DetikHot

Cerita Pendek

Gadis yang Gemar Membantai Ayam Jantan

Sabtu, 16 Mar 2019 11:28 WIB  ·   Abul Muamar - detikHOT
Gadis yang Gemar Membantai Ayam Jantan Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Jagung di telapak tangan Puki nyaris habis ketika ayam jantan milik tetangganya datang mendekat. Cepat-cepat dikatupkannya jarinya. Dijumputnya beberapa biji jagung dan dilemparkannya ke tanah. Ketika ayam pendatang itu mendekat dengan jarak sejauh panjang lengannya jika diulur, lalu menunduk memunguti jagung-jagung yang dilemparnya, dalam sekejap kepala ayam itu jatuh ke tanah, putus ditebas pisau yang diasahnya setiap malam Jumat.

Tidak ada saksi yang melihat kekejian itu kecuali tiga ekor ayam betina Puki, yang pada saat kejadian ikut memperebutkan biji-biji jagung bersama ayam jantan nahas itu. Ayam-ayam betina itu rupanya belum puas menggeragasi jagung dari telapak tangan Puki. Maka, ketika Puki menutup jagung di telapak tangannya dengan jarinya, dan melemparnya sedikit untuk memancing ayam jago itu agar mendekat, ayam-ayam betina piaraannya tak mau kalah; mereka balik badan dan langsung berlari menuju jatuhnya biji-biji jagung itu. Melihat kepala pejantan yang masih mengalirkan darah segar, ayam-ayam betina itu tak peduli. Mereka memang sempat heran memandangi kepala ayam yang belum lagi terpejam itu, tapi itu hanya sebentar; mereka segera kembali mematuki biji-biji jagung yang berada di sekitar kepala buntung itu.

Seperti habis menyembelih ayam piaraan sendiri, Puki lantas membawa ayam jago yang telah roboh itu masuk ke rumah, lengkap dengan kepalanya yang terputus. Digulainya ayam itu dengan bumbu-bumbu yang sudah dibelinya sehari sebelumnya, seakan-akan dia sudah memastikan bahwa hari itu dia akan membunuh ayam itu.

Ayam jantan itu memang pernah beberapa kali datang ke halaman belakang rumah Puki. Setiap kali datang, ia selalu merayu ayam-ayam betinanya, menggoda mereka dengan apa saja yang ia temukan, bahkan kadang-kadang dengan karet nasi bungkus. Namun, beberapa kali layangan pisau Puki gagal mengenai sasaran.

Entah karena terdorong oleh keinginan untuk berbagi, atau sekadar ingin mengejek pemiliknya, Puki mengetuk pintu tetangganya, memberi rantang berisi beberapa potong ayam gulai itu.

"Terima kasih banyak, Puki," kata tetangganya, sepasang suami-istri paruh baya tanpa anak. Si suami, yang biasa disapa Haji Koceng, adalah guru mengaji anak-anak kampung. Selain guru ngaji, ia juga seorang pendakwah dengan bayaran tinggi. Sedangkan istrinya mantan guru SD yang memutuskan pensiun dini lantaran tak tahan terhadap ejekan rekan-rekannya. Mereka tak curiga sama sekali soal ayam gulai yang mereka terima, dan menyantapnya dengan nasi panas, kerupuk, dan rebusan sawi pahit dan sambal terasi yang sengaja dimasak oleh sang istri sebagai pelengkap.

Haji Koceng dan istrinya tak menyadari kehilangan ayam jantan mereka selama dua hari, sebelum tersentak bahwa mereka tak lagi mendengar suara kokoknya.

"Ma, ayam jago kita mana ya?"

"Mana mama tahu, Pa. Kenapa Papa keluarkan dari kandang?"

"Maksud Papa biar dia tidak stres."

Mereka mencari ke mana-mana. Maklum, ayam jago itu dibeli Haji Koceng dengan harga yang sangat mahal, dengan uang hasil berceramah yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun, yang walaupun sudah dipotong ongkos naik haji dan biaya rehab rumah, masih tetap bersisa banyak. Di tangan pemilik sebelumnya, ayam itu pernah memenangi laga sebanyak 88 kali, dan memberikan uang puluhan juta untuk si majikan dari kemenangan-kemenangan yang diraihnya. Ayam jago itu pernah ditawar 10 juta oleh seorang kepala polisi resor setempat, tapi si pemilik menolak. Ia bahkan tak takut ketika si polisi mengancam akan memenjarakannya.

"Oke. Kau juga siap-siap masuk koran kalau kulihat lagi ikut adu ayam jago di sini," balas si pemilik, yang kebetulan punya kawan seorang wartawan.

Namun, si pemilik akhirnya goyah ketika ayamnya ditawar 50 juta oleh seorang guru ngaji cum pendakwah terkemuka, yang tak lain adalah Haji Koceng, tetangga Puki. Haji Koceng rela mengeluarkan uang sebanyak itu demi keinginan yang telah begitu lama mereka nantikan: punya anak. Itu setelah ia mendapat mimpi bahwa dengan memelihara ayam jawara itu, istrinya akan segera mengandung dalam waktu 222 hari. Maka, sejak hari pertama ayam jago itu menjadi milik mereka, suami-istri itu optimis menetapkan sapaan Mama-Papa dalam percakapan sehari-hari.

"Mulai hari ini," seru Haji Koceng, "Kau panggil aku Papa, dan kupanggil kau Mama."

"Setuju," balas si istri, lupa bahwa padahal sang suami dalam ceramahnya sering berkoar-koar bahwa menyapa pasangan dengan sebutan 'Papa-Mama' adalah haram.

Dengan harga semahal itu, ditambah tuahnya yang bakal memberi keturunan, wajar jika sang suami ngotot mencari ayamnya yang raib. Ia menanyai satu per satu penduduk kampung, termasuk para penjaga pos kamling, dengan nada menuduh.

"Bagus-bagus Pak Haji kalau ngomong. Kami memang doyan ayam, tapi kalau punya Pak Haji, mana berani kami ambil. Bisa-bisa kami kualat, masuk neraka," kata kepala pos kamling, yang juga ketua karang taruna setempat.

"Kalau memang kami yang mencuri ayam Pak Haji, pasti akan kami sisakan kepalanya untuk Pak Haji," kata pemuda paling bengal di kampung itu dengan nada mengejek.

Perkataan si pemuda itu rupanya membuat Haji Koceng dan istrinya teringat pada Puki.

"Tapi mana mungkin, Ma, Puki kan punya ayam sendiri," kata Haji Koceng, cemas melihat istrinya berapi-api ingin mendatangi Puki.

"Kita tanya saja dulu," jawab istrinya.

Puki tengah menjemur selusin sempak dan kutang ketika tetangganya itu datang.

"Ayam gulai yang kalian santap itu memang ayam jago kalian," ujar Puki tanpa rasa bersalah.

Kepalan tinju si istri sejatinya bakal mendarat di pipi kiri Puki seandainya dia tak segera melanjutkan kalimatnya. "Dan kalian akan segera punya anak karena telah memakannya. Kalian tak perlu menunggu 222 hari."

Seperti dihipnotis, sepasang suami-istri itu langsung terdiam, saling memandang satu sama lain dengan mata berbinar-binar. Kemarahan mereka seketika sirna. Sang istri bahkan tak heran, dari mana Puki bisa tahu soal "222 hari" itu. Saking bahagianya, sang suami nyaris memeluk Puki jika saja tak diadang oleh istrinya. Mereka lantas pulang dengan riang gembira, saling merangkul dan melompat-lompat kegirangan seperti bocah pulang sekolah.

***

Kamis tiga tahun yang lalu adalah hari pertama Puki memelihara ayam. Pada mulanya, gadis 15 tahun yang ditinggal mati bapak-ibunya itu hanya membeli sepasang. Ayam-ayam itu lantas beranak pinak dan terus membanyak hingga hampir mencapai seratus ekor.

Setiap hari selepas pulang sekolah atau sebelum belajar mengaji, Puki selalu menghabiskan waktu bersama ayam-ayamnya, memperhatikan gerak-gerik mereka dengan saksama. Kebiasaan itu membuatnya fasih dalam memahami tingkah laku ayam. Dia tahu dengan pasti kapan ayam-ayamnya murung, marah, senang, takut, bingung, lapar, dan sebagainya. Tentu saja kapan mereka ingin kawin dan hendak bertelur, adalah hal yang paling mudah dibacanya.

"Bahkan aku bisa bicara dengan ayam-ayamku," klaimnya kepada Haji Koceng suatu sore sehabis belajar mengaji. Sore itu tidak ada anak-anak yang hadir kecuali Puki seorang.

Puki, dan beberapa teman mengajinya memang cukup akrab dengan Haji Koceng. Selepas mengaji, mereka biasanya saling bercerita tentang apa saja layaknya bapak yang sedang bercengkerama dengan anak-anaknya. Kedekatan Puki dan Haji Koceng sesungguhnya kurang wajar meskipun keduanya bertetangga. Apalagi, dengan kedua orang tua Puki dulu sebelum meninggal, Haji Koceng tak berhubungan baik. Mereka nyaris tak pernah bertegur sapa kecuali terpaksa lantaran sudah teranjur saling bertatap muka.

Kedekatan Puki dengan Haji Koceng terus berlanjut meskipun ia sudah lama berhenti belajar mengaji. Sesekali, atas izin istrinya, Haji Koceng akan berkunjung ke rumah Puki, membawakannya banyak makanan ringan dan buah-buahan, serta memberinya sejumlah uang. Orang-orang, termasuk istrinya, menganggap itu sebagai kemurahan hati seorang guru ngaji yang ingin membantu seorang yatim-piatu yang juga bekas muridnya.

***

Atas tingkah lakunya yang dinilai janggal, orang-orang menyebut Puki sebagai gadis gila. Dia sering mengajak ayam-ayamnya bicara, dan dia segera menyahut setiap kali ayam-ayamnya bersuara. Tidur pun ia sering bersama ayamnya di kandang.

Pernah suatu kali ia berniat mengawini ayamnya. Dipilihnya ayam jantannya yang paling besar dan kuat, dan dibawanya ke tempat tidur. Ia baru menyudahi tindakan konyolnya itu setelah ia menyadari bahwa ayam jantannya tak mungkin mengeluarkan batang yang panjang dan keras seperti kepunyaan manusia biadab yang pernah menerobos paksa ke tubuhnya.

Ayam jantan itu sejatinya perkasa di kalangan ayam. Semua betina di halaman belakang rumah Puki, juga beberapa ayam betina milik tetangga, diembatnya. Semua ayam milik Puki dan sebagian ayam milik tetangga adalah keturunannya. Namun, hal itu jelas tak berlaku untuk Puki yang manusia.

"Sial! Aku tak bisa menyodomi ayam sebagaimana laki-laki ketika mereka tak punya saluran," keluhnya.

Puki sebenarnya senang belaka dengan rutinitasnya mengurusi ayam. Dia tak hirau sama sekali terhadap omongan orang-orang. Dari hasil memelihara ayam, dia bisa memenuhi kebutuhannya dengan menjual telur dan ayamnya kapan saja dia mau.

Namun, kasih sayang Puki terhadap ayam-ayamnya tiba-tiba menguap suatu hari di siang bolong. Itu bermula saat ia tengah memperhatikan ayam-ayamnya dengan suasana hati diliputi dendam. Ada induk yang sedang garang karena anaknya baru menetas, ada yang sibuk petak-petok mencari lapak buat bertelur, ada yang mandi di tanah gembur, ada yang menyeker tak kenal lelah. Semua itu tak benar-benar menarik perhatiannya kecuali satu pemandangan di mana ada pejantan yang dikelilingi beberapa betina. Jantan itu menggilir betina-betina itu dalam jeda beberapa menit. Emosi Puki tiba-tiba membuncah melihatnya. Seketika itu juga dia langsung mengambil pisau dapurnya yang paling tajam, mendekati ayam jantan itu, dan menebas lehernya dengan sekali ayunan seperti memotong batang tebu di halaman belakang rumahnya. Ayam jantan itu tak lain ayam yang pernah dibawanya ke kamar. Tubuh ayam tanpa kepala itu menggelepar beberapa saat sebelum mati terkapar.

Sejak saat itu, Puki menjadi gemar membantai ayam jantan, terutama yang telah pandai kawin. Tidak cuma miliknya sendiri, tetapi juga kepunyaan tetangga yang bertandang. Bukan dengan menyembelih sebagaimana orang-orang pada umumnya, melainkan dengan cara memenggal, meski kemudian dia tetap akan memasak ayam-ayam itu. Untuk memastikan ayam-ayam jantan itu bisa dibantai dengan sekali tebasan, ia rutin mengasah pisaunya setiap malam Jumat layaknya keris keramat.

Puki memang tetap memiara ayam, namun sikapnya menjadi parsial. Ia tetap menyayangi ayam-ayam betina, tapi ia menghabisi semua ayam jantan dengan sadis. Maka, satu per satu ayam jantannya pun habis. Ketiadaan ayam jantan membuat jumlah ayamnya terus menyusut. Kendati tak pernah terkena wabah, tetap saja kealpaan pejantan membuat perkembangbiakan ayamnya terhenti. Ayam-ayam betinanya memang tetap bertelur berkat makanan yang terpenuhi dengan sangat baik, namun telur-telur itu jelas tak bisa menetas.

Puki bukannya tak menyadari hal itu. Namun, alih-alih insaf, dia justru bersikukuh tak akan memiara ayam jantan sampai kapan pun, dan tak membiarkan setiap ayam jantan yang dijumpainya hidup. Maka, ketika ayamnya tinggal tiga dan pejantan milik tetangga itu datang, dia tetap tak mengubah sikapnya. Tak rela ia ayam jago legendaris itu mengawini ayam-ayamnya, tak peduli bahwa ayam itu adalah ayam mahal, jawara yang sangat diidam-idamkan banyak orang.

"Mampus kau!" katanya ketika pisaunya sukses menebas leher ayam tak berdosa itu.

Seminggu setelah penjagalan ayam itu, malam-malam sekali Haji Koceng kembali datang ke rumahnya. Kali ini tanpa istrinya.

"Aku sudah melupakan omong kosong bahwa kami akan punya anak. Aku juga sudah mengikhlaskan ayamku. Tapi, aku mohon hentikan tingkah gilamu! Bergaullah dengan orang-orang di luar sana."

"Masa bodoh! Kau yang telah membuat aku seperti ini!"

Melihat Puki tengah menggenggam sebilah pisau dengan sorot mata seperti orang yang tengah dirasuki setan dan siap menerkam, Haji Koceng tak berani membantah. Ia langsung pulang terbirit-birit.

Abul Muamar lahir di Perbaungan, 1988. Bergiat di Sahabat Gorga, sebuah yayasan dengan misi menggiatkan literasi untuk anak-anak

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed