detikHot

Cerita Pendek

Lelaki yang Kurindukan Punggungnya

Minggu, 07 Jul 2019 10:22 WIB Impian Nopitasari - detikHot
Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom
Jakarta - Lebaran sudah usai dua minggu yang lalu, namun Stasiun Solo Balapan sore ini masih penuh sesak oleh manusia. Beruntung aku masih bisa mendapatkan satu tiket Solo Ekspress ke Yogya. Tiket Prameks tinggal untuk jadwal habis magrib. Aku yakin ia tidak mau menunggu.

"Mas, tinggal yang berdiri, harganya Rp 30.000, ndak papa ya?" kataku padanya sambil menyerahkan tiket padanya. Tentu saja sambil menceramahinya kenapa dia tidak memesan secara online saja ketika mau berangkat ke Solo tadi. Masih kutambahi ceramahku kenapa dia dadakan sekali memberitahu kalau mau ke Solo. Untung saja aku sedang tidak ke mana-mana dan bisa menemaninya jalan-jalan.

"Oke nggak papa. Makasih lho ya sudah mau mengantrekan," katanya tanpa rasa berdosa. Aku tinju bahunya.

Sambil menunggu kereta kami duduk-duduk di emperan stasiun, tepat di depan tulisan Solo Balapan. Beberapa orang terlihat jengkel karena tidak bisa berswafoto dengan sempurna karena terhalang kami berdua. Aku memang sengaja. Ha ha ha.

Dia mengeluarkan sesuatu dari tas, "Untukmu. Makasih sudah menemaniku jalan-jalan dari Purwosari sampai Pasar Kliwon."

Aku menerima pemberiannya. Ini buku terbarunya. Dulu aku sempat membaca draft-nya, namun tidak tahu kabarnya lagi. Aku mengucapkan terima kasih dan segera membuka segelnya. Aku serahkan kembali padanya.

"Kasih coret-coretan apalah, harus mau!" aku setengah memerintah padanya. Kalau tidak begitu, dia tak akan mau.

"Baiklah. Sini aku pinjam punggungmu."

Sini aku pinjam punggungmu. Kalimat itu sesaat membuatku terdiam. Namun aku segera menguasai keadaan dan menyerahkan punggungku untuk menjadi alas menulis. Bukan tanpa alasan kenapa tiba-tiba mataku berkaca-kaca. Ini seperti de ja vu, tapi berbeda peran. Dulu aku yang bilang begitu, pada seseorang. Seseorang yang sangat kurindukan punggungnya. Apa kabar lelaki berpunggung lapang itu ya? Bolehkan aku merindukannya sekali lagi?

***

Bolehkah aku merindukanmu sekali lagi? Oh, mungkin bagi orang lain ini pertanyaan konyol. Kenapa merindukanmu harus minta izin? Mereka tidak tahu kalau untuk merindukanmu harus mendapat SIM dahulu. Surat Izin Merindukan. Dan, sekarang SIM itu sudah tidak berlaku lagi. Aku sedang melanggar hukum karena merindukanmu secara ilegal.

Mas Jendra, temanmu, kemarin berkunjung ke Solo. Aku agak payah menjadi guide untuknya. Alih-alih bercerita sejarah tempat-tempat yang kami lalui, aku malah bercerita kenanganku denganmu di tempat-tempat itu. Mas Jendra tidak keberatan, malah dia lebih tertarik mendengar kisahku bersama dirimu. Maaf ya aku jadi bercerita padanya.

Kami berjalan dari citywalk Purwosari. Aku berhenti di depan Loji Gandrung. Aku bercerita pada Mas Jendra, dulu aku dan dirimu juga pernah berhenti di sini. Aku menceritakan sejarah Loji Gandrung padamu yang akhirnya kau unggah di akun Facebook-mu. Kami berjalan lagi sampai depan Taman Sriwedari. Ketika sampai gapura Taman Sriwedari aku agak emosional. Di situ dulu aku mengajakmu mampir. Kita ngobrol berdua di pendhapa-nya. Aku berkata padamu kalau kamu harus mampir di sini, sebelum pendhapa ini dihancurkan pemerintah kota. Tak kusangka pada akhirnya yang hancur bukan hanya pendhapa Taman Sriwedari, namun hubungan kita berdua. Hancur dan meninggalkan puing-puing luka.

Perjalanan berikutnya adalah ke Museum Radya Pustaka. Sayang sekali museum ternyata sedang tutup. Aku tak bisa mengajak Mas Jendra ke dalam. Aku katakan padanya kalau dulu aku dan dirimu pernah asyik membaca koleksi perpustakaan museum ini. Kamu berjanji akan datang ke sini lagi. Yang akhirnya hanya menjadi janji saja. Tidak ada kunjunganmu yang kedua dan seterusnya.

Kami meneruskan perjalanan ke timur. Sesekali aku berhenti untuk menjelaskan tempat atau lokasi bersejarah di Solo. Tak terasa perjalanan kami sudah sampai di bundaran Gladak. Aku memandang papan petunjuk tempat di situ. Ah, sudah 10 tahun aku tinggal di kota ini. Kota yang sangat aku cintai. Aku meminta Mas Jendra duduk di bawah pohon beringin. Aku ingin dia mendengarkan ceritaku tentang rasa cintaku padamu.

Begini, kamu harus tahu bahwa aku sungguh mencintai kota ini. Bahkan bisa kukatakan kadar cintaku pada kota ini lebih besar daripada orang-orang yang pernah aku taksir. Aku tidak mau diajak ke Ngawi, ke Ponorogo, ke pedalaman Sumatra Selatan, ke Lampung, ataupun ke Maninjau sana. Yang bisa membuatku pindah dari kota ini adalah ibuku. Ya, kalau beliau menyuruhku pulang ke kampung halamanku di Grobogan sana, aku bisa apa? Jadi seberapa pun aku mencintai seseorang ketika dia tidak bisa kuajak tinggal di Solo atau di kampung halamanku aku memilih melepasnya. Tapi tahukah engkau kalau sebenarnya aku mau-mau saja meninggalkan Solo dan kau ajak tinggal di Yogya? Bisa kau ukur sendiri berapa kadar cintaku padamu.

"Cintamu padanya sungguh kebangetan, Nidi. Makanya kamu sakitnya juga kebangetan," Mas Jendra menepuk pundakku dan memberiku sehelai tisu. Ha ha payah memang, tidak bisa tidak menangis jika mengenangmu.

Aku meminta Mas Jendra melanjutkan perjalanan. Dari pertigaan Alun-Alun Utara kami belok kanan, melewati kios-kios buku loakan sor ringin yang dulu aku suka berlama-lama di sana. Sayang sekarang koleksinya menyusut, sudah banyak buku repro di sana. Sekarang kami sudah ada di halaman Masjid Agung Kraton Surakarta. Dulu aku mengajak dirimu Salat Asar di sini. Kamu sibuk berkeliling di sekitar masjid dan memotret jam matahari atau istiwa'. Aku mengajak Mas Jendra ke pintu selatan masjid, tepat di depan Pasar Klewer. Aku mencari penjual teh dan gorengan di depan pasar, sayangnya kata orang di situ ia sudah tidak berjualan lagi.

"Mas, kita duduk di depan kios batik itu ya, sambil melihat Gapura Slompretan, aku ceritakan sesuatu padamu," kataku pada Mas Jendra yang segera dibalas dengan anggukan.

Di depan kios seberang Pasar Klewer ini adalah tempat yang membuatku terikat momen denganmu. Di sini dulu kita ngobrol lama sekali. Aku memesan dua gelas teh hangat untukku dan untukmu. Kau tahu kalau bagiku teh paling enak itu ada di Solo. Orang Solo suka mengoplos teh. Yang kita minum dulu aku segera tahu kalau itu adalah teh oplosan tiga merk: Sintren, Gopek, dan Nyapu. Aku belum menemukan teh yang enak di kotamu. Aku hanya bisa minum teh di kotamu kalau itu disuguhkan oleh orang dekat atau orang yang aku hormati. Kamu harus tahu kalau teh yang kau suguhkan di rumahmu dulu sebenarnya tidak enak. Apalagi kau pernah menambah nata de coco yang membuatnya semakin wagu. Tapi aku tetap meminumnya. Karena apa? Karena itu dibuat olehmu. Orang yang selalu kusebut namanya dalam doaku.

Ditemani teh dan gorengan, di belakang becak-becak yang terparkir, aku dan dirimu berdebat tentang bedanya becak Solo dan Yogya. Kamu masih bilang kalau becak-becak itu tidak ada bedanya. Tapi aku tidak mau kalah.

"Becak Solo lebih kecil. Tidak perlu mengangkat ban belakang agar orang bisa naik. Becak Solo jarang dipakai untuk membawa barang berat. Mungkin hanya untuk kain batik. Dugaanku ini dulunya becak para bendara atau bangsawan. Becak Solo didominasi warna merah untuk slebor. Dulu sih kebanyakan tukang becak Solo dari Purwodadi. Becak Solo tidak menyebar ke kota lain."

Aku masih meneruskan penjelasanku, "Becak Yogya kebalikan dari becak Solo. Tukang becak kebanyakan dari Bantul. Slebor-nya berwarna cerah. Becak Sragen itu mirip becak Yogya. Yang jelas kalau menolak naik becak katakan 'sampun' saja, jangan 'mboten'. Lebih terdengar sopan."

Kamu tidak tertarik menyimak obrolanku tentang becak. Kamu memintaku menulis geguritan saja. Aku menuruti permintaanmu asal kau pinjamkan punggungmu untukku menulis. Wagu memang. Kalau Gapura Slompretan itu bisa tertawa, pasti dia sudah menertawakanku. Aku menulis geguritan gaya sandiasma dengan memakai namamu. Tentu saja kau tak asing dengan geguritan model begini karena kau sungguh menggemari Ranggawarsita. Dulu kita berjanji untuk bertemu di Palar, makam Ranggawarsita, tapi malah jadinya kau mengunjungiku di Solo. Aku melipat kertas bertuliskan guritan itu dan kumasukkan dalam saku jaketmu.

"Baca nanti saja, sepulang dari sini."

Aku dan dirimu menghabiskan sore di alun-alun kidul. Memberi makan para kerbau keturunan Kiai Slamet. Di depan Kandang Mahesa itu aku diam-diam memotretmu. Masih kusimpan fotomu hingga kini. Aku tidak mengajak Mas Jendra ke sini karena kami punya tujuan lain dan dia juga harus segera kembali ke Yogya.

***

Hai, lelaki berpunggung lapang, apa kabarmu? Terakhir kita bertemu dengan tidak sengaja di kotamu. Sungguh pertemuan yang canggung. Kamu memanggilku dengan sapaan "Mbak". Bukankah dulu kau dengan percaya diri memanggilku "Dhik" atau "Ndhuk"? Padahal kau baru saja mengenalku. Tidakkah kau tahu kalau sebenarnya aku lebih tua beberapa bulan darimu? Anehnya aku senang saja kau panggil begitu.

Izinkan aku mengenangmu sekali lagi. Aku sungguh merindukan punggungmu. Punggung yang tidak berani kupeluk. Punggung yang hanya bisa kupandang saja ketika kau memboncengku ke Brebah, Ke Condongcatur, atau ke Piyungan. Aku hanya berani menulis sesuatu di punggungmu dengan jariku yang membuatmu ngomel-ngomel.

"Aku lagi nyetir, geli tahu," katamu. Aku hanya tertawa dan menempelkan janggutku ke pundakmu. Tapi tetap saja, aku tidak berani memelukmu.

Punggung itu juga yang membuatku memilih hujan-hujanan bersamamu daripada naik mobil bersama temanku. Tidak apa-apa aku hujan-hujanan asal bisa berada di belakang punggungmu walau tebusannya aku harus terbaring selama satu minggu karena sakit. Cinta ini sungguh masokis sekali.

Apakah kau masih ingat ketika terakhir kali mengantarku menginap di tempat temanku? Malam itu setelah kau berkata padaku kau memilih orang lain, aku sebenarnya sudah enggan sekali kau bonceng. Kau memaksaku berlindung di bawah jas hujan. Aku menolaknya. Buat apa aku berlindung? Tidak kena hujan pun aku yakin aku akan sakit untuk beberapa waktu ke depan. Mungkin hitungan bulan, mungkin juga tahun. Aku tidak mengerti kenapa kau memilih cara sesakit ini untuk membuangku. Bodohnya lagi sebelum kau pamit padaku, aku masih sempat berkata padamu, "Please, make her happy," --hei untuk apa aku memikirkan perempuanmu? Entahlah saat itu aku merasa cukuplah aku yang sakit, jangan kau sakiti perempuan lain. Jika kau memang memilihnya, aku bisa apa?

Mungkin akan tiba suatu masa ketika aku akan biasa saja ngobrol denganmu menanyakan hal-hal semacam, "Gimana kabar istrimu?" atau, "Si kecil sudah bisa ngapain?" Lho siapa tahu kita tidak sengaja bertemu di terminal, stasiun, bandara, warung makan, toko buku, atau di manalah. Saat itu kuharap kamu tidak repot-repot untuk memanggilku "Dhik" atau "Ndhuk", cukup namaku saja. Tidak juga "Mbak" untuk menegaskan kalau kita sudah berjarak. Santai saja, panggil namaku saja.

Punggung yang mampu menjadi landasan menulis geguritan, tentu punggung yang lapang, yang sulit dilupakan. Aku memang hanya meminjam punggungmu untuk landasan, tidak pernah berharap kau menjadi tulang punggungku di masa depan. Cukuplah bagiku mengingatmu sebagai kenangan, walaupun menyakitkan.

Mendungan, 20 Juni 2019

Catatan:

*sampun: sudah, mboten: tidak (Bahasa Jawa halus)
*geguritan: puisi berbahasa Jawa
*Sandiasma: tanda atau istilah terselubung, biasanya berupa teka-teki nama penulis yang diselipkan dalam kata maupun paragraf dalam karya sastra Jawa, dipopulerkan oleh pujangga Ranggawarsita

Impian Nopitasari menulis fiksi berbahasa Indonesia dan Jawa. Tinggal di Solo. Buku kumpulan cerita cekak-nya berjudul Kembang Pasren (Garudhawaca, 2017)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed