Cerita Pendek

Nyanyian Ibu

Erwin Setia - detikHot
Minggu, 23 Mei 2021 10:58 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Aku tidak tahu persis sejak kapan ibu mulai suka bersenandung. Ia melirihkan nyanyian-nyanyian dengan lirik yang tak pernah kudengar; seluruh katanya memang ada di kamus dan kerap orang-orang ucapkan, tetapi ketika menjadi paduan kata dalam sebuah nyanyian, ia terdengar sangat asing. Suara ibu serupa bisik, seolah-olah ia hanya ingin memperdengarkan nyanyian itu untuk dirinya sendiri.

Pernah kutanya, "Bu, ibu nyanyi apa?" Namun ibu diam saja dan aku enggan untuk bertanya lagi. Kupikir tiap orang berhak untuk menjawab atau tidak menjawab pertanyaan semacam itu. Lagi pula saat itu aku tidak merasa topik tersebut penting untuk dibicarakan. Tetapi ketika pada waktu-waktu selanjutnya intensitas ibu bersenandung semakin sering, senandung-senandung itu menjadi teka-teki yang kupikir harus kupecahkan.

Barangkali di balik senandung-senandung itu, ada suatu hal penting tentang ibu yang seharusnya kuketahui. Mungkin sebuah rahasia, mungkin setitik noktah dalam catatan hidup seorang manusia.

Sejak dua kakakku menikah dan tinggal bersama istri mereka di rumah masing-masing, di rumahku tinggal ada ibu, ayah, dan aku. Ketika kakak-kakakku masih tinggal di rumah, rumah terasa sempit dan pas-pasan. Tapi ketika mereka pergi, rumah terasa begitu luas dan disekap kesunyian yang aneh.

Tahun-tahun ketika dua kakakku masihlah dua orang remaja yang baru beranjak dewasa adalah tahun-tahun yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Saat itu aku masih kecil dan belum paham betul bahwa apa pun yang ada di dunia hadir secara berpasang-pasangan. Lelaki dan perempuan, keramaian dan kesunyian, juga kebahagiaan dan kesedihan.

Aku belum tahu ketika Oda-kakak tertuaku-mendapat beasiswa di kampusnya adalah satu cabang dari kebahagiaan dan ketika Eda-kakak keduaku-tertangkap polisi karena mengisap narkoba bersama kawan-kawannya adalah satu cabang dari kesedihan. Saat itu aku melihat ibu tersenyum dan menangis. Ibu selalu tersenyum dan menangis tatkala mendapati hal-hal menyenangkan dan menyedihkan. Seolah begitulah paketnya: senyum untuk kebahagiaan, tangis untuk kesedihan.

Berbeda dengan ayah. Ia cuma tersenyum tipis untuk kebahagiaan dan melontarkan amarah untuk kesedihan. Namun, ayah tidak bisa lagi melakukan dua hal itu sejak dirinya divonis stroke. Pendengaran ayah juga kian hari kian memburuk. Sehari-harinya ia duduk di kursi roda, meminum air hangat dari cangkir alumunium yang sudah ada di rak sebelum aku dilahirkan, dan memandang suasana di luar rumah melalui jendela yang selalu terbuka.

Ayah masih bisa mengeluarkan suara, tapi kata-katanya terlalu sulit dipahami. Ia lebih banyak berdiam diri seperti orang yang sedang menunggu sesuatu. Kadang-kadang bahkan aku merasa bahwa ayah sudah tidak ada lagi, bahwa keberadaannya dan ketidakberadaannya sama belaka.

Ayah dan ibu tidur di dua kamar berbeda dan jarang bersama. Ayah lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamarnya sambil memandangi apa saja yang melintas di luar jendela. Sedangkan ibu lebih banyak mengisi waktu duduk di ruang tamu, kadang sambil menjahit pakaian-pakaian lama, membikin kerajinan tangan, dan membaca buku-buku resep yang sudah berdebu.

Ibu mulai meninggalkan semua hal itu dan hanya melakukan satu hal sejak beberapa waktu lalu: bersenandung. Sungguhlah suara ibu merdu betul dan bikin dada sejuk. Kupikir kalau semasa mudanya ada acara pencarian bakat dan ibu mengikutinya, ia akan melaju jauh sebagaimana siapa pun yang dikaruniai suara emas.

Yang paling kuherankan dari nyanyian-nyanyian ibu (aku sebut nyanyian, karena ibu tidak selalu bersenandung) adalah lirik dan iramanya, yang teramat garib. Ketika suatu saat aku memperhatikan dengan saksama nyanyian ibu, tetap saja aku tidak mendapat petunjuk apa judul lagu atau siapa penyanyi lagu tersebut.

Aku pernah mengunduh puluhan lagu tahun 80-an, lagu-lagu yang populer semasa ibu masih mewujud gadis muda. Kuputar lagu-lagu satu demi satu, tapi tidak ada yang serupa dengan apa-apa yang biasa ibu nyanyikan, bahkan sekadar agak mirip pun tidak. Aku jadi menduga nyanyian-nyanyian itu adalah karangan ibu sendiri atau sebuah nyanyian tak populer yang berasal dari suatu masa yang jauh.

Paling tidak, aku bisa menangkap beberapa kata kunci yang acap muncul pada nyanyian-nyanyian ibu. Di antaranya: sehelai daun, langit malam, jeruji, dan laut. Kalau pendengaran dan ingatanku tak keliru, ada baris-baris lirik berbunyi aku bagai sehelai daun yang jatuh di bawah langit malam. Itu adalah kata-kata yang lazim belaka, tetapi aku tidak pula bisa menemukannya di mesin pencarian dengan kata kunci 'lirik lagu'. Barangkali itu memang betul-betul lagu karangan ibu.

Pada akhirnya, saat teka-teki soal senandung ibu tak kunjung bisa kupecahkan, aku mulai melupakannya. Kesibukanku bertambah-tambah. Naskah yang harus kusunting semakin membeludak. Aku tidak menghitung sudah berapa hari aku tidak lagi menyelidiki teka-teki senandung ibu. Meskipun aku tidak lagi secara khusus memperhatikannya, aku tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa ibu masih terus bernyanyi. Bahkan belakangan nyanyian-nyanyian ibu tidak lagi lirih, melainkan sedikit lantang seakan-akan ibu sedang ingin memamerkan suara emasnya ke hadapan dunia.

Nyanyian-nyanyian ibu yang sebelumnya terdengar asing, lama kelamaan menjadi karib di telingaku. Sebab, walaupun ibu menyanyikan beberapa lagu berbeda, ada kalanya ia mengulangi satu atau beberapa lagu, dan secara otomatis itu membuatku dengan nyanyian-nyanyian ibu semakin saling mengenal.

Ibu juga tidak hanya bernyanyi di ruang tamu. Ia kini bernyanyi di mana-mana dan kapan saja. Di halaman, di kamar tidur, di dapur, di kamar mandi, di berbagai sudut rumah ibu bernyanyi. Ketika pagi, siang, sore, maupun malam hari. Tetapi ibu tidak bernyanyi di hadapan ayah. Ia tidak pernah mengeluarkan suaranya ketika mengurus ayah-entah saat membantu ayah pergi ke kamar mandi, menyuapi ayah makan, atau mengenakan pakaian ke tubuh ayah.

Ketika sedang bersama ayah, ibu membisu seolah-olah berusaha untuk bersikap simpatik kepada ayah, seolah-olah ia sengaja diam sebagai cara untuk bercakap-cakap dengan ayah dalam bahasa kesunyian. Dengan bahasa pandangan mata atau gerak-gerik lemah sepasang orangtua.

Ibu tidak bernyanyi di hadapan ayah, hingga tiba suatu malam ketika ayah jatuh dari kursi rodanya. Waktu itu aku baru beberapa menit tiba di rumah. Aku masih bersalin pakaian ketika ibu berteriak, "Raega, cepat ke sini, ayahmu jatuh dari kursi roda." Suara itu berasal dari kamar ayah. Aku langsung pergi ke sana tanpa lebih dulu melepas celana panjangku.

Saat aku tiba di kamar ayah, kursi roda masih teronggok di tempat yang sama, persis di depan jendela-jendela yang selalu dibiarkan terbuka karena ayah meringis-ringis tiap kali ibu atau aku menutup jendela itu. Hanya saja, kursi roda itu berubah membelakangi jendela. Tubuh ayah terlentang dan ibu berusaha mengangkatnya. Aku tidak tahu bagaimana bisa ayah jatuh. Apakah ia sengaja turun dari kursi roda atau bagaimana-aku tidak tahu.

Aku juga tidak mengerti mengapa jendela yang selalu terbuka itu kini tertutup. "Bukan ibu yang menutupnya," kata ibu ketika aku tanya soal jendela itu. Aku menatap ayah sekilas, seperti jendela itu, matanya juga tertutup rapat, tampaknya ia kelewat kepayahan untuk sekadar membuka mata. Aku dan ibu membopong tubuh ayah ke atas tempat tidur.

Tubuh ayah panas sekali, sedangkan tempat tidur alangkah dingin. Pada saat itulah, saat ayah sudah berbaring di atas tempat tidur, ibu bersenandung untuk pertama kalinya di hadapan ayah. Senandungnya teramat lirih dan mendayu-dayu. Tidak begitu jelas apa yang dinyanyikannya. Hanya baris-baris ini bisa kudengar jelas: jeruji itu patah sudah, hanyut terbawa ke laut.

Aku tidak tahu maksud ibu bersenandung di hadapan ayah. Barangkali untuk memberi semacam penghiburan agar ayah bisa tenang dan nyaman dalam tidurnya. Barangkali juga ibu sekadar memperdengarkan suaranya kepada ayah tanpa tujuan tertentu. Aku tidak pernah tahu maksud ibu sesungguhnya.

Lama-lama, tempo senandung ibu semakin cepat, tapi volumenya semakin pelan. Bersama dengan itu, tubuh ayah kejang-kejang. Ibu tidak bereaksi apa-apa. Ia tidak memintaku untuk menelepon rumah sakit, meminta bantuan tetangga, atau semacam itu. Ia masih masyuk dalam lirik-lirik nyanyiannya.

Aku mengguncang tubuh ibu, tapi ia bergeming. Ia terus melanjutkan nyanyiannya seperti seorang pembaca mantra yang tak boleh diusik sedikit pun. Kutelepon dokter, lalu kakak-kakakku, mengabarkan bahwa ayah tiba-tiba mengalami kejang tak wajar. Selepas aku menelepon, ibu masih bernyanyi-nyanyi, terus bernyanyi-nyanyi, tak peduli di hadapannya ayah kejang-kejang semakin kencang.

Sewaktu nyanyian ibu berhenti, ketika itu pula tubuh ayah berhenti kejang-kejang. Dan pada saat itu pula, detak jantung ayah berhenti. "Ayah sudah meninggal, Bu," kataku setelah memastikan tidak ada lagi detak di dada renta itu. Ibu tidak menyahut apa-apa. Ia justru tersenyum. Tersenyum dan menyenandungkan sebuah nyanyian dengan suara terisak-isak.

Tambun Selatan, 18 Oktober 2019

Erwin Setia lahir tahun 1998. Buku perdananya Lelaki Patah Hati yang Menulis Cerita segera terbit

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "BTS Rajai Chart Billboard 4 Minggu Berturut-turut"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)