Cerita Pendek

Tidak Dijual di Toko Mainan

Cosmas Kopong Beda - detikHot
Sabtu, 11 Jul 2020 11:16 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Sejak saat itu Ida Lamapaha tidak pernah lagi membalas pesanku. "Bisa bertemu?" itu pesan terakhir yang aku kirim ke dia. Dia cuma membaca dan meninggalkan tanda centang dua berwarna biru langit.

***

Matahari sudah cukup tinggi ketika aku kaget dan terjaga. Aku pasti terlambat, pikirku. Aku bangkit dari tempat tidur dengan terburu-buru. Sudah pukul 09.23. Beruntung ada suara berisik dari kamar sewa tetangga mengusik gendang telingaku. Seandainya tanpa kebisingan itu, aku tidak mungkin bangun secepat ini setelah semalam suntuk menyunting naskah Demon dan Paji dan baru tidur pada pukul 04.00 dini hari.

Lazimnya aku bangun pada jam makan siang apabila aku tidur menjelang subuh. Aku akan berleha-leha dengan segelas kopi, beberapa batang rokok, mendengar musik, dan membaca koran. Namun, kali ini aku ada janji dengan seseorang. Aku harus menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit dengan motor. Oleh karena itu, aku mencuci muka secepat kilat, menggosok gigi, mengganti baju, celana, menyambar jaket, mengenakan sepatu Nike, memasukkan alat cas dan earphone ke tas, lalu mengambil kunci motor.

Sebelum meninggalkan kamar sewa, aku coba memeriksa lagi tasku untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.

***

"Kau punya banyak waktu untuk memperjuangkannya, tetapi sepertinya dia tidak punya waktu untuk melihat usahamu, Kamba," Gogol Bopeng tidak begitu senang setiap kali aku bercerita soal Ida Lamapaha.

Berulang kali dia menasihatiku bahwa percuma saja aku berusaha mendapatkan cinta Ida. Sekalipun dia masih sendiri, tidak semudah itu dia bisa menerima cinta lelaki yang baru dikenalnya dalam hitungan bulan. Selain itu, Gogol sudah punya kesimpulan dari cerita-ceritaku mengenai Ida.

"Sudah jelas, dia selalu membalas sekenanya saja. Jika dia tertarik, dia akan bertanya balik," celoteh Gogol Bopeng.

***

Tidak butuh waktu untuk mengenali Sari Kolong. Raut mukanya sudah aku ketahui dua malam sebelumnya dari foto yang dia kirim ke aplikasi pesan. Aku menghampirinya.

"Sari Kolong, kan? Aku Arkian Kamba, yang menghubungimu Kamis malam lalu."

"Iy...." Dia belum sempat menyelesaikan kata-katanya ketika aku melanjutkan,

"Maaf aku terlambat. Semalam tidur agak larut," kataku sambil menarik sebuah kursi kayu seraya menyodorkan tangan untuk menyalaminya.

Dia agak sedikit canggung, tetapi langsung berusaha melenyapkan kekikukannya dengan senyuman. Lesung pipinya samar-samar terlihat, gigi putihnya juga. Gigi-gigi itu tersusun rapi di balik bibirnya yang merah dan tipis.

"Tidak apa-apa. Santai kok. Aku nggak ada jadwal lain," dia mematikan rokoknya ke asbak dan menyambar cangkir tehnya. Dia meneguk teh itu, tetapi sudut matanya tidak beranjak dariku.

Dia tiba lima belas menit lebih awal sebelum kedatanganku. Dia memilih duduk di luar kafe, di satu sudut yang dinaungi pepohonan. Meski matahari sudah cukup tinggi, udara dan angin sepoi-sepoi yang berembus menciptakan kesejukan yang begitu bersahabat. Suasana kafe belum terlalu ramai meski di akhir pekan. Hanya beberapa orang duduk berjauhan satu sama lain.

Sari Kolong memakai kaos oblong putih. Di bagian depan kaos itu tertulis "Tidak Dijual di Toko Mainan" dan selebihnya putih polos. Celana jin berwarna berwarna biru tua dipadu dengan sepatu Converse klasik. Dia terlihat begitu anggun dengan rambut layer sebahu yang kemerah-merahan diterpa sinar matahari. Dia pasti lebih menawan dengan model rambut scruffy top knot, pikirku.

***

Untuk pertama kalinya Ida mau makan siang denganku. Setelah melewati banyak perjuangan, rasa-rasanya aku tidak percaya dia mau kuajak makan. Setelah selesai mata kuliah Pengantar Filsafat, aku menghampiri mejanya. Meski selama ini dia tidak banyak menghiraukanku, dia tetap saja bersikap sopan denganku.

"Maaf," dia belum melanjutkan kata-katanya ketika aku memotong.

"Mau makan siang denganku? Kita ngobrol di kantin saja, mau?" sorot mataku benar-benar membuatnya sedikit salah tingkah.

"Kamu traktir? Tapi nggak mengganggu, kan?"

Aku menyadari, sekilas wajahnya terlihat mirip Adinda Azani. Aku sama sekali tidak berusaha melebih-lebihkan. Ida punya rambut yang lebat berwarna hitam gelap, berombak, panjangnya melewati bahu. Dagunya lancip. Dia benar-benar terlihat manis. Hidungnya kecil imut-imut meski tidak terlalu mancung.

***

Selepas menonton final Roland Garros, aku memutuskan mencicil tulisan hasil wawancaraku dengan Sari Kolong. Aku memutar album Dare to Dream dari ponsel. Mendengarnya dengan earphone. Aku masih punya tenggat waktu sehingga bisa menulisnya sesantai mungkin. Majalah tempat aku bekerja terbit awal bulan dan aku masih punya waktu tiga minggu untuk mengkhatamkan tulisanku.

"Sari Kolong tidak pernah menghitung sudah berapa banyak lelaki yang dia layani di flatnya," aku membuka tulisanku.

Tidak ada yang perlu Sari Kolong ingat dari semua lelaki yang pernah menidurinya. Beberapa di antara mereka lebih dari sekali mendapat pelayanannya, tetapi sebagian besar dari mereka tidak pernah kembali. Tidak menjadi persoalan bagi Sari Kolong sebab selalu ada lelaki lain yang menghubunginya. Walau demikian, Sari kolong tidak mau melayani lebih dari lima lelaki dalam seminggu. Dia punya jadwal libur di ujung pekan.

Dia biasanya mengisi akhir pekan dengan menonton film, pergi bersama teman-teman seprofesi, atau ke pusat kebugaran. Semua rutinitas akhir pekan itu dia jalani agar kehidupannya tidak monoton. Dia ingin seperti orang lain. Ingin seperti pekerja kantoran yang bisa berleha-leha setelah bekerja selama lima hari penuh.

***

Cerita-cerita mengenai Ida hampir semuanya sudah diketahui oleh Bopeng. Oleh karena itu, si Gila ini nyaris tidak percaya setelah mengetahui hubungan kami. Setelah bercerita banyak mengenai Ida, Bopeng mengajakku minum di Beer Garden. Entah jam berapa ketika kami kembali dalam keadaan setengah mabuk. Aku memboncengnya dengan Supra milikku. Aku memacu motor tua itu dengan sepelan mungkin.

Sepanjang perjalanan Bopeng terus mengoceh. Dia berbicara dengan arah yang tidak jelas. Cerita-ceritanya absurd, tetapi aku mengiyakan saja apa yang keluar dari mulutnya. Aku berharap dia tidak terlempar ke jalanan.

"Pegang pinggangku yang erat," kataku.

Kami tiba di kamar sewa dengan selamat, tetapi sial menimpa Bopeng ketika kami menaiki tangga menuju kamar. Dia tergelincir sehingga terjatuh. Pelipisnya berdarah-darah karena menghatam pagar pembatas tangga. Namun, dia baik-baik saja ketika aku memapahnya dengan perlahan. Kaosku yang berwarna putih dilumuri darahnya yang menetes bagai pancuran kecil.

***

Setelah menyelesaikan tulisanku, aku menghubungi Sari Kolong sesuai perjanjian kami sebelumnya. Aku akan memotret kamar flat miliknya, juga dirinya (tentu saja dalam potret siluet). Tidak mungkin aku memajang potret close up Sari Kolong di media massa yang punya ribuan pelanggan.

"Kamu punya teman dekat?" aku bertanya ke Sari.

"Ada."

"Boleh diwawancarai? Aku butuh cerita yang berbeda. Soal tarif, angkanya akan sama denganmu."

Pastinya aku akan merahasiakan kunjunganku ke flat Sari Kolong kepada Ida. Jika aku menceritakan kepadanya pasti ada banyak pertanyaan akan muncul setelah itu. Kenapa tidak memawancarainya di kafe saja? Kenapa harus di kamar flatnya? Setelah wawancara kamu mau ngapain? Demikianlah pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin akan muncul.

Pagi-pagi sekali pesan dari Sari Kolong muncul di kotak masuk. Temannya yang kuminta sudah bersedia diwawancarai.

"Terima kasih," balasku.

Entah dengan cara apa aku merahasiakan kunjunganku ke flat Sari Kolong kepada Ida terus aku pikirkan. Aku khawatir dia memintaku mengantarnya untuk urusan ini-itu. Memasuki sebulan usia hubungan kami, kami belum ke bioskop atau menghabiskan akhir pekan bersama. Selama ini kami hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Aku sibuk dengan kuliah dan kerja paruh waktu dan faktanya kami masih berusaha saling mengenal lebih jauh.

***

Perihal Ida akhirnya Gogol Bopeng menemukan jalan keluar untukku. Dia menyarankan sebaiknya aku mengunjungi flat Sari Kolong pada petang hari. Jadi, jika Ida memintaku kencan atau urusan lain, setidaknya aku punya waktu pada malam hari.

"Temanmu bersedia diwawancarai jam segitu?" aku menanyai Sari Kolong.

"Sundal selalu punya waktu bila dibayar, kecuali lagi menstruasi atau sekarat."

Sekarang kendala satu-satunya yang akan aku hadapi adalah Ida. Saran dari Bopeng bisa aku pakai, tetapi alangkah baiknya aku juga memberi tahu ke Ida. Kecurigaan akan muncul apabila nanti dia membaca hasil liputanku di majalah. Walau kadang seperti orang gila, Bopeng bisa diandalkan dalam urusan ini. Dia memberiku ide berikutnya terkait apa yang aku khawatirkan. Sebagai kawan akrab dia bersedia kuseret ke dalam urusanku jika nanti persoalan dengan Ida menjadi rumit.

"Bilang saja kita berdua ke sana. Tidak ada apa-apa. Selesai!" kata Bopeng menyarankan.

***

Sesuai perkiraanku, Sari Kolong sangat perfeksionis. Flatnya tertata dengan rapi, wangi, dengan lampu-lampu suram kekuningan. Ruang depan terlihat cukup luas karena minimnya perabotan. Cuma satu rak buku yang berisi majalah mode diapit beberapa pot dengan bunga tiruan. Sepasang sofa dengan meja kecil terletak di ruang belakang, dekat jendela, sehingga bila tirai disibak, langsung bisa terlihat lautan di sebelah selatan.

"Duduk aja. Mau minum apa?"

"Apa saja. Temanmu jadi ke sini, kan?" aku bertanya saat sedang mengamati

The Scream, satu-satunya lukisan di ruang itu.

"Lagi di jalan. Paling 10 menit lagi sampai."

"Kalau pengen ngerokok kita nongkrong di lorong."

"Tidak usah. Nanti saja selesai memotret dan wawancara."

Sari Kolong adalah tipe orang yang mudah akrab dengan siapa pun sehingga tak sulit mengajaknya membicarakan banyak topik. Pengetahuan umumnya cukup luas. Selera humornya juga sangat baik.

Tahun-tahun yang pahit sudah lewat, tetapi semuanya tidak mudah tanggal dari ingatannya. Ada saat-saat ketika dia merasa begitu terpukul sehingga perasaannya digelayuti kesedihan, tetapi ia selalu punya cara terbaik untuk menemukan kembali kegembiraan.

Dia tengah bercerita mengenai pengalaman pertamanya tidur dengan lelaki ketika pintu flat miliknya diketuk.

"Itu datang orangnya," kata Sari Kolong sambil bangkit dari sofa.

Setelah bunyi ceklek pintu itu terkuak. Seketika aku nyaris tidak percaya sebab yang muncul adalah Ida Lamapaha. Kekasihku.

***

Sejak saat itu Ida tidak pernah lagi muncul ke kampus. Pesan terakhirku tidak pernah dibalas. Dia lenyap entah ke mana, aku sama sekali tidak tahu. Aku meneleponnya, hasilnya nihil. Sari Kolong pun selalu pelit informasi soal Ida.

Satu tahun perihal Ida sudah berlalu ketika suatu malam Sari Kolong mengirim pesan. Saat itu aku dan si Bopeng berada di salah satu rumah minum di selatan Lamakura.

"Ida melahirkan. Anaknya laki-laki. Diberi nama Arkian Kamba."

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Curcol, Cara Memperkenalkan Band Baru ke Orang-orang"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)