Cerita Pendek

Panggilan Pulang dan Suara-Suara Kecemasan

Chaery Ma - detikHot
Sabtu, 19 Sep 2020 09:22 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Tak pernah terpikirkan akan seserius ini jadinya. Tentang panggilan pulang dan suara ibu di ujung telepon yang selalu hadir setiap satu jam sekali. Suara-suara kecemasan yang berujung pada perintah. Sebagaimana umumnya hukum kekekalan perintah ibu, kau akan tahu akibatnya jika tak kau laksanakan. Dan ini sangat menyebalkan. Tapi lagi, ini perintah ibu. Sebagaimana halnya jika ibu memerintah, sekali pun itu menyebalkan, tak ada jalan lain selain melaksanakan.

Maka dari itu aku pulang. Juga, tak ada alasan menguatkan untuk tetap bertahan. Tempat kerjaku tutup sementara. Tepatnya, menjalankan anjuran pemerintah untuk bekerja dari rumah. Lebih tepatnya lagi, bagiku, bekerja dari rumah ibu. Ketika kusampaikan kabar ini pada ibu, barulah suaranya di ujung telepon mulai berkurang jumlahnya. Sudah mulai terhitung dua sampai tiga kali dalam sehari, dan itu sudah lumayan dibanding setiap satu jam sekali.

Dan nada kemenangan terdengar dari suara ibu di sana. Menang? Ah, sejak kapan ibu mulai merasa menang. Sejak bapak meninggal 20 tahun yang lalu, yang ada hanya wajah kekalahan ibu yang tergurat di sana. Ibu merasa kalah karena selalu beranggapan bahwa dirinya belum melayani bapak semasa hidupnya dengan versi terbaik menurutnya: membuatkan kopi tepat waktu, menjemur handuk bapak setiap habis mandi, keliling dunia mencarikan obat saat bapak sakit kemudian meninggal.

Tentang yang terakhir itu, ibu menangis berhari-hari. Obat pesanannya dari Malaysia datang sehari setelah bapak meninggal. Segala perandai-andaian mulai bermunculan. Andai datang tepat waktu, andai ibu pesan jauh hari sebelumnya. Padahal perjuangan mencarikan bapak obat sudah terlampau maksimal menurutku. Berdasarkan kunjungan orang dengan saran tentang obat ini, obat itu. Dan ibu, bahkan mungkin sampai di ujung dunia pun obat itu berada, ia akan berusaha mencarinya.

Juga kekalahan ibu lainnya, tidak pernah merasa berhasil mendidik kami, anak-anaknya. Mas Toir baru saja keluar dari pusat rehabilitasi setelah terjerumus narkoba. Mbak Rin masih terkatung-katung setelah kuliah, tak juga mendapat pekerjaan tetap, kemarinnya banting stir menjadi pemandu wisata, entah di belahan bumi mana sekarang dia berada. Mas Mus setidaknya paling agak mujur dibanding anak-anak ibu yang lain, punya usaha bengkel yang cukup besar, namun semuanya ludes setelah kebakaran yang menimpa tokonya setahun yang lalu, dan dia yang masih depresi setelah kejadian itu.

Mas Nur, kakak yang pas di atasku, kecelakaan di tempat kerjanya yang mengakibatkan kaki sebelahnya harus diamputasi, hidup dengan bertumpu pada kaki palsu, kemudian mengabdikan dirinya sebagai guru mengaji di Papua, pulang sesekali saat Lebaran. Dan aku yang baru sebulan lalu diterima sebagai editor di salah satu penerbitan di Jogja, bahkan belum melakukan apa-apa, penerbitan tutup sementara sampai keadaan sudah membaik. Penghasilan yang otomatis tersendat, apalagi baru saja benar-benar akan memulai.

Suara-suara miring di luar sana tentang kutukan apa yang melekat pada ibu sampai tak satu pun anak-anaknya yang terlihat menjadi buah bibir karena keberhasilannya. Jangankan dari orang, beberapa kali pertanyaan itu kusampaikan padanya. Bukan bermaksud menyakiti, lebih pada keputusasaan tentang lamaran kerja yang tak satu pun diterima waktu itu. Dan ibu yang hanya diam seribu bahasa, lantas kemudian kurutuki diriku sendiri telah terlalu lancang melontarkan kalimat itu.

"Maaf." Hanya sekadar kata itu untuk mengobati rasa bersalahku. Pun barangkali hal itu sudah tidak berguna lagi. Dan seringnya aku berbalik, menangis dengan suara yang tak terdengar.

Lantas, ketika kali ini ibu memanggil pulang, untuk apa?

***

Pulang akan mempertemukan dua hal. Pertama, tentu saja dengan ibu. Kedua, dengan saudara-saudaraku. Di grup keluarga, masing-masing mengabarkan akan pulang juga. Perihal yang sama: perintah ibu.

Tentang saudara, aku pernah membayangkan hubungan persaudaraan kami akan sehangat persaudaraan yang digambarkan orang-orang di luar sana. Tentang sapaan manis di pagi hari untuk sekadar bertanya kabar, atau paling tidak menyebarkan pesan siaran minimal tentang larangan minum jus jeruk setelah makan udang.

Tentang yang terakhir itu, aku teringat cerita temanku yang jengkel tingkat dewa mendapat pesan siaran tengah malam dari saudaranya tentang berita seorang meninggal disebabkan hal demikian. Karena udang mengandung arsenik dan jika bertemu suplemen atau minuman yang mengandung vitamin C akan memicu reaksi senyawa arsenik yang menjadi racun mematikan. Pun tak juga penting bagiku sebenarnya tentang pesan siaran itu, benar atau tidaknya, melainkan sepeduli itu saudaranya mengingatkan. Dan aku yang hanya bisa tertawa kecut menimpali.

Jangankan pesan siaran, bahkan foto keluarga formasi lengkap hanya punya satu. Entah kapan terakhir pengambilannya? Mungkin SD, dan itu satu-satunya, dengan pose yang diambil secara tidak terduga. Selebihnya, pertemuan-pertemuan kami akan lebih banyak berujung perdebatan, dari hal kecil hingga membesar, setelahnya akan membaik kembali, kemudian berdebat lagi. Begitu seterusnya. Entah akan bermuara ke mana.

Pun sudah kuprediksi, kepulangan nanti akan tetap terwarnai dengan perdebatan. Entah kali ini terkait dengan perihal apa lagi. Dan aku yang sebenarnya sudah merasa muak. Mungkin juga mereka. Ibu pun demikian. Tapi lagi, kepulangan ini atas perintah ibu.

Dan itulah alasannya, pulang akan mempertemukan kami, dan aku sudah begitu malas. Mungkin saja yang lainnya memikirkan hal yang sama.

Lagi, suara-suara miring di luar sana tentang kutukan apa yang melekat pada ibu sampai tak terlihat anak-anaknya akur layaknya anak-anak orang pada umumnya.

Aku menaikkan ritsleting jaket. Suhu dalam kereta yang begitu dingin. Beberapa penumpang yang sempat terlihat mata seperti tidak terusik dengan suhu ruangan, atau mungkin saja hanya tubuhku yang terlalu berlebihan merespons. Tak ada teman mengobrol sepanjang jalan, karena jarak dengan penumpang lainnya yang berjauhan. Jaga jarak, barangkali seperti ini contoh penerapannya. Korona yang muncul dua minggu belakangan ini seolah mengubah segalanya. Contoh paling dekatnya, mengubah ibu.

Perintah pulang tak jauh disebabkan agar semua anaknya di rumah saja, dekat dengannya. Walaupun mungkin ada alasan lain yang lebih krusial, tapi tentang korona dan penyebarannya yang tanpa pandang bulu setidaknya menjadi alasan terkuat saat ini. Lagi, aku sudah begitu malas untuk mengulik terlalu jauh.

Perjalanan masih empat jam lagi. Novel karangan Jostein Gaarder sudah berulang kali kubolak-balik. Berharap akan selesai setengah buku di perjalanan kali ini, tapi pikiran yang sudah terlampau jauh di luar sana, maka kemungkinan besar akan gagal lagi. Maka jalan terakhirnya memejamkan mata, menghadirkan wajah Mas Toir, Mbak Rin, Mas Mus, dan Mas Nur....juga ibu. Berganti-ganti.

Terakhir kami kumpul lengkap pada Ramadhan tahun lalu, dan insiden piring pecah yang tentu saja masih membekas secara utuh. Kemarahan terbesarku, sebelumnya tak pernah aku semarah itu. Tapi lagi, aku memang sudah muak.

"Kamu kena kutukan apa sampai tak pernah lolos pekerjaan satu pun." Lebih pada pernyataan, Mas Toir mengatakan itu seolah bahwa dirinya selalu lolos setiap kali melamar pekerjaan. Mungkin memang iya, tapi kebandelannya yang membuat sia-sia semua itu.

"Kemarin mendaftar di bank ditolak, mendaftar beasiswa gagal, daftar PNS lebih-lebih." Mas Mus yang bersekongkol menjatuhkan.

"Sudahlah, kamu di rumah saja temani ibu, tidak usah ke mana-mana mencari pekerjaan, bahkan aku saja yang lebih dulu mencari pekerjaan juga belum jelas seperti apa nasibnya." Mbak Rin yang seperti tak punya perasaan, enteng mengeluarkan kalimat itu.

Hanya Mas Nur yang diam seribu bahasa. Mungkin saja membenarkan semua yang dikeluarkan saudaranya barusan. Dan darahku yang sudah mendidih seketika. Menghadirkan jatuh bangunnya menyodorkan berkas: jalan kaki dari satu kantor ke kantor lainnya, sol sepatu yang terlepas, kemeja yang tidak sempat disetrika, dicuekin dan dibiarkan menunggu sangat lama.

Bibirku gemetar. Seolah yang selama ini kulakukan tak ada artinya sama sekali. Aku meraih piring di dekatku. Membantingnya tanpa ampun. Hanya histeris ibu yang berhasil meredakan kekalapanku. Tapi aku marah. Benar-benar marah. Aku keluar rumah. Pergi. Tak menyelesaikan Ramadhan yang tersisa seminggu lagi. Pun menjadi Lebaran pertama tak di rumah, tidak bersama ibu. Karena aku tidak pulang. Lama. Empat bulan atau mungkin masuk lima bulan.

Tak ada pesan apa-apa dari saudara-saudaraku, setidaknya menanyakan kabar atau mencari tahu keberadaanku. Hanya suara tangis ibu waktu itu yang meluluhkan. Hingga pada akhirnya aku pulang. Dan seperti biasa aku bertemu saudaraku, dan sebagaimana pertemuan-pertemuan sebelumnya, seolah tak pernah ada kejadian itu di muka bumi.

Seperti itukah saudara?

Pun suara-suara miring di luar sana semakin meyakinkan tentang kutukan apa yang melekat pada ibu dengan hadirnya anak-anak yang tidak berperasaan sama sekali. Karena atas sedikit harapan yang aku punya, boleh saja kami tidak seberhasil anak-anak orang lain di luar sana, namun setidaknya di lingkaran persaudaraan kami ini ada kehangatan satu sama lain untuk saling menguatkan. Sesekali saling membuatkan kopi, sambil bercerita panjang hingga pagi tentang perjalanan masing-masing dari kami. Dan kenyataannya, kami tak memiliki itu.

***

Sudah ada penumpang yang berjejer denganku, dan itu aku sadari beberapa saat kemudian setelah sempat tidur ternyata. Novel karangan Jostein Gaarder masih tetap di posisi semula, dalam pelukan. Pandanganku terlempar keluar mencari petunjuk posisi kereta berada saat ini. Hanya gelap di luar, dan mataku yang masih belum bisa diajak kompromi untuk mengamati lebih jauh. Orang yang tak jauh di sebelahku sedang tenggelam di ponselnya. Barangkali sedang membaca sesuatu, atau mungkin sedang menonton video artis.

"Mas, ini sudah di mana?" akhirnya tak bisa kutahan juga untuk tidak mengganggu kesendiriannya.

"Ini sudah mau berhenti di Stasiun Blitar, Mas." Itu artinya tinggal beberapa stasiun lagi untuk sampai di Malang. Aku mengemasi botol minuman yang sudah tidak beraturan posisinya dan camilan yang sempat terbuka.

"Tadi naik di stasiun mana?" Aku memang tidak menyadari awal mula kehadiran orang di dekatku itu.

"Tulungagung, Mas.

"Masih nekat pulang padahal sebaiknya di rumah." Aku bermaksud memancing untuk menjauhkannya dari ponsel, dan berbicara setidaknya tentang sesuatu hal, mengusir kebosanan. Benar saja, dia berpindah ke tempat duduk pas di sebelahnya yang sedikit lebih dekat denganku. Dan ponsel yang masih di genggamannya walaupun sudah tidak dia perhatikan.

"Rumahku di Malang, Mas, di Tulungagung hanya ngekos."

Aku tak melanjutkan. Hening kemudian. Sama, pikirku membenarkan namun tak sampai keluar di mulut. Rumahku di Malang, di Jogja hanya kosan. Rumah? Apakah masih bisa disebut rumah jika tak ada kebahagiaan di dalamnya?

"Mas juga mau balik rumah, bukan?" dia yang mulai terpancing, kutimpali dengan senyum sewajarnya. Hingga mulai berentetan keluar dari mulutnya tentang korona dengan segala perubahan drastis yang bermunculan: sekolah dari rumah, bekerja dari rumah, jaga jarak, dan hal lain satu sama lain yang saling berkaitan. Dan aku yang kemudian tak lagi fokus mendengarkan, melainkan menatap layar ponsel yang tiba-tiba memunculkan pemberitahuan grup keluarga.

Mas Toir tidak jadi pulang, dia tertahan di bandara, suhu tubuhnya 37,5 derajat. Dia dibawa ke rumah sakit setempat untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Tak lama kemudian Mbak Rin juga menyampaikan bahwa dirinya tidak jadi pulang, menyusul Mas Mus, dan tidak lama kemudian Mas Nur.

Bandara di tempat Mbak Rin sudah tutup. Begitu pun dengan Mas Mus. Adapun Mas Nur, jadwal penerbangannya ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan.

Aku tidak berkomentar apa-apa di grup, melainkan meletakkan ponsel dengan kekecewaan yang tidak tahu lagi harus kugambarkan seperti apa.

Kenapa aku kecewa? Bukannya dengan begini, aku tidak bertemu dengan mereka di rumah? Sudah pasti tidak akan ada lagi perdebatan sebagaimana yang aku pikirkan sebelumnya.

Ponselku berdering. Dari ibu. Panjang lebar ibu menyampaikan ketidakdatangan saudara-saudaraku, dan aku berpura-pura tidak tahu.

"Mas Toir tidak apa-apa, Bu palingan cuma demam biasa." Aku berusaha menenangkan ibu.

Ponsel kembali kuletakkan. Kali ini dengan mata berkaca-kaca. Dadaku seolah penuh. Rasanya ingin menangis sekeras mungkin. Tentang pesan ibu sebelum menutup telepon. Dan aku tidak pernah melihat ibu sebeda itu sebelumnya.

"Hadiah terbaik yang bisa ibu berikan kepadamu adalah saudara, mereka bisa saja tidak sebaik saudara-saudara orang lain pada umumnya, tapi ibu yakin kalian saling mencemaskan satu sama lain, dan saling merindukan."

Hal terakhir itu sering aku lupakan, sangat sering malah. Tentang kerinduan. Aku baru sadar, ini sudah hampir setahun kami tak bertemu secara lengkap. Pada kepulanganku setelah marah besar kemarin, hanya Mas Mus yang kutemui di rumah, kemudian pergi lagi.

Ternyata sudah begitu lama aku tidak mendengar kelakar Mas Toir, yang meskipun punya kata-kata menyakitkan, tapi setidaknya dia yang paling sering melucu di antara kami. Juga terakhir aku merasakan masakan Mbak Rin yang seperti menu restoran pada Ramadhan tahun kemarin. Biasanya kalau Mas Mus pulang, sisa-sisa baju bagusnya diturunkan kepadaku. Dan tawa Mas Nur, yang sampai tidak kelihatan matanya.

Menjadi saudara, memang barangkali seperti itu adanya. Satu sama lain mungkin saja tidak saling menyukai, tapi tidak pernah ada alasan untuk saling menjauhkan. Setidaknya, hatinya.

"Semoga korona ini segera menghilang dan kita segera berkumpul kembali dalam keadaan sehat, aku sudah di jalan menuju rumah."

Pesan itu terkirim. Tanpa menunggu balasan, segera kumasukkan ponsel ke dalam tas. Menegakkan badan kemudian. Kereta akan sampai di stasiun Malang sesaat lagi.

Chaery Ma salah satu karyanya berjudul Rumah Hujan masuk daftar cerita anak terbaik Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2016

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Lee Sachi Sambangi Kepolisian Terkait Kasus Pencurian Ratusan Juta"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)