detikHot

Cerita Pendek

Pencuri Tak Mungkin Mati

Sabtu, 04 Mei 2019 11:35 WIB Saddam HP - detikHot
Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Pada suatu malam di musim kemarau, Eus menarik seekor sapi dari kandang di belakang rumah Linus, dan saat menyusuri jalan di antara pohon-pohon jati yang tertimpa cahaya bulan keperakan, ia ditikam dan mati.

Seorang lelaki bersembunyi di balik satu batang jati dan menerkam Eus dengan pisau ketika ia melintas di dekatnya. Eus yang telah membuat sekeluarga Linus tidur tak bangun-bangun dengan satu ajian, tak menyangka kalau maut tengah mengendap-endap begitu dekat. Ia sempat mengerang menyebut nama istrinya, tapi sebelum suaranya menyentuh ujung pohon jati, lambungnya lebih dahulu ditikam. Lelaki itu yakin seyakin-yakinnya bahwa Eus pasti mati.

Seekor sapi kemudian ditemukan terikat di jalan setapak menuju hutan dan darah tercecer di atas dedaunan kering. Tak ada yang persis tahu apa yang terjadi malam itu. Linus sendiri baru sadar sehari kemudian.

***

Semuanya berawal setelah Eus menikahi Lea, anak Om Min yang punya kios di perempatan. Lea baru kelas dua SMA dan bertugas menggantikan ibunya di kios sepulang sekolah. Sedangkan Eus yang tukang ojek itu tak hanya setia menunggu Lea di gerbang sekolah, tapi juga tahu jam berapa mesti berangkat dari pangkalan ojek menuju kios untuk bisa menggenggam tangan Lea. Itu asmara belia bagi Lea, tapi Eus yang muda itu juga ceroboh dan berbahaya. Suatu siang ketika motor harus mengantar pulang Lea ke rumahnya, roda-rodanya justru membawa mereka menuju bekas kandang sapi milik Om Ito.

Eus selalu dihantui pertanyaan ayahnya, "Kapan kawin?" Bila ia adalah kapal, maka pelabuhan hatinya adalah Lea. Itu yang tak sempat dikatakan Eus kepada ayahnya yang menjadikannya menyesal. Ibunya seorang TKW yang dipulangkan dari negeri jiran dengan tubuh penuh jahitan tanpa organ dalam lantas dikuburkan buru-buru oleh seorang frater, sementara ayahnya akan segera mati namun masih ingin melihat anaknya memiliki keturunan, paling tidak pendamping hidup yang membuat ayahnya percaya bahwa manusia tak sia-sia. Jawaban itu tak sampai di telinga ayahnya hingga napas hidup si ayah habis dihisap derita batuk darah. Eus lantas menggali kuburan dengan tangannya sendiri di halaman depan rumah mereka, di samping kubur ibunya.

Baba Dens yang keturunan Tionghoa itu mempekerjakannya sebagai tukang ojek setelah Eus makin kalut. Tanah yang ia tinggali diklaim kepala desa sebagai tanah pemerintah dan hendak dijadikan lahan proyek sesuai anggaran dana desa. Ia tak mampu melawan. Kuburan orangtuanya yang telah ditumbuhi bunga kamboja digalinya kembali dengan kepedihan yang sama ketika menguburkannya. Ia pindahkan tulang-tulangnya ke suatu lubang di tengah hutan, menimbuninya dan menyisakan sepotong kecil tulang rusuk kiri ibunya sebagai doa dan harapan agar ia memiliki jodoh. Ditaruhnya tulang itu di dompet bersisian dengan batu besi seukuran kelereng, mestika wasiat ayahnya sebelum meninggal. Ia tak ingin lagi bertemu orangtuanya yang menyusahkannya bahkan setelah kematian mereka.

Tulang rusuk itulah yang barangkali mendatangkan Lea dan kesusahan-kesusahan. Om Min mengusir mereka berdua setelah bunting dan kawin untuk tinggal sendiri di kos karena barang-barang kios yang hilang satu per satu dan batu besi yang kian panas di saku.

***

Tak ada yang lebih kehilangan daripada Dus. Ia merasa tubuhnya terpanggang tinggal rangka. Ia merasa dirinya pengelana yang merangkaki dinding buta, tapi tak satu juga pintu terbuka.*

Beberapa kali ia selipkan surat cinta di sela-sela buku-buku catatan yang dipinjam dari Lea. Selama beberapa kali itu pula, surat dan cintanya berakhir di tempat sampah.

