detikHot

Review

'Planet Sebuah Lament': Ode dari Melanesia

Jumat, 17 Jan 2020 19:00 WIB Tia Agnes - detikHot
Halaman 1 dari 2
Foto: IMAGE DYNAMICS/ Istimewa
Jakarta - Bukan Garin Nugroho namanya kalau tidak mampu menggabungkan tiga hal artistik di atas panggung teater. Ada film, tarian, dan nyanyian dari pertunjukan 'Planet Sebuah Lament' yang digelar untuk umum mulai malam ini.

Layar putih terkembang di atas panggung Teater Jakarta, kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM). Film hitam putih yang menampilkan seorang perempuan berjalan di atas pasir berjalan perlahan, dari balik layar muncul perempuan menyanyikan lament atau lagu ratapan.

Lagu kesedihan setelah bencana alam terdengar menyayat hati dari suara yang dinyanyikan. Giliran komposisi paduan suara yang diisi oleh Mazmur Chorale Choir asal Kupang bernyanyi.


'Planet Sebuah Lament': Ode dari Melanesia'Planet Sebuah Lament': Ode dari Melanesia Foto: IMAGE DYNAMICS/ Istimewa


Alunan musik, suara yang syahdu dan menyayat hati makin terasa di tiap babak. Lament tak hanya bertransformasi menjadi sebuah lagu saja, namun juga menginspirasi gerakan yang dimainkan para pemain.

Kondisi negara yang hancur lebur, hanya telur yang menjadi penyemangat dan sumber 'energi'. Burung kasuari bersama perempuan utama saling menjaga adanya telur tersebut.

Di tengah penyelamatan terhadap telur, monster-monster yang terangkai dari plastik-plastik yang ada di bumi semakin jahat. Mereka ingin mengambil telur dan menelannya.


(tia/dar)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com