Cerita Pendek

Melipat Kisah Kusut di Kepala

Khanafi - detikHot
Sabtu, 17 Okt 2020 10:26 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Ia tidak yakin dengan cerita-cerita masa lalu, bukan karena anti pada hal-hal yang pernah terjadi, tetapi selalu memilih dari mulut mana cerita itu terwarta. Walaupun berkali-kali ia telah menyaksikan hubungan-hubungan tak langsung dari cerita-cerita yang sampai ke telinganya dengan kehidupan sehari-harinya. Bahwa sewaktu-waktu memang kesadaran tentang kebenaran cerita masa lalu atau sepercik saja hubungan membikin dia takut atau khawatir, ya memang.

Di ketinggian gedung itu cahaya memancar serupa api dan pohon-pohon dekat jalan bagai bisikan suara yang datang dari entah mana. Desis angin dan bayangan aneh ditambah cericit kelelawar yang mirip cekikik menggelikan mengirim udara pekat, dan matanya semakin akrab dengan suasana sunyi malam itu.

Kematian, ya, tetap menjadi rahasia. Tak ada burung seperti di kampung yang berkoak-koak mengabarkan bahwa malaikat telah turun dan habis menjejakkan kaki dan tangannya di bilik-bilik kamar atau di sawah atau di mana saja ke tangan ke kaki atau kepala, mencabut nyawa.

Sering terdengar tanda lain, bahwa empat puluh hari sebelum orang itu benar-benar jadi mayat, sedikit demi sedikit berat badannya menjadi berkurang, tingkahnya seringkali aneh, dan ada yang lebih lentur terasa dari tengkuk ke pundaknya, seperti ada yang menggelosor tak kencang lagi.

Banyak tanda kematian yang sering menjadi rumus bagi orang yang cermat mengamati hari-hari terakhir sebelum seseorang menjadi mayat. Ia percaya dan melihat sendiri bagaimana tanda-tanda yang sering dibicarakan oleh tetangganya dari kampung itu terjadi pada salah satu temannya yang bekerja di kantor yang sama dengannya. Dia rasakan sendiri, meski tetap sajalah baginya itu kebetulan, sebab dia tak saksikan kematian orang-orang kota ini, dan banyak sekali cerita tersebar di sini.

Ia bahkan ingin melenyapkan cerita kecil dari masa lalu itu dengan satu ledakan di kepala yang sudah lama dirancangnya. "Aku melihat dan mendengar sebelum maut menghentikan jantungnya, sekali-kali aku yakin, tapi setelah gumuk kuburan menghijabnya, terhijab pula kepercayaanku pada cerita lalu."

Orang kota hanya sibuk dan hanyut dalam hiruk-pikuk. Ia menggeleng-geleng dengan lelaki temannya yang tengah menyeruput kopi dan merokok itu. Mereka berdoa sejenak setelah mendengar pengumuman mati yang dikumandangkan dari sebuah masjid yang tidak jauh dengan tempat mereka duduk-duduk.

Ia segera pulang. Agar ia tidak jatuh dan mati dalam kecemasan dan ketakutan ketika ada tanda-tanda tubuhnya yang kurang sehat, dan maunya bertingkah aneh, berjalan atau tiba-tiba beristirahat saja di bekas kursi milik keluarga pemilik kos. Tidur dan bermimpi.

Awalnya, ia mengira bagian dari yang paling sedih dari hidup di kota adalah kelaparan, tapi tidak, yang paling sakit dari semua ini adalah kesepian, wajah-wajah yang melempar kedinginan kepadanya. Sebab hanya kejemuan yang tidak takut kepada waktu yang terus memburu apa saja di luar dan dalam gedung-gedung.

Sering, ketika ia meraba permukaan tangannya di kening terasa hangat dan ingatan merembet ke perutnya yang masih kosong sepanjang hari. Ia seorang diri, teman-temannya memang sudah berkeluarga, dan tinggal agak jauh dari tempat kosnya. Ia merasa ada yang sakit dalam dirinya dan itu membangkitkan dongeng masa lalu yang sering diceritakan orangtuanya dan beberapa saudara tua dan tetangga yang usianya sudah ke sana, memikirkan surga dan dewa-dewa.

Ia menjamah dadanya, seperti kurang udara.

Malam yang buta, memberkati seseorang yang terbuang di antara gedung-gedung tinggi yang mengerdilkan nyali. Ia meraba telinganya, dan didengarnya suara kendaraan di jalan sana mulai menjauh menjangkau suatu dunia yang ia tak bisa bayangkan. Ia telah membuat sendiri bayang-bayang dari mereka semua, orang-orang yang disangkanya hidup secara lain sama sekali darinya, dan ia sendiri menjadi bayang-bayang yang lain.

Ia menyangka ia adalah orang terbuang yang tak pernah menarik cerita hidupnya, tak sudi siapa bakal kenangkan.

Kalian mungkin pernah mendengar cerita tetangga-tetangga yang pulang kampung, tapi seberapa benar kisah mereka pada diri mereka sendiri? Seringkali mereka menyewa mobil untuk membungkam pertanyaan-pertanyaan tentang hidup yang getir di kota. Banyak dari kita, manusia, menutupi kenyataan dengan kisah tentang manusia yang hidup sukses dan bahagia, ya bukan?

Aku mengangguk sendiri, membayangkan betapa palsunya wajah orang-orang. Lalu, apa artinya cerita-cerita yang mereka sebar demi membawa kita ke suatu wilayah asing tak terpermanai, tak teraba dan sama sekali tak bisa diyakini begitu saja, terlalu beragam hidup ini!

Tentang cerita mencari uang dengan memelihara setan, berguru pada orang alim sehingga mampu menembus penglihatannya ke suatu dunia yang lain, atau pergi ke tempat-tempat sepi di sebuah bukit untuk bertapa minta kaya atau sakti. Ia seperti mendengar seseorang tak dikenal bicara padanya tentang hidup yang serba janggal, atau ketika ia dengar cerita itu seperti dirasuki roh-roh aneh sehingga dunia terasa kelam baginya, dan setiap perbuatan jadi menakutkan untuk disimak.

Ke dalam dirinya pertanyaan-pertanyaan kritis mengamuk setelah para pencerita itu pergi, mungkin dengan membawa senyum tersungging di sudut mulutnya, sambil berkata, mampus kau, kutakut-takuti cerita saja kecut dan percaya. Barangkali cerita cuma strategi melemahkan semangat hidup kita untuk mencari kemungkinan pada dunia ini yang kemudian kita pun terjun bebas ke dalam jurang omong kosong. Tapi bukankah dunia ini lebih membikin kita ciut dan ngeri?

Ia yakin dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhasil dijawabnya sendiri, meski masih tersisa misteri, toh itu tak masalah. Malam itu sesuatu yang bergaung di perutnya lebih nyata dari segalanya.

Ia memandang orang-orang yang berjalan di luar dengan ketabahan. Ia ingin menyapa mereka dan mendengar seperti apa kisah hidup mereka di sini. Ia merasa sepertinya orang yang terlempar di kota lebih punya cerita yang nyata tentang problem hidup yang aktual sifatnya, ketimbang orang kampung yang kurang kerjaan menyimpan cerita-cerita khayal yang dijadikannya senjata buat menciutkan nyali lawan bicaranya.

Kepada pelayan di angkringan ia memesan mie rebus pedas dengan tiga cabe rajangan, tanpa telor tentu saja, dan segelas kopi. Bahwa demamnya tadi sudah lebih baik, mungkin ia terlalu gelisah memikirkan pengumuman kematian tadi siang. Seorang perempuan muda kerja di kantor seberang kantornya, tinggal tidak jauh dari tempat mereka nongkrong --ia masih ingat baju biru dengan rok biru, rambut terurai, senyum tipis dan make up yang benar-benar bisa dikatakan menutup sebagian muka aslinya-- mati tadi siang, katanya sakit yang sudah lama diderita. Aneh.

Setan malam tidak menghuni pohon beringin di sisi alun-alun itu, tapi menghuni gedung tinggi ini dan perkantoran. Ia menunjuk matanya pada gedung yang menyala lampunya dengan bahasa yang biasa keluar dari pancarannya, kau kerdil. Di dalam hatinya terkenang wajah ibu yang sudah tiada bercampur dalam semangkuk mie rebus dengan tiga rajangan cabe. Ibunya sering membuatkan itu untuknya dulu. Ia lupa tepatnya.

Suara kendaraan mulai lengang. Angkringan yang tadinya berbaur cerita kini jadi tenang. Kisah yang selalu kudengar di sini bukan kisah yang kudengar di kampung, tentu saja. Orang sini yang perantauan itu cerita tentang pergaulan mereka, bos dan kebijakan kerja yang kurang adil, tenaga yang diboroskan untuk memenuhi tuntutan kerja, pacar yang ternyata membohonginya dan hanya memanfaatkan uangnya saja buat belanja di mall, lebih sering cerita kesal dan tipuan.

Itu realitas di sini, di bawah gedung tinggi yang selalu pandai membuat kita sepi.

Kematian memang sering dikumandangkan, tapi dengan yakin ia sudah memastikan sebab-sebabnya seringkali dikarenakan kesibukan, lelah, kecemasan berlebih, ekonomi, dan pergaulan yang benar-benar instan dan hampa. Sebetulnya kehampaan yang sama mirip dengan mendengar gosip dan cerita aneh-aneh dari tetangga di kampung, kemudian kita kembali mengerjakan kesibukan lagi, selalu begitu.

Hanya di tengah himpitan waktu di kota yang riuh ini, berbicara lebih untuk menjeda kekikukan yang mulai membangkitkan emosi gila, bukan karena terlalu banyak waktu luang. Ada kesenjangan kampung dan perkotaan. Waktu.

Ia menghabiskan kuah di mangkuknya, mengisap seluruh kehangatan kenangan ibu yang menyedak seperti sisa bumbu pedas itu. Ia seruput pahit kopinya, menghapus segala suntuk hari ini, menelannya jauh-jauh bersama cerita masa lalu yang sudah mengarat urat dan kusut di otaknya. Besok adalah cerita baru, dan itu adalah pelajaran baginya. Angin berembus di pohonan. Tak ada hantu atau bisik, hanya suaranya yang mantap, besok kerja, kerja dan kerja! Baru esok mati!

September, 2020

Khanafi lahir di Banyumas, Jawa Tengah, 4 Maret 1995; tergabung dalam Forum Penyair Solitude. Kini tinggal di Purwokerto

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "West Ham United Unggah Ampun Bang Jago, Tian-Ever: Nggak Nyangka!"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)