Cerita Pendek

Setan Berbisik, dan Aku Setuju

Muhajir Arrosyid - detikHot
Minggu, 28 Feb 2021 10:17 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Di semak belakang rumah seekor kucing menerkam tikus. Kucing-kucing mendapatkan kembali insting berburunya karena secara berangsur setidaknya sejak delapan bulan terakhir dapur-dapur tidak memasak daging. Tempat sampah hanya dipenuhi sayur dan bungkus tahu-tempe.

Aku menyapu lantai bolak-balik dari depan ke belakang di rumah dengan panjang 14 meter ini. Ini sudah keenam kalinya aku menyapu dalam sehari. Aku bersihkan cicak mati terjatuh dari atap. Ekornya terpisah dari tubuh. Suamiku di teras depan asyik dengan sepedanya. Sementara aku lebih suka duduk di teras belakang bermain dengan Si Rindi, kucingku dan tanaman hias koleksiku. Kami sibuk dengan kesenangan kami sampai larut hingga kami lelah dan bertemu di tempat tidur.

Aku masih terngiang oleh ucapan suamiku, "Melakukan apa gitu lho, jangan hanya berdiam diri." Bukannya aku tidak ingin melakukan sesuatu tetapi aku memang tidak punya ide. Aku juga bosan dengan keadaan ini. Setelah semuanya aku lakukan, dari memindah pot tanaman hias, membersihkan kadang Si Rindi, mengganti pasir tempat beraknya, aku bingung mau melakukan apa lagi. Mungkin manusia sama saja dengan kucing, ia akan muncul insting berburunya jika ia lapar.

Aku bekerja sebagai pemandu wisata. Pada tahun ini tidak ada yang menggunakan jasaku. Beberapa teman mencoba peruntungan lain dengan menjadi vlogger dan mengelola konten Instagram. Mereka berjalan ke tempat-tempat wisata dengan menodongkan kamera sambil ngomong seolah-olah menerangkan kepada seseorang. Ada yang jadi selebgram, modalnya berani foto dengan menonjolkan bagian tubuh yang sensual. Jika pengunjung kontennya banyak maka nanti akan ada iklan yang masuk.

Hal yang sedikit berbeda dialami oleh suamiku. Akhdiat, suamiku yang bekerja di hotel masih berangkat bekerja meskipun jamnya dikurangi dan tentu saja penghasilannya berkurang. Jika keadaan berlanjut maka tidak menutup kemungkinan suamiku juga akan diliburkan dari pekerjaannya.

Dulu saat virus belum datang, aku dan suamiku jarang bertemu. Saat aku di rumah, suamiku bekerja. Saat aku bekerja, suamiku di rumah. Kami dalam sehari paling hanya bertemu enam jam. Kami punya waktu bertegur sapa paling lama dua jam. Kami masak dan sarapan bersama baru kemudian berangkat bekerja. Aku berangkat pagi dan pulang sore. Sedangkan suamiku biasanya berangkat siang dan pulang malam. Dulu kami mengira keadaan begini adalah keadaan yang tidak normal sebagai sebuah keluarga. Kami memimpikan keadaan yang lebih normal dan mendapatkan waktu kebersamaan yang lebih panjang.

Itu semua keliru karena sekarang saat kami lebih sering bersama di rumah justru kami sering bertengkar. Aku merindukan keadaan kembali lagi seperti saat virus belum mewabah. Kami bertemu sebentar saja tetapi selalu hangat dan menyenangkan.

Untuk menghindari kesuntukan, hari ini aku keluar rumah. Aku mengendarai sepeda motor menuju pantai tempat biasanya aku bekerja mengantar para tamu. Aku melewati los-los kosong. Ada beberapa penjual yang masih membuka tokonya karena memang masih ada beberapa pengunjung lokal yang datang. Pagi itu aku berdiri di tepi pantai. Aku tatap laut. Aku berharap cakrawala mampu meluaskan hatiku. Aku mampir ke kebun binatang, kera meloncat menyapaku. Mungkin mereka kangen dikunjungi. Mereka rindu sapaan dan tawa anak-anak. Sesampai di rumah aku saksikan suamiku duduk di antara sepeda yang dibongkar dan alat-alat. Tampak bungkusan yang baru dikirim oleh jasa pengiriman. "Murah kok," katanya.

Malam hari, di belakang rumah terdengar suara ribut. Apalagi kalau bukan tikus menyelamatkan diri dari kejaran kucing. Atau kelelawar mengambil buah-buah di pohon. Sementara itu aku dan suamiku menghadapi meja makan, di sana ada nasi, sambal, sayur bayam dan dua potong tempe goreng. Ia makan tanpa berdoa. Sejak beberapa bulan terakhir ia lupa berdoa sebelum makan. Mengingatkannya hanya memantik keributan.

Aku meringkasi piring dan sisa makanan. Dia masih duduk di kursi makan. Ia berkata: "Hampir setahun ini penghasilan kita turun lebih dari separo," katanya. Dua tangannya terkepal menopang dagu. Aku menebak-nebak, mau kemana arah pembicaraan.

"Kita harus irit, jika tidak begitu tabungan kita bisa ludes."

"Aku sudah kurangi anggaran belanja dapur. Apa mau dikurangi lagi? Mulai besok hanya makan sambal dan sayur tanpa lauk? AC juga tidak pernah aku nyalakan. Untuk kulkas aku tidak berani mematikan. Nanti sayur-sayur bisa busuk."

"Listrik kurangi saja, nyalakan yang digunakan. Apa lagi ya yang bisa diirit?"

Sebenarnya aku mau bilang, jual saja sepedamu. Sepedanya telah menghabiskan banyak biaya. Ia ganti onderdil terus. Keuangan menurun malah hobinya meningkat. Tapi, lagi-lagi untuk menghindari keributan hal itu aku urungkan.

Ia melanjutkan, "Kita tidak tahu wabah ini kapan berakhir. Kita tidak bisa menunggunya, maka kita harus berbuat sesuatu."

"Yang kamu maksud berbuat sesuatu itu maksudnya membuka usaha? Membuka usaha itu butuh modal. Dan usaha itu juga ada risiko bangkrut, modal hangus. Kita harus berani menanggung risiko itu. Berani apa tidak mengeluarkan tabungan kita untuk modal?" Dari dulu ia memang ingin membuka usaha tetapi belum pernah terlaksana.

"Ada pilihan lain, yaitu menjual yang masih punya nilai jual di rumah ini. Misal TV, kulkas, AC, atau kalau perlu sofa ruang tamu itu. Oh ya, Si Rindi dijual saja bagaimana? Pakannya lumanyan menghabiskan anggaran."

"Tega sekali sih kamu. Kamu kan tahu sendiri bagaimana sayangnya aku sama kucing itu. Ia telah aku anggap sebagai keluargaku sendiri. Ia telah aku pelihara sejak usia dua minggu. Dulu kamu janji mau membelikanku satu kucing lagi untuk teman Rindi, sekarang malah mau memisahkan Rindi denganku."

"Mending kucing liar di halaman belakang itu, mereka bisa mencari makan sendiri."

"Jual saja sepedamu itu. Ganti sama sepeda yang murah saja apa bedanya? Kalau hanya untuk olahraga mengapa mesti sepeda mahal. Aku tahu, sadel sepedamu itu harganya lebih mahal dari harga Rindi."

"Tidak bisa. Sepeda tidak bisa dijual." Ia menggebrak meja. Aku tidak memiliki firasat bahwa makan malam akan berakhir dengan pertengkaran. Setelahnya ia asyik dengan sepedanya di teras depan, dan aku duduk di teras belakang. Aku bopong Rindi di pangkuan. Membayangkan dia berpisah denganku saja aku terisak, dadaku bergetar, air mataku berjatuhan membasahi bulu-bulunya.

Hingga tiga hari sejak pertengkaran itu kami hidup di dunia kami masing-masing. Aku masih membuatkan sarapan untuknya tetapi tidak memberikan senyumku. Pada pertengkaran sebelumnya biasanya ia akan berusaha menggodaku, membelikanku makanan atau apa agar suasana menjadi cair. Tetapi kali ini tidak begitu. Ia diam dan tidak ada tanda-tanda melunak. Aku merasa sebagai seorang istri adalah istri yang baik dan tidak pantas diperlakukan seperti ini. Aku tidak pernah menuntut dibelikan ini-itu. Pakaian juga aku beli sendiri, make up juga beli sendiri. Ada setan lewat dan membisik di telingaku: "Tinggalkan saja suami semacam itu."

Hari berlanjut, rumah semakin suntuk. Apa yang dikatakan oleh suamiku ada benarnya. Aku harus berbenah. Aku mulai dengan menghubungi teman-temanku. Aku punya karib yang baik mungkin bisa membantu. Satu masalah teratasi. Si Rindi punya tempat tampungan. Firda temanku bersedia menampung Rindi hingga keadaan membaik. Ia berjanji akan merawat Rindi sebaik yang ia bisa. Kebetulan Firda juga memelihara kucing sehingga aku mantap mempercayakan Rindi kepada teman sebangku saat SMA itu.

Setelah seminggu bertengkar, aku mulai membuka pembicaraan dengan suamiku. Ia yang mulai dengan menempelkan kakinya saat tidur, menjawil-jawil punggung, dan mengajak jalan-jalan keluar rumah mencari makan.

Aku bilang sama suami. "Aku mau jualan jajanan. Aku butuh modal kira-kira sepuluh juta. Lima juta untuk sewa kios, dan lima juta untuk barang dan bahan. Aku akan buka pagi hari hingga siang. Teman-teman juga mau pada titip dagangan."

"Nanti kalau tidak laku bagaimana? Warung-warung yang lain pada bangkrut kamu malah buka warung."

"Kamu yang menyuruh aku berbuat sesuatu."

"Tapi yang tidak membutuhkan modal banyak dan risikonya kecil."

"Apa itu?"

"Nanti kita cari."

Aku bergerak lagi menghubungi teman-teman. Aku mendapat pinjaman dari adikku lima juta. Nita, karibku saat kuliah meminjami kosnya yang kosong tidak terpakai. "Pakai saja gratis sampai kamu nanti kuat sewa."

Aku bergerak sendiri tanpa berbicara dengan suamiku. Ia masih sibuk dengan sepedanya. Terus terang saja aku sakit hati karena modal untuk usaha ini sebenarnya tidak lebih dari harga roda sepedanya. Kemarin ia kepergok membawa onderdil baru. Enteng saja dia bilang, "Ini milik teman."

Hari pertama berjualan jajanan akhirnya terjadi. Ada yang beli teman-temanku sendiri. Hari-hari esok tampaknya akan sibuk, Bu Narko pesan snack untuk rapat di kantornya. Lusa, Bu Darma pesan nasi kotak untuk selamatan di rumahnya.

Rasanya hari ini aku tidak ingin pulang ke rumah. Aku mau tidur di kios saja. Setan datang dan berbisik lagi di telingaku. "Tinggalkan saja suami semacam itu." Kali ini aku menyetujuinya, paling tidak untuk hari ini.

Muhajir Arrosyid buku kumpulan cerpennya yang telah terbit berjudul Menggambar Bulan dalam Gendongan

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Kira-kira Siapa yang Bakal Jadi Pembicara di Acara Special detikcom?"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)