Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro Dipamerkan di Magelang

Eko Susanyo - detikHot
Jumat, 29 Mar 2019 20:51 WIB
Foto: Eko Susanto/ detikHOT
Magelang - Dua lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro dan 47 lukisan lainnya dipamerkan di Museum BPK RI Kota Magelang. Pameran lukisan yang dilangsungkan tersebut masih dalam rangkaian Gerakan Melek Sejarah atau disingkat Gemes.

Untuk dua lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro, salah satunya adalah karya Ronald Manullang berjudul 'Magelang Pagi Hari 28 Maret 1830' yang berukuran 120 x 150 cm. Satu lagi lukisan karya Haris Purnomo berjudul 'Suluk ke-51 Babad Diponegoro' di atas kanvas ukuran 135 x 200 cm.

Sebelumnya, dua lukisan dan 47 lukisan reproduksi ini pernah dipamerkan di Yogyakarta. Kurator lukisan Babad Diponegoro, Mikke Susanto mengatakan pameran ini menjadi bagian dari Gemes (Gerakan melek sejarah). Program Gemes yang diinisiasi Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.



"Pameran ini terinspirasi oleh agenda Kementerian, yang kemudian diminta Kementerian menjadi bagian dari program Gemes. Program ini saya lihat terkait langsung sejarah penangkapan Pangeran Diponegoro. Sehingga pameran yang kemarin (Yogyakarta) sejatinya untuk mengingat sejarah hidup Diponegoro secara utuh. Kemudian kami iris yang bagian khusus penangkapan untuk dibawa ke Magelang," ujarnya saat ditemui di lokasi pameran lukisan di Museum BPK RI di Kota Magelang, Jumat (28/3/2019).

"Jadi dua karya inilah yang mewakili peristiwa tersebut, mewakili penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang. Selebihnya yang kami reproduksi adalah sejarah hidup Diponegoro dari lahir, berusia 5 hari sampai menjelang beliau ditangkap. Nah, dua karya ini memang dibuat dua, temanya satu yakni penangkapan, tapi kami sejak awal mengajak dua seniman agar merespons satu peristiwa itu sehingga di sini yang muncul karya Haris Purnomo dan karya Ronald Manullang," katanya.

Menurutnya, dua karya lukisan tersebut berbeda intrepretasi mengenai penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang.

"Satu, dekat dengan intreprestasi yang bersifat dokumentatif. Kemudian, satunya bersifat simbolik. Yang Haris Purnomo, dokumentatif, yang Ronald Manullang itu simbolik. Jadi, dia tidak seperti Haris, atau tidak seperti para sejarahwan pada umumnya yang menulis dari data, tapi dia mengimplementasikan bagaimana simbol-simbol itu terkait dengan persoalan penangkapan, sekaligus juga simbol-simbol moral, etika, tentang nasionalisme," kata Mikke yang juga Staf Pengajar ISI Yogyakarta.

Lukisan ini, kata Mikke, merupakan karya baru yang pertama kali dipamerkan di Yogyakarta. Kemudian yang kedua di Magelang.

"Semua lukisan yang dipamerkan untuk Pangeran Diponegoro ini dikerjakan 4 bulan lebih. Ini karya baru yang kemudian dipamerkan pertama di Jogja, kemudian di Magelang sekarang. Sama seperti sejarah Diponegoro habis hidup di Yogja, kemudian ditangkap di Magelang," tuturnya.

Adapun lukisan yang direproduksi, katanya, ada 47 karya. Di sana ada 50 seniman yang diajak serta dalam pemeran Babad Diponegoro. Dari 50 seniman tersebut, dua di antaranya Haris Purnomo dan Ronald Manullang yang keduanya sudah melanglang buana.

"Dua karya ini, saya inisiasi untuk menyaingi lukisan Raden Saleh dan Pieneman. Karena selama ini, orang melihat Diponegoro selalu di dua lukisan itu. Nah, bagaimana kemudian kalau seniman hari ini melihat peristiwa Diponegoro. Dan mereka keduanya tetap memakai Babad Diponegoro yang ditulis langsung oleh Diponegoro, jadi sesungguhnya mereka nggak ngarang. Referensinya tetap Babad Diponegoro," kata dia. (tia/nkn)