Cerita Pendek

Pulang

Butet RSM - detikHot
Minggu, 07 Feb 2021 10:31 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Mataku terpaku pada asap di secangkir Soklat Napoleon milik Tonang.

"Melamun lagi, apa aku se-dementor itu buatmu?"

Aku tersenyum mendengar gurauannya soal dementor. Tonang baru kukenal tiga bulan lamanya. Namun, ia seperti kawan lama. Seorang pemikir yang mampu mengimbangi letupan ideku.

"Aku mikirin keju di atas coklat panasmu, diparut dan diletakkan di atas agar meleleh perlahan lalu menyatu dengan coklat. Kalau keju itu beruntung, pembeli sepertiku akan segera mengaduk sehingga proses menyatunya berlangsung lebih cepat, lekas turun suhunya dan habis diminum dalam beberapa kali teguk."

"Lalu keju yang gagal meleleh akan menempel di sudut bibirmu dan seorang pria yang cerewet akan menasihatimu soal cara memikmati Soklat Napoleon sambil mengulurkan tangannya untuk memberimu tisu sekaligus menyebutkan namanya."

"Ha ha ha, itu kan kamu. Mengapa kamu begitu cerewet? Apakah sejak dulu sudah seperti itu?"

Tonang mendekatkan wajahnya padaku. "Kurasa aku baru cerewet setelah bertemu perempuan sepertimu. Kamu jelas butuh teman sepertiku yang kenyang dengan pengalaman hidup, namun belum berubah menjadi dewa sehingga masih hidup di dunia."

Aku memalingkan wajah darinya. Setiap Tonang menegaskan soal 'ia masih hidup', aku selalu berpikir bahwa ia punya keinginan untuk bunuh diri. Siapa tahu di balik sosoknya yang cerewet sekaligus hangat itu, ia merindukan istrinya.

Tak banyak yang ia ceritakan soal istrinya. Kurasa, ia tak ingin mengaduk lukanya sendiri. Berbeda denganku yang tak bosan bercerita tentang hidupku, tiap kali kami bertemu. "Menurutmu, apakah aku seorang yang narsis?"

"Mengapa bertanya begitu Sasmita? Mana ada seorang narsis yang berjuang seperti Ibu Kartini?"

"Kupikir, mungkin aku narsis dan terlalu berpusat pada diriku, namun cukup piawai bersandiwara dan membalut kenarsisanku dengan mengabdi pada LSM Kusuma. Mosok Ibu Kartini juga begitu?"

Ia pun mencoba meyakinkanku bahwa sejak pertemuan pertama kami di talkshow tentang peran perempuan dalam pemberdayaan ekonomi keluarga, ia sudah memandangku bak srikandi pejuang emansipasi. Ia menyimpulkan sendiri.

Tawanya pecah saat kuceritakan ketidakberdayaanku pada segunung laporan kegiatan di akhir bulan yang harus kuperiksa. Seperti saat pertemuan perdana kami itu, aku harus menyelesaikan segunung laporan sesudah talkshow, maka kupesan kopi tubruk dan kuminum sampai ampasnya.

Hari ini aku memesan minuman yang sama dengan minuman yang disarankan Tonang untuk kupesan setelah ia melihatku meminum kopi hingga ampasnya turut serta kutelan. Hari ini aku butuh menenangkan diriku.

"Tonang, menurutmu apa yang membuatku suka menjumpaimu di sini dan bercakap tentangku, jika bukan karena narsisku?"

Tonang menyeruput coklatnya, lalu memandangku.

"Bukan narsis, Sasmita. Kamu mungkin mendapati sosok yang kau rindukan padaku."

"Bapak? Tidak. Aku takkan merindukan Bapak. Aku memang pernah sangat ingin berjumpa dengannya meski hanya satu kali. Berada di provinsi yang sama, bisa jadi kami pernah berada di tempat yang sama, kan? Bahkan saat ini. Lihat kakek dan mas-mas di kasir itu?" Aku menunjuk ke bawah, ke kasir toko buku yang ada terlihat dari tempat kami duduk.

"Aku tidak lagi tertarik mencari Bapak karena terbayang bahwa ia sudah punya keluarga baru. Uang hasil korupnya pasti cukup untuk membeli kehidupan baru. Perempuan berkelas seperti ibuku tidak pantas dihidupi dengan uang korup. Ah, mungkinkah ketertarikanku soal pemberdayaan perempuan karena aku begitu mengagumi ibuku sendiri?"

Kuaduk-aduk Soklat Napoleonku yang tak lagi panas, berharap resah yang muncul ini menguap seperti asap di minuman yang mulai pudar.