"Surat cintamu lebih buruk dari pertidaksamaan linear dua variabel," kata Lea ketika ia mengembalikan catatan Matematika.

Dus berhenti menulis surat cinta, sekalipun terus meminjam catatan Sejarah, Bahasa Indonesia, dan apapun yang dicatat Lea. Ia selalu merasa Lea mencatat pelajaran untuknya. Hanya untuknya. Sambil menghidu wangi pena dan keringat tangan Lea di atas kertas, ia bayangkan Lea adalah buku dan ia adalah pena.

Lea itu candu. Bagi Dus, Lea tak pernah salah. Bila Lea salah, maka salah paling besar ada pada orang yang membuat Lea bersalah. Dus pernah mengempiskan ban motor Pak Eko, Guru Geografi yang membuat Lea berdiri lama di depan peta buta karena tak mampu menunjukkan di mana letak Irak. "Irak memang sialan, tapi Pak Eko tak lebih dari itu," ujarnya sambil menikam ban belakang.

Jam istirahat adalah saat bagi Dus untuk menjadi pahlawan. Ia akan pulang dari kantin dengan pesanan Lea, dan Lea akan membalas dengan senyuman dan ucapan terima kasih yang membuatnya kenyang sampai bel pulang sekolah berbunyi.

"Kau sebaiknya juga bisa mengantarku setiap pulang sekolah," ujar Lea. Aku bisa mengantarmu sampai ke Irak.

Tapi, Dus tak mungkin mengantar Lea pulang jalan kaki. Ia juga tak mungkin memboncengnya. Dus tak tahu mengendarai motor. Ia sendiri tak punya motor. Namun cinta dan kegilaan seringkali jalan beriringan. Ia teringat akan kisah Yakub dalam pelajaran agama yang mengorbankan empat belas tahun demi cinta kepada Rahel. Aku akan menghabiskan seumur hidupku untukmu, Lea. Ia paksa ayahnya yang kepala desa itu untuk membelikannya motor. Bila ayahnya tak mau, ia akan minum Baygon.

Dus tak jadi minum Baygon, tapi terus jatuh-bangun dari motor seperti cintanya pada Lea. Tak ada yang lebih sakit dari jatuh cinta, Lea. Justru yang sakit baginya adalah tiap siang sepulang sekolah ia amati Lea yang dijemput tukang ojek. Harusnya itu aku! Pisau yang mengiris hatinya bukan karena tangan Lea yang melingkari pinggang tukang ojek, melainkan dendam itu tak bisa ia lampiaskan.

Pisau itu menikam hatinya makin dalam ketika kabar buruk datang seperti kilat menghantam kepalanya: Lea hamil. Hampir saja motornya ia bakar. Setelah disadari "Ini juga salah kepala sekolah," ia menunggu kesempatan sambil menimbang antara menikam ban motor atau melempar sekantung tahi sapi ke jendela kantor kepala sekolah atau melakukan kedua-duanya.

Tak ada yang lebih kehilangan dari Dus, tapi ia urung memadamkan unggunan api di hatinya. Entah itu nyala cinta, atau bara dendam.

***

Sebelum menuntun sapi Linus, pencuri itu mulai dengan hal yang paling sederhana; mengambil sisa uang duka sang ibu di lemari.

Ia percaya bahwa pencuri yang baik harus memulai dengan apa yang dekat padanya. Kalau ia ke rumah seseorang lalu ada barang yang hilang sesudah itu; parang, sandal, ayam, jam tangan, baju atau hanya sekedar mencuri sebatang sapu ijuk, orang langsung tahu, "Tadi pasti dia di sini." Atau orang lain akan bertanya pada tuan rumah tanpa sebenarnya membutuhkan jawaban, "Tadi dia di sini?" Jika tuan rumah mengangguk, yang bertanya itu akan memaklumi, "Oo, pantas!" dengan tekanan pada huruf o yang panjang.

Beberapa waktu setelah ayahnya meninggal, ia beranikan diri masuk ke rumah kepala desa di dini hari. Ia butuh uang. Ia yakin perhiasan dan uang di rumah mana pun pasti ditaruh di lemari pakaian, di dalam laci atau di bawah tumpukan pakaian dalam. Ibu kepala desa pun pasti begitu.

Rumah kepala desa seperti rumah-rumah yang lain. Pagarnya tak terlalu tinggi untuk ia lompati. Anjing-anjingnya mudah dibius dengan tulang. Pintu belakangnya gampang untuk dicongkel dengan obeng. Bunyi langkah kakinya tak berisik karena lantai yang senyap. Begitupun kamar tidur kepala desa yang tidak dikunci rapat.

Namun ibu kepala desa hanya mampu memekik ketika pencuri itu dipukul tiga orang laki-laki setelah diikat oleh suaminya. Pencuri itu tak menyangka setelah memasuki kamar itu, ia seperti berada di samudera yang luas, lalu tiba-tiba dunia menghitam, kepalanya seperti membesar, dan ia jatuh tanpa sadar sebab ajian si kepala desa. Ia kemudian diringkus dan dihajar sehabis-habisnya.

Pencuri bermuka lebam itu dibebaskan dari kantor polisi beberapa waktu kemudian, diantar pulang ke gudang Baba Dens oleh beberapa kenalan dan kemudian mencuci muka dengan air rendaman batu besi. Keesokan paginya wajahnya mulus seperti bayi.

Suatu kali, setelah menanam benih di perut pacarnya, setelah diusir dari rumah mertua, setelah melihat motor anak kepala desa diparkir di depan rumahnya, saat itulah si pencuri menaksir buruannya yang lain.

***

Laki-laki yang berkaos hitam menarik kursi di samping Ose.

"Itu pasti Eus." Tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraan.

"Dari mana kau tahu?"

"Motorku tidak mungkin dicuri nabi."

"Hei, Ose. Kau tidak lihat dia datang untuk minum? Ini kasi dia satu sloki!" Pemuda berbaju merah menimpali.

"Ah sudahlah, dia ada stres ini, Kawan."

"Kasih satu sloki sini!" Pinta laki-laki berkaos hitam sambil menjentikkan abu rokok di tanah.

"Kalau begitu kau pindah. Duduk dekat sini!" Ose menyingkir.

"Kita harus hentikan Eus."

Tuan rumah berdiri. Mengambil asbak dan segelas kopi lagi. Juga sebungkus rokok dari kiosnya.

"Kalau begitu, suruh satu orang untuk membuntuti dia."

"Untuk apa? Untuk cari motor? Motornya pasti sudah dijual, Om!"

"Bodoh, yang namanya pencuri itu tidak tahan kalau tidak mencuri lagi!" Yang dipanggil 'Om' itu berdiri.

"Ah sudahlah, maksudnya mungkin, kita ikuti dia, siapa tahu dia masih mau mencuri."

"Ha betul, Ose. Selama berapa hari ini, kita ikuti terus kemana dia pergi!" Laki-laki berkaos hitam tersenyum, sementara sloki demi sloki sopi terus bertambah.

"Terus mau kita apakan dia?"

"Ya kita hentikan!"

"Hush! Kau jangan sembarang omong."

"Mau bagaimana lagi? Kita, orang-orang muda ini mesti kasih dia pelajaran."

"Pelajaran apa? Mengarang?" Tuan rumah berdiri dan tertawa. Membuka bungkus rokok dan membagikan kepada pemuda-pemuda yang ada di situ.

"Bukan begitu, Om. Kita harus mencegah supaya jangan ada korban lain."

"Puji Tuhan. Kau laki-laki yang bertanggung jawab. Sini tambah satu sloki!"

"Jangan salah sangka, Ose, saya begini bukan hanya karena motor." Laki-laki berkaos hitam itu tersenyum kepada tuan rumah.

"Apa yang terjadi, terjadilah kalau begitu."

"Mencuri itu memang seperti kentut. Gampang tapi busuk."

Ia ambil sebungkus rokok lagi. Kiosnya di perempatan sedikit lagi ditutup. Sudah larut.

***

Dan malam itu, ketika Linus membeli obat nyamuk di kios setelah memastikan sapi di kandangnya baik-baik saja, ada sesosok tubuh berjalan pelan-pelan mendekat dengan parang berkilat.

"Eh, Eus, kau tidak apa-apa? Mukamu kelihatan pucat."

Itulah saat Om Min memalingkan muka dan memandang ke arah jalan yang gelap. Jalan yang seperti tak ada ujung.

Cerita untuk Mario F. Lawi dan Giovanni Arum

Lasiana, 2019

*diolah dari Sajak Chairil Anwar-Tak Sepadan

Saddam HP bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora Kupang-NTT. Salah satu emerging writers di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2014. Cerpennya tergabung dalam antologi Dari Timur Vol. 2 MIWF (GPU, 2018)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com