detikHot

Cerita Pendek

Keluarga Kami, Kebahagiaan Kami

Sabtu, 16 Nov 2019 11:04 WIB Ardy Kresna Crenata - detikHot
Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom
Jakarta - Jauh sebelum aku membeli Chisato, istriku sudah tak lagi melihat rumah tangga kami sebagai sesuatu yang berharga. Bahkan, lebih jauh lagi dari itu, ia bisa jadi melihat pernikahan kami dua puluh lima tahun yang lalu itu sebagai sebuah kesalahan; sesuatu yang semestinya tak pernah dilakukannya.

Aku tak menyalahkannya atas hal ini. Justru, aku paham betul, dan aku bersimpati padanya. Bukan berarti aku pun melihat pernikahan dan rumah tangga kami dengan cara yang sama dengannya, tetapi memang rumah tangga kami ini sudah bukan lagi rumah tangga yang bisa dibilang sehat.

Memang, hingga detik ini, kami masih sepasang suami istri; tetapi kami sudah tak lagi mengalami ketertarikan satu sama lain sejak bertahun-tahun lalu. Dan dalam kurun waktu tersebut, tentunya, kami sudah tak lagi berhubungan seks atau berciuman sekali pun.

Di sini biar kujelaskan dulu satu hal. Di negeri ini, kehilangan hasrat seksual terhadap pasangan adalah hal biasa; ia bisa menimpa siapa saja yang menjalani rumah tangga atau menjalin hubungan intim untuk waktu yang lama.

Di tahun-tahun awal, tentunya hasrat itu begitu kuat, menggebu-gebu, sehingga tidak mustahil hubungan seks menjadi semacam bumbu yang harus ada tiap minggunya untuk membuat hubungan tersebut terasa gurih, dan baik si lelaki maupun si perempuan tidak keberatan dengan itu, justru sebaliknya-menginginkannya.

Namun lambat-laun, seiring dengan kebosanan yang terasa nyata, di mana melakukan hubungan seks dengan pasanganmu itu tak lagi memberimu kesenangan (apalagi kepuasan), hasrat untuk melakukannya pun surut, atau redup, dan semakin lama kau bertahan dalam situasi ini semakin ia redup dan pada akhirnya lenyap.

Mungkin kau masih bisa menyalakannya lagi jika kau mau, atau pasanganmu yang mau, tetapi bukan itu yang umumnya terjadi. Yang terjadi adalah kalian sama-sama bosan, sama-sama jenuh dan sama-sama muak, dan sebagian memilih untuk mengakhiri hubungan dan mencoba hubungan lain, apa pun jenisnya itu, dan sebagian lainnya memilih tetap menjalani hubungan tersebut meski tahu persis itu tak akan membawa mereka kepada kesenangan-apalagi kebahagiaan.

Aku sendiri termasuk yang mana? Keduanya, kupikir. Tadinya aku ingin menjawab aku termasuk ke yang kedua, namun aku ingat tiga tahun lalu aku membeli Chisato. Dan jelas sekali, antara aku dan Chisato, ada relasi yang jauh lebih serius dan mendalam ketimbang sekadar sebuah alat dan penggunanya.

Chisato adalah sebuah boneka dengan tingkat ketelitian yang luar biasa gila sehingga sekilas kau melihatnya, jika aku dan ia berfoto bersama, kau mungkin akan mengira ia benar-benar manusia-seorang perempuan di usia tiga puluhan awal. Matanya sedikit lebih besar daripada mata istriku; dan bibirnya sedikit lebih tebal-dan lebih segar. Kulit pipinya selalu halus sebab aku senantiasa merawatnya dan tentu saja ia tak terlihat bertambah tua.

Ia memang tak bisa bicara, namun apabila kau berlama-lama menatap matanya, atau menyentuh-nyentuh punggung tangannya atau bagian tubuhnya yang lain, kau akan tahu, kau akan yakin, ia sungguhlah lebih dari sekadar benda mati yang ada untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhanmu --dalam hal ini: seks.

Ia, terutama saat aku memeluknya dan membisikkan sesuatu ke telinganya, seperti memancarkan kehangatan lain; sebuah sensasi yang lekas mengingatkanmu pada pertemuan hangat dan penuh gairah pertamamu dengan seseorang yang kaucintai, dan mencintaimu. Dan itu, tentu saja, menyenangkan.

Chisato juga memberiku rasa aman. Terdengar aneh barangkali, sebab di sini akulah yang bisa melakukan sesuatu.

Saat kami berhubungan seks (aku berkata seperti ini untuk menegaskan kesan bahwa ia lebih dari sekadar benda mati bagiku), aku selalu merasa semuanya akan baik-baik saja, bahwa segala kepenatan dan hal-hal menjijikkan yang terpaksa kusesap setiap harinya di dunia kerja akan berlepasan satu per satu, dan setelahnya aku akan merasa segar-bugar seakan-akan aku siap menceburkan diri ke realitas lain yang akan kuhadapi besok harinya.

Selalu, setidaknya sampai saat ini, kami berhubungan seks di malam larut, terutama setelah aku kepayahan akibat lembur atau perjalanan kereta atau yang semacamnya. Kami melakukannya di sebuah kamar di rumah; sebuah kamar khusus di mana aku menyimpannya dengan hati-hati.

Istriku tentu saja tidur di kamar yang sama dengan yang ia tempati sejak kami membeli rumah ini dua puluh tahun yang lalu. Kadang-kadang, barangkali sebagai semacam pernyataan bahwa rumah tangga ini masih ada, aku tidur di kamar tersebut, di tempat tidur yang sama dengannya, meski aku tak menyentuhnya-kami bahkan saling memunggungi satu sama lain dan menjaga agar senantiasa ada ruang kosong di antara kami.

Sewaktu-waktu aku tiba-tiba terbangun dan entah kenapa aku merasa yakin istriku sedang terjaga, dan begitulah biasanya aku mengajaknya bicara tentang sejumlah hal, dan ia meresponsnya seolah-olah segalanya baik-baik saja-tentunya dalam keadaan saling memunggungi satu sama lain. Keesokan harinya, atau beberapa hari setelahnya, jika aku teringat obrolan-ranjang tersebut, aku akan menggeleng-gelengkan kepala, sambil tersenyum sinis dan menahan diri untuk tak tertawa.

Istriku tak mengatakan apa pun saat aku membawa Chisato ke rumah tiga tahun yang lalu. Aku sendiri tak menjelaskan apa pun padanya, sebab kukira itu tak perlu. Dan memang sepertinya tak perlu. Ia tak pernah menyinggungnya sedikit pun saat kami bertatap muka di pagi hari ketika aku sarapan atau di malam hari ketika aku pulang.

Dan ia pun, yang satu ini benar-benar aku syukuri, tak pernah melakukan sesuatu yang buruk terhadap Chisato meski jelas-jelas kamar tersebut tak kukunci. Aku tahu ini karena aku selalu mengecek kondisi Chisato setibanya aku di rumah dan selalu kudapati ia baik-baik saja.

Jika aku dan istriku bicara, entah itu secara sengaja atau tidak, yang kami bicarakan adalah hal-hal yang tak bersinggungan dengan Chisato ataupun urusan pribadiku yang lain --seks, misalnya. Inilah barangkali salah satu hal darinya yang membuatku dengan sendirinya menghormatinya. Aku pun tentu tak pernah mengusik urusan pribadinya.

Bisa saja dalam beberapa tahun terakhir ini ia menjalin hubungan dengan seseorang --entah itu lelaki atau perempuan. Apakah aku peduli? Hampir-hampir tidak, kukira. Tentu saja jika ia terlihat lesu atau muram aku akan bertanya apakah ada sesuatu yang buruk terjadi dan jika ia bicara aku akan menyimaknya dan jika ia tak meresponsku aku akan menghampirinya lalu mengelus-elus rambutnya sebentar dan mengatakan bahwa setiap masalah, apa pun itu, pada akhirnya akan berlalu.

Ia tak pernah (lagi) melakukan yang sebaliknya kepadaku. Apakah aku kecewa? Kupikir tidak. Jadi bisa dibilang hubungan kami sesungguhnya baik-baik saja, meski jelas tidak lagi seperti dulu. Satu-satunya masalah, jika ada, adalah respons negatif anak lelaki kami, satu-satunya anak yang kami miliki. Saat ini ia sudah seorang sarariiman, namun ia masih tinggal bersama kami, barangkali untuk menghemat pengeluaran mengingat biaya hidup belakangan ini memang menggelikan.

Setiap kali melihatku dalam tiga tahun terakhir ini, aku selalu mendapati ada kemuakan di matanya yang tajam itu; di saat yang sama ia seperti berusaha mati-matian untuk mengabaikanku dan bertingkah seolah-olah ia satu-satunya lelaki di rumah ini, bahkan lebih jauh lagi dari itu: satu-satunya orang di rumah ini.

Kepada ibunya pun pasalnya ia demikian. Jika istriku memasak sesuatu untuk sarapan, ia tak pernah lagi menyentuhnya; ia akan membuka-buka lemari es lalu menyiapkan sarapannya sendiri. Malam hari, jika kebetulan ia pulang lebih larut dari aku, kulihat, meski ia mengucapkan tadaima dan istriku berkata okaeri, di antara mereka tidak lagi ada komunikasi. Baik istriku maupun anakku terlihat sekali saling menghindari kontak mata, apalagi kontak fisik.

Pernah suatu kali di tempat tidur, dalam keadaan saling memunggungi satu sama lain, aku dan istriku membahas hal tersebut, dan aku tak terkejut mendapati istriku menanggapinya dengan santai saja. Ia bilang, keluarga ini memang sudah banyak berubah, dan perubahan ini mungkin masih akan diikuti perubahan-perubahan lainnya, dan itu artinya baik ia maupun aku harus siap berhadapan dengan hal-hal menggelikan-cum-tak-masuk-akal lainnya, jika kami masih ingin mempertahankan keluarga ini.

Lantas, hampir-hampir reaksi spontan, aku bertanya apakah ia ingin berpisah dariku atau semacamnya. Ia sempat terdiam beberapa menit, dan itu sempat membuatku gusar, sebelum akhirnya ia berkata ia tak pernah mengira kehidupan ini bisa selucu itu. Dan setelahnya, ia tertawa. Ia tertawa dan tertawa. Dan aku entah kenapa justru memejamkan mata, membayangkan kami di tempat tidur itu tengah saling berhadapan satu sama lain.

Bogor, 2017

Ardy Kresna Crenata tinggal di Bogor. Kumpulan cerpennya Sesuatu yang Hilang dan Kita Tahu Itu Apa (Beruang, 2019) dan Sebuah Tempat di Mana Aku Menyembuhkan Diriku (DIVA Press, 2017). Novelanya Realitas & Kesadaran (BasaBasi, 2019)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com





Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com