Dianggap Rasialis, Patung Politisi Pro Perdagangan Budak di Skotlandia Diruntuhkan

Tia Agnes - detikHot
Minggu, 21 Jun 2020 15:15 WIB
Seruan hancurkan patung Henry Dundas
Foto: dok. BBC
Jakarta -

Seruan Black Lives Matter masih bergema di mancanegara usai kematian pria Afrika-Amerika, George Floyd. Di Skotlandia, akhir pekan ini ribuan orang berunjuk rasa menuntut patung Henry Dundas agar diruntuhkan.

Patung politisi abad ke-19 yang menunda penghapusan perdagangan budak itu dianggap tidak manusiawi. Salah satu orang yang meminta agar patungnya digulingkan adalah penulis Trainspotting, Irvine Welsh.

Berada di antara ribuan para pendemo, Welsh mengatakan patung itu adalah hal yang paling memalukan di Edinburgh, Skotlandia. Patungnya berada di taman tempat masyarakat Skotlandia biasa berkumpul.

"Tidak ada orang yang berbuat lebih banyak untuk mencegah penghapusan perbudakan. Perusahaan selalu melindungi pedofil di tengah-tengah mereka," ucap Welsh, dilansir dari BBC, Minggu (21/6/2020).

"Jadi bayangkan sebuah patung menatap kita dengan cerutu. Ya ini adalah Jimmy Savile (plesetan host TV) setidaknya sampai 100.000 kali," lanjutnya.

Koordinator Black Lives Matter di Edinburgh, Joseph Malik, mengatakan ia senang Irvine Welsh menunjukkan solidaritas kepada kaum minoritas. Termasuk pernyataan tegas tentang patung Henry Dundas tersebut.

"Apa yang ingin kami katakan adalah membawa rasa malu Edinburgh karena punya patung seorang pembunuh massa. Kami berharap sekali patung ini diruntuhkan. Rasialisme sangat hidup di Skotlandia," tegasnya.

Patung Henry Dundas yang sosoknya dianggap kontroversial bukanlah satu-satunya patung yang ingin atau sudah digulingkan. Setelah kematian George Floyd, ada belasan patung yang sukses diruntuhkan karena dianggap rasial dan kolonialisme.

Sebelumnya ada patung penemu Benua Amerika, Christopher Columbus, yang dianggap sebagai seorang penjajah. Tiga patung Christopher Columbus dirusak sampai digulingkan di Amerika Serikat.

Salah satu bagian kepala patung ada yang dipenggal, satu patung lainnya dilemparkan ke danau, dan satunya lagi digulingkan. Selain itu, ada juga patung pendiri gerakan Pramuka Robert Baden-Powell yang dipindahkan dari Poole Quay, Inggris.

Berdiri sejak tahun 2008, patungnya berada dalam target serangan pendemo Black Lives Matter. Sosok Baden-Powell yang meninggal di usia 83 tahun dikritik oleh aktivis Black Lives Matter. Ia dituduh rasis, homofobia, dan mendukung Adolf Hitler.

(tia/aay)