detikHot

Cerita Pendek

Saf Pertama, Lima Orang Sebelah Kanan Imam

Minggu, 26 Jul 2020 10:55 WIB Naya Na - detikHot
ilustrasi cerpen Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Setelah Salat Magrib dilaksanakan, terjadi kericuhan dari beberapa jemaah. Mereka mengumpat satu sama lain, seolah merasa paling benar. Sang imam yang biasanya dapat melerai setiap keributan, kali ini tak mampu berbuat apa-apa. Sedangkan jemaah yang lain juga tak bisa membubarkan keributan itu.

Seseorang yang memakai baju biru tidak terima dikatakan bau. Wajahnya merah padam. Dia sampai mengendus-ngendus ketiaknya sendiri, tapi memang tak mencium apa-apa. Satu orang yang merasa kakinya selalu terinjak terus oleh orang yang memaki baju biru. Tidak luput, kakek tua yang selalu datang terlambat itu pun kena umpatannya. Anak kecil yang ada di dekatnya saat itu juga dia marahi. Anak itu menurutnya sangat tidak cocok berada di saf depan, karena ketika salat tak pernah diam. Bocah itu salah satu alasan dia tidak pernah khusyuk ketika salat.

Hampir saja orang itu melayangkan pukulannya ke orang berbaju biru kalau tidak dicegah. Sedangkan sang imam hanya bisa menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya pelan. Tangannya tak pernah berhenti mengusap janggutnya yang mulai memutih.

Kemudian, sang imam meminta pada jemaah yang terlibat keributan untuk menceritakan keluhannya. Dia juga meminta pada salah satu jemaah yang hadir untuk menjadi saksi atas keterangan setiap jemaah yang terlibat perkelahian. Orang yang ditunjuk mulai mendengarkan penyebab keributan ini terjadi.

Curahan Hati Sang Imam

Saya menyuruh para jemaah yang hadir untuk merapatkan saf. Sebentar lagi salat akan dimulai. Ini sudah terlambat dari waktu yang seharusnya. Gara-gara seorang kakek yang telat datang. Saya tidak paham. Kakek itu selalu hadir ketika ikamah hampir selesai dikumandangkan. Tidak hanya itu, dia selalu melaksanakan salat sunah, sebelum melakukan salat fardu. Namun, waktu yang dia pergunakan sangatlah lama, membuat kami-para jemaah yang sudah hadir lebih dulu-terpaksa menunggu. Jemaah selalu lebih banyak setiap kali salat Magrib dan Isya. Tidak seperti pada salat fardu lainnya yang hanya dihadiri beberapa orang sepuh dan anak-anak.

Bukannya saya tidak menghargai usaha dia yang ingin dekat dengan Tuhan, tapi saat seperti itu bukan waktu yang benar-benar tepat untuk berlama-lama. Saya tidak tahu apa yang ingin para jamaah lakukan setelah salat. Bisa saja di antara mereka ada yang ingin menidurkan anaknya cepat-cepat supaya malamnya bisa bangun. Atau mungkin, ada yang ingin menyiapkan bekal untuk berjualan di pasar ketika subuh. Lagi pula, terlambat seperti itu sudah termasuk melalaikan salat. Hanya karena satu orang, semuanya menjadi lalai. Seharusnya dia tahu, ketika ikamah sudah dikumandangkan, salat fardu harus segera dilaksanakan.

Saya hanya bisa mengusap janggut dan membenarkan peci yang letaknya tak pernah berubah sambil menunggu kakek itu selesai. Sesekali saya juga menegur anak-anak yang tak bisa diam seraya mengarahkan telunjuk ke bibir. Hampir sepuluh menit lamanya kami menunggu, kakek itu baru mengucap salam. Saya yakin, setelah ini akan mendapatkan masalah baru lagi, yang hampir setiap hari saya temui. Sebab, kakek itu selalu salat di dekat pintu setiap harinya. Dia tidak mau berpindah meski dipaksa sekali pun. Alasannya biar dia gampang keluar kalau ingin kencing. Saya tidak bisa terus memaksa karena dia juga sudah tua.

"Tolong rapatkan saf agar salat kita bisa mendapat berkah. Kamu maju ke sini." Saya menunjuk seorang remaja untuk ke depan, merapatkan saf yang kosong.

"Tidak mau, Pak Imam. Panas. Saya sudah nyaman dekat kipas angin," jawabnya sambil mengibas-ngibaskan tangan ke wajah.

Lagi-lagi saya hanya mengusap jenggot mendengar jawabannya. Saya tidak memaksanya untuk tetap maju. Saya juga bisa maklum dengan alasannya, karena musala didesain tanpa jendela. Selain itu, bangunannya juga tidak terlalu besar. Hanya mampu menampung beberapa orang dalam satu safnya. Pintu juga hanya ada dua. Tidak ada AC. Hanya ada beberapa kipas angin yang menurut saya tidak banyak membantu sama sekali. Saya pun merasa panas, tapi sedikit terbantu dengan kipas angin kecil di tempat imam.

Namun, saf yang tidak rapat akan menjadi tanggung jawab saya kelak. Dan saya juga tidak mau dicap sebagai imam yang tidak becus. Mengatur saf salat saja saya tidak mampu. Kemudian, saya menunjuk lagi seorang anak kira-kira berusia delapan tahun untuk melengkapi ruang saf yang kosong. Awalnya dia menolak, tetapi ketika saya mengancam tidak akan memulai salat, dengan muka masam akhirnya dia memenuhi permintaan saya.

Keluhan Sang Kakek

Saya tahu azan Magrib sudah berkumandang. Saya ingin cepat-cepat pergi ke masjid. Namun, penyakit ini benar-benar mengganggu. Kadang saya bertanya-tanya, apa saya sudah setingkat Nabi Ayub sampai diberi cobaan semacam ini? Dokter bilang ini hernia. Sebenarnya ada nama lengkapnya, tapi saya lupa. Yang jelas, katanya usus saya turun sampai ke kantong kemaluan. Saya tidak bisa menjelaskan. Namun, penyakit ini sangat mengganggu setiap aktivitas saya. Dokter sebenarnya sudah menyarankan untuk melakukan operasi, tetapi saya menolak. Saya tidak akan betah berlama-lama di rumah sakit.

Saya baru saja bersin dua kali, dan sukses membuat saya meringis. Area selangkangan saya berdenyut-denyut, tepat di bagian biji pelir. Rasanya luar biasa sakit. Saya tidak tahu harus menggambarkan sakitnya seperti apa.

Anak saya sudah memanggil-manggil, mengingatkan kalau sudah azan. Tidak usah diingatkan, saya pun bisa mendengar dengan jelas kalau memang sudah azan. Telinga saya tidak tuli. Pendengaran saya masih bagus. Saya juga masih bisa melihat jam dengan jelas. Mata saya tidak rabun. Saya tidak suka kalau apa-apa selalu diingatkan. Saya bisa sendiri. Meski usia saya menginjak angka 72 tahun ini, saya masih kuat melakukan apa pun sendiri. Hanya hernia ini yang sangat mengganggu.

Saya duduk sejenak, berusaha menahan sakit yang masih berdenyut-denyut. Setelah sakitnya agak kurang dan bisa berjalan kembali, saya mengambil inisiatif agar hernia ini tidak keluar-keluar dan tidak mengganggu saat salat berjamaah. Saya mencoba memasukkannya pelan-pelan dan membebatnya. Butuh waktu beberapa menit saya melakukan itu. Dan saya selalu melakukan ini tiap kali mau salat berjemaah.

Tidak terasa azan sudah berkumandang dan hampir selesai. Saya lihat, anak perempuan dan cucu saya sudah tidak ada lagi. Pasti mereka sudah berangkat. Saya juga cepat-cepat berangkat. Saya tidak mau ketinggalan salat berjamaah. Beruntung, yang menjadi imam saya kenal baik. Dia tidak akan keberatan menunggu saya beberapa menit untuk melakukan salat sunah.

Kejengkelan Seorang Anak

Lagi-lagi aku disuruh ke depan, merapatkan saf kosong gara-gara kakek tua itu tidak mau bergeser sedikit pun. Padahal aku sudah nyaman di tempatku yang dekat dengan teman-temanku. Aku sudah berusaha datang cepat, sebelum azan berkumandang. Membantu membersihkan musala setiap hari. Melakukan apa pun jika disuruh tanpa pernah menolak. Namun, rasanya tetap saja hanya aku yang disuruh mengalah.

Aku merasa jengkel luar biasa, tapi tidak dapat menolak keinginan Pak Imam. Pak Imam selalu punya alasan agar aku selalu melakukan suruhannya. Alasan yang hampir sama setiap hari, salat tidak akan saya mulai kalau saf tidak rapat, membuatku mau tidak mau tetap harus melakukan permintaannya kalau ingin cepat pulang. PR-ku di rumah sudah menunggu untuk segera diselesaikan kalau tidak ingin dimarahi Ibu Guru besok.

Lagi pula, aku tidak suka ada di depan. Tidak bisa bebas seperti saat di belakang. Tidak bisa salat sambil bercanda bersama teman. Pokoknya aku tidak suka. Aku iri dengan teman-teman sebayaku yang saf salatnya ada di belakang. Mereka bisa bercanda, sesekali sambil colek-colek dengan teman di samping. Atau terkadang, saling bertukar kopiah di rakaat pertama dan bertukar kembali di rakaat kedua.

"Kau majulah. Sebelum Pak Imam menyuruhku maju. Aku sudah bosan selalu disuruh merapatkan saf," ujarku pada kakak yang tepat berada di sampingku.

Kakak itu mengangkat bahu, sambil menekan-nekan jerawatnya. Kemudian dia membungkuk dan berbisik, "Kau saja. Aku tidak mau dekat-dekat dengannya. Ketiaknya bau dan itu sangat membuatku tidak khusyuk pas salat." Maksudnya seseorang yang berbaju biru, tepat lima orang di sebelah kanan di belakang imam. Di sampingnyalah saf kosong itu.

Aku hanya bisa mendengkus. Pasti Pak Imam memanggilku untuk mengisi saf kosong. Seolah hanya aku anak yang ada di masjid ini. Kenyataannya, masih banyak anak-anak lain yang berdiri di saf belakangku. Namun, Pak Imam tak pernah menyuruh mereka untuk ke depan. Selalu aku. Ini semua gara-gara kakek tua itu. Seandainya dia tidak ngotot untuk berdiri di saf depan dan mau bergeser.

Seseorang yang Berbaju Biru

Aku baru saja datang dari pasar setelah seharian berjualan ikan dan sayur. Azan magrib sebentar lagi berkumandang. Aku secepatnya membersihkan diri seadanya, yang penting badanku terasa segar. Selesai mandi, aku mengambil baju koko berwarna biru yang sudah kupakai kemarin. Kupikir baju itu masih bersih dan layak pakai.

Hidup sebagai duda dengan seorang anak laki-lak yang sudah menginjak remaja kadang membuatku sedikit mengabaikan pekerjaan rumah tangga. Seperti mencuci piring, mencuci baju, maupun membersihkan rumah. Jangankan itu, wajah saja tidak sempat kurawat. Kumis kubiarkan memanjang, tiap kali makan ada saja yang tersangkut di sana. Aku tak peduli, karena memang tak ada waktu untuk mengurus itu semua.

Azan berkumandang. Aku sudah rapi dan siap melangkah menuju musala yang hanya berjarak sekitar lima belas meter dari rumah. Aku berjalan cepat sambil bersiul, berharap bisa dapat paling depan. Tanganku sesekali mengusap-usap kumis. Beberapa orang yang lewat kusapa dengan senyum manis. Ada yang membalas, ada juga acuh tak acuh.

Setibanya di dalam musala, aku langsung menuju tempat tepat di belakang imam. Sudah banyak orang yang berdatangan. Masing-masing dari mereka mulai melaksanakan salat sunah. Aku juga tak mau ketinggalan. Beberapa orang yang ada di sekitarku terdengar mendengus-dengus, seperti ada mencium bau tidak sedap. Aku ikut mengendus-ngendus, tapi tak mencium apa pun. Aku lanjut tak peduli. Mungkin penciuman mereka memang terlalu tajam, atau hidungku yang sedang mampet hari ini.

Ikamah mulai dikumandangkan. Kami semua sudah bersiap-siap untuk melaksanakan salat fardu. Namun, imam kembali duduk ketika melihat seorang kakek baru datang melaksanakan salat sunah. Aku tahu kakek itu karena rumah kami tidak berjauhan. Sobari namanya. Kebiasaannya yang datang terlambat ternyata tak pernah berubah setahun belakangan. Entah apa sebabnya. Karena kutahu dia hanya seorang kakek pengangguran sejak satu tahun lalu. Dia hidup bersama anak, cucu, dan menantunya yang juga kukenal.

Waktu yang dihabiskan Kakek Sobari untuk salat sunat sangatlah lama. Aku sempat berzikir sampai beratus-ratus, baru kulihat sang imam berdiri.

"Merapatlah kau ke sini, sebelum nanti imam menyuruh yang lain." Aku berbicara pelan pada seorang pemuda yang tepat di belakangku. Namun, dia menggeleng. Ada banyak alasan yang dilontarkannya.

Kulihat imam mengamati saf kosong yang ada di sampingku. Dia mengusap-usap janggutnya dan mulai menyuruh beberapa orang untuk mengisi saf kosong yang berada di sampingku. Namun, kebanyakan menolak dengan bermacam alasan. Sedangkan Kakek Sobari tak pernah beranjak dari tempatnya di dekat pintu.

Seseorang yang Kakinya Terinjak

Akhir-akhir ini aku sering merasa malas pergi ke masjid. Ada banyak alasan yang membuatku merasa terganggu ketika salat berlangsung. Namun, apa boleh buat, musala itu satu-satunya tempat ibadah yang paling dekat dengan rumahku. Yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Hanya saja kejadian yang terjadi di dalam masjid benar-benar membuatku merasa kesal.

Saf yang terlalu rapat. Bau badan yang menyengat. Serta sikap jemaah yang terlalu keras kepala. Hanya ingin di tempat yang dia mau, tanpa mempedulikan orang lain yang mungkin datang terlambat. Lihat saja kelakuan kakek itu. Seolah musala ini miliknya. Tempat itu miliknya. Belum lagi jemaah yang mengenakan baju biru itu. Aroma badannya yang seperti ikan busuk, sangat mengganggu penciumanku. Mungkin juga penciuman orang yang ada di sekitarnya.

Melihat rapatnya saf, aku harus menghela napas keras. Berharap imam yang ada di depanku saat ini bisa paham. Agar saf ini masih ada celah buatku bernapas lebih. Sayangnya, dia bahkan tak pernah peduli. Sekeras apa pun aku memberinya kode, dia tetap dengan peraturannya, bahwa saf itu harus rapat. Tidak boleh ada celah kalau tidak ingin ada setan masuk.

Aku pernah memprotes sekali. Apa yang kudapat? Hanya ceramah panjang beserta hadis-hadis yang menguatkan kalau saf salat itu harus rapat. Lalu berlanjut tentang kesabaran. Tidak boleh ada yang marah ketika salat berlangsung. Dia bisa saja bilang seperti itu karena tak pernah merasa menjadi di posisiku.

Dia tidak pernah merasa terganggu dengan banyak geraknya anak-anak ketika salat. Dia tidak mencium bau ikan busuk dan ketiak yang bercampur menjadi satu. Dia tidak pernah tahu rasanya betapa sangat terganggu ketika salat dalam situasi yang seperti itu.

Jika saja ilmuku lebih tinggi dari imam, atau sederajat, aku ingin sekali mengajaknya bertukar tempat. Biar dia tahu rasanya jadi makmum yang dikelilingi orang seperti itu. Belum lagi, astaga, aku ingin sekali mengumpat rasanya. Kaki si bapak berbaju biru itu lagi-lagi menginjak kakiku. Rasanya basah, hangat, dan sedikit lengket, membuatku hampir menendang kakinya kalau saja tidak ingat sedang salat.

Aku harus bersabar sedikit lagi. Sebentar lagi. Sebentar lagi, siksaan ini akan segera berakhir. Berulang kali aku merapalkan kata-kata itu agar bisa merasa lebih baik. Sayangnya, surah pendek yang dibaca imam rasanya terlalu panjang. Dia hampir membaca separuh dari Surah Arrahman* dengan suara yang mendayu-dayu.
Seandainya situasi tidak seperti ini, sebenarnya aku sangat bisa menikmati setiap bacaan surah itu. Suara imam sangat merdu, tilawah dan tajwidnya juga sangat enak di dengar. Tetapi, semua itu malah membuatku semakin gerah dan jengkel.

Aku ingin sekali bertukar tempat dengan kakek itu, atau ke tempat mana pun yang tidak menyesakkan seperti ini.

Keterangan:

*Surah Arrahman berjumlah 78 ayat

Naya Na adalah nama pena; seorang ibu rumah tangga dengan satu orang putri

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Simak Video "Depresi Gegara Prostitusi, Vernita Syabilla Tak Berani Ketemu Ortu"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com