DetikHot

Cerita Pendek

Kuda-Kuda Mungil

Minggu, 17 Mar 2019 09:56 WIB  ·   Tjak S. Parlan - detikHOT
Kuda-Kuda Mungil Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom
Jakarta - Sebelum kuda-kuda mungil itu terkapar di tanah, ia menyempatkan dirinya berputar-putar selama yang ia inginkan. Ia membiarkan dirinya berada di sana --di atas kuda mungil itu-- dengan mata terpejam, berpacu bersama segala kenangannya. Seragam warna biru langit yang dikenakannya telah memudar dan terasa begitu ketat membungkus tubuhnya yang tambun. Saat ia mengenakan pertama kalinya dua puluh tahun sebelumnya, pakaian kerja itu masih terasa cocok di tubuhnya. Ia sengaja mengenakannya sore itu sebagai penanda pada dirinya sendiri bahwa hari itu adalah hari terakhirnya bekerja.

"Kota sedang berbenah. Nanti akan ada tempat yang baru untuk semua ini." Kata-kata manajernya itu tergiang-ngiang sepanjang waktu.

Namun ia tahu bahwa tempat yang baru itu tak akan terjangkau --atau barangkali tak pernah ada-- dan perusahaan harus menghibur seluruh karyawan agar tetap memiliki harapan. Seperti dulu, seperti ketika ia menaruh harapan di tempat yang selalu ingin dikunjunginya itu.

"Naiklah cepat," ujar ayahnya. "Tapi ingat, hanya sekali putaran!"

Ia kerap mengalami malam-malam seperti itu. Saat hasrat kanak-kanaknya tak bisa dibendung lagi, ia akan pergi ke tempat itu --sebuah Taman Hiburan Rakyat. Ia tahu, ayahnyalah yang mengendalikan kuda-kuda mungil itu. Di atas kuda-kuda itu, sejumlah kanak-kanak selalu tampak riang. Lalu dalam sebuah gerakan lambat --ketika komidi putar akan berhenti sejenak untuk putaran berikutnya-- seorang gadis kecil dengan rambut berkuncir ala ekor kuda akan tersenyum dan melambai kepadanya.

Namun, hingga komidi putar itu berhenti sama sekali, ia tak pernah bisa menemukan gadis kecil itu di tempat semula. Selalu saja, gadis kecil itu tiba-tiba muncul sejenak di kejauhan, melambai dan tersenyum ke arahnya sekali lagi, lalu lesap begitu saja di antara kerumunan orang-orang.

"Cepatlah naik!" ujar ayahnya suatu kali.

"Kenapa kamu seperti orang linglung?"

Ia garuk-garuk kepala, tak bisa mengatakan apa-apa kepada ayahnya. Lalu ia memilih salah satu kuda mungil di mana gadis kecil yang selalu tersenyum kepadanya pernah duduk di sana. Dalam sekejap, ia mencium aroma wangi seperti aroma bunga kantil yang tumbuh di belakang rumahnya.

Ia tak pernah menceritakan hal semacam itu kepada siapapun. Namun suatu kali, ketika ia beranjak remaja dan tidak pernah lagi melihat gadis kecil yang selalu tersenyum dan melambai kepadanya itu, ia berani terbuka kepada ayahnya.

"Kenapa kamu tidak pernah menceritakannya?" tanya ayahnya dengan kening berkerut.

Ia berharap ayahnya akan bercerita banyak. Tapi ayahnya tampak biasa-biasa saja menanggapinya. Dalam kesempatan yang berbeda, ketika ia kembali menceritakan hal serupa, ayahnya justru menegurnya.

"Yang itu-itu saja kamu ceritakan. Mana ada di sini gadis kecil berwajah putih, seperti yang sering kamu lihat," tanggap ayahnya. "Atau jangan-jangan, kamu mulai memikirkan seorang adik perempuan?"

Ia memang pernah berharap memiliki seorang adik. Tapi faktanya ia telah menjadi bungsu dari lima bersaudara --dan ibunya tak memungkinkan untuk hamil lagi. Ia juga memikirkan gadis kecil itu untuk waktu yang lama. Ia bahkan menganggap --pada saat tertentu-- bahwa apa yang dilihatnya di masa kanak-kanak itu benar adanya. Pada kesempatan berikutnya, ketika ia telah bekerja untuk menggantikan posisi ayahnya yang sudah tua dan sakit-sakitan, ia menceritakan hal itu kepada salah seorang teman kerjanya. Teman kerjanya itu menanggapinya dengan menceritakan sebuah peristiwa. Ia juga pernah mendengar peristiwa itu dari beberapa orang, tapi sambil lalu saja.

"Dulu pernah ada kebakaran besar di kota ini. Rumah ibadah, toko-toko, juga rumah warga ikut terbakar. Lahan yang sekarang digunakan te-ha-er ini, dulunya milik seorang keluarga keturunan. Pokoknya orang luarlah...."

"Keluarga itu punya seorang anak, gadis kecil yang usianya sekitar tujuh tahunan. Saat kejadian, gadis kecil itu sempat diselamatkan dari kobaran api oleh seorang pemuda."

Teman kerjanya itu diam sejenak, lalu menoleh kepadanya.

"Mestinya kamu sudah tahu," lanjutnya kemudian, "Bahwa pemuda yang berusaha menyelamatkan gadis malang itu adalah ayahmu."

Antara percaya dan tidak, ia meminta agar temannya melanjutkan ceritanya.

"Namun itu tidak bertahan lama. Malang benar nasib gadis kecil itu. Ia meninggal sebelum sempat dibawa ke klinik. Gadis kecil itu dikuburkan berdampingan dengan kerangka kedua orang tuanya yang hangus terbakar."

"Pemuda yang berusaha menyelamatkan itu menjalani perawatan selama beberapa minggu. Menurut cerita ayahku, luka bakar di tubuhnya cukup parah."

"Sejak peristiwa itu, pemuda itu selalu tampak murung, bahkan menutup diri. Satu-dua orang menceritakan soal kedekatan pemuda itu dengan...ya, kamu mestinya tahu soal itu."

Ia termenung saat teman kerjanya itu menutup cerita. Ia teringat luka bakar di sekujur tubuh sebelah kiri ayahnya. Ayahnya tidak pernah bercerita panjang lebar soal luka bakar itu, melainkan sekilas-sekilas saja. Menurut ayahnya, luka bakar itu karena peristiwa kebakaran di sebuah rumah. Itu saja.

Lantas, setelah puluhan tahun dirinya bekerja di tempat itu, tiba-tiba pada suatu malam --tepatnya satu hari sebelum Taman Hiburan Rakyat itu dinyatakan tutup-- ia melihat kembali sosok gadis kecil itu. Tak ada yang berubah. Semua terlihat sama seperti yang pernah dilihatnya bertahun-tahun sebelumnya: seorang gadis kecil dengan rambut berkuncir ala ekor kuda tersenyum dan melambai kepadanya. Namun hingga komidi putar itu berhenti sama sekali, dirinya tak bisa menemukan gadis kecil itu. Tiba-tiba saja gadis kecil itu terlihat di kejauhan sedang melambai ke arahnya, lalu lesap kembali di antara kerumunan orang-orang.

"Apa kami boleh bergabung?" seseorang tiba-tiba bertanya.

Ia segera membuka matanya. Komidi putar telah berhenti sama sekali dan di sekelilingnya para pekerja telah siap dengan segala peralatannya. Situasi seperti itu semakin mempertegas keberadaannya: bahwa hari itu adalah hari terakhirnya.

"Segeralah masuk. Ambil pesangonmu!" ujar salah seorang teman kerjanya.

Dengan malas ia pun turun dari kuda mungil itu. Ia mendengar dan melihat dari jarak dekat rupa-rupa bunyi onderdil, perangkat-perangkat kecil, baut-baut yang seolah-olah tengah menjemput maut di tangan para pekerja pembongkaran.

Satu demi satu kuda-kuda mungil itu dilepaskan dari tiang gantungan yang telah menjaganya selama bertahun-tahun. Satu demi satu kuda-kuda mungil itu dipisahkan dari kegembiraan masa kanak-kanak. Lalu, sebelum barang-barang bongkaran itu diangkut truk menuju sebuah gudang yang pengap di pinggiran kota, kuda-kuda mungil itu digeletakkan dan dibiarkan begitu saja di tanah. Kuda-kuda mungil itu tampak semakin tak berdaya.

Keesokan harinya, dari balik kaca sebuah angkutan kota, ia melihat sebuah plang telah berdiri di tempat itu. Sebuah pemberitahuan ditulis dengan huruf-huruf tegas: Di Tempat Ini Akan Dibangun Sebuah Rumah Ibadah. Ia menunduk setelah membaca papan permakluman itu. Lalu, di sepanjang jalan menuju stasiun kereta hari itu, ia mencoba menghitung rumah-rumah ibadah yang berdiri dengan megah-tapi tampak sepi. Satu, dua, tiga, empat, lima....

***

Sejak Taman Hiburan Rakyat itu ditutup, ia belum pernah mendapatkan pekerjaan baru. Apa yang dilakukannya adalah pergi dari kota kelahirannya dan berniat menghabiskan semua uang pesangonnya untuk mengunjungi pasar malam. Ia berharap akan mendapatkan sedikit keberuntungan di tempat-tempat seperti itu.

Sudah banyak tempat yang ia kunjungi. Namun hingga ia pergi ke permukiman-permukiman yang jauh, ia belum pernah menemukan apa yang dicarinya.

"Sudah sampai. Nanti malam pasti lebih ramai," ujar tukang ojek seraya menghentikan sepeda motornya di depan sebuah tanah lapang.

Setelah membayar ongkos semestinya, ia pun bergegas masuk ke arena. Beberapa orang tampak berkerumun di sekitar wahana permainan. Ia pun segera bergabung ke dalam salah satu kerumunan itu. Sekelompok orang-kanak-kanak dan orang dewasa-sedang memperhatikan beberapa pekerja yang tengah memeriksa dan mengotak-atik sesuatu sedemikian rupa.

"Pemeriksaan rutin," batinnya, "Untuk memastikan semua wahana aman sebelum dioperasikan nanti malam."

Ia hapal hal-hal semacam itu di luar kepala. Tak ada yang aneh. Dirinya pernah melakukannya untuk sekian lama.

Lalu sesuatu pun terjadi. Ia kembali mendengar dan melihat dari jarak dekat rupa-rupa bunyi onderdil, perangkat-perangkat kecil, baut-baut yang seolah-olah tengah menjemput maut di tangan para pekerja pembongkaran.

"Sudah mulai dibongkar ya?"

Para pekerja itu tak menghiraukan pertanyaannya. Mereka larut dalam kesibukannya masing-masing.

"Mau dipindah ke mana?"

Salah satu pekerja menoleh sebentar kepadanya, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya. Satu demi satu kuda-kuda mungil itu dilepaskan. Satu demi satu kuda-kuda mungil itu digeletakkan di tanah lapang.

"Mau dipindah ya?"

Tak ada yang menjawab. Ia bergeming. Kepalanya kembali dipenuhi oleh ingatan-ingatan: gadis kecil berkuncir ala ekor kuda, luka bakar pada tubuh ayahnya, kuda-kuda mungil yang berhenti berputar, kuda-kuda mungil yang kembali terkapar.

Mataram, 7 Pebruari 2019

Tjak S. Parlan lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Buku kumpulan cerpennya berjudul Kota yang Berumur Panjang (Basabasi, 2017). Bermukim di Ampenan, Nusa Tenggara Barat

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed