DetikHot

Cerita Pendek

Takut di Rumah

Minggu, 21 Apr 2019 11:20 WIB  ·   Soleh Djayim - detikHOT
Takut di Rumah Ilustrasi : M Fakhry Arrizal/detikcom
Jakarta - Bisa saja tak ada hal yang diresahkan. Menyapa pagi, menikmati perjalanan hari sampai senja, petang, malam, ngantuk, dan pergi ke kamar tidur menyambut mimpi tentang cita-cita yang tiba-tiba tercapai tanpa susah payah. Tampak sederhana, lurus, simpel, nggak neko-neko, dan tanpa perlu napas tersengal-sengal. Dan bisakah kita menikmati hidup dengan tanpa berpendapat apapun? Diam menjadi penonton yang pasif yang bahkan untuk bertepuk tangan pun harus memerlukan pertimbangan yang mengernyitkan dahi berlipat-lipat.

"Saya buang saja pena ini, pensil ini. Saya tak berani menulis lagi. Saya tak berani melukis lagi, saya tak berani menggambar sketsa, menyimpannya atau untuk diberikan pada teman yang suka kasih masukan. Saya buang saja semua. Akan saya uninstall office di laptop biar saya tak bisa menulis."

"Kenapa, Vin?"

"Semua curiga."

"Semua, siapa saja? Saya tidak."

"Padamu pun saya ragu."

"Ragu? Kenapa? Kau meragukan? Jika kau ragu, kau bisa menyimpannya."

"Tak ada tempat yang aman."

"Jika kau melakukan yang baik-baik, tak akan jadi masalah."

"Baik bagi kamu, belum tentu baik bagi yang lain."

Sekadar nonton tivi pun, juga baca, Delvin menjadi ketakutan. Paranoid. Hal yang tak perlu bagi sebagian banyak orang yang punya lengan kekar penjaga kursi empuk atau yang duduk berada di sekitarnya. Ketika ke jalan raya, ia merasa begitu banyak orang memandang penuh dari segala bentuk tubuh sampai gerakan setiap langkah, gestur tubuh, gerak tangan dan jari. Warna baju dan celana yang dipakai pun tak membuatnya nyaman, dirasa dipersalahkan, diperdebatkan, dan disangka-sangkakan.

Saat memutuskan pulang untuk tidur, ia merasa ada orang yang tahu jalan pikirnya, merasa juga dicatat. Bukan tanpa alasan, kecurigaannya telah banyak terbukti, hampir semua.

"Ini sudah gila. Saya salah tempat dan waktu."

"Tak ada apa-apa, Vin."

"Itu bagimu. Bagiku?"

"Makanya ikut kami, atau diam, atau sembunyi."

"Saya tak ingin ikut siapa-siapa. Tapi, saya tak ingin memampatkan pikiran sampai kosong sama sekali. Seperti dari dulu-dulu."

Pada suatu sore ketika nonton sepak liga tarkam, Delvin dipelototi segerombolan orang, berbisik-bisik membuatnya tak nyaman, dan terpancing emosinya. Merasa kalah jumlah dan kalah nyali, ia menyingkir mencari pohon rindang lain. Tak jauh beda, ia diperlakukan sama dengan cara yang berbeda. Tapi kali ini ia tidak tinggal diam. Ia sedikit membalas pandangan mata, tanpa senyum tanpa ekspresi. Ini pun membuat mereka merasa terhina yang kemudian mendatangi, mengepal tangan, memelototkan mata, menggerak-gerakkan hidung dan menggemeratakkan gigi.

Delvin diam acuh tak acuh dengan bersiap diri dengan segala kemungkinan.

"Mau apa kamu?" seseorang datang membentak Delvin.

"Apa saya terlihat mau apa-apa? Apa semua yang berbeda dengan kalian mau apa-apa? Kalau kalian mau apa-apa bebas sesukanya?"

"Diam kau!"

"Dari tadi saya sudah diam. Kalau nggak jawab nanti dikira apa-apa!"

Beberapa orang menghampiri Delvin berjajar di samping dan di belakangnya. "Tenang, Vin jangan mundur, kami bersamamu." Energi Delvin bertambah, rasa beraninya naik dan mengendorkan rasa kurang percaya diri. Tak terasa kedua tangannya mengepal. Ketika tiba-tiba seseorang di depannya meloncat menyerang, Delvin menghindar dengan tangan kirinya sempat membuat gerakan yang membuat si penyerang terpelanting terjerembab mencium tanah. Segera saja keributan terjadi, saling serang, saling ejek, dan saling meluapkan emosi begitu cepat berkobar. Perhatian semua orang di lapangan menuju ke titik itu.

Delvin dan teman-temannya menenangkan diri. Menghindari pertarungan, berjalan menjauh, dan memberi kesempatan petugas keamanan menguasai lapangan. Dari kelompok lain rupanya ada yang masih belum dingin hatinya, entah dari kelompok mana, seseorang merangsek maju membabi buta memukul setiap orang di dekatnya, siapa pun. Banyak orang memburunya, menangkap, berusaha menguasainya. Ternyata ia tak sendiri. Dari kelompoknya ada yang tidak terima temannya diperlakukan kasar, ikut menyerang, membabi buta, berteriak-teriak memuntahkan seluruh amarah, menyemburkannya ke langit.

Petugas keamanan, hansip bersigap melerai, menguasai orang-orang yang marah, kemudian sesama yang lain saling meredam hati. Tak lama, bala bantuan dari polisi datang. Keadaan seperti biasa lagi, seperti tidak terjadi apa. Hati panas dan rasa emosi dipendam entah di mana meski ada beberapa kelompok orang yang masih bergeremeng membahas kesalahan kelompok lain, berencana membalas, dan merasa kelompoknya yang paling benar dan paling santun.

Pertandingan sepak bola tetap dimulai dan berlanjut. Tak perlu waktu lama, para pemain bola sibuk ngos-ngosan, mengejar-ngejar penguasa bola, bergerak menipu dan mengumpannya pada kawan, meksi kadang salah kirim ke lawan dan menguntungkan lawan. Teriak-teriakan penyemangat mulai terdengar sahut menyahut. Ketika bola mendekati gawang, suara lebih bergemuruh, sebagian menyemangati untuk menggolkan, sebagian berteriak untuk menghalau bola dan balik menyerang. Dan saling ejek mengejek antarkubu membubung di atas langit lapangan, masuk ke rongga-rongga telinga dan membakar hati, menohok pikiran, meniupkan hawa panas pada para pemain yang tak tampak lelah kehabisan tenaga.

Seperti tiba-tiba, seperti tanpa rencana, segera saja muncul begitu banyak bendera-bendera berkibar-kibar warna-warni, bergerak-gerak di pucuk tongkat yang terus diayun-ayunkan. Tulisan-tulisan pada banner dan kain terbentang, saling memancing, saling memprovokasi. Suara menyerang penonton menguasai lapangan. Suara peluit tertimbun rerimbunan suara. Permainan sepak bola di lapangan tak lagi menjadi perhatian. Kepalan dan ancaman saling melolong. Langit di atasnya berwarna kuning kemerahan menampung asap yang meliuk-liuk menjauh.

Sorak sorai membahana penuh semangat sampai akhir pertandingan, sampai senja menjelang maghrib. Ada yang menang, ada yang kalah, tentu. Biasa dan tak apa-apa. Tak ada apa-apa dalam perjalanan pulang, tak ada keributan fisik, tak juga ada saling serempet kendaraan di jalan. Jika pulang dengan menutup telinga dengan rapat, tak ada hati yang terbakar memicu mulut untuk berkoar, yang pulang dengan membiarkan telinga tak tertutup, haruslah berkepala dingin dan berhati tenang, menganggap semua suara adalah teriakan tak tentu arah pelepas kekesalan pada yang tak sepaham. Angin senja berkesiur menabraki dedaunan di pinggir-pinggir jalan, membimbing asap knalpot menjauhi bumi, menyeka keringat yang mulai lembab.

Selepas maghrib, Delvin membuka HP-nya. Membaca berita dan browsing sedikit. Makan malam dan beranjak tidur setelah Salat Isya. Besok paginya, sesaat sebelum berangkat kerja, seperti biasa ia membuka HP, seluruh akun media sosialnya penuh dengan berita kemarin di lapangan. Di Youtube ratusan judul clickbait yang menyangkut kejadian kemarin terpampang dengan berbagai gaya, kebanyakan provokasi, dengan viewer yang sudah ratusan ribu. Ia terdiam, serasa seluruh wajahnya sudah terpampang di setiap tempat dan orang-orang akan mem-bully. Ada niat untuk izin tidak berangkat kerja, tapi kemudian memutuskan untuk berangkat saat batas waktu agar tak terlambat tinggal sembilan detik, dengan meyakinkan diri menganggap semua baik-baik saja dan tak ada apa-apa yang perlu dipikirkan.

Ia tutup HP, memutus koneksi data, memasukkannya dalam kantong celana sebelah kiri, naik motor, dan berangkat setelah minum teh manis hangat dan sedikit nasi dengan sayur. Tepat di depan pintu gerbang di seberang jalan, Delvin terpana pada selembar pamflet seukuran 120 x 80 sentimeter bertuliskan, 'Hati-hati! Jaga diri' di bawah sebuah karikatur tersenyum dengan kelopak mata menyempit menutupi tatap amarah. Tulisan warna hitam itu menjadi jelas sekali terbaca karena terasa ditujukan untuknya.

"Yang pasang tulisan itu siapa, Mas?" pada tetangga sebelah, Mas Zildan yang sedang mendorong pintu gerbang, ia sempatkan bertanya.

"Nggak tahu, memang kenapa? Wong hanya tulisan kok. Tak perlu diributkan, biar saja."

"Tapi kan, Mas...."

"Biasa sajalah. Saya sempat kaget juga, tapi sudah menganggap biasa-biasa saja, dan enak."

"Tapi, saya merasa nggak nyaman, Mas."

"Nyamankan saja. Gampang kan?"

"Kamu nyaman-nyaman saja, Mas?"

Zildan tak langsung menjawab, malah mengalihkan pembicaraan, "Hati-hati di jalan. Kita ketemu nanti sore lagi."

Sepanjang perjalanan, kanan-kiri spanduk dan banner terpampang berebut perhatian. Mengganggu dan merusak pemandangan. Apa boleh buat, ia hanya bisa bergumam di hati dan berusaha menerima. Melawannya adalah tidak menghormati pendapat orang lain. Tidak melihatnya sama saja dengan tidak menganggap ada, dan Delvin memilih itu. Tapi kemudian ia merasa terganggu dengan suara-suara dari pamlet, spanduk, banner, dan kertas-kertas yang tercecer. Suara-suara itu memakinya, meneriaki, meng-huuu, mengancam, menertawai. Bergegaslah ia berbalik arah, pulang, memelintir batang setang gas sambil meraung-raungkan knalpot.

Di tikungan terakhir sebelum sampai rumah, hampir tekor, sedikit saja motornya bablas ke parit dan hanya meninggalkan bekas tapak ban yang memarut aspal. Beruntung tak ada kendaraan lain yang melintas. Di halaman rumah Delvin terperanjat. Begitu banyak kertas-kertas bergelantungan di ranting pohon-pohon, berserakan di tanah, di teras. Lebih heran lagi, burung-burung kecil di pepohonan, menjerit-jerit memakinya. Langit di atasnya berwarna merah kekuningan, seperti wajah tuan besar sedang marah.

Ada pohon mangga di halaman depan agak pojok sebelah kiri. Seperti tak kenal musim, pohon-pohon itu selalu berbuah. Buahnya yang tak terlalu besar enak sekali, apalagi jika masak di pohon. Tak hanya pohon mangga, ada banyak pohon buah lain yang rimbun menyenangkan. Jambu demak, klengkeng, manggis, rambutan. Bangunan rumah yang besar dan teduh berada di tengah-tengah. Dan, sekarang buah-buah itu berjatuhan, berserakan di tanah di antara daun-daun layu yang terus berguguran. Ranting-ranting menjadi tampak meranggas seperti batang anak panah yang siap melesat menusuk mangsa. Tanah di bawahnya retak-retak seperti kemarau tujuh bulan, padahal saat hujan masih sering turun lebat.

Lewat samping kiri rumah, Delvin menuntun dan memarkir motornya di garasi belakang. Hawa panas mengerubuti. Segera lepas jaket, menaruhnya di stang motor dan duduk di kursi memandang kolam ikan dengan air mancur buatan yang sudah berlumut. Ikan-ikan di kolam yang biasanya bergerak cepat menari-nari melihat Delvin datang, tampak tak bergairah dan layu. Kawanan burung gereja dan burung emprit tak berjingkrakan di bibir-bibir kolam, melompat sedikit dan berjalan dengan letih, terbang tak bergairah dan membisu.

Hawa pekarangan rumah sama sekali tak terasa sejuk dan nyaman. Berubah, tak bersahabat. Segelas air putih yang digelontorkan ke tenggorokannya tak membuat ia tenang. Tak ada satupun benda yang membuatnya nyaman. Melepas lelah, ia berebah di kursi, membiarkan kakinya menjuntai terganjal batang pagar samping. Tapi, itu tak juga membuatnya tenang. Rasa takut mulai masuk pada rongga napas. Ia menghempaskannya dengan keras, "Hhhhhhuh...!" Seketika udara di sekitarnya menjadi lembab dan berat untuk bernapas.

"Kenapa kau, Nak?" Ayahnya yang telah pensiun lima tahun datang menyapa, duduk di sebelahnya, diusapinya rambut yang basah oleh keringat.

"Saya takut di sini, Yah."

"Ini rumah kamu. Kamu lahir, kecil, bermain-main, tumbuh remaja, dewasa, di sini. Kau selalu riang gembira di sini."

"Tapi sekarang saya merasa nggak begitu, Yah."

"Kenapa?"

"Apa Ayah tidak merasakan?"

"Ayah tahu, tapi Ayah tak bisa melompat dari sini. Ayah tak bisa menunda waktu, tak juga bisa melewati waktu."

"Lihat, Yah pucuk-pucuk daun itu pun seperti hendak menghujamiku, seperti hendak menusuk-nusuk. Ranting-ranting itu, rumput-rumput itu, bahkan akar-akar itu, bebunyian itu. Apa aku harus seperti mereka, jadi daun, jadi ranting, jadi rumput, jadi akar, agar tak ditusuk. Apa harus sama? Apa aku harus di rumah lain? Apa sebelah rumah lain itu juga sama?"

"Tidurlah, Nak. Meski tidur tak membuatmu bebas, setidaknya kamu bisa berharap bisa mimpi seperti keinginanmu. Minumlah untuk membuang dahaga."

"Aku tak bisa tidur, Yah."

"Ayah akan menjagamu."

23:42.29032019

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed