detikHot

Cerita Pendek

Panggilan Pulang

Sabtu, 06 Jul 2019 12:15 WIB Risda Nur Widia - detikHot
Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom
Jakarta - "Bila ada seorang yang terus memikirkanmu, maka di sanalah tempatmu untuk pulang."

Itu merupakan kata Ibu beberapa tahun lalu, sebelum aku pergi meninggalkan rumah. Memang, setelah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan sebagai koresponden perusahaan media di Berlin, aku pergi meninggalkan rumah dan Ibu untuk merantau. Aku hidup sebagai pengelana di negeri orang. Hari-hariku bukan lagi dipadati dengan percakapan hangat dengan Ibu, tetapi diganti oleh laporan kerja, rutinitas berangkat kantor, dan kesepian-kesepian yang aku lalui seorang diri di Eropa. Apalagi selama meninggalkan rumah dua tahun itu --dan sepanjang waktu itu juga tidak pernah pulang-- aku merasa ada yang hilang di dalam hidupku. Aku merasa ada yang membuatku asing di tengah perantauan seperti ini.

Lalu, karena kalimat yang tiba-tiba terngiang itu, aku mendadak merindukan suasana rumah. Begitu juga hingga siang ini, setelah kalimat itu berhasil menghadirkan kegelisahan yang menohok-menohok nyaris selama dua minggu, aku memutuskan untuk mengambil libur panjang dan pulang. Demikianlah. Aku berangkat menggunakan pesawat paling pagi dari Bandara Schonefeld. Perjalanan udara yang menghabiskan waktu berjam-jam tidak membuatku lelah. Perasaan rindu kampung halaman dan Ibu, bagai menghadirkan spirit lain pada diriku. Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta, tubuhku bahkan masih sama segarnya seperti bangun tidur pagi tadi. Padahal perjalanan dari Berlin menuju Jakarta merupakan perjalanan panjang dan menghabiskan waktu serta tenaga.

Dari bandara, aku lekas memutuskan keluar menggunakan taksi. Aku meminta pada sang sopir untuk mengantarkanku ke kafe terdekat. Sopir itu lantas membawaku ke sebuah kafe yang lenggang di Jakarta. Aku duduk seorang diri di sana. Aku kemudian memesan minuman seraya menerawang ke luar jendela yang transparan. Aku seolah sedang mencocokkan kembali apa yang ada di benakku dahulu mengenai kota ini. Dapat dikatakan, di tepi meja itu, aku sedang merakit ulang biografi ingatanku pada kota di hadapanku. Mataku terus menjelajah dari satu objek ke objek lainnya. Ingatanku bekerja sangat keras.

Tetapi pemandangan dua tahun lalu yang aku lihat atas kota ini, terasa sangat berbeda.

"Waktu terus melumat kehidupan untuk senantiasa berubah," pekikku seorang diri.

Aku masih termenung di tepi meja kafe. Lalu mendadak, aku mengutuki diriku sendiri yang memilih singgah sebentar membuang penat setelah berjam-jam terkurung dalam pesawat. Aku tidak menemukan apa yang kucari. Tetapi, aku hanya menemukan keasingan lainnya seperti ketika di Berlin. Merasa jengah dengan perasaan sendiri, aku melempar sepasang mataku ke langit. Hujan masih menaruh gerimisnya pada gedung-gedung serta jalanan yang selalu sibuk. Aku sekali lagi memperhatikan detail-detail kecil dari diorama kota yang telah lama kutinggalkan. Yang kulihat, hanyalah orang-orang bergegas, tatapan pilu wajah-wajah bisu yang menyimpan kemurungannya masing-masing, dan laju kendaraan yang semakin padat serta tergesa seperti dikejar waktu.

"Kota ini bagai sebuah pesta yang gagal mengakhiri gemanya sendiri," pekikku.

Untuk menghibur diriku sendiri, aku mengambil buku catatan dan sebuah pensil di dalam tas. Sekilas, aku memandangi kertas itu. Tanpa kontrol, tanganku bergerak di atas permukaan kertas polos tersebut. Aku tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku? Karena secara tidak sadar, tanganku melukis sebuah rumah kecil dengan bunga-bunga di halaman depannya. Syahdan, tidak tertinggal, Ibu yang sedang menyirami setiap kuncup bunga itu. Aku seolah sedang melukiskan kenanganku sendiri di atas kertas itu.

"Sejauh-jauhnya kau pergi, suatu saat pasti akan pulang! Karena seorang petualang pun selalu memiliki sebuah rumah, di mana ada orang yang terus memikirkannya," aku kembali mendengar suara Ibu dari balik kertas itu.

Ingatan di kepalaku seperti mesin scanner ketika melihat gambaranku sendiri di kertas itu. Kenanganku juga bagai dipanggil untuk melukiskan lagi adegan saat Ibu melambaikan tangan ke arahku dengan tapuk mata merah melelehkan cairan kesedihan. Semua itu masih terekam jelas pada slide-slide ingatanku. Begitulah. Setelah pengertian merentangkan jarak, lantas ruang dan waktu menelurkan rindu, hari ini aku ingin pulang. Aku ingin memeluk Ibu seraya mengecup punggung tangannya.

"Silakan di minum, Mas!" Kata seorang pelayan wanita yang mendadak memecahkan lamunanku.

Aku mengangguk dan mengucapkan, 'terima kasih' kepadanya. Arkian, pelayan itu pergi. Keheningan kembali membekapku di kursi itu. Aku memperhatikan antara minuman serta kertas di atas meja. Berganti-gantian. Pelan-pelan. Kemudian, aku menggenggam kuping cangkir minuman dan menariknya untuk mendekat. Aku mencecap minuman itu pelan. Aroma jahe yang khas meresap pada lidah dan tenggorokanku. Mendadak, tubuhku yang semula kedinginan menjadi hangat.

Aku pun melonggokkan pandangan ke dalam cangkir minuman itu. Aku memandang air kekuningan serta gurat wajahku yang perlahan menua. Tanpa aku sangka, seperti ada yang mendorongku masuk ke cangkir minuman itu. Aku terperosok pada ingatan masa kecil di rumah. Memoriku terpelanting kembali saat berlarian turun tangga tergopoh-gopoh berebut dengan kakakku menuju dapur. Kemudian, Ibu tersenyum mendapati kami merengek-rengek meminta bagian lebih dari minuman yang dibuatnya. Sebuah minuman sederhana yang terbuat dari rebusan jahe dan gula. Minuman yang menjadi perekat kebersamaan kami di rumah dahulu. Karena, sering sembari meminum air ramuan jahe yang hangat itu, Ibu bercerita pada aku dan kakak:

"Tidak ada yang abadi di dunia ini. Kau tidak perlu memaksakan segala sesuatu, karena kita sebenarnya tidak sedang mencari apapun. Jadilah orang yang sederhana dengan hati yang baik. Dengan itu kelak akan banyak orang yang memikirkanmu," katanya seperti menceramahi dirinya sendiri.

Ah, dengung suara itu. Aku mendengar suara Ibu lagi. Suara yang terasa begitu dekat dan lembut.

***

Di luar hujan masih turun. Aku menggeloyor keluar dari kafe. Aku termenung menunggu taksi untuk menuju terminal bis kota. Tidak begitu lama, taksi datang dan mengantarkaku ke terminal. Sesampainya di terminal, terburu-buru aku masuk ke badan bis karena akan berangkat. Bis pun melenggang membelah hujan menuju kotaku. Di tengah perjalanan, aku kembali termenung sembari menatap hujan. Aku memperhatikan rintik-rintik hujan yang turun secara teratur.

Tangan dan pensilku kembali bergerak-gerak ajaib, dan tanpa sadar aku sudah melukis sebuah meja makan sederhana. Aku juga membubuhkan tiga orang yang sedang duduk menatap sebuah hidangan di atas meja. Dari dalam lukisan itu, aku seperti mendengar teriakan-teriakan lirih.

"Jangan berebut! Masih banyak kue serabinya!" Suara itu terdengar semakin dekat. Bahkan seperti berada di sampingku.

Dan di tengah lamunan, seketika tercium aroma sedap kuah serabi. Aku menghirup aroma parutan kelapa dan air gula yang manis. Aku mengerling ke tepi jalan, dan melihat sebuah warung serabi kecil di sana. Banyak orang berkumpul di warung tersebut. Mereka duduk santai menyantap makanan. Sekejap, hatiku bergetar. Aku ingat serabi buatan Ibu di rumah. Makanan yang selalu Ibu hidangkan ketika aku dan kakakmu bertengkar. Makanan yang membuat kami menjadi satu keluarga yang utuh.

"Kalian harus berbagi walaupun itu hanya sedikit," aku ingat nasihat Ibu.

"Makanan terasa lebih enak kalau kita menikmatinya bersama-sama."

Air mataku menitik. Aku ingin lekas bertemu Ibu. Namun bis masih merayap pelan di jalan karena macet. Aku semakin gelisah menatap hujan dan keramaian di luar. Di tengah kemacetan itu, dari radio yang diputar sopir, aku mendapatkan berita kalau baru saja terjadi bencana. Angin besar baru saja melahap kotaku yang berada di pesisir pantai. Mendengarkan itu, aku lekas panik. Aku pun cepat-cepat menelepon Ibu ke rumah-walau kenyataannya sebenarnya aku ingin memberikan kejutkan kepada Ibu dari kedatanganku yang mendadak.

Terus aku memanggil Ibu. Aku gelisah menunggu jawaban Ibu dari teleponnya. Tetapi operator selalu mengatakan kalau nomer telepon Ibu berada di luar jangkauan. Perasaanku semakin tak karuan. Terlebih lagi, saat si penyiar radio menyatakan banyaknya korban yang jatuh. Aku semakin panik. Tapi untungnya, tidak lama kemudian, sebuah nomer asing meneleponku. Dari suaranya, aku cepat bisa mengenal kalau itu Ibu.

"Halo?" kata Ibu.

"Ibu?"

"Iya, Nak. Ini Ibu."

"Ibu baik-baik saja kan? Aku sekarang sedang dalam perjalanan pulang."

Ibu sempat diam di ujung telepon itu. Lalu, Ibu berkata lagi seolah gemas dengan anaknya, "Kau anak nakal. Pergi bertahun-tahun, baru pulang sekarang. Tapi syukurlah, rinduku sampai juga padamu, Nak."

"Maafkan aku, Ibu."

"Cepatlah datang. Semua orang sudah menunggumu."

Ibu menutup telepon. Memang tidak seperti biasanya ketika menelepon Ibu berbicara sesingkat ini. Namun, aku tidak mempedulikannya. Aku merasa lega dengan keadaan Ibu yang baik-baik saja setelah bencana.

***

Ada pemandangan yang berbeda ketika aku sampai di rumah. Rumah-rumah yang rubuh, kubangan air, dan bergelimpang mayat di tepi jalan. Tangis juga mendengung tiada putus di setiap tempat setelah bencana. Dan sesampainya di rumah, aku mendapati sebuah keramaian dengan wajah-wajah sama murungnya seperti saat di jalan.

Kakak sudah menungguku di halaman rumah yang hancur.

"Di mana Ibu, Mas?" tanyaku kepada kakak.

Katanya lemah, "Ibu meninggal saat bencana terjadi. Dia pagi tadi kami kuburkan. Kami tak sempat menunggumu pulang."

Aku tergeragap. Aku tak percaya mendengar berita itu. Kakak pun mengatarkanku ke kuburan Ibu. Di tepi makam Ibu, aku terduduk linglung seraya berpikir: Siapa yang meneleponku satu jam sebelumnya? Apakah Ibu meneleponku dari surga?

Risda Nur Widia cerpennya telah tersiar di berbagai media

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com




Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com