detikHot

Cerita Pendek

Sepasang Sepatu Gunung

Minggu, 16 Jun 2019 10:47 WIB Meisia Chandra - detikHot
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Hari demi hari berlalu aku hanya ingin menangis. Seperti cuaca di kota kecil di kaki gunung ini. Pada awal bulan Juni, hujan dan kabut selalu membayangi pemandangan lembah-lembah hijau yang indah di kota ini. Semuram kota tempat tinggal para vampir, seperti itulah suasana hatiku. Sejak kamu mendadak tidak menghubungi aku lagi. Menghilang tanpa alasan.

Kota yang muram ini tidak pernah membosankan. Dengan suhu pegunungan sekitar 13 hingga 18 derajat Celcius, kota ini sejuk dan disenangi wisatawan yang datang dari kota-kota besar. Aku memilih pindah ke sini sejak kamu pergi. Aku memilih sebuah rumah dengan jendela besar menghadap pemandangan lembah hijau nan cantik. Setiap hari aku akan duduk di depan jendela itu dengan secangkir teh, memandang wajah lembah yang terbentang luas bak permadani itu. Wajah yang kupandangi setiap hari itu tidak pernah membosankan. Setiap hari kecantikannya berbeda, bahkan dari waktu ke waktu.

Aku pun mulai mencatat wajahnya yang berubah-ubah itu. Ada kalanya selapis awan tipis melayang di bawah puncak-puncak gunung. Pada sebagian besar waktu puncak-puncak gunung yang tinggi itu tak terlihat, tertutup awan. Ada kalanya kabut tebal menutup semua pemandangan itu hingga hanya tersisa warna putih yang redup. Hanya jarang-jarang langit cerah dan lembah itu dapat terlihat semua seperti telanjang bulat tanpa sehelai pun awan menutupinya. Bagaimana pun rupanya, lembah ini tetap cantik dan aku mencatat semuanya.

Hari ini langit berwarna biru. Segumpal awan putih berbaris di atas puncak-puncak gunung hijau. Hari ini lekuk-lekuk gunung terlihat begitu jelas. Beberapa rumah kecil dan sawah yang bersusun-susun mempercantik lembah itu. Aku pun teringat kamu yang selalu memanggil aku cantik. Kamu dengan tulus membuatku merasa cantik apa adanya. Sepertinya aku tidak pernah merasa begitu indah.

"Morning, cantik!" adalah sapaanmu yang memulai setiap hari-hariku dulu. Awalnya aku terganggu dan merasa kamu hanya berbasa-basi atau hanya menggoda wanita yang kesepian. Lalu mulai kurasakan panggilan itu tulus. Kamu berbisik padaku pada saat-saat tertentu untuk mengatakan aku cantik. Terkadang kamu berhenti saat kita sedang bercakap-cakap hanya untuk memujiku.

Kamu datang pada saat aku sedang kesepian. Suamiku sangat sibuk, dan setelah 10 tahun hidup bersama tanpa dikaruniai anak, api asmara pun mulai padam. Pada saat itulah kamu muncul, dan aku membiarkan kamu masuk. Aku membiarkan kamu memanggilku cantik pada saat tak ada lagi orang lain di dunia ini yang mau menghargai keindahanku. Aku membiarkan kamu menjagaku, memberi perhatian pada saat aku haus akan kasih sayang. Semua itu terjadi begitu saja, dan kini semua itu pun hilang begitu saja, seperti matahari yang bersinar melenyapkan kabut.

Kemarin hujan turun seharian. Orang-orang yang tinggal di sini sudah terbiasa dengan hujan. Mereka tetap beraktivitas seperti biasa, mengenakan sepatu boots dan membawa payung. Mereka berjalan di atas jalan yang basah sambil menyeruput wangi hujan yang segar di pegunungan. Pada saat seperti ini aku teringat tatapan matamu yang teduh. Kamu selalu memandangku dengan lembut, selembut hujan gerimis di kaki gunung. Bila berbicara padaku kamu selalu lembut selayaknya pasangan yang masih baru. Kamu membuatku berpikir aku ingin kita terus berada di sini, terus menjadi pasangan baru sehingga tak ada yang menjadi usang dan biasa.

"Apakah mungkin, kita tetap di sini, selamanya?" aku pernah bertanya padamu suatu hari, agak retoris.

Kamu hanya diam saja. Kini aku terpikir, mungkin aku mulai membuatmu takut dengan ketergantungan dan kebutuhanku padamu.

Ketika pagi datang aku mencatat kecantikan yang berbeda di lembah ini. Terlihat bias-bias sinar matahari mulai mengintip dari celah-celah pegunungan. Seperti memancarkan bias-bias harapan baru akan datangnya hari yang lebih baik. Aku memandang kebun kecil di belakang rumahku dan teringat kamu lagi. Kamu memiliki tangan yang terampil dan pandai membuat banyak hal.

Suatu hari kamu pernah memangkas pohon mangga di belakang rumah kami yang sudah tidak berbuah lagi. "Tahun depan, pohon ini akan berbuah banyak dan manis-manis, lihat saja," katamu dengan penuh percaya diri seperti biasanya. Pernah juga suatu hari kamu membantu kami memasang rak sepatu yang sudah lama tak terpasang karena tidak ada tukang yang bisa dipanggil pada waktu itu. Kamu membuat orang-orang terkesan dengan banyaknya hal yang bisa kamu lakukan dan kamu ketahui.

Sejak kecil sudah terlihat bahwa kamu istimewa. Kamu sering bilang padaku, "You are special," tapi kini kupikir bahwa yang istimewa itu sebenarnya kamu. Sejak kecil kamu sudah menunjukkan bakatmu di berbagai bidang. Kamu pandai memperbaiki mesin, alat elektronik, dan juga bercocok tanam. Tanaman yang kamu pangkas, bermekaran. Apa yang kamu rakit tampak rapi dan kokoh.

Secara fisik kamu sehat dan kuat. Waktu kecil kamu sempat mengikuti beberapa ajang pertandingan olahraga nasional. Kamu juga lebih cerdas dibanding rata-rata. Kecerdasanmu pernah membawamu mendapatkan beasiswa bersekolah di luar negeri. Aku hanya ingin kamu tahu, kamu tidak seperti orang-orang lain. Kamu istimewa.

Tidak heran apabila banyak harapan timbul di sekitarmu. Orangtuamu mungkin berharap banyak padamu walau mereka tak pernah mengatakannya secara langsung. Aku pun berharap banyak padamu, walau tak layak kusampaikan.

Kamu menimbulkan kesan bahwa kamu bisa diandalkan dan kamu membuat orang-orang merasa aman di dekatmu. Jangan salahkan aku apabila aku berharap padamu. Kamu yang demikian cakap dan kuat. Kutahu kamu bisa membantuku mewujudkan impian-impianku. Salah satu yang tak bisa dilakukan oleh suamiku, mewujudkan impianku untuk naik ke puncak gunung.

"Kamu bukannya udah sering ke gunung?" kamu pernah bertanya ketika kita bercakap-cakap soal naik gunung.

"Memang sih, tapi aku belum pernah muncak. Pengen rasanya merasakan sensasi muncak seperti yang sering kubaca atau kulihat di film-film," jawabku.

"Oh, kalau begitu yang perlu kamu siapkan pertama kali adalah sepasang sepatu gunung," katamu pada waktu itu. Ah, kamu yang selalu "safety first".

Kini aku telah membeli sepasang sepatu gunung di kota kecil di kaki gunung ini. Di sini banyak toko yang menjual peralatan trekking dan mungkin suatu hari ketika kesedihanku berlalu aku akan mulai meniti lagi hobiku naik gunung. Untuk saat ini aku hanya ingin muncak bersama kamu.

Hari demi hari berlalu dan masih saja, aku hanya ingin menangis. Sambil mencatat wajah lembah yang berubah-ubah setiap saat, pikiranku hanya bisa terisi kamu. Apa lagi yang bisa kulakukan? Tak ada hal lain yang bisa mengisi pikiranku. Sudah kucoba dengan menyibukkan diri setelah kamu pergi. Tapi semua percuma. Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain hanya ingin menangis mengingat kamu. Akhirnya semua kutinggalkan. Kutinggalkan suamiku dan pindah ke kota kecil di kaki gunung ini.

Sepasang sepatu gunung, dan aku akan selalu menunggumu kembali. Di kota kecil di mana hampir selalu turun hujan dan berkabut pada awal bulan Juni.

Meisia Chandra penulis lepas, co-founder upperline.id

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com