detikHot

Cerita Pendek

Sebuah Malam yang Tak Dikenal

Minggu, 12 Mei 2019 10:12 WIB Jantan Putra Bangsa - detikHot
Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom
Jakarta - Sebuah malam. Aku menyusuri jalanan basah, sempit, dan gelap. Roda kendaraan menggilas aspal-aspal berlubang. Tak ada yang dapat dipandang kecuali kegelapan. Hanya secercah cahaya lampu kendaraan mengiringi perjalananku. Dua dari tiga kawanku terlelap. Tidur di dalam mobil yang aku kendalikan melalui lamunan-lamunan dan batin yang bergejolak.

Kemudiku dikendalikan melalui suara-suara dari sebelahku. Kakiku hanya siap dengan menginjak gas atau rem. Selebihnya, suara itu yang mengendalikan kemudiku. Mata dan telingaku tak lagi berfungsi di kegelapan. Tak ada yang dapat kuraba dengan penglihatan atau kusentuh dengan pendengaranku. Aku benar-benar tak tahu tengah berada di mana dan menuju ke mana. Hanya saja, aku meyakini bahwa suara yang mengendalikan kemudiku tak akan pernah membuatku tersesat.

Sudah lebih dari setengah jam. Perjalanan tak kunjung tuntas. Tak satu pun manusia yang kutemui sepanjang jalan. Hanya aku dan ketiga kawanku. Dari kejauhan terlihat pancaran lampu redup. Kendaraanku dikendalikan menuju ke arah lampu itu. Batinku mulai tenang. Napasku mulai lega.

Kendaraanku berhenti atas perintah suara di sebelahku. Tepat berhenti di sebuah pertigaan jalan yang hanya dikelilingi sawah.

Kali ini mataku cukup mampu mengindera sekeliling. Biar kujelaskan sebentar apa saja yang dapat kulihat, mumpung ada cahaya lampu meskipun redup.
Sawahnya luas. Sampai inderaku tak mampu melihat ujung dari sawah itu. Di antara sawah terdapat saluran irigasi dengan air yang cukup deras. Mobil kuparkir tepat di pertigaan. Sebelah mobil ada tembok tua. Lebih tepatnya bangunan tua seperti saluran irigasi buatan zaman Belanda. Kesan kuno dan angker menggerogoti pikiranku.

Di balik tembok tua menjorok ke bawah ada dua bangunan berbentuk kotak seperti kolam renang. Airnya jernih. Temboknya menjulang tinggi mengelilingi air mengalir yang jernih. Di antara kedua bangunan terdapat dua pohon beringin raksasa. Kokoh, rimbun, dan angker. Aku melihat ada seseorang tengah berendam di salah satu dari bangunan yang menyerupai kolam itu. Tanpa busana. Aku menoleh dan sudah tak terlihat semua kawanku. Aku sendirian dalam gelap tak berujung.

Aku bingung. Inderaku menyapu sekeliling dengan seksama. Kupasang telingaku. Aku berusaha mendeteksi di mana kawan-kawanku berada. Hanya gelap dan suara orkes dari para kodok sawah, jangkrik, dan serangga-serangga lain yang tak begitu kukenal.

Ada semacam kekuatan yang menggerakkan tubuhku. Pikiranku tak terkendali. Gerakan kaki menjamah sebuah tangga. Menuruni jalan menuju ke tempat kedua bangunan dan pohon beringin. Seluruh bulu kudukku merinding. Kulit terasa dingin. Telingaku mendengar jelas suara kakiku berjalan menginjak tanah yang sedikit basah dan rerumputan yang terbelah oleh langkah kaki. Binatang-binatang saling berkelebat memberikan jalan. Entahlah, semacam katak, kadal, belalang, bahkan mungkin ular. Aku tak begitu bisa melihat dalam gelap, hanya suara desisnya yang terpantau oleh telingaku.

Apa-apaan ini? Di bawah, di sebelah kedua bangunan, ada sebuah bangunan lagi menyerupai sebuah teras rumah. Bentuknya memanjang. Banyak orang duduk di sana dengan posisi melingkar. Aku mengamati ada dua belas orang laki-laki dan satu perempuan. Usia mereka mungkin seusia bapakku. Barangkali lima puluh tahun atau enam puluh tahun. Tubuhku masih bergerak sendiri menuju kerumunan itu.

Tepat di depan bangunan teras, tubuhku berhenti. Semua mata menatapku. Aku bergidik. Ada tiga belas pasang mata menyoroti mataku. Matanya menjamah dengan detail tubuhku dari ujung kaki hingga kepala. Aku diam.

Sebuah suara mengagetkanku. Aku merasa dapat menguasai kembali tubuhku. Pikiranku mulai bisa kukendalikan. Di hadapanku ada seorang tua, usianya barangkali tujuh puluh tahun, gagah. Menepuk pundakku. Bicara padaku. Mempersilakanku untuk bergabung dan duduk bersama. Memberikan tempat duduk persis di sebelahnya. Satu per satu orang-orang menyambut dengan salam.

Aku berusaha mengumpulkan kesadaran. Mengamati kembali dengan seksama apakah aku masih berada di dunia atau berada di alam antah berantah. Aku memencet remote mobil, dan terdengar suara alarm mobilku berbunyi. Napasku dalam. Lega.

Aku bertanya, apakah melihat ketiga kawanku di sekitar sini. Aku menjelaskan bahwa tadi aku berangkat dengan ketiga orang kawan, tetapi saat aku asyik mengamati lingkungan sekitar, tiba-tiba mereka hilang. Belum juga dijawabnya, aku melanjutkan bahwa aku melihat sesosok orang tanpa busana berada di dalam kolam itu. Tak ada suara, hanya saling pandang di antara mereka. Tubuhku kembali dingin.

Semua kikuk. Tak ada suara, tak ada percakapan. Orang-orang yang tadi menikmati makanan kecil, berhenti. Teh panas mulai membeku.

Muncul tiga orang dari dalam kolam. Membawa sebuah handuk yang ditenteng. Rambutnya basah. Ia seperti habis berenang. Menyalamiku dan duduk di antara kami. Lantas, dua orang di antara kami yang lain bangkit. Membawa handuk dan menuju kolam. Lenyap. Hening.

Aku bingung. Ketiga orang yang baru saja dari dalam kolam adalah kawanku, tetapi mereka tak mengenaliku. Aku berusaha mengajaknya bicara, tetapi tak satu patah pun keluar dari mulutku. Pikiranku kacau. Batinku berkecamuk. Di sela itu aku mendengar suara.

"Mas, ini namanya Sendang Pengging. Pasrah diri untuk menemui diri sendiri. Kosong. Berdialog dengan diri sendiri. Tanpa mantra, tanpa permintaan. Tulus. Lepas semua pakaianmu seperti bayi yang baru lahir. Turunlah ke sendang. Berendamlah di sana. Temui dirimu sendiri," suara sesepuh yang tadi mempersilakanku duduk.

Aku tak tahu wejangan itu ditujukan kepada siapa, tetapi aku yakin bahwa ia tengah bicara padaku. Belakangan aku mengetahui bahwa ia menyandang nama: Sena.

Kembali aku mengalami hal aneh. Tubuhku seperti bergerak sendiri. Pikiran tak dapat kukendalikan. Kakiku menyeret tubuhku memasuki sendang. Seluruh pakaian lepas. Perlahan langkah kaki memasuki air sendang. Duduk bersimpuh. Kedua orang yang tadi berada di sendang mulai keluar dari air ketika aku mulai masuk.

Hawa dingin terasa begitu tajam. Badanku gemetar hebat. Gigiku saling menyentuh. Bergetar hingga menimbulkan suara. Aku memejamkan mata. Perlahan menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Mengatur pernapasan dengan intonasi yang tepat. Dingin itu lenyap. Tubuhku mulai tenang di dalam air.

Air sendang tak lagi kurasakan. Dalam posisi mata terpejam, aku melihat hamburan sinar tanpa bentuk melintas begitu saja bergantian. Telingaku mendengar suara-suara orkes dari binatang malam. Perlahan aku merasa hanya mendengar satu suara yang jauh, tetapi lembut. Seperti suara serangga, namun dengan intonasi yang sama. Berulang dan terus berulang.

Kulitku mulai dapat merasakan hawa dingin, hangat, dan panas bergantian. Hidungku mulai mencium bau tanah, bau dupa dan bau daun-daun membusuk secara bergantian. Secara bersamaan inderaku mulai mati. Aku tak lagi dapat merasakan apapun. Aku kehilangan keseimbangan dan entah apa yang kurasakan seperti terbang, seperti berenang, atau mungkin melayang-layang. Sampai di sini, aku tidak sanggup lagi menceritakan peristiwa yang kualami.

***

Aku duduk di halaman rumah. Membaca buku. Sebuah cerita wayang. Kisah tentang Werkudara yang berkelana mencari Tirta Suci sampai masuk ke tengah samudera. Bergelut dengan ular raksasa hingga bertemu dengan sosok yang menyerupai dirinya, tetapi dalam wujud yang kecil. Sosok itu adalah Dewa Ruci. Werkudara diminta oleh Dewa Ruci untuk memasuki tubuhnya melalui lobang telinga. Werkudara menganggap mustahil, sebab badanya yang besar tidak mungkin dapat memasuki tubuh Dewa Ruci yang hanya sebesar genggaman tangan Werkudara. Namun, atas dasar keyakinan, akhirnya Werkudara pun melaksanakan perintah Dewa Ruci. Dan benar, Werkudara sanggup memasuki tubuh Dewa Ruci melalui lobang telinganya. Werkudara melihat alam yang begitu luas, besar, dan tak pernah terbayangkan olehnya. Ia merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Werkudara merasakan seperti terbang, seperti berenang atau mungkin melayang-layang.
Langit tiba-tiba gelap. Aku mulai merasakan kedinginan. Basah.

***

Telingaku mulai mendengar percakapan orang-orang di sekitar sendang. Suara Pak Sena dan kawan-kawannya. Aku kembali merasakan dinginnya air sendang. Bau dupa yang menyengat membuatku hampir tersedak. Mataku perlahan terbuka.

Aku bangkit dari sendang. Mengambil pakaianku. Mengenakannya dalam keadaan basah. Sebab, aku tak membawa handuk. Menghampiri Pak Sena dan kawan-kawan di teras sendang. Duduk.

"Mas, kenalilah dirimu sendiri. Berdialog dengan dirimu sendiri. Tak perlu meminta apapun dari Yang Maha Kuasa. Sebab, Ia tahu apa yang kita butuhkan. Pasrah. Hening. Kosong. Kamu akan mengetahui siapa dirimu sebenarnya dan untuk apa dirimu dilahirkan," kembali Pak Sena seperti memberi wejangan kepadaku.

Belum sempat aku menimpali, Pak Sena melanjutkan wejangannya.

"Ini adalah zaman akhir dharma. Apa yang kamu tanam, itulah yang kamu petik. Teruslah berusaha menjadi manusia seutuhnya. Jangan berbuat Dosa. Dosa adalah Daya yang Diperdaya. Kosongkan dirimu. Kamu akan menemukan dirimu sendiri dan akan ada yang menuntunmu menuntaskan kehidupan di dunia fana. Apa yang ada di dunia adalah fana. Tetapi, yang fana itu kita butuhkan untuk kelangsungan hidup manusia. Daya hidup. Daya yang bukan diperdaya, tetapi Daya yang mampu membuat kita berguna sebagai manusia mengurus dunia."

Ingin rasanya menginterupsi kata-kata Pak Sena. Mulutku gemetar ingin mengeluarkan kata-kata. Perlahan aku mulai bisa menyebut beberapa kata. Kata-kata mulai terbang keluar dari mulutku. Kata-kata Pak Sena mulai sirna lenyap tanpa bekas.

Aku berteriak. Duduk di halaman rumah memegang sebuah buku kisah mengenai Werkudara mencari Tirta Suci.

Jantan Putra Bangsa menulis cerita pendek, puisi, dan naskah pertunjukan wayang kontemporer, di samping membuat Wayang Suket. Tinggal dan bekerja di Jogja. Buku kumpulan cerpennya berjudul Rumah yang Masih Sama (2015)


Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed