detikHot

Cerita Pendek

Arwah Pohon-Pohon

Minggu, 13 Okt 2019 10:00 WIB Mashdar Zainal - detikHot
Ilustrasi: Ahmad Fauzan Kamil/detikcom Ilustrasi: Ahmad Fauzan Kamil/detikcom
Jakarta - Aku bermimpi menjadi kabut. Menyatu dengan udara dingin. Melata di permukaan tanah yang basah. Lalu melayang, menapaki pucuk-pucuk pohon, tiang listrik, atap-atap rumah. Dan terus melayang. Terus melayang.

***

Savitri mencintai pohon-pohon seperti mencintai kenangan dan rumah masa kecilnya.

Di halaman rumah kami, bibit-bibit pohon dan bunga-bunga tertutup kabut. Beberapa lisut layu, sebab aku tak sempat menyiramnya. Setiap kali menatap bibit-bibit pohon dan bunga-bunga itu, dadaku kembali ngilu. Aku seperti melihat Savitri berdiri di sana, di antara rumpun amarilis dan kamboja. Tempat ia kerap berdiri memandikan bibit-bibit pohon dan aneka bunga. Ketika aku berjalan mendekat, perlahan sosoknya memburam tertutup kabut, lalu lenyap entah ke mana. Lesap.

Malam sebelum Savitri menghilang, ia sempat bercerita, bahwa sewaktu kecil, di belakang rumahnya ada sepasang pohon yang tumbuh berdekatan, saking dekatnya, batang dan dahannya bersilang sengkarut satu sama lain, sehingga sepasang pohon itu tampak seperti sedang berpelukan satu sama lain. Sepasang pohon itu, yang satu pohon jamblang, dan yang satu pohon liar yang ia dan bahkan ibunya, tak tahu namanya. Kata ibunya, dua pohon itu sudah ada di sana lama sekali, bahkan sebelum ibunya lahir.

Sewaktu kecil, sepasang pohon itu adalah tempat Savitri dan teman-temannya bermain. Teduh. Dahan-dahannya kokoh, beberapa melambai rendah, hampir mencium tanah. Savitri dan teman-temannya menyebut pohon jamblang itu sebagai pohon ibu, dan satu pohon yang lain sebagai pohon ayah.

Suatu ketika, seorang teman Savitri yang terkenal badung memanjat pohon jamblang itu tinggi-tinggi, ingin mengunduh sarang burung yang ada di pucuk pohon, namun urung, sebab teman Savitri itu terpeleset lalu jatuh dan tulangnya patah. Setelah kejadian itu, bapak Savitri menebang pohon jamblang itu, si pohon ibu. Saat itu Savitri sedih sekali, sebab pohon itu sudah seperti ibu, seperti sahabat, seperti rumah bagi Savitri dan teman-temannya.

Dan satu lagi, Savitri merasa sangat kasihan pada satu pohon yang lain, si pohon ayah, yang masih berdiri sendirian, menjulang tanpa teman. Pohon itu tampak begitu murung dan kesepian, sehingga perlahan daun-daunnya mengering dan gugur, sebelum akhirnya ranggas dan mati.

"Semenjak hari itu, aku semakin percaya pada cerita ibu. Bahwa sebuah pohon memiliki jiwa dan perasaan, juga rasa sedih dan kehilangan," ujar Savitri dengan tatapan kosong.

Savitri mengingat dengan baik, dan ia bersumpah, bahwa keesokan paginya selepas pohon jamblang itu ditebang, ia melihat kabut tipis menguar dari sisa bonggol pohon yang terpenggal itu. Kabut tipis itu melayang-layang di tengah udara pagi yang dingin, lalu membaluri satu pohon yang lain-pohon ayah, yang masih menjulang sendirian. Pada bulan-bulan berikutnya, ketika satu pohon yang tersisa itu juga ikut mati, ia juga melihat kabut tipis menguar dari jasad kayu dan dahan-dahan yang ranggas.

"Pagi itu dingin sekali, dan aku benar-benar melihat kabut tipis itu mengepul, sebagian melayang-layang di udara, dan sebagian lagi merendah sampai menyentuh tanah-tanah yang basah di belakang rumah," ungkapnya dengan suara menggigil, seolah udara dingin tengah membaluri tubuhnya.

Hari itu, setelah melihat kabut tipis menguap dari tubuh pohon mati di belakang rumahnya, Savitri menemui ibunya dan menceritakan semuanya. Pada saat itulah ibunya bercerita bahwa kabut itu adalah wujud dari arwah pohon-pohon yang mati. Ibunya mengutarakan, bahwa pohon-pohon itu tak ubahnya manusia, benar-benar seperti manusia. Selain berjasad juga berjiwa.

"Yang membedakan pohon dengan manusia hanyalah sepasang kaki," ujar Savitri menirukan kata Ibunya. "Dengan sepasang kaki itulah manusia bisa berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, meninggalkan orang-orang yang mereka cintai, membuat onar di sana-sini, menyakiti sesamanya, dan seterusnya. Mungkin manusia bersyukur karena Tuhan memberi mereka kaki, tapi pohon-pohon lebih bersyukur lagi sebab Tuhan tidak memberi mereka kaki, sehingga mereka tak perlu pergi jauh meninggalkan siapa-siapa, tak perlu menyebar petaka ke mana-mana, dan tak perlu menyakiti makhluk lain."

Perihal pohon yang beruntung karena tak punya kaki itu, Savitri pernah menyinggungnya beberapa kali. Kadang, seperti orang menggumam, ia berbisik, bahwa ia ingin menjadi sebatang pohon saja.

"Lalu ke mana arwah pohon-pohon itu pergi setelah tubuh mereka ditebang?" aku pura-pura bertanya untuk menarik perhatiannya, sedangkan mataku mulai sepat mengerjap-ngerjap.

"Mereka kembali ke langit," sahut Savitri, dan ia masih mengutip kata-kata ibunya, bahwa masih ada satu lagi perbedaan antara pohon dan manusia.

"Setelah mati, tubuh pohon masih bisa dimanfaatkan oleh makhluk lain, bisa jadi dinding rumah, lantai, atap, tiang, meja, kursi, lemari, dan bahkan kayu bakar. Tapi manusia, setelah mereka mati, jasad mereka harus disembunyikan di dalam tanah, sebab kalau tidak jasad mereka akan membusuk dan mengganggu makhluk lain yang masih hidup."

Dalam hal itu, Savitri dan segala tuturan ibunya memang tidak terbantah. Tapi demi Tuhan, malam itu, aku sudah sangat mengantuk, sebab pekerjaan di kantor telah menyita tubuhku hampir seharian penuh. Dan Savitri sepertinya menyadari itu, bahwa aku kurang tertarik dengan cerita sepasang pohon yang berpelukan di belakang rumahnya semasa ia kecil. Jadi, malam itu, ketika Savitri bercerita, aku hanya pura-pura tertarik dan mencoba untuk terus mendengarkan, hingga mendadak tanpa bisa kutahan mulutku menguap lebar-lebar. Melihat aku menguap lebar Savitri terdiam, ia tahu bahwa aku terlalu lelah dan mengantuk untuk mendengar cerita-ceritanya.

Malam itu, Savitri tidak lagi melanjutkan cerita-ceritanya. Ia hanya terdiam memandangi jendela kaca kamar kami yang kordennya masih terbuka.

"Maaf, aku benar-benar sudah mengantuk. Sebaiknya kita segera tidur," kataku.

"Tak apa, tidurlah dulu, aku belum mengantuk," balas Savitri.

Aku pun merebahkan badan, sedangkan Sawitri malah beranjak dari ranjang dan melangkah menuju jendela. Kupikir ia akan menutup korden jendela, tapi sebaliknya, ia malah membuka jendela lebar-lebar. Ia berdiri di muka jendela dengan tatapan terlempar keluar. Seperti ada sesuatu yang mengusik isi kepalanya.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyaku sambil kembali menguap.

"Kabut di luar tampaknya semakin tebal," balasnya, lirih.

"Tutup saja jendelanya kalau begitu," sahutku.

Dan Savitri masih mengarca, "Mungkin kabut-kabut itu adalah segerombolan arwah para pohon yang terbakar di hutan sana," ia masih mengoceh.

"Menurut berita di koran, kebakaran di hutan memang semakin meluas, dan asapnya mulai mengganggu warga, bahkan sampai ke sini," ujarku setengah sadar sebab kantuk.

"Itu bukan asap. Itu arwah pohon-pohon yang mati, mereka datang untuk menuntut balas," ujar Savitri seperti berbisik. Dan tatapannya masih utuh terlempar keluar jendela.

"Kadang aku menyesal, mengapa aku dilahirkan sebagai manusia, dan bukan sebagai pohon," ujarnya tiba-tiba, setelah terdiam beberapa jenak.

"Kadang aku berharap, bisa menjadi pohon jamblang di belakang rumah, tak usah punya kaki, supaya bisa tetap berada di sekitar rumah, tidak meninggalkan bapak dan ibuku ketika mereka tua. Tetap bisa mengawasi dan menjaga mereka, sampai akhir hayat mereka." Savitri terus mengoceh. Dan itulah kata-kata terakhirnya yang masih sanggup kudengar, sebelum kantuk benar-benar menguasaiku, menyeret alam sadarku ke dunia lelap yang gelap.

