Cerita Pendek

Waktu Itu Hujan Rintik-Rintik, dan Aku Merasa Asing dan Sendiri

T Agus Khaidir - detikHot
Minggu, 24 Jan 2021 11:38 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Dari sekian banyak orang brengsek yang pernah kutemui barangkali hanya satu nama yang akan selalu kukenang. Marjili Samsuri. Aku menumpang taksinya pada satu malam menjelang pagi di Jakarta. Waktu itu hujan rintik-rintik, dan aku benar-benar merasa asing dan sendiri.

Kurang lebih tujuh tahun sejak mulai bekerja, perusahaan mengirimku ke Jakarta untuk mengikuti satu kegiatan pelatihan dalam rangka persiapan promosi jabatan, dan pada hari terakhir, entah dari siapa bermula, muncul ide pergi ke kelab malam.

Aku tak ingat lagi nama kelab malam itu. Namun nama memang bukan perkara yang penting. Hampir tiga pekan penuh dikurung di ruang pelatihan di lantai tujuh satu gedung bertingkat yang pendingin udaranya terlalu sejuk, dari pagi hingga petang, dengan pemateri-pemateri yang tak semuanya menyenangkan, tugas-tugas latihan yang memusingkan, dan menu-menu makanan yang lebih sering gagal menerbitkan selera.

Maka ketika semua itu berakhir, apa boleh buat, keliaran fantasi pun melesat-lesat. Pasca menggelar konser yang riuh dan berantakan di kamar karaoke, empat dari enam kawan yang ikut serta memutuskan untuk menuntaskan hasrat mereka yang paling purba.

Celaka dua belas bagiku, dua kawan tersisa juga memilih tidak kembali ke hotel. Mereka ingin mengunjungi sanak saudara dan kemudian menginap di kediaman mereka, melepas rindu karena sudah lama tak bertemu.

Awalnya aku masih mencoba mencari taksi-taksi daring. Beberapa sopir dari setidaknya dua aplikasi sempat merespons, tetapi kemudian entah kenapa secara sepihak membatalkan transaksi. Saat itulah taksi yang dikendarai Marjili Samsuri menepi.

"Cikini mau, Pak?" tanyaku setelah ia membuka kaca jendela.

Marjili mengangguk seraya mengacungkan jempol. "Argo?" tanyanya sejurus setelah kuhempaskan punggungku ke jok yang -sungguh sialan- ternyata tidak terlalu empuk.

Giliranku mengangguk. Pastilah! Taksi ini bukan taksi konvensional yang direkomendasikan di Jakarta. Artinya, sekali pun memakai argo, posisiku tetap sekadar untung-untungan. Tidak ada jaminan angka pada argometer akan bergerak normal. Karena itu pulalah sebenarnya aku cuma bisa berharap dia bukan termasuk golongan sopir taksi yang suka merampok penumpang.

"Sialan!" gerutuku dalam hati.

Cahaya lampu jalan selintas-selintas menerobos ke dalam kabin. Kutangkap raut keramahan yang berlebih di wajahnya. Tipikal wajah orang yang periang dan suka bicara. Dan benar saja, dalam kurun tak sampai 10 menit aku sudah tahu banyak tentang dirinya. Nama dan usia tentunya, juga beberapa hal yang mestinya jadi rahasia.

"Anak saya enam, Pak. Bini dua, TTM satu."

"TTM? Teman tapi mesra, begitu?"

Dia tertawa keras dan panjang sampai bahunya terguncang. "Orangnya cantik, Pak. Umur 35, janda, anak satu. Masih begini, Pak, luar biasa," ucapnya mengacungkan jempol.

"Begini bagaimana?"

Dia terkekeh lagi. "Ah, bapak ini, kok ya lugu begitu. Memang nggak tahu atau pura-pur nggak tahu nih." katanya.

Lalu dengan penuh semangat ia bercerita perihal perempuan itu. Bagaimana awal pertemuan, bagaimana mereka menjalin hubungan, bagaimana kemudian hubungan tersebut membuat hubungannya dengan dua istrinya dan anak-anaknya yang memang tak pernah akur satu sama lain jadi bertambah ruwet, dan bagaimana ia melewati hari-hari belakangan bersama gambaran bayangan tanggung jawab yang bakal bertambah.

"Sudah masuk sembilan bulan, Pak. Sebentar lagi mbrojol. Pusing saya sekarang, Pak. Dulu, di bulan-bulan awal, karena sering muntah-muntah dan lemas, dia berhenti dari pekerjaannya di bar, di daerah Kota sana. Sejak itu seluruh biaya hidupnya saya yang tanggung. Seperti suami betulan, Pak. Tadi sebelum bapak naik, dia baru telepon, kasih tahu kalau berasnya sudah habis dan kamar kontrakannya perlu segera dibayar," katanya.

Aku memandang ke luar jendela. Jatuh hujan membentuk formasi titik-titik air yang memukau pada permukaan kaca: pendar-pendar yang sebentar menguning sebentar memerah, lalu berubah kehijauan atau kebiruan tiap kali diterjang sorot lampu-lampu kendaraan, lampu-lampu warung kaki lima dan lampu-lampu dari papan nama toko yang merayakan keriuhan dalam diam. Di bawah papan-papan nama itu, di tepi-tepi jalan, dengan atau tanpa payung, wajah orang-orang malam menunjukkan ketegaran yang janggal.

"Kalau bapak mau kita bisa berhenti di sini," ujar Marjili.

"Untuk apa?"

Ia tidak menjawab. Hanya tersenyum dan tanpa persetujuanku melambatkan laju taksi dan membuka kaca jendela dan segera setelahnya lima perempuan berpakaian serba aduhai datang mendekat. Mereka tidak bicara apa-apa. Hanya memulas-mulas bibir. Hanya memamerkan senyum. Seorang di antaranya, merokok dengan cara yang sungguh kentara sangat dibikin-bikin, lalu menghembuskan asapnya ke wajahku.

Brengsek!

Sengak nian, dadaku mendadak seperti penuh dan sesak. Sebelum terbatuk cepat kututup kaca jendela. "Jalan, Pak!" kataku.

Marjili menekan pedal gas. Suara raungan mesin masuk ke kabin. Masih sempat kudengar gerutuan perempuan-perempuan itu. Dari kaca spion samar kulihat pula si perokok tadi menjentikkan batang rokoknya yang masih berasap ke arah taksi, kemudian dengan kedua tangannya membuat satu isyarat tak senonoh.

"Dulu saya punya cewek di seputaran sini," Marjili membuka cerita lagi. "Orang bule, Pak. Masih muda. Masih sekitar 25 tahunan. Saya sendiri waktu itu baru 50, baru pensiun. Saya 30 tahun kerja di satu jawatan pemerintah. Masuk sebagai pegawai rendah dan pensiun tetap sebagai pegawai rendah. Tentunya dengan uang pensiun tak seberapa. Apa boleh buat, Pak. Begitulah kalau kita sendiri. Tidak.punya koneksi. Padahal seangkatan saya ada yang bisa sampai jadi bos. Ya, tidak bos betulan sih. Masih diperintah-perintah juga. Namun setidaknya dia masih punya anak buah yang bisa diperintah."

Ocehan Marjili kutanggapi sambil lalu. Harapanku dia sadar bahwa aku tidak tertarik pada topik-topik obrolannya dan dengan begitu ia lebih baik menutup mulutnya.

Aku keliru. Makin aku acuh tak acuh, makin semangat ia memapar kisah. Dibukanya dashboard dan dari sana ditariknya secarik foto perempuan cantik. Tinggi langsing berambut pirang keemasan dengan senyum yang manis.

"Pada pertemuan pertama kami, saya merasa seperti Robert de Niro, Pak. Saya menyelamatkannya dari kejaran tiga laki-laki. Waktu itu sudah lewat tengah malam dan saya melintas di kawasan ini setelah mengantar tamu. Saya mengemudi pelan-pelan saja, sekalian cuci mata. Tiba-tiba dari arah depan ada seorang perempuan berlari. Di belakangnya tiga laki-laki mengejar sambil teriak-teriak marah. Saya masih ingat tampang mereka sampai sekarang. Tampang kearab-araban. Mungkin memang turis dari Timur Tengah," katanya.

Perempuan itu, yang disebutnya 'Iris'; nama pelacur remaja yang diperankan Jodie Foster dalam Taxi Driver (entah ini nama sebenar atau ia sekadar terpengaruh film garapan Martin Scorsese tersebut, tidak kutanyakan), memberhentikan taksinya dan melompat masuk.

"Saya langsung tancap gas tanpa tanya-tanya. Dugaan saya, setidaknya dari pengalaman semenjak bekerja sebagai sopir taksi malam, kejadian begini umumnya karena transaksi yang gagal. Dan memang, Pak, dugaan saya tak keliru," ujarnya.

Menurut Marjili, perempuan itu mengaku dijebak oleh sopir taksi lain. Dijanjikan pelanggan bule ternyata malah disodorkan laki-laki Timur Tengah. Tiga orang pula.

"Cewek-cewek di sini rata-rata memang menolak tamu dari negara Timur Tengah, Pak. Negara mana pun. Sudah jadi semacam kesepakatan tak tertulis. Melayani tamu Timur Tengah, bilang mereka, lebih banyak rugi daripada untungnya. Selain menawar murah, mereka rewel pula, banyak maunya. Tidak mesra dan egois, cenderung kasar. Mirip-mirip turis Jepang. Namun masih lumayan Jepang, karena mereka ini kadang-kadang suka iseng dan lantaran itu kadang-kadang ada juga yang suka. Kalau bule sih memang paling favorit. Romantis kayak di film-film, dan royal, suka kasih tips gede. Meski tak jarang ada juga yang kere, cewek-cewek itu tetap suka karena mereka membayangkan tidur dengan Brad Pitt atau Leonardo DiCaprio," katanya.

Marjili masih terus berceloteh dan aku tidak terlalu mendengarkannya. Aku membuka kaca sedikit lalu menyalakan rokok. Di seberang jendela, rintik hujan menipis dan menebal, dan suara ban yang melindas aspal basah menyusup makin kencang ke dalam kabin, menghadirkan perasaan rawan.

Radio tape mengalunkan dangdut yang sudah jarang terdengar.

Kutitipkan kepadamu...
Dia yang paling kucinta

"Bapak suka dangdut? Kalau tidak suka saya ganti."

"Hmm... Biar saja, Pak."

"Saya selalu suka dangdut. Ona Sutra ini salah satunya. Leo Waldi, Imam S Arifin, Meggy Z, dan tentunya Mansyur S dan Oma Irama, hmm...selalu jadi favorit. Penyanyi-penyanyi perempuan saya suka juga. Rita Sugiarto luar biasa. Lengking suaranya itu lho. Bikin merinding. Elvi Sukaesih, Ellya Kadam, aih. Kalau yang muda-muda saya suka Erie Suzan. Cengkoknya mantap, mengingatkan saya sama salah satu pacar saya dulu. Calon istri, tepatnya. Kami hampir kawin tapi akhirnya nggak jadi. Dia keburu mati."

"Kenapa?"

"Matinya?"

"Iya."

"Ditikam sama banci."

"Wah, kok bisa begitu?"

"Banci itu manajer kafe tempat pacar saya bekerja sebagai penyanyi. Bukan di Jakarta. Saya ini orang perantauan, Pak. Sudah hampir 30 tahun. Awalnya dipindahkan karena tugas. Setelah pensiun, malas pulang karena, toh, di kampung tidak punya apa-apa dan tak kenal siapa-siapa lagi. Oh iya, selain manajer kafe, banci juga manajer band yang mengiringi pacar saya menyanyi."

"Suatu hari ada manajer band lain menawarkan pekerjaan yang bayarannya lebih bagus dan pacar saya tertarik. Tak disangka, saat dia menyampaikan maksud untuk pindah, banci itu marah. Dia bilang pacar saya tak tahu terima kasih. Kacang lupa kulit. Pacar saya keberatan disebut begitu. Mereka bertengkar hebat, dan entah bagaimana, banci jahanam itu kalap, mengambil gunting lalu menikamkannya berkali-kali ke pacar saya. Ada tujuh belas tikaman. Pacar saya sempat dibawa ke rumah sakit, tapi nyawanya tidak bisa diselamatkan. Sejak saat itu saya benci sekali sama banci."

Ona Sutra berganti pedangdut lain yang tak kukenal. Marjili telah mengoceh perihal banci pula. Memapar betapa kebencian membuat ia mengirim setidaknya delapan banci ke rumah sakit.

"Saya sempat depresi, Pak. Mungkin sudah separuh gila. Tiap kali terkenang pada mendiang pacar saya itu, saya langsung mendatangi pangkalan banci dan menghajar siapa pun yang ada di sana. Kebencian baru hilang beberapa tahun ini saja, Pak. Persisnya setelah saya jadi sopir taksi. Hilang benar-benar sih sebetulnya tidak. Lebih tepat karena tuntutan kerja saja. Saya dulu sering antar penumpang ke Taman Lawang. Mau tak mau, selain pengetahuan, saya harus punya kenalan," katanya.

Lalu ia menyebutkan nama-nama kenalannya: Lisa, Maya, Joyce, Tiara, Isabella, Santi, Elma, Monica, Diana.

"Satu pengkolan di depan Taman Lawang, Pak. Empat lima tahun lalu, lewat tengah malam menjelang pagi begini suasana di sini ramai sekali. Mobil-mobil pada ngantre. Jalan pelan-pelan dengan jendela kaca dibuka. Sekarang sudah jauh berkurang, Pak, sering kena garuk, soalnya. Namun dua tiga banci masih ada yang nekat beredar. Mau singgah?"

"Ah, bapak ada-ada saja. Apa saya punya tampang doyan banci?"

Marjili tertawa ngakak. "Siapa tahu, Pak. Saya kan cuma bertanya. Kadang nggak juga disangka-sangka lho," katanya setelah tawa reda.

"Saya pernah beberapa kali antar artis kemari. Orangnya ganteng-ganteng, Pak, badannya tegap-tinggi. Anak-anak sekarangnya bilang macho, manly, pendeknya kelihatan jantan dan laki banget. Eh, ternyata doyan. Namun memang, yang mereka pakai itu rata-rata banci yang begini punya," ujar Marjili sembari mengacungkan jempol dan bersiul kecil.

"Begini bagaimana?"

"Cantik, Pak pakai banget! Bahkan lebih cantik dari rata-rata cewek. Dan yang paling penting, sudah ganti kelamin. Operasi! Ada yang di Australia. Ada yang di Thailand. Dengar-dengar yang di Thailand lebih murah, tapi sama mantap."

"Mantap bentuknya?"

"Ya bentuknya, ya rasanya."

"Alamak!"

"Jadi bagaimana? Tertarik?"

"Aduh, jangan sampai. Amit-amit, Pak."

Taksi bergerak lamban. Sejumlah banci di bawah naungan payung, berdiri sembunyi-sembunyi di tempat yang agak gelap. Marjili Samsuri berupaya mencari kenalan-kenalan yang disebutnya. Dia bahkan sempat hendak menelepon mereka, tapi cepat kucegah.

"Tidak usah, Pak. Saya, kan, tadi sudah bilang enggak tertarik. Jalan saja terus."

Marjili menyengir, meletakkan telepon selularnya ke dashboard. Taksi bergerak, tapi tak laju, dan baru kusadari betapa sejak mula tadi memang tidak pernah laju. Dan aimakjang, deretan angka pada argometer membuat ludahku seketika terasa pahit sekali. Dan aku tak tahu berapa jauh lagi kami dari Cikini.

Radio tape menyiarkan acara bincang-bincang pagi. Dua penyiar yang sok lucu mengocehkan perkara-perkara yang remeh dan garing. Hujan masih rintik-rintik. Marjili ikut mengoceh, mengomentari ocehan-ocehan itu. Namun aku sudah betul-betul kehilangan selera untuk melayaninya.

Brengsek!

2015 - 2020

T Agus Khaidir wartawan dan fotografer. Lahir di Bima, NTB, 4 Februari 1977. Saat ini tinggal di Medan. Sesekali masih bermusik dan main sepak bola

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Teuku Rassya Sudah Punya Pacar, Identitasnya Dirahasiakan"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)