detikHot

Cerita Pendek

Persiapan untuk Sebuah Pengakuan

Sabtu, 22 Jun 2019 11:02 WIB Hasan ID - detikHot
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Kali ini aku adalah nelayan yang mengapung di tengah laut biru di atas geladak perahu dengan bernaung di bawah caping anyaman bambu. Lazimnya aku tidak suka memakai caping ketika melaut jauh. Angin kencang suka datang sewenang-wenang menarik caping itu hingga leherku tercekik oleh tali kaitnya. Tapi, kali ini aku akan membutuhkannya. Dan mumpung kubawa, kupakai ia untuk sedikit menyaring sinar matahari yang menerpa kepala. Sebab di tengah laut tak ada pohon yang bisa kujadikan tempat berteduh selagi kuselesaikan pekerjaanku. Kutaksir, aku akan membutuhkan waktu lama.

Tujuanku melaut kali ini tidak untuk mencari ikan seperti biasa. Aku hanya ingin menyiapkan hadiah untukmu. Kekasih rahasiaku. Gadis perajin kalung dan gelang dari cangkang kerang yang senang pula membuat lukisan cerita dongeng di atas pasir selagi bosan. Aku sendiri memiliki seuntai kalung hasil karyamu, yang kudapat dengan mengambilnya diam-diam di samping lukisan pasirmu ketika kau sibuk mencari kerang yang baru.

Waktu itu kau melukis putri duyung yang duduk di atas rembulan-sebenarnya putri duyung itu duduk di atas batu karang dan bayangan bulan sabit terpantul dari air laut di bawahnya-yang matanya seolah-olah melirikku ketika aku mencuri kalung itu. Entah kenapa lirikan putri duyung itu membuatku selalu merasa bahwa kau sebenarnya melihat aku ketika mencuri kalungmu, namun diam-diam membiarkannya. Kalung itu kini kugantungkan di tiang perahu seperti sebuah jimat. Tapi tentu saja itu bukan jimat. Kalung itu sengaja kutaruh di sana hanya karena aku mencintaimu-tidak lebih dari alasan itu.

Mengenai hadiah yang aku persiapkan, aku sedang merajut boneka. Sebenarnya aku malu terlihat merajut benda itu, karenanya aku memilih tempat ini. Bahannya kubuat dari rumput laut yang aku keringkan dengan menjemurnya di atas perahu, lalu kukerjakan pelan-pelan agar kudapat hasil terindah yang kubisa. Mungkin tidak akan bisa kubuat indah sekali. Aku baru belajar merajut, apalagi merajut boneka berbahan rumput laut pula. Tapi, aku harap ini akan jadi cukup pantas untuk kau jadikan guling di tempat tidurmu, agar bisa kau peluk setiap waktu.

Mungkin sesekali kau sudi mendaratkan ciuman padanya dengan bibir mungilmu yang manis merah jambu. Atau, setidak-tidaknya, boneka ini kan bisa menemanimu di tepi pantai itu, setiap kau bekerja di sana. Mungkin dengan berpura-pura jadi penonton hasil karyamu. Lalu, kau akan bertanya padanya, "Bagus kan?" tiap selesai merangkai kerang atau melukis sesuatu.

Membayangkan itu aku berpikir bonekaku nanti harus terajut dengan wajah tersenyum. Lebar. Yang akan menjadi penanda bahwa jawaban dari pertanyaanmu adalah, "Ya, itu bagus sekali. Cantik. Seperti dirimu."

Tunggulah! Aku akan menyelesaikannya, meski agak lama. Lalu aku akan melarungnya sehingga boneka itu berenang sendiri menghampirimu.

Aku tidak bisa langsung menyerahkan hadiah itu padamu sebab aku malu. Aku punya tradisi yang kujaga sendiri, yakni tak boleh terlalu dekat padamu kecuali pada momen-momen tertentu. Sebenarnya, aku selalu berharap 'momen-momen tertentu' itu akan sering terjadi. Tapi, sepertinya, justru karena tidak sering terjadi 'momen-momen' tersebut dilabeli dengan istilah 'tertentu'.

Boneka yang kurajut ini adalah sebuah boneka beruang. Tadinya aku ingin membuat boneka pangeran berkuda putih, yang memiliki pedang panjang tersarung di pinggangnya. Tuan putri sepertimu, harusnya pantas untuk bersanding dengan pangeran. Namun selain karena sulit bagiku merajut boneka pangeran naik kuda, aku sendiri bukanlah pangeran. Aku ingin hadiahku mencerminkan pribadiku sendiri. Sempat pula terpikirkan olehku untuk membuat boneka monyet, lebih tepatnya lutung.

Pernah kudengar ada dongeng tentang seorang putri yang kekasihnya berubah menjadi lutung karena kutukan. Tapi, bahkan dalam dongeng itu si lutung adalah jelmaan pangeran. Sedangkan aku sama sekali tidak seperti itu. Maka kuputuskan untuk membuat boneka beruang saja. Selain lebih mudah untuk membuatnya, boneka beruang adalah boneka yang paling biasa, ada di mana-mana, banyak berserakan di toko-toko mainan wanita. Seperti aku: hanya lelaki biasa. Tapi tentu saja, ada ketidakbiasaan dalam kebiasaan itu. Bonekaku kurajut dari rumput laut. Sangat tidak biasa, bukan? Kurasa, setidak-biasa itu pula cintaku padamu.

Lama kuhabiskan waktu merajut dengan hati-hati. Aku capai. Kau tahu? Tak mudah untuk memperjuangkannya. Selalu ada angin dan ombak yang mengganggu. Menggoyangkan perahu, menarik capingku sehingga kuputuskan untuk melepasnya saja, mencipratkan air ke wajahku hingga masuk ke mata. Ketika angin dan ombak datang, mereka seakan bicara.

Angin itu bukan siut-siut bunyinya, tapi dia berbisik, "Sia-sia, sia-sia," seolah ingin mengatakan kalau pekerjaanku tak berguna. Lalu ombak menimpali dengan suaranya yang bukan terdengar berdebar dan berdebur, tapi dia malah bilang, "Bubar-bar, bubar-bar," seolah mengusirku supaya cepat menghentikan usahaku. Lalu, suatu ketika mereka berkomplot untuk mengagetkanku secara bersamaan. Angin besar dan ombak kencang menerjang serempak hingga perahuku oleng, lalu beberapa barang berjatuhan, bergedobrak, yang kedengarannya malah seperti suara makian, "Goblok!"

Lucu, bukan? Mungkin itu hanya imajinasiku, tapi kadang-kadang setan memang muncul dari imajinasi manusia, lahir dari pikiran lemah dan hati yang tidak teguh.

Pada saat serangan serempak angin dan ombak itu pula terjadi insiden. Aku hampir menjatuhkan boneka yang masih setengah jadi ke laut. Beruntungnya tanganku cukup cekatan untuk mencengkeramnya, namun terlalu keras, sehingga sebagian boneka itu rusak. Ia tercabik di bagian dada, sebelah kiri, tepat di tempat biasanya makhluk hidup menyimpan hati.

Hatiku sendiri ikut melemah. Hampir saja aku menyerah. Ya sudahlah, tidak jadi saja! Baru kudapati kemudian bahwa telapak tanganku terasa perih. Telapak tanganku banyak melepuh. Jemari lecet sana-sini di tiap buku-buku. Sepertinya itu akibat teknikku yang masih kasar dalam merajut rumput laut menjadi boneka.

Lalu aku tersadar. Bukankah tadi rasa perih itu tidak terasa? Tidak ada sakit apa-apa. Rupanya bukan kesulitan yang membuat luka, dan bukan luka-luka yang melahirkan rasa sakitnya. Tapi rasa putus asa yang menyebabkan itu semua. Putus asa membikin segalanya terasa susah dan segala susah terasa sesak di dada. Maka kucoba singkirkan rasa sakitku sampai tidak terasa. Aku menyemangati diri, dan aku merajut lagi. Untuk membantu, kubayangkan wajahmu tersenyum padaku.

Kuusir semua setan dari imajinasiku, sehingga angin sebesar apapun kembali terdengar siut, dan ombak sederas apapun kembali terdengar debur dan debarnya saja. Suara lantai perahu tinggal derak, dan benda apapun yang jatuh tinggal gubrak atau gedubrak.

Perlahan-lahan aku kerjakan. Hingga akhirnya selesai juga. Dengan hati-hati aku angkat boneka itu. Kupandangi dari atas ke bawah, kubolak-balik depan belakang. Sejujurnya tidak istimewa. Tapi aku menghibur diri dengan mengatakan, "Luar biasa!" Setidaknya, usahaku sudah luar biasa.

Tidak mengapa tidak terlalu indah. Aku hanya ingin mengirim boneka yang mencerminkan diriku, dan memang seperti itulah aku. Kalau soal keindahan, toh nanti kau bisa mempercantiknya sendiri. Jari-jemarimu lebih terampil daripada jemariku. Kau nanti bisa menambahkan beberapa buah cangkang kerang sebagai hiasan, atau batu-batu karang, atau kembang pohon kelapa, atau apapun! Aku yakin kau bisa mempercantik boneka ini dengan sedikit sentuhan.

Aku tinggal melarungnya sekarang, boneka itu, agar ia sampai padamu. Aku lepas capingku, aku apungkan di atas laut, aku dudukkan boneka itu di atasnya, hingga kelihatan seolah-olah boneka itu adalah pelaut yang menggunakan capingku sebagai kapal untuk berangkat berpetualang. Aku bersiap melepaskannya, sambil memanjatkan segala doa dan mantra agar nanti dia kan terdampar di pantai yang tepat, dan sampai padamu.

Tapi kemudian aku tak rela. Kenapa aku harus melarungnya? Bukankah sudah kukeluarkan banyak usaha. Sekali saja, kenapa aku tak langsung menyerahkan hadiah ini padamu? Mungkin tidak salah kalau kulakukan sekali ini saja.

Nanti, aku bisa menyerahkannya sambil menatap matamu, sambil bersalaman dengan tanganmu. Mungkin dengan sedikit basa-basi akan kukatakan kalau selama ini aku sering memperhatikanmu. Lalu, kan kuakui pula kalau aku pernah mencuri kalung darimu, yang kini kugantung di atas tiang perahuku. Kalau kau bertanya kenapa, kan kuakui bahwa itu karena diam-diam aku menyukaimu.

Dan kalau ternyata semuanya lancar, lidahku tak kelu, tanganku tak lesu, kakiku tak gemetar, mungkin harus kubuat pula sebuah pengajuan, "Sudikah kau kelak jadi istriku?"

Hasan ID aktif di komunitas Malam Puisi Sidoarjo. Buku kumpulan cerpen terbarunya Monster atau Sesuatu yang Sejenis Dengan Itu (Penerbit Mejatamu)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com