaikan suara hati yang melarang. Sebelum ujung jari menyentuh gagang pintu, sesuatu menyentakkanku ke belakang.

***

Terbatuk, kuangkat tubuh dari posisi berbaring di sofa.

"Air," kataku tersengal.

Seseorang bangkit dari kursi. Aku sambut benda yang diulurkan lalu menandaskan isinya sekejap mata. Si wanita mengambil gelas kosong dari tanganku. Meski tanpa kata-kata, sikapnya membuatku naik darah. Mataku berkilat.

"Aku berusaha! Aku berusaha membuka pintu itu dan sesuatu menarikku menjauh!"

Psikiater itu mengembalikan gelas ke tempat semula. Ditatapnya diriku sambil tersenyum letih.

"Itu alam bawah sadarmu. Terapi ini sia-sia selama kau tak bisa mengatasinya."

"Maaf sudah menyia-nyiakan waktumu!" teriakku marah sambil beranjak ke pintu keluar.

Ia menghadang jalanku.

"Duduk," perintahnya, "Kau tahu bukan itu maksudku."

Aku bergeming. Wanita itu berjalan ke meja kerja. Selesai menulis, diulurkannya secarik kertas padaku.

"Kita coba lagi minggu depan. Untuk sementara, aku resepkan pil penenang."

Kertas diterima lalu meninggalkan ruang praktek tanpa pamit. Kudorong pintu kaca tanpa menggubris sapaan petugas penerima pasien. Warna jingga langit menyambut. Cahaya matahari yang mulai redup menimpa genangan air dekat selokan.

Kuremas kertas resep dan melemparnya ke tong sampah. Segala obat darinya sama sekali tidak berguna. Dengan kedua tangan terbenam di saku, aku berdiri di trotoar lalu menghentikan taksi yang pertama melintas.

Melalui kaca spion, si sopir menatap diriku di kursi belakang.

"Mau ke mana?"

"Jalan saja dulu. Nanti kuberitahu."

Laki-laki di balik kemudi menjalankan kendaraan. Ia tak bertanya lagi meski lima menit berlalu dan belum juga kukatakan tujuan. Mungkin ia terbiasa dapat penumpang aneh sepertiku. Kusandarkan punggung dan memejamkan mata. Lelah merayapi setiap sendi tubuh. Tak ingin pulang. Aku benci sendirian. Di saat-saat itu ia selalu muncul....

Di luar sudah gelap ketika aku terjaga. Lampu jalan menyala, pendar sinarnya menerangi toko-toko di dekatnya. Aku suruh sopir berhenti di bawah papan reklame warna-warni sebelum tikungan. Angka yang tertera di argo taksi membuat diriku meringis. Lima menit berselang aku berdiri berhadapan dengan gadis penjaga loket, sisa uang cukup untuk membeli selembar karcis bioskop.

Lampu padam. Adegan pembuka tampil di layar. Duduk bergeming di antara gelak tawa, aku kesepian. Panca indra tak merasa apa-apa. Kebas. Tumpul. Diriku bagai ikan di akuarium, terjebak di ruangan kaca. Terpisah sepenuhnya dari dunia luar. Tidak tahan lagi, aku bangkit dan menerobos deretan kursi diikuti seruan protes penonton yang terganggu.

Si gadis penjaga loket berpaling mendengar pintu terbuka. Keheranannya melihatku keluar sebelum film usai berlangsung sekejap kemudian kembali menekuri ponsel di genggaman. Jarum jam arlojiku saling tindih di angka dua belas. Tepat tengah malam dan aku tak punya uang untuk pergi ke tempat lain, tapi tempat mana pun rasanya akan lebih baik daripada tetap tinggal di sini.

Aku berjalan sekehendak kaki melangkah, melewati toko-toko berteralis berikut satu-dua yang masih buka dengan penjaga toko yang terkantuk-kantuk.

"Hei, tunggu!"

Seseorang berseru dari belakang. Melirik melalui bahu, kulihat lelaki berperawakan tinggi besar membuang puntung rokok yang menyala ke tanah lalu melumatnya dengan ujung sepatu. Tubuhnya disinari cahaya lampu, membuat pria tersebut terlihat seperti orang suci. Aku abaikan panggilannya dan mempercepat ayunan kaki. Ia mendahului dengan langkah-langkah panjang, menghadang jalanku.

"Aku bicara padamu, Nona."

"Aku tak mengenalmu. Minggir!"

"Tak perlu bersikap kasar," seringainya, "Aku hanya ingin membantu."

"Aku tak butuh bantuan," desisku dingin seraya berjalan melewatinya.

"Bagaimana dengan pintu?"

Diriku berhenti mendadak, berpaling, dan menatap tajam.

"Apa maksudmu?"

Laki-laki itu melangkah pergi tanpa menjawab. Aku bergegas mengejar.

"Siapa kau?"

"Seorang teman," gumamnya dengan rokok terselip di bibir.

"Kau tahu apa yang ada di balik pintu itu?" tanyaku berdebar.

Yang ditanya mengangguk.

"Tunjukkan padaku!"

Ia berhenti berjalan, mengambil rokok yang belum disulut dari celah bibir dan menaruhnya ke saku.

"Baiklah. Tapi kau harus siap dengan apa yang akan kau lihat."

Aku mengangguk.

Begitu jarinya menyentuh pundakku, pemandangan sekitar memudar dan mulai berputar. Aku serasa melayang. Gerakan yang awalnya perlahan makin lama makin cepat. Penglihatanku berkunang-kunang. Isi perut bergolak dan mendesak keluar. Sekuat tenaga aku tahan keinginan muntah sambil memejamkan mata erat-erat. Rasanya seabad lama sebelum tapak kaki menginjak benda padat.

"Sudah sampai."

Takut-takut kubuka mata. Yang pertama terlihat adalah ranjang dengan seprai warna pink, selimut putih terlipat rapi di bagian bawah. Tercengang, kuedarkan pandang sekeliling. Meja rias dengan kaca bentuk hati tegak di sisi lemari pakaian bersusun.

"Ini kamarku," gumamku seperti bermimpi.

"Tentu saja. Semua bermula dari sini."

Tanpa menghiraukan tatap keherananku, si lelaki menempelkan kedua telapak tangan ke tembok. Mataku membulat melihat bagian tembok yang disentuh lenyap, meninggalkan lubang yang bisa dilalui.

"Ayo," ajaknya mendahului masuk.

Aku kembali ke tempat terakhir di sesi terapi, bedanya kali ini tak sendirian. Kutatap pintu mengambang yang gagal kubuka. Dengan mengeraskan hati, aku berhasil menaklukkan keraguan untuk melangkah maju. Ketika kuulurkan tangan ke gagangnya, laki-laki tersebut melakukan hal serupa. Bersama-sama kami mendorong pintu hingga terbuka.

Mataku nyaris terpejam diserbu cahaya yang sangat menyilaukan. Reflek, tangan terangkat melindungi. Terpapar cahaya secara mendadak di netra membuatku tak bisa melihat apa pun. Di saat berdiri bergeming, kurasakan pria itu mendekat.

"Berjalanlah menuju cahaya itu," bisiknya di telingaku.

Dan kakiku mulai bergerak tanpa kuperintah.

***

Suara....

Bayangan....

Aku berusaha keras menembus kabut yang menyelimuti pikiran, menggapai yang samar tertangkap. Lambat laun sesuatu yang semula dengung dan bayangan berubah jadi kata-kata dan wajah. Aku ada di ruangan putih.

"Dia tak stabil! Seharusnya kau jaga dia!"

Perempuan di kursi memandangku.

"Oh, dia sadar."

Ia bangkit dan bergegas mendekat, meninggalkan pria yang baru saja bicara padanya.

"Bagaimana perasaanmu, Nak?"

"Di mana aku?" tanyaku serak.

"Di rumah sakit. Mereka memompa perutmu."

Nada suaranya berubah sedih.

"Mengapa kau lakukan itu, Elsa?"

Sebelum mampu mencerna yang terjadi, si lelaki menghampiriku yang terbaring di ranjang dengan langkah lebar. Pundakku dicengkeram kedua tangannya.

"Dari mana pil-pil itu?!"

Kutelan ludah. Meski takut pada Ayah, aku lebih takut pada mata merah yang mengawasi dari sudut kamar.

Daisy Rahmi kelahiran Manado. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa. Kini tinggal di Jakarta

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video " Kangen Sama Anak, Mantan Suami Nindy Ayunda Sering Kirim Surat"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)