Cerita Pendek

Nayya dan Sikat Gigi

Muchamad Choiruddin - detikHot
Sabtu, 05 Sep 2020 10:17 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Dulu, aku mempunyai teman bermain yang mempunyai hobi unik. Berbeda dengan anak-anak perempuan seusianya yang gandrung bermain boneka atau masak-masakan, temanku ini sangat suka sekali dengan sikat gigi. Nayya namanya.

Dia mengumpulkan beragam sikat gigi dari berbagai merek dan model. Dari sikat gigi anak-anak yang imut, warna-warni dan ada motif hewan digagangnya, hingga sikat gigi dewasa polos berwarna yang ditaburi glitter. Semuanya dikumpulkannya dalam sebuah tabung paralon bekas potongan pipa air seukuran gelas kecil, tanpa ia kasih penutup di atasnya. Sengaja ia biarkan selalu terbuka dan ia selalu bisa memandangi kepala sikat yang beragam pola, warna, dan tekstur bulunya.

Ditaruhnya tabung pipa yang berisi penuh sikat gigi itu di dekat jendela tempat tidurnya. Seperti bunga dalam vasnya, kepala sikat yang berkumpul dalam satu tempat yang bentuk sedemikian rupa membentuk formasi layaknya daun bunga yang sedang merekah. Yang akan selalu ia pandangi tak henti sampai ia tertidur dan membuka mata keesokan paginya, kumpulan sikat gigi itu menjadi yang pertama dilihat matanya. Dan ketika pulang sekolah dan tak ada tugas yang harus dikerjakan lagi, ia selalu akan memainkan sikat gigi-sikat gigi itu.

Kadang ia membuatnya seolah-olah boneka yang saling berbicara satu sama lain. Sebuah keluarga sikat gigi dengan kedua orangtua dan seorang anaknya, ia selalu mengkhayalkan demikian saat memainkannya. Atau hanya ia ambil semua sikat gigi-sikat gigi itu dari tempatnya untuk kemudian ditata dan dimasukkannya kembali, begitu berulang-ulang.

Nayya sangat mencintai sikat gigi-sikat giginya. Ia akan menangis sejadi-jadinya apabila salah satu saja sikat gigi itu tidak ada di tempatnya. Pernah suatu kali Ilham, teman kecilku juga, tertarik dengan karakter singa favoritnya yang ada pada kepala dan gagang sikat gigi anak-anak yang begitu populer saat itu. Ia diam-diam mengambilnya saat kita mengerjakan tugas kelompok di rumah Nayya, lalu dibawanya pulang ke rumah. Selepas itu, Nayya tak henti-hentinya menangis sekencang-kencangnya. Jarak rumah kami yang hanya tersekat satu rumah saja membuatku bisa mendengarnya begitu keras. Lalu keesokan hari aku meminta Ilham mengembalikannya kembali kepada Nayya.

Pernah aku bertanya kepadanya saat itu. "Kenapa kamu begitu suka sih sama sikat gigi-sikat gigi itu, kenapa enggak main boneka aja?"

"Biar aku selalu dilindungi sama peri gigi," jawabnya polos sambil ia memasukkan kembali sikat gigi-sikat gigi yang baru ia keluarkan ke dalam wadahnya. "Emangnya ada peri gigi? Ha ha ha," tawaku terbahak.

"Kamu percaya yang begituan?" tambahku sambil masih terus tertawa mengejeknya. "Melindungi dari apa juga sih, Nay aneh-aneh aja kamu tuh!"

Ia kemudian menjelaskan kepadaku bahwa peri gigi akan melindunginya dari kejahatan pasukan bakteri yang bisa melubangi giginya.

"Bukankah kamu cukup dengan satu sikat gigi saja Nay, agar gigimu tidak berlubang?" tanyaku kemudian.

"Enggak cukup" jawabnya tegas. "Kamu enggak tahu sih, sekarang pasukan bakteri bisa melubangi gigi kita walaupun udah sikat gigi. Mereka bisa masuk lewat mimpi dan merusak gigi kita, membuatnya berlubang dan ditinggali ulat gigi. Ih, sereeem," Nayya kemudian bergidik membayangkannya.

Ia kemudian menceritakan bahwa sikat gigi-sikat gigi itu adalah senjata para peri gigi yang jatuh ke bumi saat berperang melawan pasukan bakteri. Sikat gigi itu layaknya tongkat sihir yang bisa mengeluarkan kekuatan ajaibnya untuk melumpuhkan pasukan bakteri. Dan pasukan bakteri sangat takut kepada sikat gigi tersebut. Mereka akan ketakutan ketika melihat sikat gigi itu. Sehingga ia tak akan pernah mau datang kepada anak yang membawa sikat gigi itu ke mana pun.

Itulah alasan Nayya kenapa bisa begitu bersahabat dengan sikat gigi-sikat giginya. Alasan yang sangat tidak masuk akal bagiku saat itu. Meskipun kami teman sepermaianan, namun aku berbeda usia 4 tahun dengannya. Saat itu aku sudah beranjak kelas 5 SD, sementara Nayya masih duduk di kelas 2. Sehingga aku sudah tidak percaya lagi dengan dongeng-dongeng tidak masuk akal seperti itu. Entah dari mana ia mendengar dongeng seperti itu.

Beberapa tahun kemudian Nayya tak pernah tampak lagi. Aku yang saat itu sudah beranjak SMP tidak pernah lagi melihat Nayya di lingkungan rumah kami atau di sekolah, mengingat sekolah SMP-ku masih satu yayasan dan bersebelahan dengan SD-ku dulu dan Nayya. Ia tak pernah berpamitan akan pergi atau pindah ke mana. Ia tiba-tiba menghilang begitu saja.

Suatu pagi aku bersama beberapa teman-temanku seperti biasa akan bermain di rumahnya saat hari Minggu. Namun tak ada siapapun di rumah Nayya, hingga berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, rumah itu tetap kosong tak berpenghuni.

Kepergiannya yang begitu tiba-tiba membuat kami begitu kehilangan Nayya. Aku, Ilham, Fifi, Bram, dan Rini, kami berenam dengan Nayya terjalin pertemanan sejak kami masih sangat kanak-kanak. Lingkungan tinggal kami yang berdekatanlah yang membuat kita bisa menjadi akrab dan bermain bersama. Sehingga kepergiannya yang seperti itu begitu membekas dan selalu membuat kami bertanya-tanya.

Baru beberapa hari yang lalu sebelum kutulis cerita ini, sebuah pesan masuk di handphone-ku. Salah satu teman kecilku dulu yang masih tinggal di kampungku dulu, Ilham, mengabarkan bahwa Nayya telah tiada. Ibunyalah yang tempo hari berkunjung ke rumah lamanya untuk keperluan penjualan rumah tersebut. Itulah kali pertama semenjak hampir 10 tahun yang lalu, rumah itu kembali ditengok pemiliknya.

Dan kemudian ibunya Nayya bercerita kepada Ilham bahwa Nayya telah meninggal 8 tahun yang lalu. Dua tahun semenjak kepindahannya yang begitu tiba-tiba saat itu. Nayya didiagnosis menderita kanker rongga mulut. Dulu sang ibunyalah yang selalu memberikan dongeng-dongeng pengantar tidur tentang peri gigi dan pasukan bakteri, agar Nayya rajin membersihkan gigi dan mulutnya. Lalu Nayya dibawa berobat ke luar negeri, namun penyakitnya terus mengganas dan akhirnya ia tumbang.

Mendengar kabar tersebut aku sangat terkejut dan tak bisa kubendung lagi rasa sedihku yang teramat sangat. Sebuah rasa sedih berbalut sebuah rasa penyesalan yang teramat dalam. Ternyata aku tak pernah cukup waktu untuk menunggunya, karena waktulah yang akhirnya merenggutnya. Aku membayangkan Nayya tumbuh menjadi gadis yang begitu cantik dan manis, seperti dulu aku selalu membayangkannya saat sebelum tidurku.

Khayalan anak-anak tentang orang dewasa yang menjalin hubungan percintaan yang romantis, indah, dan penuh kasih sayang dulu sering kugambarkan pada diriku dan Nayya. Dan rasa itu masih saja terus membumbung tinggi, bahkan berubah menjadi harapan-harapan di kemudian hari. Saat waktu kembali mempertemukan kami, aku akan mengutarakannya kepadanya. Semua cerita hatiku sedari kecil, degup jantung yang berdetak lebih cepat kala aku duduk di sampingnya, dan sorot mata sayunya membius imajinasiku untuk selalu mengingatnya.

Aku begitu mencintainya kurasa. Cinta pertama yang katanya begitu berkesan kurasakan pada Nayya. Meski perjalanan cintaku telah dilalui banyak manusia yang singgah, namun hadirnya masih tersimpan dan mengendap di dalam hati. Hadir sebagai pijar yang tak pernah redup, meski kecil ia senantiasa selalu hidup dan terang, mengabarkan sebuah harapan.

Dan sekotak sikat gigi yang tersimpan di lemariku sebagai pemantiknya, yang selalu akan membuatnya menyala lebih terang. Sikat gigi hadiah ulang tahun Nayya yang batal kuberikan padanya saat itu karena aku tak mau Nayya terlalu hanyut dalam dongeng sikat giginya. Karena ia selalu asik dengan sikat gigi-sikat gigi itu, membuatku ingin perhatiannya lebih banyak tertuju untuk teman-temannya, terlebih kepadaku. Sebuah hadiah yang sudah kukemas cantik dan rapi, pasti ia sangat bahagia saat menerimanya. Namun keinginanku yang membuyarkannya.

Saat ini aku merasa begitu jahat ketika mengingat semua itu. Sekotak sikat gigi yang tak kuberikan itu mungkin bisa penambah harapannya, dan setidaknya ia juga bisa terus mengingatku saat memandangnya. Namun semuanya telah sirna. Sekotak sikat gigi hanya akan menjadi sekotak harapan yang telah dingin membeku dihantam badai kenyataan.

Jombang, 2020.

Muchamad Choiruddin drummer asal Jombang Jawa Timur yang gemar membaca dan menulis cerita

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Pidato Menyentuh BTS Jadi Sorotan di Perayaan Hari Pemuda Korsel"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)