"Kapan terakhir kali kamu pulang ke Malang, Sasmita?"

"Natal tahun lalu. Danaku hanya cukup untuk pulang sekali dalam setahun. Kamu tahu Tonang, gaji admin senior di kota ini hanya cukup untuk bersenang-senang tiap bulan dan lebihnya ditabung untuk pulang membawa cerita dan bakpia satu kardus."

"Tahun ini kutambah satu kardus deh, kalau untuk beli bakpia saja masih bisalah ambil sedikit laba dari toko buku bekasku."

Kutatap mata teduhnya yang cekung itu. "Kamu itu memang selalu berusaha jadi penyenang orang lain atau gimana? Apa masih ada pembeli buku bekas sekarang ini? Di saat buku baru dijual lima ribuan daripada dilebur dan tulisan dengan mudah dikirim dalam bentuk digital?"

"Ah, soal itu tak usah kaupikirkan, Sasmita." Tonang memiringkan kepalanya dan memandangiku dengan tatapan menyelidik sebelum akhirnya mengulang pertanyaan yang pernah ditanyakannya padaku.

"Kau jelas berusia menjelang tiga puluh lima, benar kan?"

"Aduh, Tonang, hobi banget bikin kesimpulan. Bukan gitu cara menanyakan umur seorang perempuan," kupelototi Tonang yang malah tertawa melihatku melebarkan mata.

"Lalu bagaimana caranya? Ada gitu aturannya?"

Dengan suara lantang melawan bisingnya suara kendaraan dari luar kafe, kujelaskan pada Tonang tentang betapa pantangnya menebak umur, berat badan, dan ukuran fisik lain pada perempuan. Oh Tonang, sudah pernah menikah kok masih polos, pikirku.

Tak kusangka pembicaraan soal umurku ini karena ia mengira usiaku sama dengan usia istrinya saat meninggal. Topik yang kuhindari, mengingat masih melingkarnya cicin pernikahan di jari manisnya.

"Ya, kau tak perlu bertanya tentangnya. Dengan sukarela aku akan menceritakannya padamu. Ia meninggal karena TB Paru, penyakit itu menggerogoti paru-parunya selama satu tahun."

"Tapi Tonang, bukankah TB Paru mudah sembuh? Ibuku didiagnosa TB Paru, seminggu yang lalu Ibu mengabariku. Katanya, hanya harus minum obat rutin dan dipantau Puskesmas."

"Tidak semua bakteri TB mudah ditaklukkan, Samita. Istriku dulu resistan pada antibiotiknya. Lalu salahku, mencoba pengobatan alternatif seperti saran keluarga dan menghentikan pengobatan rutin supaya ginjalnya tidak kelebihan beban kerja, menuruti pesan tabib. Mungkin karena salahkulah istriku meninggal. Tapi pengetahuan seperti ini baru kudapat belakangan. Terlambat."

Untuk pertama kalinya kulihat Tonang menunjukkan duka di wajahnya. Sorot matanya bukan lagi teduh namun menjadi sayu. Kuberanikan diri memegang pundaknya. "Tonang, aku turut berduka. Baru kali ini aku mendengar kisah tentang istrimu. Baru kali ini kau menunjukkan dukamu padaku. Sungguh ingin aku bertanya lebih jauh soal penyakit perenggut kekasih hatimu, tapi aku tak akan tega memintamu bercerita lebih jauh."

Tonang menengadahkan wajahnya, menatapku dengan tatapan sendu penuh harap, yang selama ini kuhindari dari mata setiap pria.

"Eh, kupesankan minum ya, kulihat ada di buku menu kafe ini, tak pernah kupesan karena aku biasa membuat sendiri di kos. Kusebut sebagai minuman pelipur lara. Malam ini masih panjang. Nanti, setelah kita minum segelas minuman pelipur lara, tolong antarkan aku pulang ke kos."

Tanpa menunggu persetujuannya aku lekas berjalan ke meja kasir kafe. Sepasang anak muda berangkulan mesra di depanku, membuatku merasa tak nyaman. Kualihkan pandangan ke sisi kanan, kujumpai pemandangan serupa. Seorang pria berbaju kotak-kotak biru sedang menyentuhkan jarinya ke hidung kekasihnya, perempuan berkaos biru yang sangat mancung. Kulihat mereka terkikik seperti sedang membahas hal terlucu di dunia. Pipi kekasihnya yang sudah merona karena pemulas pipi menjadi semakin merah sesudahnya. Ah, sebentar lagi mungkin wajahnya akan berwarna seperti kepiting rebus.

"Kak, silakan!"

Suara Mbak Kasir mengejutkaanku yang tengah terpaku ke arah meja di sebelah kananku. "Duh, maaf ya, Mbak saya bengong lihat orang pacaran. He he he...Saya mau nambah pesanan, Kalem Aja," ujarku sambil menunjuk di buku menu pada minuman "Kalem Aja (Kencur Asem Lemon Madu Jahe + Pandan) 15k".

"Baik. Berapa, Kak?"

"Dua ya, untuk meja nomor tujuh," ujarku sambil memberikan uang tiga puluh ribu.

Aku kembali ke mejaku. Tonang sedang menghabiskan Soklat Napoleonnya. Aku tersenyum saat melihat sisa parutan keju yang gagal meleleh menempel di bibirnya. "Berkacalah, lihat keju yang menempel itu. Pelajaran buatmu untuk meminum Soklat Napoleon sebelum dingin," ujarku seraya mengulurkan tisu.

"Minuman yang kau pesan, apa istimewanya?"

"Lemon madu jahe dan pandan disajikan hangat-hangat selalu jadi andalan ibuku saat aku menangis menanyakan Bapak. Kamu tahu, tak mudah hidup hanya bersama Ibu. Ada saja yang menyebutku anak haram karena tak punya Bapak. Tadinya kukira karena aku makan babi lho."

Tonang terkekeh. Kurasa ia menertawakan bagian babi.

"Ibuku bernama Lastri, usianya enam puluh lima tahun Natal ini. Itulah mengapa aku selalu pulang saat Natal. Merayakan kelahiran Ibu, pahlawanku, pelindungku di dunia. Waktu mancakrida kelas dua SMA, aku berkenalan dengan kakak pemberi materi yang kini jadi bosku di LSM Kusuma. Dialah yang menyadarkanku bahwa perempuan tercipta begitu kuat. Kami ini tanpa pria pun bisa hidup gemilang. Sori ya, bukan merendahkan kaummu. Cuma cerita aja."

"Iya, aku paham, nggak usah ngode, aku nggak akan ngajak kamu nikah, nggak akan mengikatmu dengan cara apapun, Sasmita."

Kurasa pipiku menjadi hangat mendengarnya. Apakah wajahku sekarang semerah kepiting rebus seperti perempuan berkaos biru tadi?

Seorang pelayan mengantar minuman kami. Melegakan sekali, menyelamatkanku dari rasa grogi yang tiba-tiba melanda. "Makasih, Mas!" ujarku pada pelayan sambil menaruh satu gelas di depan Tonang.

"Cobalah selagi hangat, Tonang. Minuman ini akan menetralkan segala perasaan negatif."

"Ah, kamu sudah mirip tabib saja," cibir Tonang.

"Tidak, ini mirip resep ibuku. Hanya, di sini ditambah dengan kencur dan asam jawa."

"Katanya masih akan panjang malam ini?"

"Iya, antarkan aku pulang."

"Perasaanku tak enak, apa yang kau rencanakan, Sasmita?"

"Tak ada, ha ha ha, antarkan aku saja."

***

Halo, Sasmita. Bagaimana Malang? Senyaman hatimu sekarangkah? Kata ibu kosmu, kamu pulang ke Malang merawat ibumu. Maafkan aku yang belum sempat sampaikan padamu bahwa kematian istriku adalah jalan yang membuka pikiranku. Ternyata hidup bukan tentang menikah lalu punya anak dengan rumah berhalaman luas dilengkapi mobil keluarga dan pembantu untuk jadi sempurna. Hidup ada untuk dijalani dengan nyata bersama siapa pun yang sedang berjodoh denganmu. Sesederhana itu. Sesederhana pertemanan singkat kita di kafe ujung kota kita. Kota ini tetap jadi kota kita, Sasmita. Kembalilah suatu hari nanti, untuk sekadar minum coklat hangat di tempat kita pernah banyak bicara soal hidup. Kau tahu, aku tak akan berusaha mengikatmu. Tak apa tak kau balas pesan-pesanku, kuyakin kau menemukan bahagiamu bersama Ibu Lastri, salam hormat untuk ibumu.

Kutekan tombol power di ponselku tanpa membalas pesan itu. Di pertemuan terakhir kita, engkau membuatku sadar bahwa aku meninggalkan ibuku begitu lama, hanya untuk mengejar bayangan bapak. Jadi, entah kapan aku bisa kembali ke kota kita, Tonang. Kurasa kau takkan sanggup menungguku sesetia ibu.

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Momen-momen Kemesraan Julie Estelle dan David Tjiptobiantoro"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)