Cerita Pendek

Fotografer Kematian

An. Ismanto - detikHot
Sabtu, 10 Okt 2020 10:57 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Siapa pun yang terekam dalam lembaran terakhir rol filmnya pasti mati. Awalnya ia menganggap hal itu sebagai kebetulan belaka. Setelah tiga orang mati, dan orang-orang itu memang ada dalam lembaran terakhir tiga rol filmnya, ia mulai merasa menjadi pembawa isyarat tentang kematian yang segera menjelang.

Korban pertama adalah seorang perempuan tua buruh gendong di sebuah pasar tradisional. Foto perempuan itu mendapatkan puluhan ribu tanda suka di akun media sosialnya-biasanya tak sampai bilangan seratus. Di antara komentar ia dapati ucapan bela sungkawa atas meninggalnya perempuan tua itu.

Penasaran, ia kirim pesan langsung kepada si penulis komentar. Didapatkannya penjelasan bahwa buruh gendong itu adalah tetangga si penulis komentar, dan perempuan itu meninggal sehari sebelumnya. Lalu ia periksa folder berisi pindaian film yang digunakannya untuk memotret perempuan tua itu.

Hanya ia temukan satu foto si buruh gendong: di lembaran ketiga puluh enam. Saat itu ia belum melihat hubungan antara rol filmnya dengan ajal. Ia baru curiga ketika foto korban kedua, seorang laki-laki pengangkut sampah, juga memperoleh komentar bela sungkawa. Penulis komentar memberi tahu bahwa laki-laki itu meninggal ditabrak pengemudi mabuk.

Juga foto korban kedua itu ada di lembaran ketiga puluh enam. Pun korban ketiga, seorang perempuan pramuniaga di sebuah toko swalayan besar. Penulis komentar menceritakan bahwa pramuniaga itu tewas setelah terpeleset di tangga berjalan dan jatuh dengan kepala lebih dulu membentur lantai.

Lalu ia siapkan sebuah eksperimen. Ia pasang rol film dua puluh empat lembar. Dua puluh tiga lembar dihabiskannya untuk memotret sembarangan. Lembar terakhir untuk memotret anjing tetangga yang dibencinya. Sehari setelah foto anjing itu diunggah di akun media sosial, bangkainya ditemukan di pintu masuk kompleks dengan mulut berbusa.

Belum yakin juga, ia pasang rol film enam belas lembar. Dengan lembar terakhir dipotretnya tukang parkir restoran yang pernah bertengkar dengannya karena tak memberi kembalian. Sehari setelah foto itu diunggah, si tukang parkir mati ditabrak pengendara yang ugal-ugalan di depan restoran.

Kini yakinlah ia bahwa ia bukan sekadar pembawa pesan kematian, tetapi justru telah menjadi tangan kanan Elmaut. Di tangannya tergenggam senjata yang bisa menentukan hidup mati siapa pun. Seampuh sangkur dan senapan, tetapi jauh lebih senyap dan tak mengundang perhatian: sebuah kamera SLR analog.

Anadon FG-20 itu buatan tahun 1984, dibelinya body only di pasar loak dengan harga setara dua bungkus nasi goreng. Tanpa tawar-menawar alot, penjual melepas kamera itu karena pengukur cahaya mati dan lubang bidik kotor oleh beberapa bercak hitam. Yang paling parah tombol rana yang sama sekali tak bereaksi ketika dipijit.

Ia bongkar sendiri kamera itu dan berhasil memperbaiki tombol rana. Pengukur cahaya tak terselamatkan. Tak masalah: ia selalu bisa menggunakan aturan sunny 16. Kebetulan pula di antara koleksi lensanya ada Niphor 50 mm f1.4 sehingga tak butuh adaptor.

Lalu ia beli sebuah rol film paling murah --Komak Color Plus 200-- dan terjun ke jalan. Setelah hasil pindaian dikirim oleh laboratorium ke emailnya, ia kecewa sekaligus geli. Tak satu pun hasil foto hari pertama itu layak dipublikasikan di media sosial, terlebih dicetak.

Ia menyukai kebodohannya sendiri karena menantangnya untuk belajar lagi. Pengalaman bertahun-tahun memotret dengan kamera digital berbagai merek dan jenis, mulai dari APS-C hingga full frame dan medium format, cukup berguna untuk memahami fotografi zaman lama.

Karena sudah memahami teori dan asas, seminggu kemudian hasil fotonya sudah jauh lebih baik. Memang repot memotret dengan sensor yang dapat digulung begitu. Hanya, proses dan hasilnya tak bisa disamai oleh kamera digital paling canggih dengan fitur dan sains warna paling kiwari sekalipun.

Warna-warna yang terekam dalam lembaran film lebih akurat. Butiran grain di lapisan negatif tampak alami dan lebih hidup. Tak perlu ia menghabiskan waktu untuk menyunting hasil foto, bahkan kerap pula tak menyunting sama sekali. Ia jadi punya lebih banyak waktu untuk mengamati objek yang akan dipotret dan mengatur komposisi.

Ia gemar memotret jalanan perkotaan. Fesyen, festival, interaksi, geometri, komedi, tragedi-apa pun yang ada di jalan membuatnya mabuk visual dan tangannya gatal ingin memijit tombol rana. Yang paling disukainya adalah memotret orang, terutama dengan wajah unik, seperti orang yang sangat tua, yang memancing pemandang foto untuk menduga-duga cerita di balik gambar.

Perempuan tua korban pertama itu seketika mengisap perhatiannya ketika bergentayangan di pasar tradisional pada suatu pagi. Silang sengkarut garis-garis keriput di wajah kecokelatan perempuan tua itu mengingatkannya begitu saja pada tanah-tanah retak musim kemarau.

Diaturnya fokus pada jarak dua meter dan diafragma di angka delapan, lalu, dengan kamera setinggi pinggang, ia berjalan pelan-pelan sambil menoleh ke arah lain dan memapas perempuan tua itu. Ia ingat, saat tombol rana dipijit, tiba-tiba ia begitu saja merasa terharu. Juga ia merasakan haru serupa saat memotret korban-korban lain.

Sempat ia bertanya-tanya: jika saja ia telah tahu mereka akan mati, dan ia memberi tahu mereka bahwa mereka akan mati, akan seperti apa reaksi mereka? Marah karena menganggap ia mendoakan agar mereka cepat mati? Berterima kasih karena telah diberi tahu? Memaki-maki?

Bagaimanapun, setelah yakin bahwa Elmaut memberinya lisensi untuk mencabut nyawa, ia mulai mendaftar orang-orang yang menurutnya layak dibinasakan: preman kampung dekat kompleks yang sering memalak, remaja tanggung warga kampung yang suka naik motor dengan knalpot blombongan, satpam kompleks yang sering bolos, beberapa tukang parkir.

Karena sudah bertahun-tahun memotret di jalan, tak kesulitan ia memotret orang-orang itu secara candid. Puas ia tertawa ketika mendengar kabar bahwa mereka yang ada dalam daftarnya benar-benar mati. Tak sedikit pun ia menyesal: ia merasa telah bertindak benar dengan menyingkirkan mereka yang menurutnya layak dianggap sebagai kotoran dunia itu.

Ia mencetak foto-foto para korban dan menyusunnya dalam sebuah album. Ia bayangkan malaikat pencatat di pundak kanannya tak perlu sibuk bekerja karena ia sudah mencatat sendiri amal baiknya. Pada hari penghakiman kelak, Tuhan akan membuka album foto itu dan langsung mengirimnya ke surga: bukti-bukti amal baiknya terpampang jelas dalam album itu.

Kemudian ia berpikir bahwa orang-orang yang sudah dibunuhnya hanya kriminal kelas kecoak. Kejahatan mereka hanya menjangkau lingkup kecil. Bagaimana jika ia menggunakan kameranya untuk menghukum para penjahat yang lebih besar? Bukankah dengan kameranya ia bisa menyatukan seluruh sistem keadilan dalam dirinya?

Ia bisa menjadi jaksa yang memeriksa bukti-bukti dan menyusun dakwaan, pembela yang berusaha menyelamatkan terdakwa dari hukuman, dan hakim yang pada akhirnya memutus perkara, sekaligus algojo untuk eksekusi yang tak bisa dibatalkan siapa pun.

Sudah lama ia percaya bahwa keadilan sejati hanya ada di akhirat nanti. Yang ada di dunia ini hanyalah hukum. Keadilan dan hukum adalah dua perkara yang berbeda. Keadilan adalah keadilan, dan hukum adalah hukum. Dan, sebagaimana segala hal bikinan manusia, hukum selalu bisa dibikin berpihak, yaitu kepada yang kuat.

Hanya itulah penjelasan yang memuaskan untuk kekejian yang terjadi ketika anak selebritas tenar tidak dipenjara setelah menabrak orang hingga mati, pelajar yang membacok orang hingga tewas hanya diwajibkan lapor, pejabat mesum memenjarakan korban yang dilecehkannya, dan koruptor bisa menghuni sel penjara yang semewah kamar hotel bintang lima.

Ia mulai mengikuti sidang-sidang pengadilan. Jika menurutnya terdakwa memang layak dihukum, ia memotret tersangka itu: pedofil, pembunuh istri, pembacok acak, perampok, begal. Khusus untuk pelaku pencurian, ia cermati latar belakang terdakwa. Jika baru pertama kali, ia simpan kameranya. Jika residivis, ia potret. Jika menurutnya hakim memutus perkara dengan tidak adil, ia memotret jaksa dan hakim.

Ia juga mulai memotret para politisi yang menurutnya busuk. Cermat ia teliti setiap tokoh politik kontroversial, tetapi kemudian ia menyerah. Terlalu banyak politisi yang harus dihukum. Ia sempitkan risetnya dan fokus pada para politisi yang benar-benar brengsek. Juga ia potret ahli-ahli agama yang kata-katanya setajam lembing. Untuk menghukum mereka, tak perlu ia repot-repot keluar kota. Cukup dengan memotret foto-foto mereka yang sudah ada di media massa.

Hari demi hari album amal baiknya kian tebal. Akun media sosialnya selalu berlimpah tanda suka. Kiriman pesan langsung membanjir sehingga lebih banyak yang tak ia balas. Beberapa kolektif fotografi jalanan dalam dan luar negeri mengunggah ulang foto-foto korban yang secara teknis memang hanya sedikit yang bisa dikritik dengan nada negatif.

Lalu mimpi buruknya dimulai. Seseorang penulis komentar curiga dengan kebetulan-kebetulan yang terlalu sempurna: beberapa hari setelah foto seseorang diunggah, entah politisi, ahli agama, atau orang biasa, orang itu mati. Kecurigaan disusul perdebatan, dugaan, tuduhan, sangkaan, dakwaan. Ia mulai waswas bahwa ada yang benar-benar mengetahui siapa dirinya.

Ia mulai sering bermimpi menakutkan. Dalam mimpinya, para korban menemuinya dengan wajah rusak penuh belatung dan menudingnya dengan jari telunjuk yang tinggal tulang. Ia kerap terjaga tengah malam dengan bulu kuduk meremang dan keringat dingin bercucuran.

Ketika mimpi buruknya tak tertahankan lagi, ia hapus foto-foto korban dari akun media sosialnya dan berhenti memotret. Namun, tetap saja ia mengalami mimpi buruk. Kemudian sosok-sosok menakutkan itu juga menemuinya saat ia terjaga: di antara kerumunan di jalan, di gang-gang sepi, di malam-malam lengang.

Ia bertanya-tanya: seperti inikah yang dirasakan tentara yang sudah banyak membunuh? Malaikat di pundak kanan atau kirikah yang sebenarnya mencatat perbuatannya selama ini? Bagaimana rasanya dibunuh? Bagaimana rasanya dibunuh dengan cara halus seperti yang dilakukannya selama ini?

Pertanyaan terakhir itu membuatnya penasaran, dan ia selalu gelisah dan bisa insomnia parah jika penasarannya tak segera dipadamkan. Ingin sekali ia tahu bagaimana rasanya dibunuh secara halus begitu.

Suatu pagi dipasangnya sebuah rol film ke dalam senjatanya. Ia pijit tombol rana berkali-kali tanpa membidik apa pun dan mengokang hingga jarum di penghitung rana sejajar dengan garis merah di antara angka 34 dan 36. Lalu ia pasang kamera di tripod, menyetel bukaan lensa ke angka 5.6 yang paling ideal untuk foto potret, dan mencolokkan kabel shutter release.

Fokus diaturnya ke kursi kayu di depan kamera, lalu ia duduk di kursi itu dengan pandangan lurus ke tengah lensa sementara ibu jari tangan kanannya bersiap memijit tombol shutter release.

An. Ismanto lahir di Bantul, 13 Agustus 1980. Saat ini ia tinggal di Yogyakarta dan bekerja sebagai penulis dan penerjemah lepas

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Musisi 'Ampun Bang Jago' Bakal Kolaborasi dengan Eka Gustiwana"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)