detikHot

Cerita Pendek

Seseorang yang Duduk di Sampingku

Sabtu, 20 Jul 2019 12:44 WIB Shabrina Ws - detikHot
Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom
Jakarta - Joranmu kurang besar.

Suara itu terdengar dari dalam kepalaku. Aku menoleh.

"Tidak kurang besar kan?" tanyaku pada sosok di samping yang sibuk dengan tackle-nya.

"Masih ingat?"

"Tidak mungkin lupa."

Tawa kami pecah, beradu dengan ombak dan serangga malam.

Aku selalu bangga cerita perihal dirinya. Orang pertama yang mengatakan padaku bahwa ikan di piring makan kami tidak hadir tiba-tiba begitu saja. "Ada prosesnya, ada usahanya," ucapnya.

Dia pula orang pertama yang mengenalkan pada macam-macam reels, alat bantu untuk menggulung senar pada pancing. "Ini spinning, ini oha, yang begini trolling, yang ini baitcasting." Aku hanya melongo waktu itu.

Serumit itukah menjadi angler? Aku membatin.

Dan seperti biasa dia selalu benar membaca pikiranku. "Tidak usah dihafal, nanti lama-lama kamu akan tahu." Begitu ucapnya dulu.

Dia sosok yang selalu mampu meyakinkanku. Bahkan ketika pertama kali aku dipercaya menyetel reel dan benang menjadi kusut. Aku merasa gagal, merasa bersalah saat itu.

"Biasa saja," hanya itu komentarnya sambil mengurai benang dan menunjukkan cara yang benar.

Hingga suatu hari aku melihat hal yang lain di matanya.

"Pergilah," kata ibu. Aku hanya mengintip dari balik pintu. Tenggorokanku sakit.

Bagaimana denganku kalau dia pergi?

"Ini bekalnya." Ibu menaruh lipatan uang dalam plastik merah muda ke telapak tangannya.

Mula-mula ia berdiri kaku seperti kusen pintu. Lalu pelan mengangguk. Menit berikutnya, dengan dada yang terasa ditusuki aku melihatnya memasukkan pakaian ke dalam ransel.

Ingin sekali kubilang padanya jangan pergi. Tapi ibu yang menyuruhnya meninggalkan rumah ini. Ingin sekali kukatakan padanya untuk bertahan, tapi ibu yang menyuruhnya berjuang. Jadi, aku hanya bisa menatapnya dalam-dalam.

"Mancing yang baik!" dia mengacak rambutku. Aku berpaling, tak ingin dia melihat ada air mengambang di mataku.

Bapak memberinya tepukan bahu, dan berpesan agar hati-hati.

"Lewat sini." Ibu membuka pintu belakang setelah memberi pelukan erat.

Lalu kami duduk di undakan pintu, menatap sosoknya yang berjalan pelan membelah ladang. Dia menoleh sekali lagi, melambaikan tangan sebelum lenyap di belokan.

Udara terasa asam waktu itu. Ibu berkali-kali mengusap mata dengan ujung bajunya.

"Berapa lama dia pergi?" tanyaku pada ibu.

"Doakan saja."

Lalu sejak hari itu, keluarga kami terasa tidak lengkap lagi. Seperti ada keping puzzle yang lepas. Kadang ibu bahkan masih membelikan jatah jajan untuknya.

"Makanlah sekalian, nasi uduk jatah kakakmu."

"Ibu harusnya tidak perlu beli dua."

Aku tidak tahu, apa ibu lupa atau sengaja. Entahlah. Tetapi kadang aku justru merasa bersalah, karena aku tak pernah tahu bagaimana keadaannya di perantauan sana. Sementara di sini, aku mengambil jatahnya.

Patah hati.

Pada akhirnya aku tahu alasan kakakku pergi. Aku kira orang tampan tidak akan pernah patah hati. Entah siapa penjahat cinta di antara mereka. Kakakku atau gadis pujaannya. Tahu-tahu saja mereka saling diam seperti musuh bebuyutan. Apakah cinta sekejam itu.

Aku bertanya pada ibu, orangtua siapa yang tidak setuju hubungan mereka?

"Ibu dan bapak tak pernah menghalangi anak-anak kami untuk bahagia," kata ibu.

Aku menangkap kalimat itu sebagai isyarat bahwa bukan bapak atau ibu yang tidak setuju.

"Tak apa. Kakakmu berhak mendapat yang terbaik."

Apakah keluarga kekasihnya tidak baik?

Aku menahan pertanyaan. Jawaban apapun tidak akan mengembalikan hariku menjadi sama lagi. Tapi aku pantang cengeng, tak mau menyerah. Sejak hari itu aku memancing pulang pergi sendiri. Aku mendatangi berbagai tempat, dan selalu riang saat membawa banyak ikan.

"Kakakmu pasti bangga kalau tahu," kata ibu.

"Dia pasti kangen mancing."

Lalu pembicaraan perihal kakakku akan berlangsung selama beberapa saat. Dari membersihkan ikan, hingga ibu menyalakan api di tungku. Kami tahu, kami sama-sama rindu. Dan menyebut-nyebut kakakku dalam perbincangan kami adalah cara mengobati rindu.

Itu terjadi bertahun-tahun lalu. Saat aku masih mengenakan seragam biru-putih.

Sekarang, melihat lelaki itu kembali duduk di sampingku rasanya waktu seperti hanya dilipat. Dia masih mahir dengan segala peralatan pancing.

"Strike!" teriaknya, merasakan tarikan pada garis pancing.

Lalu kami terbahak begitu yang tersangkut di kail adalah gundukan sampah.

Kami berangkat selepas isya. Namun hampir dini hari belum mendapatkan satu ikan pun. Tapi kami tidak apa-apa. Ada banyak hal yang bisa dilakukan saat menunggu joran. Lagi pula, dalam prinsip kakakku memancing tidak selalu tentang mendapat ikan. Melihat bintang, mendengar suara ombak, baginya kenikmatan luar biasa.

Dulu, kukira bertahun-tahun di ibu kota akan mengubahnya. Ternyata tidak. Dia masih datang sebagai sosok yang sama. Yang tak sama barangkali sorot matanya. Tidak ada lagi luka di sana. Senyumnya ringan tanpa beban. Dan suaranya penuh energi.

"Pulang?" tanyaku.

"Nanggung." Dia menyalakan rokok terakhirnya, sementara aku mengganti umpan.

Aku ingin bertanya bagaimana waktu pada akhirnya menyembuhkannya.
Melupakan atau mendapat hati yang baru?

"Menerima dengan seluas-luas penerimaan," jawabnya sambil memainkan asap.

Aku tertawa, "Gimana itu?"

"Yang lalu biarlah berlalu."

Ah klise bukan? Kukira ada rahasia sakti macam apa. Ternyata hanya soal penerimaan.

Aku tidak pernah patah hati. Jangan sampai. Kekasihku yang sekarang adalah cinta pertamaku, dan selamanya akan begitu. Kakakku beda. Kukira selain dia pernah patah hati, banyak pula hati para gadis yang pernah patah karenanya. Entah sengaja atau pun tidak sengaja.

Tapi pada akhirnya aku tahu, dia mendapatkan seorang wanita yang seperti ibu. Paling mengerti dirinya, menerima segala sisi tentangnya. dan aku ikut bahagia dengan itu semua.

"Ayo!"

Kami meninggalkan dermaga ketika azan subuh terdengar di kejauhan. Dalam perjalanan pulang, dia mengajak membeli sarapan. Setidaknya agar kami tidak pulang dengan tangan kosong. Aku bilang tidak perlu. Aku harus mencegahnya. Ibu yang menyuruh.

"Zonk!" teriak kakakku begitu motor berhenti di halaman. Ibu tersenyum, berdiri di ambang pintu. Kami berhambur masuk, disambut aroma sedap dari meja makan.

"Sana sarapan," kata ibu.

"Haha pantasan nggak dapat, ikannya sudah di sini."

Ibu memang bilang padaku telah menyiapkan ikan, diolah sesuai kesukaan kakak. Ibu tahu, kami tidak akan membawa hasil pancingan. Sudah bermusim-musim tempat itu tak ada ikan. Entah bagaimana, spot favorit itu menjadi penuh sampah. Aku dan teman-teman berusaha membersihkannya, namun semakin hari semakin banyak. Pada akhirnya kami kewalahan dan menyerah.

Jadi, aku sengaja mengajak kakakku mancing di malam hari, selain dia memang suka suasana malam, salah satu alasannya agar dia tidak kecewa melihat tempat kenangannya hanya berisi jambrung.

"Makan yang banyak," Ibu menarik kursi, bapak menyusul. Setelah bermusim-musim terpisah jarak, kini kami makan bersama lagi. Aku melirik ibu. Matanya berkaca-kaca. Tapi aku tahu beliau bahagia. Keping puzzle yang lepas itu utuh kembali. Meski kami tahu, kehangatan ini tidak berlangsung lama. Sebab esok, kakakku harus merantau lagi.

"Menjadi dewasa artinya dihadapkan pada banyak hal. Urusan-urusan, bukan hanya pada senang atau tidak senang, tapi kewajiban, prioritas, tanggung jawab," ucapnya. Aku diam, lama. Merenungkan kata-katanya.

Kesatrian, Juni 2019

Untuk FH dan YA; persaudaraan kalian sangat manis.

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com