detikHot

Cerita Pendek

Lily dalam Lemari

Sabtu, 27 Jun 2020 12:22 WIB Layla Shallma Putri Pracia - detikHot
ilustrasi cerpen Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

"Bagaimana bisa kau kehilangan sesuatu yang tidak pernah kau miliki?" Lily bertanya padaku, suaranya terdengar ditarik-tarik.

Malam itu hujan deras sekali, lampu mati, aku mendekam di dalam kamarku yang pengap, membiarkan dingin menusuk-nusuk kulitku.

Aku menangis. Mungkin karena hujan, yang kata orang memiliki pengaruh magis pada perasaan manusia. Aku menjadi lebih melankolis. Atau, seperti yang kupercaya bahwa menangis pun ada waktunya, bahkan ketika aku tidak menginginkannya. Kelenjar air mataku mungkin sudah terlalu penuh, maka ketika otakku memerintahnya untuk mengosongkan diri, aku menangis. Bisa dibilang, tanpa sebab pasti. Atau...begitulah sebabnya.

Aku menangis karena hujan, atau karena kelenjar air mataku yang butuh pelepasan.

Dan Lily, yang saat ini duduk di dekat lemari dengan Areo di pangkuannya menatapku iba. Pertanyaannya belum kujawab. Aku mengerang di atas ranjang, menutup diriku dengan selimut.

"Kenapa kau harus membuat segalanya terasa lebih menyakitkan?"

Kulihat Lily tersenyum. "Aku adalah realitamu, Lisa. Menyakitkan, bukan?"

"Tidak. Aku sedang tidak ingin merasakan apapun sekarang. Tinggalkan aku sendiri!"

"Kau menghindar lagi."

"Aku tidak menghindar!"

"Kau seperti landak sekarang."

"Mau landak atau macan atau beruang, aku tidak peduli." Sekarang aku harus fokus mengosongkan kelenjar air mataku, biasanya kalau tidak, hal itu akan berdampak besar pada sesak di dadaku.

"Baiklah. Kalau sudah selesai, beri tahu aku bagaimana rasanya tidak merasakan apapun."

Lily bangkit dari duduknya.

"Hmmm," aku menjawab saat Lily telah masuk ke dalam lemari, meninggalkanku seorang diri, tepat seperti yang kuinginkan. Walau aku tahu, saat ini, Lily mengintip dari celah pintu lemari dengan tatapan penuh ingin tahu. Areo mengeong-ngeong, berputar di lantai dan menyusup masuk ke dalam selimutku. Aku tidak menghiraukannya dan melanjutkan tangisku.

Suara hujan lebat di luar bersahutan dengan petir. Namun sekalipun begitu, suara tawa suamiku di kamar sebelah masih dapat kudengar. Jika saat ini hujan berpasangan dengan petir, suamiku berpasangan dengan kekasihnya, aku dengan diriku sendiri. Pikiran itu membuatku tertawa di antara isak tangis.

Aku tidak berpikir dunia tidak adil. Begini pun sudah cukup. Hanya saja, terkadang aku kesulitan memahami apa yang kurasakan, seperti sekarang. Ini benar-benar memusingkan.

Mereka berisik sekali, dan itu benar-benar mengganggu. Aku mengusap air mataku, lantas bangkit dan duduk di tepi ranjang. Aku menatap mata Lily di celah lemari, berpikir mungkin aku bisa bergabung dengannya di sana. Tapi aku tidak melakukannya. Aku pergi ke meja di mana kertas-kertas berserakan. Pekerjaanku sudah menumpuk, aku seharusnya tidak membuang-buang waktu. Maka aku pun mulai mengerjakannya satu per satu.

Perlahan suara berisik di kamar sebelah tidak lagi terdengar, bahkan suara hujan dan petir hanya terdengar samar. Air mataku mengering, aku tidak menangis lagi. Rasa sesak di dadaku beralih ke punggung, di mana aku merasa terbebani dengan pekerjaan-pekerjaan ini.

Sinar matahari menyinari kamarku. Aku menatap ke luar, suara tetes-tetes air kembali terdengar. Angin sejuk menerpa wajahku ketika daun jendela kubuka. Udara terasa sangat bersih, tumbuhan tampak lebih hijau dan hidup. Aku suka suasana yang tercipta ketika hujan reda. Bahkan ketika suamiku bersama perempuannya muncul di teras rumah dan berjalan bersamaan menuju pagar, aku hanya memperhatikan mereka tanpa merasakan apapun. Ini adalah perasaan yang baik.

"Perempuan itu penyihir. Dan suamimu...aku akan menyuruh Areo mengencingi makan malamnya!"

"Biarkan saja. Siapapun berhak bahagia, bukan begitu?" Aku menoleh pada Lily yang lantas memandangku dengan tatapan cemas. Areo mengeong dan menggesekkan tubuhnya di kakiku, aku mengangkatnya dan memangkunya, mengusap-usap bulu halusnya.

Lily masih berdiri di sebelahku. Tatapannya lurus ke depan pada dua insan di gerbang rumah.

"Kenapa kau bersedia menikah dengan lelaki itu?"

"Mama dan Papa bilang, dia lelaki yang tepat."

"Tapi mereka salah, kenapa kau tidak melawan?"

"Tidak perlu, biarkan saja."

"Apa yang kau harapkan, Lisa?"

"Tidak ada, percayalah. Hanya saja, terkadang, kau merasa bahagia di atas penderitaanmu sendiri. Kau tahu maksudku? Ya, itu perasaan yang benar-benar menarik."

"Aku khawatir padamu."

Aku tersenyum menunduk, menatap pupil mata Areo yang tertuju padaku. "Aku juga," bisikku.

***

Rumah lebih sering sepi. Terkadang aku merasa bahwa aku hidup seorang diri. Tapi memang itulah yang aku inginkan, bukan?

Aku mematikan semua lampu ketika cahaya matahari menembus jendela. Musik berputar di belakang sementara aku mulai membersihkan kamar dan berlanjut ke ruang tamu sampai dapur.

Beberapa potong pakaian berserakan di dekat sofa. Aku segera memungutnya dan membawanya ke ruang mencuci bersama dengan pakaian kotor lain.

"Lelaki memang tidak pernah bisa diandalkan!" Lily menggerutu di belakang. Areo yang baru bangun dari tidurnya bermain-main di bawah kakinya.

Aku keluar dari ruang mencuci bersamaan dengan terbukanya pintu kamar suamiku. Sosoknya keluar dengan rambut acak-acakan dan mata mengantuk. Aku terkekeh sendiri melihatnya. Dia tiba-tiba mengangkat kepalanya menghadapku. Tawaku lenyap seketika. Dia tampak terkejut. Untuk sesaat, mata kami bertemu, tapi kemudian dia segera melangkah ke dapur. Areo berlari mengikutinya di belakang dan mengeong dengan heboh di kakinya.

Selain kebiasaannya yang suka membawa sembarang perempuan pulang ke rumah, sebenarnya dia adalah suami yang cukup bertanggung jawab. Aku tidak bisa memasak, dia bisa. Jadi dia memasak untukku setiap hari. Dan aku memutuskan untuk menjadi bagian yang menjaga kerapian dan kebersihan rumah setiap saat.

Dia memasak nasi goreng, menghidangkannya dengan sayuran segar dan telur mata sapi. Aku duduk diam di hadapannya, menyentuh makananku sedikit-sedikit, tapi pada akhirnya aku tidak berhasil menghabiskannya. Dia telah selesai, meminum kopinya, dan bermain dengan benda pintar di tangannya untuk beberapa saat. Dia pun berdiri membereskan semuanya.

Kulihat dia menatap sisa makanan di piringku dengan tatapan yang sulit kuartikan, apakah dia sedih karena aku tidak pernah menghabiskan makanan yang telah dimasaknya dengan susah payah? Mau bagaimana lagi, aku sama sekali tidak lapar dan tidak punya nafsu makan. Kulihat dia membuangnya ke tempat sampah dan meletakkan semua piring kotor itu ke bak pencucian, selanjutnya itu adalah tugasku.

Pagi kami memang selalu sebisu itu.

***

Suamiku berangkat kerja pada pukul delapan. Biasanya, dia akan pulang pada pukul sepuluh malam, atau satu siang, atau terkadang lima sore. Aku rasa dia tidak terlalu terikat pada waktu tertentu. Tapi yang pasti, sesibuk apapun dirinya, dia selalu bisa menemukan waktu luang untuk berkencan dengan kekasih-kekasihnya.

Aku menatap mobil suamiku yang keluar dari halaman. Sebelumnya, tetangga baru kami, seorang janda muda beranak satu yang merupakan seorang guru sekolah dasar, datang menghampiri suamiku dan meminta tumpangan padanya. Aku hanya mengintip dari jendela. Lily duduk di sampingku menatap wanita itu dengan kebencian penuh di matanya.

"Sudahlah, Lily," kataku.

Hari itu, aku nyaris berhasil tidak merasakan apapun, ketika tiba-tiba saja suamiku pulang pada pukul tujuh lebih tujuh belas menit, bersama janda muda di samping rumah, aku dihantam oleh berbagai perasaan yang selama ini selalu kuhindari karena aku benar-benar membencinya.

Aku berlari ke kamar. Lily mengikutiku. Areo di gendongannya.

"Sekarang, haruskah aku bersembunyi di dalam lemari lagi?" tanya Lily.

Aku menggeleng. "Aku tidak menangis. Aku akan melanjutkan pekerjaanku."

Lily mengangguk mengerti dan tidak bersuara lagi. Dia berbaring di atas ranjang mengusap tubuh Areo yang tertidur dengan nyaman.

Ketenangan itu tidak berlangsung lama, karena kemudian aku sadar, tidak ada suara cekikikan atau obrolan apapun di kamar sebelah. Apakah mereka sudah pergi? Aku menyentuh permukaan gelas di mejaku yang isinya telah habis kuminum. Aku butuh segelas lagi.

Ketika aku keluar dari kamar, aku mendapati suamiku dengan wanita itu berada di dapur. Mereka tengah menyantap makan malam di meja makan. Aku sungkan untuk ke sana dan sempat berpikir untuk menahan rasa hausku. Tapi suara obrolan mereka menghentikan niatku. Wanita itu bertanya pada suamiku, "Tidakkah kau bosan tinggal seorang diri?"

Suamiku terdiam beberapa saat sebelum menjawab, "Aku tidak tinggal sendiri."

Benar, dia tidak tinggal sendiri. Memang banyak tetangga yang berpikir seperti itu, karena aku nyaris tidak pernah keluar rumah. Apakah karena itu wanita ini berani datang ke sini malam ini? Dia tidak takut dengan gunjingan tetangga yang lain?

Kudengar wanita itu terkekeh kaku. "Ah ya! Kau punya kucing ya, aku lupa. Siapa namanya?"

"Namanya Areo."

"Dia benar-benar kucing yang manis dan penurut ya."

"Sebenarnya tidak. Dia hanya menurut pada istriku."

Tawa wanita itu semakin kaku. Wajah suamiku semakin muram. Entah ini hanya perasaanku belaka, tapi suamiku selalu berubah dingin seperti itu setiap kali perempuan-perempuan yang dibawanya pulang bertanya sesuatu tentangku. Lily memiliki dugaan-dugaan; dia merasa bersalah, risih, atau hanya sekadar muak pada topik yang menyangkut tentang diriku.

"Kudengar kucing-kucing memang lebih penurut pada wanita," wanita itu berkata setelah menghabiskan air di gelasnya seolah dia sangat kehausan. "Apakah kalian memiliki anak?" tanyanya.

"Kenapa kau bertanya begitu?" suamiku bertanya balik.

"Ah, tidak ada. Maafkan aku kalau itu agak tidak sopan."

"Kami punya," jawab suamiku.

Ah, tentu saja kami tidak punya. Aku menyadari hal itu hanya sebuah kebohongan belaka yang mungkin suamiku buat untuk menyingkirkan janda itu, karena suamiku terlihat benar-benar dalam suasana hati yang buruk, di mana dia biasanya hanya ingin sendiri.

"Benarkah? Siapa namanya? Di mana dia? Aku tidak melihatnya sedari tadi."

Raut wajah suamiku semakin gelap saja. "Namanya Lily. Dia bersama istriku."

Lihat, dia bahkan mengambil nama Lily, sangat tidak kreatif.

Wanita itu tampak terkejut. "Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau...."

"Tidak apa, lupakan saja."

Wanita itu mengangguk. Dan dia sepertinya menyadari suasana hati suamiku yang berubah buruk karena ucapan-ucapannya. Dia duduk dengan canggung dan hanya menyentuh makanannya sedikit.

Aku memutuskan untuk tidak lagi menghiraukan mereka dan mengambil air minum di dapur.

"Ah, ya! Aku harus menghadiri rapat besok pagi-pagi sekali. Sepertinya malam ini aku tidak jadi menginap. Apakah tidak apa-apa?"

Apakah dia mengatakan itu untuk memanas-manasiku?

Suamiku tidak langsung menjawab ucapannya. Dia makan dengan tenang sambil menatap wanita di hadapannya. Aku bersandar di pantri menatap mereka. Sekarang wanita itu memiliki dua alasan mengapa seharusnya dia tidak jadi menginap.

Lily mengintip di pintu dapur, menoleh pada mereka dan padaku bergantian. Aku tersadar, sudah saatnya aku pergi dan meninggalkan mereka berdua.

Aku tidak peduli.

Kutekankan sekali lagi, aku tidak peduli.

Suara benda pecah menghentikan langkahku. Wanita itu terpekik dan segera berjongkok di lantai memunguti pecahan-pecahan beling. Kulihat tangannya bergetar.

Suamiku menghampirinya. "Biarkan saja," katanya.

"Tidak! Tidak apa-apa. Maafkan aku, akan kubersihkan segera."

"Tidak apa. Istriku akan membersihkannya nanti."

Tubuh wanita itu langsung membeku. Dia menatap suamiku dengan mata terbelalak. "Apa katamu?"

"Ayo, kuantar kau pulang." Suamiku mengulurkan tangannya, namun wanita itu tidak menyambutnya.

"Pak Aksara...."

Aku mengernyit bingung pada panggilan formal yang tiba-tiba saja diucapkan wanita. Ia berdiri, menatap suamiku cemas. "Bukankah...bukankah istrimu sudah pergi?" tanyanya.

Aku memandang suamiku, ikut menunggu jawabannya. Tapi dia hanya berdiri di sana, menatap wanita itu dingin.

Dari sudut mata, aku melihat Lily keluar dari persembunyiannya dan menghampiriku.

"Lisa, ayo kembali ke kamar!" Lily menarik-narik tanganku.

Aku menurut saja. "Lily, apa maksudnya aku sudah pergi? Tidakkah dia melihatku berada di sana?"

"Aku tidak tahu, Lisa."

Perampuan, 21 Februari 2020

Layla Shallma Putri Pracia lahir di Perampuan, Lombok Barat, 21 Juni 2001. Berproses kreatif di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Simak Video "Nostalgia Nyanyi 'I Love You Bibeh' Bareng The Changcuters"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com