Cerita Pendek

Hari Minggu

Armin Bell - detikHot
Minggu, 21 Feb 2021 09:59 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Kau bangun dan segera ingat pengetahuan baru dari buku harian Ibu yang kau baca semalam: Ayah mengunjungimu saat umurmu menjelang lima tahun; dia tidak mati seperti yang diceritakan Ibumu setiap kali kau meminta.

***

"Sudah dapat bahan?" tanya Mark usai mengecup keningmu.

"Entahlah. Mungkin tentang Ayah," jawabmu lalu bangun, menyusul lelaki itu ke ruang tengah. Di sana kau dapati buku catatanmu, juga buku-buku harian Ibumu, tersusun rapi di sudut meja bersama komputer jinjing-semalam kau tinggal berserakan sebelum menyusul Mark tidur.

"Sampai larut lagi? Harus lebih teratur sekarang. Nanti setelah yakin mau menulis apa, pasti sering tidur larut." Kau tahu Mark mengatakan itu sebagai penghalus maksud: kau bisa tak tidur berhari-hari hanya agar bukumu selesai.

Kau abaikan lelaki itu, menengok ke arah jam dinding, sudah pukul sepuluh pagi dan Mark masih di rumah? "Kamu bolos, Mark?"

Biasanya, pada jam-jam seperti ini, kau duduk di meja itu sendiri, menikmati sarapan yang sudah lama dingin sembari sesekali menggerutu sebab Mark telah membereskan meja buku-bukumu, yang membuatmu bingung: buku mana yang seharusnya kau buka pertama pagi ini? Kau terbiasa melepas-serakkan saja buku-buku itu sebelum berangkat tidur sebab akan kau ingat dengan pasti letak buku terakhir yang kau baca-buku pertama yang harus kau buka saat sarapan yang biasanya sendiri itu.

Karena itulah kau merasa pagimu yang ini lebih menjengkelkan: 1) warna sampul dan tebal buku-buku harian Ibumu sama semuanya (dan kau sadar sampul buku-bukumu yang lain sama belaka sebab selalu kau menyukai warna itu untuk sampul) sehingga ketika telah disusun rapi bertumpuk seperti itu kau terpaksa memeriksa satu per satu lagi; 2) kau tak bisa menggerutu sebab Mark sedang tersenyum manis sekali-kau mencintainya.

Tentang yang pertama, alasannya jernih. Kau ingin tahu lebih banyak tentang Ayahmu, tetapi oleh sebab harus mencari buku terakhir dari semalam itu, dan untuk itu kau harus buka halaman pertama buku pertama yang kau raih, yang sejauh ini telah berulang terjadi tidak pernah mengarahkanmu pada buku yang tepat, kau menduga akan menemukan hal menarik lain pada buku yang kau ambil sekenanya itu sehingga kisah Ayahmu mungkin akan kau temukan beberapa hari setelahnya padahal kau membutuhkannya hari ini agar kisah sedih Ibumu dapat kau kembangkan menjadi cerita untuk novelmu yang baru.

Senyum Mark, yang manis sekali itu, tak hanya membuatmu batal menggerutu melainkan juga sesak napas sebab udara pagi sangat tipis dan kemarahanmu urung tumpah. Kau telan lagi kalimat yang ingin sekali kau tanyakan: Apa iya kau benar-benar harus merapikan buku-buku di meja ini setiap pagi? Kau raih buku pertama. Bukan buku yang kau cari. Tentu saja. Sebab Mark menyusunnya tanpa pertimbangan apa-apa selain menuruti kerja tangannya meraih-menjangkau. Kau buka jendela, mendambakan udara lebih banyak hadir di ruangan itu.

Telah beberapa kali kau sampaikan protes bahwa buku-buku yang dirapikan itu memberimu kesulitan saat hendak memulai hari, tetapi Mark tak kunjung mengerti bahwa bagi sebagian orang, teralihkan adalah satu-satunya hal tak kuasa mereka hindari. Kau mendadak ngeri memikirkan bahwa hanya dirimulah di dunia ini yang tak berdaya di hadapan situasi teralihkan sebab Mark tak kunjung mengubah lakunya padahal telah cukup lama kalian hidup bersama; menjadi semakin ngeri setelah mendengar Mark yang kini masih saja menjawab dengan kalimat yang telah berulang-ulang disampaikannya: "kau sebaiknya merapikan susunan buku-buku itu sebelum tidur dan meletakkan yang ingin kau buka pertama keesokan paginya di susunan teratas." Mark mengatakannya setelah melihatmu menarik napas panjang di jendela.

Mark, yang selalu bangun sebelum matahari terbit, adalah lelaki yang merasa bahwa tugas pertamanya setiap pagi adalah menyiapkan sarapan sesuai dengan suasana batinnya lalu menyibak tirai jendela di kamar makan itu agar kau menikmati sarapan dan pantai di waktu yang sama. Memberi perhatian lebih agar dapat merapikan buku-bukumu dalam susunan yang benar adalah hal paling akhir yang dia repotkan. Pagi tadi yang Mark pikirkan adalah tentang roti untukmu yang harus lebih kering setelah dua hari terakhir disajikan setengah basah; cara terbaik mengatur letak makanan dan kursi agar ketika kau bangun dan tiba di tempat itu tak perlu kerepotan menjangkau menu-menu yang disiapkannya dengan konsentrasi penuh; dan, jawaban-jawaban atas kemungkinan pertanyaan yang kau ajukan-sudah dipikirkannya pula kemungkinan kau lupa nama hari ini.

"Ini hari Minggu, Non. Kamu dapat kopi tanpa gula dan roti tawar. Duduklah di sini dengan manis dan biar kusiapkan semuanya," kata Mark lembut, beranjak ke dapur, memanggang roti dan menyiapkan kopi.

"Ah, iya. Minggu. Artinya saya tidak boleh menulis?"

"Artinya, setelah ini kita akan tidur lagi," kata Mark yang kini menyalakan musik lembut di handphone-nya, meletakkan benda seukuran telapak tangan itu di samping pemanggang roti dan ikut bersenandung lembut sekali, merdu sekali, dan musik itu memberimu kabar bahwa rotimu akan dibakar lebih lama sebab demikianlah biasanya-Mark mengatur menu berdasarkan suasana hatinya dan suasana hati itu ditentukan oleh musik yang dia pilih; kau pernah juga protes perihal itu sebab bagimu seseorang yang telah berulang kali menyiapkan sarapan seharusnya dapat melakukannya seraya menutup mata saja tanpa bergantung pada suasana batin karena begitulah kadang cara kau menulis (asal bahan telah cukup sebuah cerita akan dapat selesai ditulis sekali duduk-alasanmu enggan tidur jika telah mulai menulis), tetapi kau tidak akan protes lagi tentang hal itu hari Minggu ini, hari ketika kau ingin menulis tapi tak boleh.

***

Telah beberapa bulan terakhir ini kau tidak menemukan cerita yang tepat untuk buku terbarumu. Membongkar buku-buku harian Ibumu adalah usaha terakhir, tapi kau ragu, apakah akan kau temukan kisah yang menarik? Lalu kau tertegun lama sekali pada satu bagian: sejak pertemuan nan membara itu dia tak pernah datang lagi padahal telah berjanji akan segera kembali setelah pemilu. Dia datang lima tahun kemudian, mengelus-elus rambut anak perempuannya yang gembira sebab bertemu Ayah yang memberinya permen yang banyak.

Kau ingat bagian itu dan juga tarian riang gembiramu ketika mendapat permen dari lelaki yang memintamu memanggilnya Ayah dan juga ingat bahwa itu adalah yang pertama dan terakhir kau bertemu dengannya; di usiamu yang keenam kau dititipkan di rumah kerabat Ibumu, dan di usiamu yang keenam belas anak sulung kerabat Ibumu itu, lelaki yang usianya delapan tahun lebih tua menidurimu. Kepalamu pusing ketika ingatanmu tiba di bagian itu, bagian yang ingin kau buang (dan karena itulah kau pindah kita dan mulai belajar menulis-kisah-kisah cinta yang bahagia).

Kisah perempuan yang bertemu suaminya hanya setiap lima tahun, apakah akan jadi cerita yang menarik? Kau pikirkan itu sekarang dan angin mendeburkan laut ke pantai dan jantungmu berdebar oleh rasa bersalah sebab tak sering mengunjungi Ibumu; Astaga! Lima tahun sekali juga.

Kau ingat Ibumu yang menulis sepotong surat kecil tentang buku-buku hariannya pada pesan bunuh diri yang orang-orang temukan di samping jasadnya-dia minum obat malaria sangat banyak: Aku inginkan sebuah rumah sebab kemah yang kubangun di sini sepi sekali, hanya sesekali mereka yang kucintai berkunjung, lima tahun sekali, sepi. Pada satu cerita yang kubaca ada tertulis bahwa jika kemah kediamanmu di sini dibongkar sebuah rumah telah disiapkan untukmu di seberang; kau tahu arti rumah? Tempat tinggal dan tempat orang-orang tercinta memelukmu setiap hari. Aku ingin ke sana.

Sejak membaca surat itu hidupmu tak lagi sama, sebab barangkali demikian, bahwa sekali kau mendengar sebuah kisah, apa saja, maka perjalananmu berikutnya akan berubah: kau bertemu psikiater yang memberimu obat-obat yang banyak agar orang lain yang kau ciptakan dalam kepalamu segera pergi: Mark, yang kini ada di hadapanmu.

"Bisakah kita ke kubur Ibu hari ini?"

"Tidak, sayang. Kalau kau ingin menulis cerita tentang Ibu, maka ziarah adalah bagian dari pekerjaanmu dan kita telah lama sepakat tak ada pekerjaan di hari Minggu."

"Tapi aku belum memutuskan akan menulis tentang Ibu!" Kau protes.

"Kau baca buku harian Ibu sebulan terakhir, sejak kepergiannya."

***

Kau dengar debur ombak itu dan dari balik jendela kau lihat orang-orang berlari-lari di pinggir pantai. Seorang perempuan memangku bayinya, berjalan ke bibir pantai, membiarkan laut menyentuh kaki mungil anaknya. Kau ingat Ibumu seketika.

"Bisakah kita ke kubur Ibu hari ini?" Kau tanyakan itu meski kau tahu Mark akan menolak usul itu dan mengatakan sesuatu tentang kesepakatan-hari Minggu-pekerjaan-menulis tentang Ibu-ziarah.

"Ibu menulis kalimat-kalimat panjang padahal dia tak banyak bicara," katamu setelah Mark mengingatkanmu pada buku-buku itu.

"Dia mewariskannya padamu. Kau ingat novel-novelmu itu dan anak-anak kalimat di dalamnya yang membuatmu mendapat julukan Ibu dari anak-anak kalimat sedangkan aku setengah mati merindukan percakapan di mana jumlah kata yang kita sampaikan akan sama banyaknya sedangkan kau bicara seperlunya saja?" Mark mengingatkanmu dengan lembut.

Kau mencintai Mark karena kalimat-kalimatnya yang panjang, sesuatu yang telah lama kau cari dari Ibumu yang akhirnya kini kau temukan di dalam buku-buku hariannya; cerita tentang seorang lelaki yang hanya datang sekali dalam lima tahun-seorang pejabat partai, tulis Ibumu-dan anak perempuannya yang mewarisi waktu berkunjung lelaki itu.

"Mark?"

"Iya?"

"Kau boleh pergi sekarang."

Mark pergi. Kau pandangi punggungnya, semakin jauh, semakin kecil, di sepanjang bibir pantai, melangkah riang sebab tugasnya telah selesai, lalu kau ingat roti di panggangan yang belum sempat kau angkat dan obat-obat yang telah kau minum teratur beberapa bulan terakhir.

Kau segera membuka komputer jinjingmu dan mulai menulis. Novelmu yang terbaru akan berisi kisah tentang keluarga sederhana yang bahagia yang rumahnya dikelilingi pohon-pohon cemara.

Armin Bell bergiat di Komunitas Saeh Go Lino dan Klub Buku Petra, Ruteng; buku kumpulan cerpennya yang telah terbit berjudul Perjalanan Mencari Ayam (2018)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Momen-momen Kemesraan Julie Estelle dan David Tjiptobiantoro"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)