***

Pagi harinya, ketika aku terbangun oleh udara yang penuh kabut, Savitri sudah tidak ada di kamar, dan jendela kamar kami masih terbuka lebar seperti terakhir kali aku melihatnya semalam. Sebab jendela yang terbuka itulah kamar kami dijejali kabut.

Aku menyeru Savitri berkali-kali dan tak ada sahutan. Semula, aku berpikir bahwa mungkin ia sedang pergi belanja atau entah ke mana. Namun, setelah kutunggu selama berjam-jam, dan ia tak juga kembali, aku menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Hari itu aku izin tidak masuk kantor demi mencari Savitri. Dengan perasaan cemas, aku berkeliling ke tempat-tempat yang mungkin didatangi Savitri, tapi hasilnya nihil. Semua tempat lebih senyap dari biasanya, sebab kabut dari hutan mulai berarak ke mana-mana. Melayang di jalan-jalan, masuk ke pasar-pasar, menerobos gang-gang sempit dan menyusup ke rumah-rumah.

Kabut-kabut tipis itu benar-benar membuat kami menjadi makhluk lain. Orang-orang keluar rumah mengenakan penutup mulut dan hidung, sehingga mereka tampak seperti alien yang tersesat di tengah kabut. Saling bergegas. Tak sempat menyapa satu sama lain.

Aku juga sudah mencoba menghubungi kerabat Savitri yang tinggal di kampung. Kata mereka, Savitri tak tampak mudik, dan ia tak mungkin mudik seorang diri, namun jika ada kabar, mereka berjanji akan segera menghubungiku. Pada akhirnya, aku melaporkan hilangnya Savitri ke polisi. Dan kata polisi, aku harus menunggu paling tidak dua kali duapuluh empat jam. Di tengah udara berkabut itu, aku melangkah pulang dalam keadaan lemas.

Rasa cemas itu bergelung di dadaku, dari detik ke detik aku terus memikirkan Savitri. Mencoba untuk memahami sudut pandangnya yang kadang aneh dan kelewat sentimental. Terutama soal kampung dan masa kecilnya, tentang ibunya, tentang pohon-pohon yang ia cintai.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi padanya? Apakah seseorang sudah menculiknya? Ataukah ia minggat ke suatu tempat? Apa sebenarnya yang sedang ia pikirkan? Apakah aku tidak mengenali istriku sendiri? Ataukah aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, bahkan sampai tak punya waktu untuk mendengar cerita dan keluhan istriku sendiri. Rasa sesal itu datang berarak seperti kabut, masuk ke dadaku, membuatnya sesak berderak-derak.

Aku dan Savitri menikah sudah tujuh tahun. Dan kami belum dikaruniai momongan. Aku bisa membayangkan hari-harinya yang sepi. Pagi-pagi sekali aku berangkat ke kantor dan sampai rumah setelah petang hari. Bapak dan ibu Savitri sudah lama tiada. Menurut Savitri, bapaknya meninggal karena paru-paru basah saat usia Savitri masih SMA. Sedangkan ibunya, menyusul tiga tahun kemudian, ketika Savitri sudah jadi anak kuliahan yang merantau ke luar kota.

Savitri adalah anak tunggal. Ketika kami menikah, Savitri cuma didampingi kerabatnya dari kampung. Di mata Savitri, kadang aku melihat ada sesuatu yang belum reda. Savitri belum bisa melunaskan luka atas kepergian ibunya. Seringkali ia menangis sendiri, teringat ibunya yang pergi sebatang kara. Ia bilang, bahwa ia telah menjadi anak durhaka. Bahkan, ketika ibunya pergi untuk terakhir kali, ia tak bisa membersamainya. Ketika ia datang dari kota, ibunya sudah dikafani dan siap dimakamkan. Mungkin sebab itu pula Savitri kerap menggumam, bahwa menjadi sebatang pohon itu lebih baik. Sebab, ia tak perlu pergi ke mana-mana.

Semenjak Savitri menghilang, rasanya, kabut yang berjelanak dari hutan semakin tebal, datang berbondong-bondong seperti kawanan makhluk tak tampak yang hendak menyerbu manusia. Orang-orang semakin enggan keluar rumah. Beberapa lansia dilarikan ke rumah sakit sebab pernapasannya terganggu. Bahkan, beberapa bayi dan balita tak terselamatkan. Mendadak aku teringat kata-kata Savitri perihal arwah pohon-pohon yang ingin menuntut balas.

***

Hari pun sempurna menggenapkan menit dan jam disusul pekan. Tak sedikit pun kabar terang tentang Savitri kudapatkan. Tidak dari polisi. Tidak juga dari kerabat Savitri di kampung. Sementara itu, aku mulai dijangkiti halusinasi. Aku seperti melihat Savitri ada di mana-mana, di balik jendela, di antara pohon dan bunga-bunga di halaman, di antara kabut yang terus berarak dan tak kunjung menipis.

Hingga genap tujuh hari selepas hilangnya Savitri, kerabat dari kampung berkabar bahwa rumah ibu Savitri yang bertahun-tahun tidak dihuni itu disatroni penyusup. Pintu-pintunya terbuka lebar. Jendela-jendela menganga seperti mata ingin terus menatap. Seolah-olah seseorang telah masuk dan sengaja menyingkap semuanya. Namun, mereka bersumpah, tak ada perkakas yang hilang ataupun tersentuh tangan. Meja, kursi, lemari, ranjang, piranti dapur semuanya masih utuh tak bergeming dari tempatnya.

Bahkan debu dan sarang laba-laba tak sedikitpun ada yang koyak. Di lantai berubin putih yang diselimuti debu itu juga tak tampak jejak kaki apapun. Hanya kabut. Kabut yang mungkin datang dari hutan. Membaluri perkampungan.

Aku sudah hampir lupa seperti apa bentuk rumah itu, bagaimana berandanya, ruang-ruangnya, pintu dan jendelanya. Aku juga lupa di pekarangan depan atau belakang ditumbuhi pohon apa. Aku hanya ingat, rumah itu menghadap ke barat dan pekarangannya lumayan luas.

Savitri pernah mengajakku menjenguk rumah itu pada awal-awal kami menikah. Savitri pernah berutara, sebelum ibunya wafat, ibunya pernah berpesan, bahwa kelak setelah ibunya tiada, Savitri harus tetap merawat rumah itu. Tidak membiarkannya kosong. Sebab itulah, Savitri punya cita-cita ingin tinggal di rumah masa kecilnya itu. Namun, karena alasan pekerjaan dan lain hal, Savitri menangguhkan cita-citanya itu. Ia memilih untuk meninggalkan rumah masa kecilnya dan mengabdi penuh pada suaminya.

"Mungkin kelak, kalau kita sudah tua dan beranak pinak, kita bisa tinggal di sini, merawat rumah ini. Kita bisa menanam talas di pekarangan belakang, membuatnya jadi emping dan menjemurnya di pekarangan depan," kata-kata Savitri bertahun-tahun silam itu kembali mengiang di telinga. Membuatku semakin merasa bersalah.

Nyatanya, setelah ditelan kesibukan dan rutinitas yang menjemukan, cita-cita semacam itu hanya sebuah selingan yang tak pernah terpikirkan lagi olehku. Entah Savitri. Mungkin rumah itu sangat berarti baginya. Dan aku tak pernah bisa memahami itu. Mungkin sebab itu Savitri pergi meninggalkanku. Entahlah. Mungkin aku harus menjenguk rumah itu. Mungkin Savitri pergi ke sana.

***

Setelah melalui perjalanan yang lumayan melelahkan, menjelang petang, aku sampai di rumah yang sudah dilebati semak dan lumut itu. Beberapa genting paling tepi sudah melorot karena atap yang lapuk. Kerabat Savitri sudah menutup kembali pintu dan jendela yang semula terbuka. Setelah mengantarku sampai halaman rumah itu, mereka pun berpamitan. Mereka bilang, malam ini aku bisa menginap di rumah mereka. Mereka sudah menyiapkan semuanya.

Aku menelusuri ruang demi ruang. Hingga akhirnya terhenti di pintu belakang. Aku membuka pintu itu perlahan. Dan di antara kabut yang mulai menebal, aku melihat sebuah pohon tinggi menjulang. Tampak begitu murung dan kesepian. Batang-batangnya memanjang, seperti lengan-lengan yang membentang, menawarkan pelukan.

Sementara itu, kabut seperti datang dari segala arah. Berarak membaluri pohon yang sendiri itu. Entah suara siapa yang berbisik ke telingaku, tiba-tiba aku melepaskan alas kaki, lalu dengan langkah pasti berjalan menyingkap semak dan kabut, mendekati pohon itu. Di bawah pohon itu, udara menjadi sangat dingin. Aku membeku menatap pohon yang murung itu. Hingga perlahan, lenganku terbuka. Kupeluk pohon itu erat-erat. Dan sepasang kaki tanpa alas itu seperti tenggelam ke dalam tanah. Urat-urat akar bagai mekar menjalar. Mencengkeram tanah yang basah.

Perlahan, aku melihat kabut menguar dari tubuhku. Menyatu dengan gumpalan yang lain. Menjadi udara dingin. Paling dingin. Lalu melayang, menapaki pucuk-pucuk pohon, tiang listrik, atap-atap rumah. Dan terus melayang. Terus melayang.

Malang, 2019

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com