detikHot

Cerita Pendek

Rumah Ikan

Sabtu, 13 Jul 2019 12:10 WIB Derry Saba - detikHot
Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom
Jakarta - Itu rumahku. Semua orang yang datang ke rumahku selalu menyebutnya demikian, Rumah Ikan. Bukan karena aku seekor ikan, sebab jika demikian kau akan merasa terkejut di awal cerita ini dan bertanya-tanya bagaimana seekor ikan menceritakan rumahnya sendiri; atau kau malah akan meninggalkan cerita ini sambil berkata, 'aku tak punya waktu untuk sebuah dongeng murahan seperti ini'. Maaf. Ini bukan dongeng. Ini cerita nyata. Tentang hidupku. Bahkan bisa dibilang, tentang sebagian besar hidupku. Tentu kau pun bisa berkata, 'aku juga tak punya waktu untuk membaca ceritamu', tetapi...hmm...ya, terserahlah kau!

Baiklah. Kembali ke inti cerita, Rumah Ikan. Sejujurnya, menurutku, tidak ada alasan yang terlalu tepat mengapa orang-orang yang datang ke rumahku menyebutnya Rumah Ikan. Ya memang aku memelihara banyak ikan di rumahku (tapi kurasa ada orang yang memelihara lebih banyak dari ini): ada tiga kolam ikan, lima akuarium besar berisi bermacam ikan-ikan hias, dan ada satu mangkuk penuh air terletak di atas meja kerjaku --dulunya ada satu ikan kecil tinggal di situ, tetapi kini sudah tak ada lagi.

Dua kolam di halaman rumah sebagian besar dipenuhi ikan Black Ghost atau yang sering disebut Ikan Bulu Ayam, karena jika dilihat sepintas lalu, bentuk tubuh ikan ini memang menyerupai bulu ayam. Maka jika dalam keadaan tidak bergerak, dua kolam itu akan tampak seperti kolam sialan yang dipenuhi bulu ayam sedang terapung. Tapi aku menyukainya bukan karena bentuknya yang unik itu, melainkan karena gerakannya yang lincah dan menggemaskan. Karena kelincahannya itu, salah seorang teman yang memperkenalkanku pada ikan ini menyebutnya Si Penari Balet. Melihat ikan ini aku seperti melihat masa kecilku lagi.

Dulu, aku bercita-cita menjadi seorang penari balet. Seperti Natalia Osipova. Sejak berusia delapan tahun, aku sudah mengikuti les menari balet di salah satu sanggar tari. Aku menikmatinya. Ayah dan ibuku mendukung dengan sepenuh hati. Di hari ulang tahunku yang kesepuluh, di tempat aku berlatih, ayah dan ibuku menghadiahkan aku sepasang sepatu balet berwarna putih dan mengatakan bahwa suatu saat nanti aku akan menjadi penari balet yang luar biasa dan bisa tampil sepanggung dengan Natalia Osipova. Tetapi sesuatu terjadi. Kami mengalami kecelakaan mobil dalam perjalanan pulang ke rumah.

Ayah dan ibuku tak bisa tertolong. Mereka tewas sebelum sempat dilarikan ke rumah sakit. Aku satu-satunya yang selamat. Namun aku harus kehilangan kedua kakiku. Hidupku berantakan. Cita-citaku lenyap. Seperti menulis sesuatu di pasir pantai dan hilang seketika tanpa jejak ketika ombak datang menghapusnya. Aku kehilangan arah. Duniaku setelah kejadian itu seperti bumi lain tanpa bisa dipastikan mana Timur dan Barat, mana Utara dan Selatan.

Tetapi bagaimanapun, entah segala arah menjadi teka-teki, entah Timur adalah Barat, atau Utara menjelma Selatan, namun matahari tetap selalu bersinar. Sebab hidup tidak hanya tentang di mana kau berhenti, tetapi tentang ke mana kau akan berjalan lagi. Itulah sebabnya, meski hidup tanpa dua kaki seperti ini, aku tidak akan membiarkan keinginanku kehilangan langkah maju. Maka ratusan Black Ghost ini tidak hanya memanggilku untuk kembali melihat betapa suramnya sebagian besar dunia masa kecilku, tetapi juga mengajariku untuk tidak mengizinkan siapapun membuat aku kerdil di dalam pandangannya.

Hidup seperti sebuah kolam ikan. Jangan biarkan orang melihatmu sebagai sekumpulan bulu ayam sialan yang terapung, tetapi bergeraklah dan menarilah sebagai Black Ghost, si Penari Balet yang luar biasa.

Oke. Maafkan satu-paragraf-ceramah yang panjang itu. Aku tidak pernah bermaksud menceramahi siapapun. Aku hanya tidak bisa menahan semua itu terungkap apa adanya. Baiklah, mari kita bahas ikan-ikan di rumahku. Selain Black Ghost, satu kolam besar di belakang rumahku penuh berisi ratusan ekor Koi berwarna-warni. Aku menamai kolam itu Kolam Pelangi. Ratusan Koi yang berenang, berdesakan kesana-kemari membuat kolam itu terlihat seperti sedang dipenuhi lelehan pelangi yang bergerak-gerak.

Sementara di dalam rumahku ada lima akuarium besar: satu di ruang tamu, satu di ruang tengah --tepat di belakang sofa, satu di ruang makan dekat kulkas, satu di teras depan rumah, dan yang satu di teras belakang rumah. Semuanya kuisi dengan ikan-ikan Arwana. Menurut mitos, ikan ini menjadi simbol keberuntungan dan juga menghalau kekuatan-kekuatan gelap. Warnanya oranye. Seperti matahari senja. Tetapi aku menyukainya --maksudku amat menyukainya-- bukan karena warnanya. Bukan juga karena mitos tentangnya sebab aku tak pernah percaya mitos. Aku menyukainya karena seseorang.

***

Fransisco. Itu namanya. Aku bertemu dia pertama kali dua belas tahun lalu di ruang kelas. Tapi bukan teman sekelasku. Dia salah satu siswa di kelasku. Satu-satunya siswa yang setelah memberiku hadiah ulang tahun, berani mencium bibirku. Ketika semua siswa membawa kado dalam bingkisan yang terbalut pita merah jambu dan mencium tanganku, Fransisco malah memberiku sebuah mangkuk berisi air dan seekor ikan Arwana kecil di dalamnya. Mangkuknya, katanya, ia ambil ---tentu secara sembunyi-sembunyi-- dari warung bakso ibunya, sementara ikan Arwana itu ia curi di kolam depan ruang Kepala Sekolah.

"Kau gila?" kataku ketika mangkuk itu sudah menjadi milikku.

"Itu belum seberapa, Bu," jawabnya enteng seperti seorang jenius meremehkan soal-soal silogisme dan logaritma. Aku penasaran.

"Oh ya? Apa lagi yang lebih gila dari ini?" aku menantang. Saat itulah, di depan semua siswa-siswaku, bibirku ia kecup. Dua puluh tiga atau sekitar dua puluh tujuh koma lima detik. Itu waktu yang cukup lama untuk membuat bibir merahku terhapus sekaligus menjadi durasi yang ideal bagi sebuah video di status WhatsApp beberapa siswa yang cepat-cepat merogoh hape dari dalam tas mereka. Dalam beberapa detik saja, video dengan judul siswa-versus-guru sudah beredar di seluruh sekolah, termasuk di layar hape Kepala Sekolah.

Pak Herman, si Kepala Sekolah, mengaku sudah hampir tiga puluh tiga kali memutar video itu untuk memastikan apa itu benar-benar kami berdua dan untuk mengetahui apakah dalam ciuman itu benar terjadi hubungan pertalian antar-lidah. Baru pada kali ke tujuh puluh dua, sambil menjilat-jilat bibirnya sendiri, Pak Herman benar-benar yakin kedua orang dalam video itu adalah kami.

Maka dengan otoritas yang dimilikinya dan dengan predikat Kepala Sekolah paling bijaksana versi majalah dinding kelas sepuluh di sekolah itu, Pak Herman memutuskan Fransisco dikeluarkan dari sekolah sementara aku masih dipertahankan dengan syarat: harus selalu berada di samping Pak Herman selama jam sekolah masih aktif. Betapa biadabnya orang itu. Bagaimana bisa aku harus selalu di sampingnya sementara aku hanyalah seorang guru perempuan tanpa dua kaki dan hanya mengandalkan kursi roda?

Tentu itu kenyataan yang menyedihkan. Yang dimaksud menyedihkan bukan karena Fransisco dikeluarkan dari sekolah. Itu tidak masalah bagi kami sebab toh setelah kejadian itu, Fransisco bisa lebih bebas pergi ke rumahku tanpa harus takut digosipkan sebagian besar siswa dengan IQ bahkan belum mendekati bodoh atau menjadi inspirasi bagi cerita pendek tentang 'kisah cinta terlarang guru dan muridnya' dari beberapa siswa lain yang mengaku diri sebagai pencinta sastra setelah membaca buku-buku Boy Chandra dan Tere Liye.

Di rumahku, Fransisco bahkan tidak saja kubiarkan mencium bibirku, tetapi apapun yang ia inginkan dari tubuhku, terlebih bagian-bagian tubuhku yang bisa mengeluarkan angin. Yang dimaksud menyedihkan bukan juga karena aku mendadak menjadi sekretaris Pak Herman yang dalam beberapa kesempatan menyentuh bokong dan buah dadaku dengan sengaja dan menyebutnya itu tindakan paling tidak sengaja yang pernah ia lakukan. Yang dimaksud menyedihkan adalah keadaan yang tiba-tiba berubah setelah itu. Beberapa bulan setelah Fransisco dikeluarkan dari sekolah dan aku menjadi sekretaris Pak Herman, Fransisco menghilang.

Setelah sebuah malam yang panjang dan panas, yang membuatku benar-benar yakin bahwa tak ada penis yang lebih nikmat dari penis lelaki yang lebih muda darimu, Fransisco menghilang. Begitu tiba-tiba. Tak ada pesan apapun yang ditinggalkan. Kepada teman-temannya aku bertanya perihal ke mana perginya, tapi tak satu pun memberikan jawaban selain menancapkan pandangan lekat ke bibir dan bagian bawah leherku.

Ayah dan ibunya bungkam ketika kutanya. Para tetangga sama sekali tidak tahu menahu. Aku menyerah. Aku merasa seperti kehilangan salah satu anggota tubuhku yang lebih vital lagi. Hari-hariku setelah itu kembali suram. Duniaku sungguh tanpa arah, juga tanpa matahari terbit.

Duniaku adalah dunia seekor Arwana dalam mangkuk bakso. Setiap hari aku memandanginya. Pada senja hari ia mirip matahari senja yang tenggelam di dalam mangkuk. Sementara pada malam hari, ia bagai rembulan yang mengenakan kostum oranye dan menari balet di dasar mangkuk. Aku memandangi tubuh basahnya dan mengingat-ingat bagaimana bibirku basah pada ciuman pertama di dalam kelas. Ciuman itu lalu berpindah ke bagian-bagian lain tubuhku setelah kami berpacaran tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya.

Sekitar tiga atau empat tahun setelah itu akhirnya dari ibunya sendiri, aku tahu ke mana ia pergi. Ayahnya kalah berjudi. Usaha warung bakso ibunya jadi korban utang ayahnya. Juga beberapa perabot rumah tangga. Fransisco kabur ke Malaysia bersama pamannya yang bekerja di salah satu pabrik selang karet. Ingin mengembalikan usaha warung bakso ibunya, katanya pada suatu malam ia secara diam-diam berpamitan kepada ibunya agar tidak ketahuan ayahnya yang tengah mabuk berat. Meski dicegat ibunya namun ia bersikeras pergi.

Tahun lalu, di suatu siang yang panas, setelah pulang dari minimarket dan menyempatkan diri mencuci pakaian dalam yang kena cairan wajib tiap bulan, aku menemukan mangkuk pemberian Fransisco kosong melompong tanpa ikan. Arwana itu menghilang entah ke mana. Pada saat itulah, aku mendengar berita kedatangan jasad seorang TKI asal NTT dengan tubuh penuh jahitan. Namanya Fransisco.

Sejak saat itulah, seluruh rumahku dipenuhi Arwana berwarna oranye menyala. Rumahku menjadi Rumah Ikan, seperti kata orang-orang, meski sebenarnya aku akan lebih senang menyebutnya Rumah Fransisco sebab ini semua adalah tentang dia. Makanya mangkuk bakso itu kubiarkan tetap kosong. Aku yakin, suatu saat nanti, seekor Arwana bernama Fransisco akan muncul lagi di situ. Sebab bukankah sesuatu yang hilang, tahu cara terbaik ia muncul kembali?

Penfui, 2019

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed