detikHot

Cerita Pendek

Pemetik Getah Damar

Minggu, 06 Okt 2019 10:50 WIB Afri Meldam - detikHot
Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom
Jakarta - Bertahun-tahun silam, ketika orang-orang masih mengakrabi aroma bunga kayu dan nama-nama pohon masih mendiami jejaring ingatan, lelaki pemetik getah damar akan bermalam di pelukan hutan. Ia mendaki punggung gunung sebelum embun pertama jatuh dan melepas penat di rimba bersemak rendah. Ia pancung pangkal manau pilihan dan langsung menyesap air bening yang mengalir deras dari sebalik liana beronak kesumba itu. Sebelum gelap turun, ia sudah mencapai bibir sungai dan bergegas membangun pondok di bantaran landai. Beberapa buah bubu ditanam di dasar lubuk.

Malam di hutan, suara-suara memenuhi semesta. Pemetik getah damar itu bangun dan membasuh badan. Bersujud ia di sunyi gulita, menghantarkan doa kepada Pemilik Segala. Memohon berkah agar pohon-pohon damar memancarkan getah yang berlimpah. Juga keselamatan dari segala mara bahaya. Hutan tak bernama, rimba raya yang perkasa. Aku datang ke jantungmu, mengumpulkan getah dari pohon terbaik yang telah kau besarkan. Aku hanya akan mengambil seperlunya dan akan kembali pulang dengan beban yang tak melebihi kemampuanku.

Terang tanah, ia akan memenuhi rongga dadanya dengan udara lembah. Bubu-bubu diangkat, ikan-ikan betina bertelur menggelepar di dalamnya. Percik api mengecup kayu, garam dan cabai melumuri sisik-sisik yang berkilauan. Asam limau dari Calau mengunci semua rasa di dalam manis daging. Lalu aroma dan decap lidah.

Ke utara ia membuka langkah, ke puluhan pohon damar yang sudah ia beri luka. Waktu yang berlalu memang telah mengkristalkan getah yang mengalir dari pokok damar. Keranjang rotan di punggungnya perlahan mulai berat oleh bongkahan-bongkahan getah damar. Begitu semuanya dipetik, ia menyisir hutan lebih dalam dan memanen semua getah yang telah mengeras dalam sebulan. Dan esok, lusa, hingga beberapa hari sampai keranjangnya penuh, ia akan kembali ke sana, memetik bongkahan-bongkahan getah.

Di kampung di balik gunung, orang-orang tentu sudah menunggu kepulangannya. Rumah-rumah di sana menggantungkan cahaya dari nyala getah pohon damar. Bongkahan-bongkahan getah damar di keranjangnya akan berpindah tangan dengan cepat. Siapa yang betah melewatkan malam dalam sungkupan gelap?

Lelaki pemetik damar tidak akan menjual semua bongkahan yang ia dapatkan pada satu musim. Ia akan menyimpan satu atau dua bongkah besar untuk berjaga-jaga jika musim sulit bertandang ke kampung mereka. Namun, pembeli yang datang berkerumun kadang membuatnya segera berubah pikiran. Namun, tentu saja, tidak kali ini. Dia menyimpan satu bongkah besar getah damar di bawah pembaringannya. Ia harus memastikan bahwa cadangan getah untuk pelita di rumahnya cukup setidaknya hingga satu bulan ke depan. Rahim istrinya tengah berbuah, dan anak mereka bisa lahir kapan saja. Anak ketiga ini juga laki-laki. Lihat perut istrimu yang runcing seperti pucuk rebung, begitu dukun beranak membaca.

Tapi, hari-hari sulit datang lebih awal. Mulanya terdengar kabar tentang pecahnya perang saudara. Bahwa pusat dan daerah tak lagi satu arah. Lalu tersiar kabar tentang rombongan pejuang yang sedang mencari persembunyian. Orang-orang kampung di kaki gunung menyambut mereka dengan dada berdegup. Mereka yang setiap hari memegang perkakas sederhana begitu takjub melihat rombongan pejuang yang memanggul senjata dengan gagah. Terlebih di antara puluhan pejuang itu ada Domok, orang kampung mereka yang kini tampak sedikit berubah. Laskar terdesak di Payakumbuh. Domok membawa mereka mencari persembunyian baru. Kami sedang berjuang untuk nasib anak-cucu kita. Bersama kita lawan kecongkakan pemerintah. Kami akan berdiam di rimba, jangan pernah membuka rahasia. Revolusi akan terus kami kobarkan.

Tak lama setelah kedatangan para pejuang itu, puluhan burung besi dengan paruh runcing memenuhi langit di kaki gunung. Dentuman dan letusan dan erangan. Orang-orang menggali lobang-lobang di ladang, masuk ke ceruk persembunyian paling dalam. Para pejuang yang bersembunyi di hutan hanya bisa mengutuki diri mereka sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa melawan serbuan dari atas burung besi itu. Sementara orang-orang kampung harus menanggung derita lara. Tak siang tak malam, burung-burung besi terbang rendah dan memuntahkan tembakan ke segala arah.

Laki-laki pemetik damar itu pun membagi-bagikan bongkahan terakhir getah yang masih tersisa. Di luar tak apa gulita, di dalam lobang persembunyian, cahaya akan membuat kita selalu waspada. Meski getah yang ada tak akan cukup hingga masa bergolak usai, orang-orang begitu memujinya.

Hingga pada saat serangan udara mereda, laki-laki itu memutuskan untuk kembali ke hutan, bukan untuk mengangkat senjata, tetapi untuk mengumpulkan sisa getah damar sebisanya. Anak-anak akan menangis ketika cahaya tiada. Terlebih perut istrinya terlihat kian menggembung. Kepada anak tertuanya, ia sudah sampaikan semua yang harus dilakukan jika ketuban ibunya pecah sebelum ia kembali.

Entah sudah berapa lama sejak masa bergolak ia tak menjejak jalan ke hutan, tapi ia mengenali setiap lekuk jurang dan tikungan sungai. Malam disinari kunang-kunang, ia sendiri menyusuri punggung ladang hingga rekah cahaya pertama lahir, ia tiba di bawah naungan pohon-pohon damar. Pohon-pohon itu sudah ia kenali satu per satu, dan betapa mereka sangat mencintai laki-laki itu! Di hampir semua pokok damar, getah-getah yang mengkristal bergelantungan bagai embun. Ia memetik kristal itu dengan segera.

Lalu suara-suara. Bukan satwa apalagi gema. Seseorang entah siapa muncul dari sebalik pohon, begitu tiba-tiba. Parang di pinggang hampir saja terhunus jika saja sosok itu tak segera menyebutkan namanya. Domok! Hanya dalam beberapa kedipan mata, beberapa orang lainnya sudah bergabung bersama mereka, mengitarinya.

"Apa yang membawamu ke hutan?"

"Kau lihat sendiri. Aku memetik getah damar!"

"Kau menjadi mata-mata musuh?"

"Untuk apa aku menjadi mata-mata?"

"Orang-orang selalu punya bakat menjadi pengkhianat!"

"Tapi bukan aku!"

"Kau yakin?" Domok memilin cibir di bibir.

"Kau tentu tak mengenalku pagi ini saja!"

Ia memang tak salah, dan komandan pejuang tak punya alasan untuk tidak membebaskannya. Namun, angin di lembah masih mengantarkan kata-kata tajam Domok ke telinganya: "sejak dulu, aku tak pernah percaya dengan laki-laki pemetik getah damar itu!" Terang di benaknya kini, Domok masih menyimpan dendam di hati. Ah, demi tahun-tahun yang sudah lama berganti, mengapa maaf tak juga diberi? Mengapa benci terus meniti hari?

Laki-laki itu menyeret simpul ingatan ke masa silam. Ia dan Domok berdua di sasana laga. Sebuah ujian penghabisan. Angku Syamsudin, guru mereka, duduk diam dengan mata tajam. Dua murid terbaik dengan kemampuan sepadan akan saling mengunci di tengah medan. Selepas doa-doa, begitu lirik mata saling menerka, kuda-kuda segera dibuka. Hep! Domok melesat secepat kilat. Namun ia bisa menangkis dengan sigap dan mantap. Sebuah serangan balasan dilancarkan. Domok tentu bukan lawan yang gampang dilumpuhkan. Hingga puluhan jurus kemudian, keduanya tak hendak tunduk takluk. Tangan saling mengunci, mata saling menebak arah kaki. Namun, pada satu detik kealpaan, laki-laki itu berhasil mengunci kaki Domok, dan sang lawan pun jatuh dalam lenguh. Sebilah pisau yang berkilat memantulkan purnama sudah berada di leher Domok, siap meminta darah. Angku Syamsudin segera mengirim tanda. Laga sudah usai.

Dan, sepasang bola mata paling indah diam-diam mengirim puja dari balik jendela rumah tak jauh dari sana.

Pemilik mata indah itu adalah semerbak harum bunga. Ia anak bungsu Angku Syamsudin yang paling jelita. Dengan rambut hitam seharum kembang dan senyum manis yang dikulum malu-malu, siapa yang tidak menginginkannya? Laki-laki itu tahu belaka bahwa Domok sudah mulai mengucapkan nama perempuan itu di doa-doanya, tapi siapa yang harus disalahkan jika kemudian pemilik mata indah itu justru melabuhkan hati padanya? Pantaskah ia menolak jika kemudian Angku Syamsudin datang menemuinya dan mengatakan keinginan bungsunya yang bermata indah itu untuk menjadi istrinya?

Domok tak pernah ingin mendengar cerita tentang itu semua. Kawan setikar sepetidurannya itu memilih pergi ke negeri jauh, melarikan cabik hati yang perih. Tak pulang-pulang ia, hingga bahkan namanya pun tak lagi diingat orang-orang. Namun, tentu saja tidak di ingatan laki-laki itu. Ia tak mungkin melupakan kawan segelanggangnya. Hingga Domok kembali sebagai pejuang dengan senjata di bahunya. Hingga tatapan amarah itu kembali menusuknya.

Tak lama setelah ia pulang dari hutan, terdengar kabar kalau pertempuran meletus di perbatasan. Pasukan pusat telah menemukan persembunyian para pejuang di lebatnya rimba raya. Untung saja, hanya satu-dua yang terbunuh. Pejuang masuk ke hutan jauh. Mereka sudah bertekad, revolusi harus segera dimenangkan, dengan cara apapun.

Serangan dari pasukan pusat mereda. Bersama satu rombongan pejuang, Domok turun ke lembah dan meminta laki-laki pemetik getah damar itu menyerah. "Kau pengkhianat! Kami datang untuk membawamu!"

"Siapa yang berkhianat?"

"Semuanya sudah jelas. Tak usah pura-pura. Kami harus membawamu!"

"Membawaku ke mana?"

"Komandan memintamu datang ke hutan. Malam ini juga!"

"Kenapa harus ke hutan?"

"Ini perintah. Kau tak boleh membantah!"

"Tapi anakku akan segera lahir. Kau lihat sendiri istriku sedang mengandung."

Domok tak kuasa melihat mata perempuan yang dimaksud laki-laki itu. Sampai kapan pun ia tak akan mempunyai keberanian untuk bersitatap dengan mata indah itu. Mata indah yang telah menghantui hari-harinya, membangunkannya pada malam-malam paling gulita.

"Kau ikut dengan kami atau kusarangkan timah panas ini di kepalamu!" Domok mengacungkan senapan ke kening laki-laki itu.

Ia ingin membuka langkah, mencoba menjajal jurus yang mungkin belum ia lupa. Namun, tangis istri dan anak-anaknya, juga kecemasan di wajah orang-orang kampung, menyurutkan niatnya. Mungkin memang tidak ada jalan lain.

"Kenapa kau membantu tentara pusat?"

"Aku tak pernah bertemu dengan tentara mana pun."

"Siapa lagi yang memberitahu mereka tempat ini kalau bukan kau?"

Di hutan, di bawah todongan senjata, mereka menetak batang lehernya sebelum ia sempat berdoa. Getah kental merah mengalir deras dari jalan napasnya yang nganga. Ia jatuh ke dekapan tanah. Begitu bibirnya memutih pasi, sebuah sabetan parang memisahkan kepala dan badannya. Hanya dengan demikian ia bisa dimusnahkan, begitu Domok meyakinkan orang-orang itu. Kepala itu dikubur seadanya, sementara badannya dimasukkan ke dalam keranjang dan dibenamkan ke dalam sungai.

Bertahun-tahun kemudian, orang-orang mengenangnya dengan cerita yang berbeda: seorang pemetik damar diterkam induk harimau lapar di hutan Lisun. Selain tengkoraknya yang ditemukan tak jauh dari pondok tempat ia bermalam, jasadnya menghilang entah ke mana. Sementara Domok juga tak pernah terdengar lagi kabar tentangnya. Apakah ia mati dibunuh tentara pusat atau membusuk dalam pelariannya, tak ada yang tahu.

Hidup memang sering menyimpan warna kelabu.

Jakarta, 2019

Afri Meldam lahir di Sumpur Kudus, Sumatra. Buku kumpulan cerpennya Hikayat Bujang Jilatang (2015). Noveletnya terhimpun dalam kumpulan Pitu Loka (2019). Kini menetap di Jakarta

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com