DetikHot

Cerita Pendek

Sakura di Depan Rumah Kita

Sabtu, 09 Feb 2019 10:57 WIB  ·   Fitri Manalu - detikHOT
Sakura di Depan Rumah Kita Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Pohon sakura itu tumbuh di depan rumah kita. Bunga-bunganya sedang bermekaran, terselip di antara ranting-ranting yang meranggas dan menyisakan sedikit dedaunan. Kuntum-kuntum merah muda pucat itu bergerombol. Indah bagaikan percikan yang menghiasi langit biru muda. Mentari yang bersinar garang tak mampu mengusik keindahan itu. Kau bilang, itu sakura terindah yang pernah kau lihat. Kau terus mengatakannya sambil menatap kagum pada bunga-bunga itu.

"Ini sakura terbaik yang pernah ada. Kau takkan pernah melihat sakura seindah ini di belahan bumi mana pun." Kau mengatakannya saat duduk bersamaku di teras kita yang berdinding hijau. Menurutmu, anggrek ungu yang sedang mekar di pagar kita tak mampu menandingi keindahan sakura itu.

"Aku lebih menyukai anggrek," kataku terus terang. Itu benar. Aku merawat semua tanaman anggrekku dengan penuh kasih sayang. Berbeda dengan sakura, keindahan anggrek bertahan lebih lama. Meski begitu, anggrek menghiasi pekarangan tanpa membuat jemu pemiliknya.

Kau berkilah, "Sakura bunga yang istimewa karena mengawali musim semi dan melambangkan harapan. Kau tidak bisa menyamakannya dengan anggrek."

"Aku tahu itu." Kau pasti sedang mengenang Himeko. Gadis berdarah Jepang yang sangat kau cintai di masa lalu. Gadis yang sangat menyukai sakura. Pertemuan kalian berlangsung tak sengaja di bawah pohon sakura saat hanami 1). Lesung pipit gadis itu membuat hatimu mekar seperti sakura. Himeko dalam balutan kimono merah muda tampak mungil, seperti boneka porselen. Sejak pertemuan pertama itu, hatimu menjadi milik gadis itu.

"Himeko pernah berkata bahwa kami akan selalu dipertemukan di bawah pohon sakura walau apa pun yang terjadi. Gadis itu...." kenangmu sambil tersenyum. "Dia selalu membuatku bahagia." Kau menuangkan teh hijau ke dalam cangkirmu, lalu menghirupnya perlahan sambil memandang sakura. "Memang nikmat, pantas saja Himeko sangat menyukainya."

"Kau benar," kataku setuju, lalu menghirup tehku. Akhir-akhir ini aku semakin menyukai teh hijau, baik aroma maupun rasanya. Karena itu, aku menemanimu dengan senang hati setiap kali kau memintanya. Hal ini telah menjadi kebiasaan kita.

"Kuungkapkan perasaanku padanya enam bulan setelah pertemuan pertama kami. Di bawah pohon sakura yang sama," katamu mengenang. "Himeko meminta waktu untuk memikirkannya." Kau terkekeh sejenak. "Berat badanku sampai turun berkilo-kilo gara-gara berpikir dia akan menolakku."

"Pasti kau sangat penasaran."

"Kau benar. Aku bahkan mengamati kesehariannya di kampus. Ia sedang di mana atau bersama siapa. Aku mencari tahu apa yang dia sukai agar bisa memberinya kejutan. Tidak mudah kulakukan, mengingat statusku sebagai mahasiswa yang hidup pas-pasan di negeri orang."

"Dia menerima cintamu?"

"Ya, masih di bawah pohon sakura yang sama. Tiga bulan kemudian."

"Kau berhasil."

Kau mengangguk senang. "Begitulah."

Kau lalu menceritakan hari-hari indahmu bersama Himeko. Gadis cantik itu membuat hari-harimu bermakna. Kecerdasan dan kecantikan Himeko membuat banyak lelaki terpikat. Kau beruntung.

Mahasiswi jurusan seni itu malah memilih dirimu. Himeko tak keberatan menikmati yakitori 2) di yatai 3) saat menyusuri jalanan di Osaka bersamamu. Padahal, seorang sopir mengantar dan menjemput gadis itu setiap harinya dan kalian harus mencari-cari alasan agar bisa lebih lama bersama.

Kau sungguh bahagia menjalani hari-hari indahmu bersama Himeko. Meski kadang-kadang, Himeko harus pulang buru-buru ketika ponselnya berbunyi. Kau semakin terpikat ketika gadis itu menunjukkan keahliannya memetik shamisen 4). Semuanya berjalan sempurna, hingga suatu hari serombongan lelaki membawa Himeko pergi saat kalian sedang bersama. Tak pernah ada yang memberitahumu bahwa sesungguhnya Himeko adalah putri seorang bos yakuza 5).

Kau bukanlah tandingan mereka. Himeko memberitahumu bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Naoto. Pemuda yakuza itu diharapkan mampu mewarisi kekuasaan ayah Himeko yang tak memiliki putra sebagai penerus. Kau terguncang. Kau harus fokus dengan studinya sesuai dengan harapan orangtuanya, tetapi kau juga tak ingin kehilangan Himeko yang kau cintai.

Suatu malam, Himeko mengajakmu bertemu di bawah pohon sakura yang bersejarah bagi kalian berdua. Kau tahu, gadis itu pasti berusaha keras mencari alasan agar bisa bertemu. Karena itu, meski hari sudah nyaris larut, kau bergegas ke sana. Kau tak ingin membuat gadis itu menunggu terlalu lama.

Himeko sedang berdiri di sana menunggumu. Tampak memesona di bawah bunga-bunga sakura yang bermekaran. Kau belum sempat menyentuh tangan gadis itu ketika serombongan lelaki datang dan kembali memisahkan kalian. Salah seorang dari mereka memperkenalkan dirinya sebagai Naoto, calon suami gadis yang kau cintai. Kau memberontak. Kau singkirkan ketakutanmu demi memperjuangkan cintamu pada Himeko.

Tentu saja Naoto dan kawan-kawannya tak membiarkan perlawananmu. Mereka berusaha membungkammu. Hingga, tiba-tiba moncong senjata terlihat dalam kegelapan. Kau berpikir, kau akan mati malam itu. Persis sebelum moncong itu meletus, Himeko tiba-tiba menghambur ke arahmu. Suara pekikan terdengar. Tubuh Himeko limbung lalu merosot ke tanah.

Kau belum menyadari apa pun hingga kau melihat darah tanganmu berubah merah. Kau berteriak marah lalu menerjang mereka yang telah melukai kekasihmu. Suara makian. Sebuah pukulan telak menghantam tengkukmu. Kau kehilangan kesadaran. Saat matamu terbuka, kau sudah terbaring di depan rumah induk semangmu. Tanganmu tak lagi merah. Kau mengira, semua yang kau lihat hanyalah mimpi buruk. Hingga kau melihat berita tentang tewasnya seorang gadis di bawah pohon sakura.

"Teh kita sudah habis. Tunggulah sebentar, aku akan membuatnya lagi," kataku sambil beranjak.

"Tidak usah, tinggallah di sini. Temani aku melihat sakura."

Aku kembali duduk di kursiku.

"Keindahan sakura ini membuatku betah. Kau juga kan?"

"Ya," anggukku.

"Katakan padaku, Kirani. Pernahkah kau mencintai seseorang seperti aku mencintai Himeko?"

"Menurutmu?"

"Kau perempuan dan sahabat yang baik. Seandainya saja aku belum bertemu dengan Himeko."

"Kau terlalu memujiku."

"Tidak. Sakura, kecantikan Himeko, dan kebaikan hatimu sama indahnya."

"Terima kasih."

"Ah, lama sekali Himeko tiba. Padahal aku ingin bertemu secepatnya."

"Mungkin dia tak bisa datang hari ini."

"Kau benar, mungkin dia ada halangan."

Kita duduk diam, memandangi bunga-bunga sakura yang bergoyang-goyang lemah karena semilir angin. Kau masih terlihat tampan seperti dulu, saat pertama kita bertemu. Putra petani sukses yang ingin meningkatkan pengetahuan di bidang sains dengan menuntut ilmu ke Negeri Sakura.

Pertemanan kita terjalin sejak kecil. Ketika kau memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke Osaka, kulambaikan tangan dengan hati berat. Sesungguhnya, aku berharap kita akan berjodoh. Hingga tahun-tahun berlalu begitu cepat. Kau kembali ke desa. Pertemuan yang terhenti saat kita remaja menemukan kembali alirannya.

"Mari, masuk! Udara mulai dingin." Jika aku tidak mengajakmu, aku cemas kau tak akan berhenti memandangi sakura.

"Sepertinya Himeko tidak akan datang hari ini." Kau kecewa. Kerutan-kerutan di dahimu tampak semakin dalam.

Kutuntun kau untuk bangkit. Kau tidak lagi segagah dulu. Meski begitu, sisa-sisa ketampananmu pada masa lalu masih tampak.

"Kita masih bisa menunggunya besok."

Saat memasuki ruang tamu, matamu terpaku pada pigura besar yang tergantung di dinding. "Foto apa itu? Mengapa kita berdua berfoto seperti itu?"

Rasa sesak mendorong masuk ke dalam dadaku. Kutepuk dadaku pelan. "Cuma foto bersama setelah lama tak bertemu. Kita masih sangat muda waktu itu. Ayo, kuantarkan ke kamarmu. Kau harus segera beristirahat."

Kau tampak lelah dan kebingungan. Aku membaringkanmu. Setelah melihatmu tertidur, aku keluar dan memandang pigura besar itu. Foto pernikahan kita puluhan tahun yang lalu. Jika kau begitu mencintai gadis yang sudah tiada itu, bukankah aku juga berhak mencintaimu?

Aku melangkah ke beranda. Hatiku kembali sepi. Bunga-bunga bungur yang indah seolah menari-nari melihat kedatanganku. Bunga-bunga itu bukanlah sakura.

TD, 12 Januari 2018

Keterangan:

1) Tradisi menyaksikan sakuran mekar di Jepang

2) Sate khas Jepang

3) Warung kakilima khas Jepang

4) Alat musik dawai yang memiliki tiga senar

5) Organisasi mafia Jepang. Kata "yakuza" bermakna kehilangan tangan

Fitri Manalu telah menerbitkan buku kumpulan cerpen berjudul Sebut Aku Iblis (2015) dan novel berjudul Minaudiere (2017). Bergiat di Komunitas Rumah Pena Inspirasi Sahabat dan tinggal di Medan

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com

(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed