detikHot

Cerita Pendek

Nastar dan Dosa-Dosa Lainnya

Sabtu, 01 Jun 2019 09:56 WIB Ratih Kumala - detikHot
Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom
Jakarta - Setiap Lebaran tiba, kau selalu bertanya-tanya, apakah kau berdosa menjadi orang yang membenci Hari Raya?

Kau menyukai Ramadhan, meskipun biasanya kau selalu kurang tidur selama bulan suci. Bagaimana tidak, bangun paling pagi untuk masak sahur buatmu dan suami. Setelah suamimu pergi kerja, kau harus beres-beres rumah dan mulai membuat pesanan kue-kue kering. Membuat nastar adalah keahlianmu. Ketika kue pesanan sudah selesai, bersamaan dengan suamimu pulang kerja. Itu berarti kau harus masak untuk buka puasa. Kau punya waktu istirahat sebentar setelah makan, hingga datang waktu salat teraweh.

Ibumu mengajarkan, Ramadhan adalah bulan penuh berkah, maka kalau bisa jangan putus berdoa dan jangan absen buka Quran, ngalap berkah. Semakin gelap larut, semakin Allah mendengarkan. Terutama di malam-malam hitungan ganjil, jangan sampai terlewat Malam Seribu Bulan. Apalagi, kau punya keinginan yang belun keturutan: ingin punya keturunan.

Kau tak punya masalah dengan Ramadhan. Tetapi kau mulai gelisah setiap menjelang Lebaran. Segala slogan di mall dan pertokoan, iklan koran maupun televisi, bahkan Google Ad dan iklan Youtube, semua gembar-gembor dengan kalimat 'hari kemenangan', 'kembali ke fitri', atau 'kumpul bersama keluarga'. Biasanya, iklan-iklan Bulan Puasa dan Lebaran itu selalu disajikan dalam bentuk cerita yang bertujuan mengaduk-aduk emosi konsumen dan ujung-ujungnya ingin kumpul bersama keluarga sambil menggunakan produk yang diiklankan.

Berita di televisi mulai mewartakan padatnya jalan menjelang libur Lebaran. Puncak arus mudik dikabarkan akan terjadi dua hari sebelum hari-H. Tiket mudik sudah ada di tangan, satu hari sebelum hari-H. Harga tiket itu dua setengah kali lebih mahal dari hari biasa. Tapi toh kau beli juga. Meski sejujurnya, kau membayarnya setengah hati. Bukan, bukan karena mahal. Melainkan karena kau enggan mudik. Kau tak suka Lebaran.

Tetapi ketika kecil, kau menyukai Lebaran. Siapa yang tidak? Bagi semua anak, Lebaran adalah hari ketika para orang dewasa membuka dompet mereka. Selain baju baru yang dibelikan orangtua meskipun duit tak ada, Lebaran juga saatnya bagi semua anak mengumpulkan pundi-pundi uang jajan. Di pertengahan puasa, jangan lupa membuat target barang apa yang ingin kau beli pasca Idul Fitri, pastikan kau tahu harganya. Itu adalah target jumlah uang yang harus kau kumpulkan.

Jika kau rajin keliling ke tetangga dan minta maaf, maka salam tempel sudah pasti dijamin keabsahannya. Tanganmu tak pernah kosong ketika pulang. Makanya, jangan lupa bawa dompet yang bisa menggendut. Serta gunakan baju yang ada kantong, siapa tahu kacang bawang di rumah tetangga lebih enak dari panganan di rumahmu sendiri. Simpan satu genggam di dalam saku, untuk sangu jalan kaki keliling kampung. Kau butuh banyak tenaga untuk cepat melangkah, sebab uang fitrah yang dibagikan faktanya terbatas. Jika tak lekas, bisa-bisa tak kebagian. Tentu kau tak mau kalah penjumlahan di ujung hari, saat kau dan saudara-saudaramu menghitung hasil jatah THR yang berhasil terkumpul di hari-H Lebaran.

Tapi itu dulu. Sekarang semua berbeda. Sejak lulus kuliah, tak ada lagi orang memberikan THR padamu pada Hari Raya. Justru, kaulah yang harus membagikan uang ke anak-anak. Karenanya, sejak awal Ramadan kau rajin mengumpulkan uang 5000-an yang masih bagus, untuk dibagikan pada anak-anak setingkat TK dan SD. Kau juga mengumpulkan uang 10.000-an, untuk dibagikan kepada anak yang lebih dewasa, pada hari-H. Hal ini dilakukan sebab kau tak mau menukar uang pada jasa penukaran uang dadakan yang biasa muncul mendekati Idul Fitri. Mereka umumnya mangkal di pinggir jalan, sambil membawa uang pecahan 5000, 10.000, 20.000 yang sudah dibundel satu gepok dan dibungkus plastik. Jika kau menukar 100.000 untuk pecahan 5000, bukan nilai 100.000 yang kau dapat. Bisa jadi cuma 90.000 atau bahkan 80.000 sebab mereka sejatinya adalah penjual uang, bukan sekedar jasa penukaran uang.

Kau sendiri tidak dapat THR dari siapa-siapa. Kau bukan orang kantoran. Tapi itu bukan alasan untuk tidak membagi-bagikan uang yang kau sendiri tidak punya. Setahun setelah kau lulus kuliah dan masih berusaha cari kerja adalah tahun pertamamu memupuk kebencian mudik Lebaran. Di antara semua sepupu yang seumuran, kaulah satu-satunya yang belum dapat pekerjaan. Tak ada cerita tentang apa pekerjaanmu, bagaimana rasanya bekerja menjadi junior, ataupun menyombongkan berapa jumlah gajimu.

"Coba masukin ke kantor A deh!"

"Kantor B juga lagi buka lowongan lho."

"Kamu mau Pakde masukin ke kantor Pakde? Pakde ada jatah lho."

Seolah-olah kau tidak mampu cari kerjaan sendiri. Meskipun itu tak salah juga.

Inilah awal kau --yang susah cari kerja-- kemudian mengambil keputusan membuat kue nastar, pada tahun berikutnya. Sebuah pekerjaan dadakan yang idenya muncul di tengah-tengah ketidakmampuanmu membeli tiket mudik, delapan tahun silam. Kau malu pada ibumu untuk minta uang tiket, sebab Ibu akan mengomel.

"Kan Ibu sudah bilang, kamu cari kerja di sini aja. Ngapain di Jakarta melulu? Biayanya gede, bayar kos mahal, kuliah sudah enggak. Ngabis-ngabisin uang saja!"

Kue nastar memang berhasil membawamu pulang kampung. Itu berarti kue ini juga berhasil mempertemukanmu pada sanak saudara. Kau pulang membawa beberapa toples nastar, dan membagi-bagikannya dengan gratis sambil membanggakan Ramadhan kali itu kau berhasil menjual 107 toples. Betapa semua orang menyukai nastar buatanmu. Biarkan mereka mencicipi gratisan, hitung-hitung promosi.

"Enak, sih. Tapi...."

"Kok nastar? Kok enggak kastangel?"

"Enakan kastangel daripada nastar."

"Saya enggak suka nastar, lebih suka kastangel."

Semua orang menyukai nastar. Kecuali seluruh anggota keluarga besarmu. Lalu keluarga besarmu pun menyarankan agar kau melebarkan sayap membuat kue sagu keju, lidah kucing, putri salju, dan yang terpenting kastangel. Kau tidak peduli sebab kau cinta nastar, titik. Sejenak, kue nastar cukup membuatmu berbangga hati. Sebab di antara semua sepupumu yang pegawai, kaulah satu-satunya yang wiraswasta. Ini adalah cikal bakal kau memutuskan wiraswasta membuat kue dengan serius.

Pada tahun selanjutnya, pembicaraan tentang pekerjaan sudah tidak tren lagi. Adikmu pulang membawa pacar. Sepupumu juga izin pulang cepat untuk bisa silaturahmi ke rumah calon suami. Sesukses apapun usaha kuemu, tak lagi dibicarakan. Kue justru membuatmu mendapat komentar, "Wah, kamu gemuk ya sekarang, nyicipin nastar melulu ya?"

"Habis puasa berat badan kamu naik ya?"

"Kamu yakin kemarin puasa?"

Sialnya, kalimat-kalimat itu bukanlah yang terburuk. Sebab pada tahun selanjutnya, komentar itu berubah menjadi, "Kapan kawin?"

"Kalau sudah ada calon, kenalin dong!"

"Belum ada calon, Buk, Pak, Dek, Kak, Tante, Oom, Pakde, Bude, Yangkung, Yangti," jawabmu.

"Gendut sih... ya susah dapat jodoh."

"Makanya diet, cowok mana suka cewek gembrot."

Kau mengelus dada, berharap sesak hatimu bisa kautelan seraya kau mengunyah setengah toples nastar. Enak. Sebentar lagi jadi berak.

Kau berhasil membuktikan bahwa nastar tidak hanya membawamu mudik, tetapi juga membuka pintu jodohmu. Lelaki itu bernama Rimba. Dia mengagumi setoples nastar buatanmu yang bentuknya seragam. Tak ada yang lebih besar, tak ada yang lebih kecil. Tak ada pula yang gosong atau kurang matang. Semuanya pas. Kau memang menakar berat adonan tiap satuan nastar sebelum akhirnya masuk ke oven. Nastar yang didesain sekali suap itu digigit, bukan dimasukkan ke mulutnya sekaligus. Melainkan, dia memejamkan mata, menggigitnya, merasakan remahan kue yang hancur di lidah dan selai nanas lumer di mulut. Kau terpesona padanya, pada gigitan pertamanya. Panganan yang tadinya sekedar menyambung hidupmu, kini menjelma jadi cinta.

Tiga tahun menjadi istri, kau tak kunjung beranak. Tanda-tanda hamil pun tidak. Sepupu-sepupumu yang berperut gendut atau tengah menyusui menjadi penggemar nastarmu. Dalihnya, bumil dan busui boleh makan apa saja, termasuk nastar. Awalnya kau senang, sebab sejenak mereka lupa kau tak membuat kastangel. Tetapi, kau datang cuma membawa nastar, bukan bukan bayi.

"Jangan kelamaan nunda, enggak baik lho."

"Jangan capek-capek, jangan cari duit melulu."

"Eh, kamu tuh miara kucing ya? Enggak bagus itu, apalagi buat yang belum punya anak. Buang saja kucingmu!"

"Kamu sebenarnya mau punya anak manusia atau anak kucing sih?"

Usai perbincangan itu, kau benar-benar memikirkan untuk membuang kucing-kucingmu. Meskipun nyatanya hal itu tak pernah kau lakukan. Kau takkan pernah tega.

Pada tahun berikutnya, anak-anak sepupumu mulai latihan lepas popok. Karena belum mampu menahan keinginan buang hajat, mereka kencing di sembarang tempat. Toh, tak ada yang marah meskipun bau pesing menyebar di seluruh rumah. Sepertinya, aroma pesing itu teralih pada topik perbincangan yang sama, dari tahun sebelumnya: kau belum punya anak.

"Waktu mau nikah, tes kesuburan enggak?"

"Harusnya tes dulu. Kalau perlu tes gen dan DNA, biar memastikan bibit yang dibawa kamu dan suamimu itu bagus, jadi anaknya juga bagus."

"Kalau gini kan udah telanjur."

Iya, sudah telanjur nikah. Masa mau pisah?

Nyatanya, itulah yang terjadi. Empat tahun lalu kau dan Rimba jatuh cinta karena urusan perut. Ironisnya, tahun ini kalian memutuskan berpisah juga karena urusan perut. Perut yang tetap kosong, perut yang hanya berisi nastar. Bukan bayi.

Lebaran kali ini, kau dan Rimba memutuskan untuk pulang kampung sendiri-sendiri ke rumah orangtua masing-masing untuk meminta izin. Tunggu... bukan 'meminta izin', tetapi untuk memberitahu, ya... 'memberitahu', bahwa kalian akan segera bercerai. Ramadhan kali ini adalah bulan yang penuh amarah. Kau terlalu lelah berumah tangga, seperti halnya kau lelah dibilang gendut oleh keluarga besarmu, seolah-olah tak pernah berusaha untuk diet. Juga lelah ditanya kapan punya anak, seolah-olah kau tak pernah berusaha untuk bikin anak.

Hari Raya berubah menjadi hari sidang keluarga. Kau didudukkan di kursi, sementara dikelilingi belasan hakim yang tak lain adalah sanak saudara yang dianggap tua. Ibumu nangis-nangis, merasa gagal jadi orangtua. Ayahmu marah-marah, ingin membawakan parang pada laki-laki yang tak mampu menghamili anaknya, dan jelas-jelas tak bisa membuat putrinya bahagia.

"Kamu pikir status janda itu enak?"

"Harta gono-gini gimana jadinya? Kamu harus cari pengacara!"

"Kemarin kalian tanda tangan surat pre-nup enggak?"

"Apa kata orang nanti?"

"Malu!"

Kau mengeluarkan amplop cokelat besar dari tas. Kau tarik isinya, selembar surat cerai yang siap ditandatangani. Mereka mengoper kertas itu bergantian, membaca isinya dengan perasaan was-was.

"Kalo kamu tanda tangan surat itu, kamu adalah orang pertama dalam sejarah keluarga kita yang bercerai," ibumu terisak.

Kau juga orang pertama dalam sejarah keluarga yang susah cari kerja, "cuma" wiraswasta, telat menikah, susah punya anak. Kau adalah angka ganjil di antara semua yang genap. Kau adalah sebutir nastar di toples kastengel.

Kau mengeluarkan bolpen. Ketika surat itu akhirnya berputar kembali padamu, kau tandatangani. Dunia seolah membeku pada mata penamu. Lepaslah kau dari ikatan suami istri. Tak apa. Toh kau selalu menjadi bukan siapa-siapa.

Ibumu pingsan. Tante, Bude, langsung berusaha membuatnya siuman. Yangti merapal istighfar, matanya basah di senja hidup menyaksikan keluarganya porak poranda.

"Ambil minyak kayu putih!"

"Tidurkan di sofa!"

Sepupumu mengipas-kipas wajah Ibu dengan majalah bekas.

Sementara Tante menepuk-nepuk pipi Ibu sambil memanggil-manggil namanya.

Kau membeku, seperti tinta di atas surat itu. Tak bisa lagi kau menghapusnya.

"Tega kamu, Farida!"

Hanya satu kalimat yang sekarang pantas kau ucapkan, "Maaf lahir batin!"

Ratih Kumala buku kumpulan cerpennya Larutan Senja (2006) dan Bastian dan Jamur Ajaib (2015). Novelnya antara lain Gadis Kretek (2012) dan yang terbaru Wesel Pos (2018)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

Photo Gallery
FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com