Cerita Pendek

Risalah Teh dan Tiga Keluarga

Artie Ahmad - detikHot
Sabtu, 29 Agu 2020 08:04 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Pada masa kiwari para pecinta teh tak perlu memikirkan bagaimana tumbuhan itu sampai di negeri ini pada titimangsa 1684. Para pencecapnya tak perlu mengetahui pula bagaimana cara Yeisei, sang pendeta Buddha membawa bibit teh dari Tiongkok ke daratan Jepun. Lalu berabad kemudian, seorang pegawai VOC bernama Andreas Cleyer membawa biji-biji teh masuk ke Batavia dari Jepun. Tanaman perdu yang didatangkan untuk hiasan, tak sekadar untuk dicecap citarasa daunnya kala tiba di tanah Batavia.

Teh pelengkap penghantar cerita, penambah keakraban tatkala berbincang dengan keluarga, atau hanya pengantar kesenduan lantaran kesepian. Semua orang boleh mencecap teh, meramunya dengan segala macam tambahan untuk memperkaya rasa ketika diteguk. Teh demikian akrab dengan para manusia, tak memandang statusnya apa, seperti halnya kisah beberapa keluarga.

Keluarga Pertama

"Mengapa mereka heran melihat kita bahagia? Hanya lantaran aku mudah tertawa, dikiranya aku demikian bangga menjadi seorang kere!" Sri Muslikah bersungut-sungut. Tangannya sibuk membuka bungkus teh goreng dan menjejalkan beberapa lembar teh ke dalam mulut teko.

Raslan suaminya tak menjawab. Dia hanya sibuk meluruskan sebatang rokok kretek yang sudah bengkok. Rokok kretek merk Kerbau, sisa kretek yang diambilnya semalam ketika datang ke tahlilan tetangga. Ia hanya mengangguk mendengar omelan Sri Muslikah yang tak ubahnya radio rusak. Pagi belum benar-benar turun ketika suara Sri Muslikah menghantam gendang telinganya. Perempuan beranak tiga itu bahkan meletakkan dengan kasar barang belanjaan.

"Rahimah itu, Kang. Masak dia menanyakan bagaimana bisa aku hanya belanja sebungkus asem-asem dan setengah papan tempe. Memangnya harus kita belanja banyak-banyak!"

"Lha memangnya mau dia bagaimana?" ujar Raslan dengan malas sembari menyulut rokok kretek di mulutnya, setelah memastikan batang rokok itu tak akan patah.

Sri Muslikah tak menjawab. Dia terlihat sibuk merebus teh di teko enamel yang sudah berwarna hitam lantaran jelaga. Sri Muslikah menjejalkan cukup banyak teh goreng dan menjerangnya di atas bara api. Sudah bertahun-tahun keluarganya memang menjadi penggemar teh goreng. Selain rasanya yang alami, harga teh goreng jauh lebih murah. Sebungkus harganya hanya seribu rupiah. Gula dan kopi di rumah kerap kali habis lantaran tak terbeli, Sri Muslikah hanya perlu menjerang cukup banyak daun teh untuk menyaru rasa pahit kopi. Baginya teh dan kopi tak ada beda, sama-sama pahit jika tanpa gula dan bisa ditenggak begitu saja.

"Dia tanya, kenapa kalau belanja sedikit? Kujawab, namanya keluarga buruh tandur bisa makan juga sudah bagus," Sri Muslikah menuang jerangan teh ke dalam cangkir lurik.

"Lalu, mengapa kau marah?" Raslan menoleh dengan heran.

"Aku menjawab sambil tertawa, eh Rahimah malah nyahut...Wah, jadi orang susah kok masih tertawa. Memangnya salah kalau aku tertawa? Apa salah kalau kita kere tapi merasa bahagia?"

Raslan hanya tertawa mendengar ucapan istrinya. Lucu memang hidup ini, hanya lantaran tertawa orang-orang bisa salah mengartikan jalan hidupnya. Hanya lantaran tertawa pula seseorang bisa tersinggung. Sembari meneguk jerangan teh goreng tanpa gula, Raslan berpikir, lalu bagaimana dia dan keluarganya harus bersikap sebagai orang kere? Haruskah keluarganya memasang wajah memelas saban kali ditanya tentang hidup dan alasan mengapa keluarganya demikian ngirit?

Keluarga Raslan memang tak berkecukupan seperti keluarga Rahimah yang suaminya carik di kelurahan, tak sekaya keluarga Burnomo yang konglomerat itu. Keluarga Raslan juga tak memiliki banyak tanah seperti keluarga Samhadi. Samhadi yang kemarin siang meninggal setelah menghabiskan waktu dan uang selama dua minggu di rumah sakit.

Sembari ngeteh pagi dan mengisap rokok sisa tahlilan di rumah Samhadi semalam, Raslan berpikir tentang mengapa orang yang merasa lebih kaya selalu tersinggung dan tak enak hati melihat tawa orang kere. Ia memikirkan tentang kebahagiaan dan segala macam hal, tetapi semakin memikirkan, semakin menjadi tawa Raslan. Ia merasa geli, lucu, dan wagu dengan semua pemikiran yang lahir di dalam tempurung kepalanya itu.

Keluarga Kedua

Kematian akan selalu menjadi misteri. Begitu pula yang dialami Samhadi. Tak ada yang pernah menduga jika tuan tanah itu akan pergi. Samhadi tak memiliki penyakit sebelumnya, dia hanya tidur siang dan susah dibangunkan. Suara ngorok dari tenggorokannya terdengar begitu berat. Anak-anaknya segera melarikan ke rumah sakit.

"Bapak terkena stroke." Begitu kata dokter yang memeriksa Samhadi.

Dua minggu ia terbaring tak berdaya, sampai akhirnya meninggal. Pemakaman dilakukan siang itu juga. Malamnya para tetangga hadir untuk tahlilan guna mengantar arwah yang pergi agar lebih tenang. Teh 999 yang berbungkus merah marun dijerang di cerek besar. Puluhan gelas dijejer untuk tamu yang datang tahlilan. Puluhan gelas berisi jerangan teh legendaris disajikan berdampingan dengan rokok kretek yang disajikan di dalam gelas belimbing.

Kesedihan sangat dirasakan keluarga Samhadi. Isak tangis masih terdengar di sela lantunan tahlil. Semua orang yang datang dengan khidmat membaca tahlil untuk almarhum. Beberapa pula ada yang sembari terkantuk-kantuk di sela acara doa. Mata mereka akan terbuka begitu teh dan sajian rokok kretek disajikan. Salah satu yang matanya nyaris terpejam Raslan.

Acara tahlil diselingi obrolan ringan mengingat kenangan almarhum tatkala hidup. Keluarga Samhadi dikenal cukup kaya. Tanah yang cukup luas dimiliki di beberapa tempat. Selama hidup, Samhadi dikenal cukup murah hati. Ia suka memberi, ramah dan suka membagikan banyak panganan saat tetangga melakukan bersih desa. Tetapi, seminggu setelah terbaring di rumah sakit, ada desas-desus bahwa Samhadi memiliki istri lagi di desa sebelah. Kabar itu menambah bumbu pawarta atas sakitnya sang tuan tanah.

Di acara doa untuk mendiang, semuanya menceritakan tentang kebaikan-kebaikan almarhum. Kucuran air teh dari cerek berulang kali dituang untuk mengisi gelas yang sudah kosong. Doa memang telah selesai, tetapi obrolan untuk menghibur keluarga mendiang masih berlanjut. Kretek di gelas diisi kembali. Semua menyayangkan cepatnya kematian Samhadi, meski kemudian celetukan demi celetukan dalam bentuk bisikan terlepas dari bibir beberapa orang. Tentang bagaimana hebatnya kekisruhan Samhadi dengan kakak tertuanya lantaran rebutan tanah warisan, lalu ada pula tambahan cerita bahwa Samhadi pernah menggeser patok tanah milik tetangga. Sungguh malam yang penuh warna dalam mengingat kematian seorang manusia.

Selain membicarakan almarhum Samhadi, beberapa tetangga yang datang juga mempertanyakan ketidakhadiran Burnomo. Sejak upacara kematian memang tak ada keluarga Burnomo yang muncul. Istrinya orang kota yang cantik itu memang tak pernah berkumpul dengan para tetangga, anaknya yang sudah remaja jarang terlihat keluar dari rumahnya yang dipagar tinggi. Burnomo yang kaya raya memang memiliki kehidupan lain. Konon ia ahli teh, yang meneliti teh dari dalam dan luar negeri. Meski sebenarnya para tetangga sama sekali tak mengerti apa pekerjaan Burnomo.

Malam doa di rumah Samhadi berakhir dengan menyisakan bergelas-gelas sisa jamuan teh dan wadah kretek yang isinya pun juga ludes tak bersisa.

Keluarga Ketiga

Mata wanita itu muram memandang suaminya yang terlihat tak acuh di ruang televisi. Percakapan telah selesai tanpa titik temu. Burnomo lebih memilih membungkam istrinya dengan kalimat yang tak lebih menyakitkan dari apa yang dilakukannya. Pesan mesra di gawai miliknya bocor lagi untuk yang kesekian kali. Pesan main api itu terbaca mata Nora, istrinya yang selama ini mencoba bertahan mendampinginya.

"Katanya kau akan berhenti main-main!" Nora berteriak kesal dari meja makan.

"Kan aku sudah minta maaf!" Burnomo berteriak dari ruang televisi.

Putri mereka yang sudah beranjak remaja hanya menggigil di ujung tangga. Teriakan-teriakan dari orangtuanya memekakkan telinga. Remaja yang baru bertumbuh itu merasa kerap tertekan lantaran tingkah polah ayahnya.

Pesan dengan embel-embel kangen dikirim Burnomo untuk Keiko Kanazawa, seorang gadis Jepang berwajah manis yang mereka temui saat berkunjung ke Okinawa. Nora masih ingat betul, bagaimana pertemuan keluarganya dengan gadis itu. Sebagai seorang pakar teh, Burnomo diundang seorang rekan untuk menghadiri cha-no-yu atau upacara teh Jepang. Di sanalah mereka pertama kali bertemu dengan Keiko Kanazawa, yang kebetulan juga diundang.

Dalam hidup Burnomo, memiliki seorang wanita saja tak memuaskan hatinya. Hatinya harus dibagi-bagi kepada beberapa wanita, termasuk kepada Keiko Kanazawa meski sebenarnya ia telah memiliki istri Nora.

Pertengkaran hari itu berakhir dengan kepergian Burnomo. Entah lelaki itu pergi ke mana, Nora tak peduli. Beberapa waktu selepas melihat suaminya pergi, ia menjerang teh pu-erh. Teh khusus yang telah difermentasi dan dipadatkan menjadi balok-balok kecil. Teh pu-erh yang ia seduh adalah hadiah dari seorang kawan baik. Konon, teh pu-erh itu sudah disimpan nyaris selama sepuluh tahun. Tak mengherankan, hasil terbaik penyimpanan teh pu-erh kabarnya mencapai tiga puluh sampai lima puluh tahun lamanya.

Teh chamomile yang biasa ia seduh untuk menenangkan pikiran tampaknya kali ini tak akan berhasil menenangkan hati dan isi pikirannya yang sedang gaduh. Di dalam sebuah teko keramik berukir naga, Nora menjerang beberapa cuil teh pu-erh selama hampir lima menit. Dengan tenang ia menuangkan air teh ke dalam dua cangkir keramik polos tanpa pola. Ditambahkannya sesendok gula dan beberapa tetes sianida ke dalam dua cangkir yang disiapkan sebelumnya.

"Sayang, ayolah minum teh!" Nora memanggil anaknya yang sedari tadi hanya mematung di tangga.

Satu cangkir teh pu-erh racikannya diberikan kepada anaknya, cangkir yang lain untuknya sendiri. Ia sudah lelah, ia ingin rehat dan tentunya tak ingin sendiri. Malam ini Nora menciptakan jamuan minum teh berdua dengan anaknya, untuk ucapan maaf dan sekadar pembuka upacara kematian. Lalu, suara cangkir-cangkir yang pecah mengakhiri jamuan teh malam itu.

***

Kematian istri dan anak Burnomo menggemparkan semua orang. Bahkan Sri Muslikah menggigil saat mendengarnya.

"Kok bisa ya, Kang orang kaya kok bunuh diri?" desah Sri Muslikah perlahan. Seperti biasa, pagi itu dia baru pulang dari belanja dan sebentar menengok rumah Burnomo yang sesak dengan orang.

Raslan tak menjawab pertanyaan istrinya. Sembari meneguk teh goreng racikan Sri Muslikah, dia hanya termenung-menung.

"Ternyata menjadi orang kaya bisa lelah juga. Lebih lelah dari kita yang kere ini." Sahut Raslan kembali meneguk teh goreng di tangannya.

Yogyakarta, 2020.

Artie Ahmad lahir di Salatiga, 21 November 1994. Saat ini tinggal di Yogyakarta. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit berjudul Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri (Penerbit Buku Mojok, 2019). Karya terbarunya sebuah novela berjudul Manusia-Manusia Teluk (Penerbit Buku Mojok, 2020)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Ini Rekomendasi Film Romance dengan Sad Ending"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)