DetikHot

Cerita Pendek

Keliya

Sabtu, 23 Feb 2019 11:28 WIB  ·   Ajun Nimbara - detikHOT
Keliya Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Ada malam-malam tertentu ketika aku selalu berpikir tentang sesuatu yang tidak seharusnya terjadi di antara kita waktu itu. Kau tiba-tiba menghujatku habis-habisan karena puisi Aku Ingin gubahan Saut Situmorang tentang kematian Romeo dan Juliet yang kutulis di story Instagram. Saat itu, hubungan kita telah berakhir kurang lebih sebulan yang lalu. Kau mengira bahwa puisi itu kutulis kembali untukmu. Lantas, kau buat story balasan berisi hujatan yang kau tujukan secara implisit terhadap diriku. Aku pengecut dalam hal mencintai, katamu.

Sekarang, aku sedang menghadapi kenangan tentang kita. Di alun-alun kota yang sering kita singgahi berdua. Paving-paving, air mancur yang selalu dikerumuni orang-orang, dan jejak es krim Mac Flurry di kedua lapis bibirmu yang selalu kuusap dengan jariku. Jalanan lengang Ijen Boulevard yang berisi lagu-lagu John Lenon, simfoni Perfect Ed Sheraan diiringi aksen Itali Andrea Bocelli, serta malam yang mendatangkan hujan saat kau dan aku tertawa di atas motor.

Aku pernah bilang bahwa kau adalah surviver hebat dari kaum wanita yang pernah kutemui. Aku beruntung memilikimu. Sampai akhirnya, aku menemukan bibirmu pada suatu malam menjadi sangat pelai. Wajahmu tak sebinar biasanya.

"Keliya, kenapa wajahmu?"

"Tidak apa-apa."

Aku tahu, itu hanya jawaban untuk lari dari pertanyaanku.

Tapi, aku pun tahu kau tidak suka dipaksa. Jadi, aku urung untuk menanyakan lagi. Entahlah, melihat wajahmu yang pucat, gincu yang kurang merata, aku tidak yakin kita akan mengulang ciuman manis di alun-alun kota tempo hari. Ciuman kedua yang akan selalu kuingat. Karena saat itu, kau menunjukkan keberanian yang tidak terduga. Mencium bibir beraroma tembakau memiliki sensasi tersendiri. Aneh, tapi lekat dan manis, katamu

Malam adalah kisah paling sulit untuk kau selesaikan. Waktumu tak hanya habis untuk menggambar sketsa dan menyelesaikan proyek desain manga. Kau harus mengatur ruang dan waktu untuk menyelesaikan skripsi, melakukan beberapa riset tambahan, serta menyusun hipotesis ulang karena kesalahan latar belakang dan rumusan. Hal-hal teknis yang membosankan, bahkan kadang menjengkelkan. Lagi, kau harus menyisihkan waktu untuk mencari uang guna menyokong hidupmu di Malang, dan mengurus kakakmu yang tak punya masa depan di Jakarta.

Kau berterus terang juga pada akhirnya. Kau teringat akan kenangan ibumu. Aku masih ingat betul bagaimana kau bercerita dengan penuh emosional bab mendiang ibumu yang dulunya menjadi tulang punggung keluarga. Wanita yang terusir dari rumah karena memilih ikut suami yang tak direstui keluarga, lalu ditinggal pergi tanpa alasan oleh suaminya ketika sedang mengandung dirimu. Betapa sakitnya hal itu.

***

Jika kuamati, sebenarnya tak ada masalah serius di antara kita. Setelah putus, kita pun masih sering jalan bersama. Kita masih asyik bermain Uno di sudut meja Warung Upnormal. Walaupun, aku memang keterlaluan. Saat hubungan kita selesai pun, aku masih berani mencumbumu. Kau tidak sepenuhnya menolak. Tidak juga membiarkan. Namun, aku suka ketika kau akhirnya memberi penegasan.

"Ini yang terkahir!" katamu sambil menatapku tajam. Aku tidak mengiyakan. Tapi, bukan berarti menolak juga.

Aku ingin sekali tahu keberadaanmu sekarang. Terakhir, empat bulan yang lalu, sebulan sebelum hubungan kita berakhir, kau bilang ada rencana pergi ke Jerman untuk mengikuti program pengabdian masyarakat dan berkompetisi di sana. Tapi, aku tak banyak tahu tentang itu. Sejujurnya, saat itu aku mulai bosan karena terus-terusan menjadi pendengar setia dan selalu mengalah.

Aku tak menyangka bahwa akhirnya akan sebergejolak itu. Hingga saat ini pun aku masih saja memikirkannya. Mungkin di dunia ini tak ada satu pun orang yang benar-benar mengenalku. Entahlah. Orang-orang yang membingungkan, atau memang aku terlalu rumit dan tidak mudah ditebak. Tapi, aku masih menikmati menjadi diriku. Semua kerumitanku, perasaan yang labil, dan hubungan yang tidak pernah berhasil. Aku bertahan dengan semuanya.

Kemarin aku mampir ke Cafe Conpanna. Duduk tepat di meja kita dulu. Aku memesan segelas kecil espreso dan membaca Rashomon karya Ryunosuke Akutagawa. Buku yang sempat kau rekomendasikan padaku setelah kau tahu aku pernah membaca buku kumpulan cerpennya yang berjudul Lukisan Neraka. Yah, seperti kau bilang, buku ini bagus. Baru beberapa halaman aku sudah tenggelam dalam dimensi dan karakter klasik ala Jepang yang dinarasikan dengan apik oleh penulis. Di seberang jalan, sejurus kemudian, orang-orang berkerumun keluar dari Terusan Ambarawa.

"Jiko nggak masuk, Bang?" tanyaku pada Sulifan, barista Conpanna.

"Masih keluar beli rokok, Bro," jawabnya sambil men-drip kopi pesanan pelanggan.

Beberapa orang masih riuh di luar sana. Mereka membicarakan sesuatu, entah apa. Jiko muncul di antara kerumunan manusia. Ia lari tergesa-gesa. Sepertinya sedang menahan kencing. Dari Terusan Ambarawa, ia menyebrang ke Conpanna. Lantas cepat-cepat melepas apron baristanya.

"Mahasiswa gantung diri, Bro. Edan, sumpah!" seru Jiko dengan mata nyalang. Lalu bergegas menuju toilet.

Ah, lagi. Ini bukan pertama kali kasus bunuh diri yang dilakukan mahasiswa. Di kota ini sudah berkali-kali aku mendengar bermacam-macam kasus. Ada yang menancapkan pisau ke dada rekan organisasinya, membusuk di kamar kos, gila karena frustrasi, hamil di luar nikah, dan ada yang hilang tanpa jejak. Peristiwa-peristiwa ini membuatku selalu bertanya-tanya. Apa yang membuat mereka sebodoh itu?

Aku teringat pada Felix Nesi, seorang teman yang sekarang sudah menjadi sastrawan terkenal. Dulu aku pernah menceritakan masalah-masalahku dan bertanya padanya, "Apakah jika aku mati, semua masalah ini akan selesai?"

Ia menatap mataku yang sedang goblok saat itu, "Memangnya kamu merasa dirimu penting? Kalau kau mati dunia akan berkabung untukmu, begitu?" tukasnya.

"Pertama, kau harus ingat, bahwa kau itu sampah. Tak ada yang begitu peduli pada perasaanmu, mungkin hanya orangtuamu. Kau diberi waktu tak sampai seratus tahun untuk hidup. Jika kau mati, bumi akan terus berputar, hidup terus berjalan. Orang-orang akan berduka sebentar lalu melupakanmu. Kau, sampah kecil, akan mampus, sendiri dan terlupakan."

"Kalau kau ingin mati, mati sajalah dengan tenang. Minum racun atau bakar diri akan membuatmu masuk koran sebentar, membuat orangtuamu menangis. Tapi, hidup akan terus berputar. Kau akan lekas dilupakan," lanjutnya.

Aku diam. Membaca ulang kata-katanya yang satir. Sama sekali bukan motivasi. Tapi, ungkapan itulah yang membuatku bangkit dan memacu hidupku sampai sekarang. Aku kembali pada buku-buku, menulis, berorganisasi, dan memperjuangkan kuliahku sampai lulus. Felix mengembalikan gairahku.

Sejenak lamunan itu berlalu. Jiko keluar dari toilet. Wajahnya begitu lega. Ia memakai kembali apron baristanya. Aku mengalihkan pandangan ke atas meja, pada lembaran buku Rashomon.

***

Bumi kembali berputar. Pagi tiba menyusul malam. Hari ini masih ada sisa lima belas ribu di dompetku. Masih bisa untuk makan dua kali dengan menu sederhana. Aku pergi ke warung Bu Marni. Warung kecil yang menjadi langgananku setiap pagi. Selain karena murah dan bisa menyapa putri Bu Marni yang cantik lagi sintal itu, Bu Marni juga berlangganan beberapa koran. Aku betah menghabiskan kopi sambil membaca koran di tempat itu.

Ghina, putri Bu Marni menghampiri mejaku, "Wis piringe, Mas?"

"Uwis, Mbak," jawabku singkat.

"Wis ngerti ana arek gantung diri mang bengi?"

"Uwis, Mbak. Ndek Terusan Ambarawa jare ya?"

"Iya. Iki lho areke," Gina menunjuk halaman koran yang sedang kubaca.

Aku segera meletakkan cangkir kopiku. Tenggorakanku tersedak. Kepalaku merunduk, mendekat pada tulisan dan foto di koran tersebut. Tertulis di rubrik itu nama korban bunuh diri. Keliya Rahmita, Mahasiswa Antropologi Universitas Brawijaya. Meninggal gantung diri di kamar kos dengan kondisi yang mengenaskan. Diduga frustrasi karena masalah keluarga yang berimbas pada dinamika akademik di kampusnya. Oh, Tuhan! Kenyataan kadang begitu mengerikan.

Ajun Nimbara alumnus Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang. Bergiat di Komunitas Pelangi Sastra Malang. Cerpen-cerpennya tergabung dalam antologi Secangkir Kontradiksi (2015), Orang-orang dalam Menggelar Upacara (2015), dan Tubuh Buyut (2018)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed