Cerita Pendek

Robikin dan Jaket Cosmos

Seto Permada - detikHot
Minggu, 13 Jun 2021 09:19 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

"This is a reality show on earth. Starring Alexa and how incredible dancing dogs!"

Layar merah itu terbuka menampilkan Alexa, gadis kecil yang bergerak memandu anjing-anjing untuk menari bersamanya. Begitu musik dimulai, seekor anjing kurus-hitam berlari sambil berdiri mengikuti gadis berjaket merah itu ke mana pun ia melangkah. Lalu anjing pudel kecil tiga kali melompati lingkaran di tangannya. Hanya dengan satu aba-aba lainnya, anjing putih besar totol-totol hitam turun dari ember terbalik untuk melakukan gerakan salto di udara. Hebatnya lagi, pertunjukan diakhiri dengan permainan ular naga yang diikuti oleh enam anjing besar dan enam anjing kecil.

Setelah video pertunjukan menari bersama anjing itu selesai, muncul iklan pria berjenggot tentang jaket Cosmos--jaket yang dikenakan Alexa di pertunjukannya. "Melatih anjing-anjing agar sepintar manusia itu mudah bagi Alexa. Selama ia pakai jaket Cosmos. Anda yang ingin menjadi Alexa bisa menghubungi kami di nomor 776-847-584 untuk mendapatkan satu setel jaket Cosmos dengan harga miring. Ayo, terkenal bersama jaket Cosmos!"

Robikin tepuk tangan. Tim hore yang satu ini memang sudah lama mengagumi pertunjukan Alexa dan kehebatan jaket Cosmos-nya. Ia hafal jam tayangnya. Tepat pukul 4 sore setelah acara masak-masak di saluran Fox Life. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi pelatih binatang andal. Binatang apa saja boleh. Namun orangtuanya tidak setuju. Sejak cita-cita itu tercetus hingga sekarang hidup sendiri di kontrakan, tak terhitung berapa binatang peliharaannya yang kandas di tengah jalan.

Kucing pertama yang ia namai Momi tulang kakinya patah saat dilatih meniru gerakan tikus keluar-masuk rumah lewat celah pintu sempit. Kucing kampung lain, Moly, dihadapkan ke cermin agar merias dirinya sendiri seperti ibu-ibu muda. Namun kucing itu selalu tidak betah dan tulang hidungnya patah karena jatuh dari meja. Nasib serupa dialami oleh binatang-binatang peliharaan lain saat mengikuti sesi latihan. Mereka kabur dari rumah saat Robikin tidur pulas.

Robikin sempat frustrasi karena binatang-binatang yang selama ini dianggap cerdas, mulai dari anjing, kucing, hingga gajah tak satu pun menurut pada aba-abanya. Hingga suatu hari, ia berdiri di depan mesin ATM sambil memegang kartu gesek milik ibunya.

"Bu, pinjami aku uang lagi," Robikin mengetik kata-kata itu lewat WhatsApp.

"Binatang apa lagi yang mau kaubeli?" balas ibunya.

"Bukan hanya binatang, tapi juga satu setel jaket Cosmos."

"Aku tidak peduli jaket apa. Tapi jawab pertanyaan Ibu, dong. Kamu mau beli binatang apa?"

"Unta. Dari Arab Saudi. Unta pilihan berpengalaman yang akan dijadikan korban di hari Idul Adha."

Ibunya diam seribu bahasa. Lantas offline.

"Terima kasih, Bu," ketik Robikin sebelum ia mengunci layar ponselnya.

Di layar mesin ATM tertera nilai transfer masing-masing 70 juta untuk unta Arab dan 10 juta untuk jaket Cosmos dari Jerman.

***

Sebulan setelah pemesanan, jaket Cosmos singgah ke kontrakan Robikin diantar tukang pos. Pada permukaannya tergores warna-warna bendera Jerman. Foto Alexa yang sedang memeluk anjing pudelnya bersisian dengan tulisan timbul "wenn ich kann, kannst du auch" (kalau aku bisa, kau juga).

Ia membuka sampul gemerlapan itu dan seketika matanya berbinar-binar. Sebentar lagi ia akan jadi pelatih binatang paling terkenal di kotanya.

"Terima kasih, Pak Pos," ucap Robikin usai membubuhkan tanda tangan pada kertas kecil di atas sampul paket yang sudah lepas.

"Omong-omong, isinya apa kalau boleh tahu."

Robikin memicingkan mata.

"Belum saatnya, Pak Pos. Tunggu beberapa bulan lagi setelah untaku bisa bicara dan menari."

Pak Pos bergidik mengira Robikin gila. Tanpa basa basi, ia menginjak pedal gas keras-keras, mengantarkan kotak-kotak paket ke target rumah selanjutnya.

***

Sebulan setelah kedatangan jaket Cosmos, kini giliran unta Arab. Paket diantar menggunakan truk besar dengan delapan roda. Pada badan truk tertulis "Truk antarprovinsi yang siap melayani paket Anda kapan saja." Berdasarkan riwayat pengiriman barang di toko online, unta pesanan Robikin lebih dahulu naik pesawat terbang sebelum dipindahkan ke truk besar itu di Jakarta.

Pelan-pelan, unta itu diturunkan oleh awak truk melewati papan kayu miring. Gaya berjalan unta itu sesuai bayangan Robikin. Benar-benar mirip biduan dangdut. Kepalanya berjambul, sorot matanya tajam, warna kulitnya yang cokelat tua, keempat kakinya gemetar, dan tersenyum menampakkan gigi satu-satunya di tengah-tengah.

"Bapak Robikin?" tanya sopir truk.

"Saya, Pak."

"Paket mau ditaruh di mana?"

Robikin baru ingat kalau kontrakannya tidak punya garasi.

"Taruh di dalam rumah saja, Pak."

"Kalau begitu, bantu kami, dong, Pak."

Empat lelaki itu bersama-sama menuntun unta Arab memasuki halaman. Binatang berpunuk itu tampak letih dan semakin gemetar ketika mulai memasuki pintu kontrakan.

Usai tanda tangan dan membiarkan tukang pos itu pulang, Robikin menatap mata si unta dalam-dalam.

"Bagaimana perasaanmu saat meninggalkan negara, naik pesawat, hingga jalan-jalan pakai truk?"

Lagi, si unta tersenyum menampakkan gigi tunggalnya.

"Oh, kau pasti sangat kelelahan. Tidur saja dulu. Nanti aku buatkan seember kopi. Besok kita mulai beraksi. Oke?"

Unta Arab itu duduk dan memejamkan mata.

Malam harinya, Robikin tidur mengenakan jaket Cosmos yang banderol harganya belum dilepas.

***

Di ruang tamu, unta Arab masih mendengkur. Robikin senewen karena sudah pukul tujuh. Semalaman ia hanya bisa tidur tiga jam. Terpaksa, ia pun menyetel televisi dan memilih saluran Dangdut TM--saluran televisi yang hampir setiap jamnya menayangkan lagu dangdut Indonesia. Saat itu rekaman orkes milik Mansyur S tengah beraksi. Karena lagunya enak, volume ia tambah beberapa batang.

"Bangun, Pak Tua!"

Si unta mendengkur sambil tersenyum.

"Sudah jam tujuh! Mau latihan atau tidak?"

Si unta malah menghela napas.

Kalau unta itu berwujud manusia, jelas Robikin tak akan berani mengganggunya. Tapi itu hanya binatang berpunuk dua yang malasnya keterlaluan.

Dengan sigap, ia raih kaleng susu di atas meja tamu. Lalu ia tumpahkan isinya ke mulut Pak Tua yang terbuka.

Dalam sekejap, Pak Tua berdiri. Kedua matanya mengerjap-ngerjap. Mulutnya mengecap-ngecap.

"Mau lagi?"

Pak Tua melompat-lompat.

"Kalau mau, ayo latihan. Coba kautirukan nyanyian di televisi, unta pintar,"

Robikin mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Mansyur Syah.

Rembulan, bersinar lagi
Mendung pun tiada lagi
Hati yang seakan mati
Kini gairah kembali
Rembulan...bersinar lagi....

Sambil menatap televisi, Pak Tua melompat-lompat. Bibirnya berkali-kali komat-kamit seolah ingin mengatakan sesuatu karena aba-aba Robikin bertambah ganas.

"Ayo, tirukan," kata Robikin.

Setelah ratusan kali susah-payah membuka dan menutup mulut, akhirnya Pak Tua bisa melafalkan kata-kata.

"I don't care about you! Sing it yourself! I don't want to be your pet! I'm here--to Indonesia--just curious about milk. I go now, Sir! Goodbye!"

Pak Tua mengambil kaleng susu lain yang berdiri di atas televisi dengan mulutnya. Kaleng susu baru. Robikin bengong ketika binatang itu melewatinya. Bahkan ketika si unta keluar dan membanting pintu, ia masih belum bergerak.

Setelah sadar kalau Pak Tua bisa bicara dan membanting pintu, Robikin cepat-cepat menyusul. Ia pikir kemampuan itu muncul karena jaket Cosmos-nya.

"Tunggu, Pak Tua!"

Di luar terdengar anak-anak berteriak histeris.

"Wah, ada unta!"

"Unta siapa itu?"

"Larinya cepat sekali!"

"Ayo kejar!"

Begitu keluar rumah, Robikin hampir kehilangan jejak. Dari kejauhan terlihat Pak Tua melompat ke mobil pick-up, bergabung dengan kambing-kambing yang menuju entah ke mana. Anak-anak yang berlari tampak kecewa.

Alih-alih ikut mengejar dan kecewa, Robikin justru berbangga diri. Kalau ia tak memakai jaket Cosmos, keajaiban seperti itu pasti tak akan terjadi. Maka, dengan tekad bulat, daripada mengejar unta yang jelas-jelas tidak sedia, ia memilih beli binatang baru lagi. Lain kali yang murah saja seperti jangkrik atau ikan cupang. Toh jaket Cosmos sudah melekat di tubuhnya. Terkenal baginya hanya soal waktu.

Purworejo, 27 April 2021

Seto Permada adalah nama pena dari Muhammad Walid Khakim, berdomisili di Purworejo, Jawa Tengah. Karyanya termuat media lokal dan media online

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Mediasi Wenny Ariyani dan Rezky Aditya soal Pengakuan Anak Gagal!"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)