DetikHot

Cerita Pendek

Hari Itu pun Tampak sebagai Lebaran Paling Indah

Minggu, 02 Jun 2019 11:18 WIB  ·   Bonari Nabonenar - detikHOT
Hari Itu pun Tampak sebagai Lebaran Paling Indah Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom
Jakarta - "Ini tantangan menarik!"

Di dalam hati Wangi, itu yang pertama kali terbetik. Ia sudah menakar nyalinya sendiri. Sudah memikirkan risiko dan segala macam. Sekilas ia tatap mata laki-laki di seberang mejanya. Yang berjarak tak lebih dari satu meter dengan bola matanya. Dan ia makin merasa pasti.

"Nanti saya suruh sekretarisku membuatkan rancangan perjanjiannya," kata laki-laki itu setelah mengembuskan asap rokoknya.

"Bagaimana kalau aku saja yang membuatnya? Toh, baru rancangan. Nanti kita bicarakan pada pertemuan berikutnya," Wangi menawarkan. Spontan laki-laki itu menyatakan persetujuannya.

"Ya. Besok, atau lusa, kita bisa membicarakannya?"

"Besok? Boleh."

Mereka sedang merencanakan sebuah kontrak untuk semacam reality-show. Yang akan mereka gelar dalam durasi dua atau tiga hari di kampung halaman Bangun. Laki-laki itu. Nama lengkapnya Bangun Sopan Santun. Dalam dua atau tiga hari itu mereka akan berakting sebagai pasangan laki-perempuan yang berbahagia. Yang hendak membangun mahligai rumah tangga.

Entah bagaimana datangnya gagasan itu pertama kali. Bangun yang menawarkannya. Wangi menyetujuinya begitu saja. Entah karena nilai kontraknya yang lima puluh juta. Atau karena diam-diam ia membayangkan imbalan tidak langsung. Yang berlipat-ganda nilainya.

Wangi sudah punya rencananya sendiri. Ia akan mengabadikan pengalaman luar biasanya itu nanti dalam sebuah novel. Dan menjadikannya buku. Cukup diambilkan sebagian saja dari yang lima puluh juta itu untuk biaya penerbitannya. Itulah yang nanti akan melunaskan impiannya. Jadi penulis muda yang diperhitungkan.

Sementara itu, Bangun merasa mulai terlepas dari beban yang selama ini menggelayutinya. Semua tugas perusahaan berhasil ia selesaikan. Sebagai seorang anak, ia juga sudah membuktikan keberhasilannya di hadapan orangtua. Di antara enam orang bersaudara, dialah yang paling mentereng kedudukan sosialnya. Tetapi, begitu berurusan dengan perempuan, ia bagaikan petinju kelas penjelajah yang tak pernah memegang sabuk juara.

Bangun pernah hampir menikahi sekretarisnya sendiri. Hampir setahun jalinan asmara dibangunnya. Tetapi, api yang selalu menyala itu pada akhirnya meredup dan benar-benar padam. Sekretaris yang semula dikenalnya sebagai perempuan pendiam itu berangsur-angsur diketahuinya sebagai pendendam. Dendam terhadap masa lalunya sendiri: kemiskinan. Setiap kali diberinya hadiah, hanya dalam tempo beberapa menit semuanya akan diunggah. Di akun media sosialnya. Tak jarang disertai kata-kata yang menyindir orang-orang yang pernah menyepelekannya. Pada masa lalu.

Sudah beberapa kali Bangun memberikan peringatan. Tetapi, akan selalu dilupakannya. Dalam tempo yang tidak begitu lama. Si sekretaris sepertinya merasa bahwa Bangun sudah sedemikian mabuk cinta. Dan tak akan pernah meninggalkannya. Tetapi, diam-diam Bangun mengajukan permohonan ke atasan. Agar diatur sehingga sekretarisnya itu dipindahkan. Ke posisi yang lebih tinggi. Agar menjauh darinya. Permohonan Bangun dikabulkan. Lalu, hubungan dengan sekretarisnya sebagai sepasang kekasih pun selesai. Dengan cara yang seksama. Tanpa huru-hara.

Ada pula perempuan lain. Zulaika namanya. Pertemuan pertama mereka terjadi dalam sebuah seminar. Bangun menjadi salah seorang narasumber, mewakili perusahannya. Berbicara tentang sumber energi terbarukan. Zulaika moderatornya. Sebagai seorang aktivis lingkungan, ia sangat tertarik dengan pokok-pokok pikiran Bangun. Lalu mereka terlibat dalam obrolan ringan tetapi sangat berisi setelah seminar usai. Seperti dua orang yang saling mengagumi. Lalu mereka benar-benar saling jatuh cinta. Tetapi, keharmonisan mereka tidak bertahan lama.

Dengan perempuan lainnya juga. Bangun sering seperti terlalu cepat jatuh cinta. Dan akan cepat ambil keputusan ketika merasa tidak bagus untuk melanjutkannya. Selama ini Bangun tak pernah membawa pacar ke kampung halamannya. Sering ibunya bertanya. Apakah sudah berencana menikah. Atau, sudahkah ada perempuan yang menawan hatinya. Tetapi, Bangun selalu mengatakan belum. Dan akan berusaha. Walaupun pertanyaan itu diterimanya ketika ia sedang dekat dengan seseorang. Bangun hanya akan mengatakan kepada orangtuanya jika segalanya sudah benar-benar pasti. Setidaknya, hampir pasti.

Tiba-tiba Bangun merasa, terlalu lama membuat orangtuanya penasaran. Dan tidak seperti biasanya, mendadak ada semacam keinginan menghalalkan segala cara agar orangtuanya tidak lagi bertanya-tanya. Agar para kerabat di desa juga tidak bertanya-tanya. Hidup sudah mapan, mengapa menikah tidak disegerakannya.

Lalu berkelebatlah sosok Wangi di benak Bangun. Perempuan muda itu dikenal sudah cukup lama. Wangi sering terlibat kerja sama ketika perusahaan tempat Bangun bekerja menggelar acara-acara: pameran buku, pameran lukisan, atau pementasan sastra.

Wangi dikenal sebagai anak muda yang piawai mendesain acara-acara kesenian di ibu kota. Beberapa kali ia terlibat dalam kepanitiaan acara pergelaran kesenian berskala internasional. Sebagai penulis lepas yang menaruh minat yang besar pada kesenian, Wangi banyak bergaul dengan para seniman beken. Dan berjejaring dengan para seniman di berbagai daerah. Di mata Bangun, Wangi adalah perempuan yang lincah dan selalu tampak bergairah.

Tiba-tiba saja Bangun sudah menyodorkan tantangan itu. Kepada Wangi, yang menyambutnya dengan sukacita. Beberapa kali pematangan rencana. Dan surat perjanjian tertulis serta bermaterai pun segera mereka tanda tangani. Mereka akan menghabiskan selama-lamanya tiga hari di kampung halaman Bangun, sebagai "sepasang kekasih."

Malam lebaran. Mereka sudah tiba di kampung halaman Bangun. Setelah bergerak ke arah timur dari ibu kota selama belasan jam perjalanan yang sangat mengasyikkan. Wangi malahan sering melupakan bahwa sebenarnya ia sedang melakukan pekerjaan. "Ini bahkan lebih dari sekadar darmawisata!" teriaknya di dalam hati yang gembira.

Di restoran pada saat berbuka, banyak mata mengarah pada mereka: Bangun dan Wangi. Seperti tak seorang pun mengira bahwa keduanya hanya terhubung oleh bisnis semata. Gaya mereka bercakap-cakap, cara menggandeng tangan, semuanya, sungguh sangat sempurna. Masing-masing menjalankan perannya sebagai kekasih. Tanpa cela.

Keluarga besar di kampung halaman menyambut kedatangan mereka dengan penuh kehangatan. Tentu, orangtua Bangun, ayah dan ibunya, adalah pihak yang tampak paling berbahagia. Lebih dari yang pernah dibayangkan Bangun, ternyata Wangi tidak memerlukan waktu untuk beradaptasi. Dengan suasana, dengan orang-orang. Segera saja ia ikut menenggelamkan diri dalam kesibukan di dapur. Bahkan, Bangun bisa segera mandi dengan air hangat yang disiapkan sendiri oleh Wangi.

Setelah acara sungkeman usai Wangi sempat pula menyiapkan masakan istimewa untuk segenap keluarga. Itu benar-benar kejutan bagi Bangun. Hari itu pun tampak sebagai Lebaran paling indah. Dibanding sebelum-sebelumnya.

"Bagaimana? Kerasan ya kau di desa?"

"Ini tempat yang indah," jawab Wangi enteng. Sambil tersenyum. Manis.

"Bagaimana kalau kita putus kontrak ini, sekarang?"

"Ini masih hari kedua. Apakah kita akan kembali hari ini?"

"Oh, tidak! Kita kembali besok. Sesuai rencana."

Sekejap Bangun merasa mati kata. Tetapi, dia segera menemukan kalimat barunya.

"Atau, kita perpanjang kontrak ini?"

"Sampai kapan?"

"Sampai kita tidak bisa lagi membaca surat perjanjian kita."

"Ehm. Itu bisa kita bicarakan nanti. Kalau kita sudah keluar dari suasana Lebaran ini."

Bangun tidak tahu, apakah ia memang layak bersedih, atau malahan berputus asa. Ia tak menduga bila perasaannya akan menguat sedemikian hebatnya terhadap Wangi. Terlebih bila malam larut. Dan ia terkurung di dalam kamarnya yang sepi. Sendiri.

Sementara itu, Wangi makin asyik sendiri. Di kamarnya yang sepi. Ia mulai mengerjakan novelnya dengan, "Ini tantangan menarik!"

Bonari Nabonenar sudah menerbitkan dua buku cerpen, Cinta Merah Jambu (2005) dan Semar Super (2005)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed