detikHot

Cerita Pendek

Cara Membekukan Kenangan

Sabtu, 12 Jan 2019 10:58 WIB Eko Triono - detikHot
IIustrasi: Nadia Permatasari/detikcom IIustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Cara ini kuperoleh dari Anne. Sebulan lalu, untuk keperluan penelitian, aku pergi ke Amsterdam.

"O ya, mungkin kamu perlu tahu, aku sekarang makin cemas kalau lihat es batu begini lho," kata Anne, dalam bahasa Inggris tentu saja, sambil mengaduk kubik-kubik es kecil pada segelas cokelat yang dia pesan di kafe stasiun Amsterdam Centraal.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Kucecap kopi hitam yang tidak enak. Rasanya seperti bubuk bakaran kertas yang disiram air panas. Aku sedang berusaha menetralkan gejala perbedaan waktu. Badanku rasanya ngantuk sekali, meski ini siang musim gugur yang tampaknya cerah bersemangat.

Terlihat dari kaca orang ramai menunggu antrean kapal feri. Mau menyeberang ke pelabuhan sana. Kata Anne, mereka akan pergi ke IJ-Hallen. Sebelum berangkat, sudah kususun jadwal dua jam tiap hari Minggu buat ketemu Anne. Di hari lain, persoalan migrasi makanan, migrasi manusia, konflik dan peleburan identitas, atau apalah yang sejenis itu, demikian mengisap waktuku seperti lintah raksasa yang lapar.

"Sejak kamu melihat burung kingfisher membeku di kanal itu?" tanyaku menegaskan ingatan.

"Kalau itu masa kecil. Ini beda. Eh, terima kasih ya, kamu masih mengingat ceritaku."

"Jangan khawatir. Meski sebenarnya aku ini pengingat yang buruk. Hanya saja, kalau ingatan itu berkesan, rasanya seperti gambar prangko yang ditempelkan lekat-lekat ke otak. Kamu kecil bermain ice skating, lalu melihat burung biru pemburu udang atau ikan itu membeku di bawah kakimu, di dalam danau es. Burung yang sedang berusaha menangkap ikan. Ikan kecil yang sama-sama membeku. Seperti lukisan tentang berburu. Tapi, kamu merasa kasihan kemudian ketakutan, begitu kan?"

Anne malu-malu, "Bahkan sampai umur dua lima begini, setiap kali tidur dan mimpi, di dalam mimpiku ada saja burung dan ikan."

Di sisi dalam, dari kaca kafe terlihat toko Albert Heijn dengan etalase dan orang yang sibuk membeli. Di depannya, jalur keluar masuk. Orang-orang lalu-lalang membawa sisa mimpi malam mereka sendiri. Mungkin ada yang samar. Ada yang masih begitu jelas. Meski rombongan itu membawa koper, beramai-ramai dari India atau China ke Belanda, mungkin tetap saja sisa mimpi itu terbawa. Mimpinya bisa jadi dalam bahasa asalnya, tentang orang-orang asalnya, tentang makanan, burung, dan ikan-ikan di negeri asalnya.

"Omong-omong, kamu pernah memimpikanku?"

"Pernah dong," jawab Anne cepat.

"Dengan ikan dan burung-burung?"

"Ha ha...ya, dengan ikan dan burung-burung," Anne tertawa, "Burung-burung yang besar dan menyenangkan."

Aku ikut tertawa. Pengunjung lain melihat sebentar, kemudian tidak peduli.

"Lalu," tanyaku, "Apa yang membuatmu cemas kalau bukan kingfisher?"

Dia terdiam. Menunduk memainkan gelas berisi coklat dengan kubik-kubik es batu seukuran dadu.

Rambutnya yang pirang terurai melampaui bahu. Dia memakai sweater abu-abu. Aku baru menyadari bahwa wajahnya terlihat cepat sekali menua. Cahaya matanya agak meredup. Terakhir kali bertemu setahun tahun lalu. Ketika itu, dia datang ke Indonesia untuk melakukan penelitian tentang sosiologi jalan raya selama satu tahun. Karena fokus penelitiannya di Jogja, maka sebagian besar waktunya juga dihabiskan di sana. Dia menghubungiku setelah membaca artikelku di jurnal mengenai migrasi pecel lele dan sate madura serta psikologi pembeli dan penjualnya.

"Kupikir kamu juga perlu meneliti soal sanitasi dan regulasi kaki lima itu," katanya, dalam bahasa Inggris, selama kami diskusi di kantin kampus.

"Mungkin di kesempatan lain. Waktu itu yang menarik bagiku, ya soal identitas dan kuliner itu. Mereka di Jogja, tapi yang dijual, atau dibeli makanan daerah asalnya. Dan, itu banyak. Juga bukan hanya di Jogja kukira. Jakarta, Bandung, Surabaya. Jadi aku bertanya-tanya, ada apa sebenarnya. Apakah ketika seseorang bepergian, lidahnya tetap terikat tanah kelahiran? Tapi, kalau soal hati dan jatuh cinta kok malah sebaliknya ya?"

Dia tertawa. Ternyata paham juga maksudnya. Aku ikut tertawa. Pengunjung kantin kampus memperhatikan, kemudian saling berbisik.

Sejak saat itu, sekitar empat bulan, aku berubah jadi tersangka. Harus siap ketika dia mencecar. Meski bukan kesalahanku, tapi seolah-olah aku ini adalah wakil dari kesalahan-kesalahan itu. Ketika melihat orang buang sampah dari kaca mobil ke jalan, dia bertanya padaku, apa tidak ada pelajaran kalau jalan raya itu bukan tempat sampah. Juga waktu lihat sampah di pinggir sungai. Kalau naik kereta dan orang tidak antri menunggu yang turun lebih dahulu, dia juga bertanya dengan menyudutkan bangsaku.

"Padahal, kalau sudah naik, ya santai sekali. Tidak ada kesibukan berarti atau sekadar baca buku. Kalau mau naik kok berebutan begitu. Di jalan juga, tergesa-gesa, bahkan lampu belum hijau udah jalan. Trotoar buat jalan kaki diserobot segala. Awalnya kupikir sibuk sekali ini orang-orang, eh, tahunya sudah sampai tempat ya santai main media sosial," katanya semakin panjang.

Di hari-hari pertama, aku maklum karena dia sedang meneliti soal jalan. Termasuk maklum saat dia merasa aneh pada polisi. Kalau ada rombongan pawai tidak pakai helm, motor knalpot bodong bising, kok tidak berani menangkap mereka. Lama-lama, aku capek juga meladeni tudingan macam demikian. Kubawa dia ke desa di pinggiran Godean, Sleman dengan padi-padi dan ikan-ikan yang berenang-renang bebas di antara pepadian. Udara sejuk. Orang-orang yang ramah dan panjang umur.

"Wah, ini seperti surga ya," katanya.

"Ya, tidak jauh dari jalan neraka kan?" kataku ketawa.

Pada saat itu, di dangau melihat ikan-ikan berenang di antara genangan air sawah berkonsep minapadi, dia cerita soal masa kecilnya dan ikan kingfisher yang membeku. Dia sedang bermain bersama paman dan bibinya yang tinggal di Amsterdam. Sementara, dia dan keluarga tinggal di Leiden. Dengan kereta intercity, mereka menuju tempat paman. Ketika asik meluncur di atas kanal yang membeku karena musim dingin melampaui biasanya, ia melihat kingfisher membeku dalam es, di bawah sana, di bawah kakinya.

"Kamu ingat Mark?" tanyanya balik setelah lamunan agak panjang. Kopi rasa serbuk kertas sudah dingin.

Aku mengangguk, bosan --membosankan kalau soal Mark tukang neliti bakteri keju itu.

Dia mengalihkan pandangan ke arah pelabuhan yang kini tak berfungsi lagi.

"Dia juga membeku," katanya pelan.

Mengejutkan, kopi rasa serbuk bakaran kertas jadi menggairahkan. Aku mencecapnya. Enak sekali. Jiwaku bergembira. Melompat-lompat seperti anak beruang ketemu ibu beruang yang membawa makanan beruang. Aku menafsirkan maksud beku itu sebagai berhentinya hubungan mereka berdua, dan itu artinya ada kesempatan bagiku. Aku ingin bertanya, tapi belum ketemu kalimat yang tepat.

Tapi, kuberanikan juga, "Mmm, itu artinya?"

Anne menoleh sebentar, kemudian berpaling, "Artinya, dia dipukuli pakai palu es, setelah gas dan larutan pencair tidak bisa bekerja cepat."

Aku belum bisa mengerti kalau perlambangnya yang sejauh itu, batinku.

"Dia seperti kingfisher. Sial betul mimpi itu. Masa kecil itu. Lebih sial aku," Anne ingin meremas gelas cokelat dengan es kubik. "Bagaimana bisa otakku yang logis percaya pada hubungan mimpi ikan dan burung dengan lelaki yang kucintai. Dia memakai jaket musim dingin. Berpose seperti pemburu hewan air. Yang ia buru botol wiski. Mengambang persis seperti ikan kecil di hadapan kingfisher. Jarak ujung tangan kanannya pada botol, hampir sama dengan jarak paruh burung itu dengan mangsanya yang sama-sama membeku. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya di jembatan kanal itu. Padahal, muncul peringatan badai salju. Tolol sekali dia."

"Aku minta maaf," kataku tulus. "Aku turut berduka cita. Aku baru mengetahuinya."

"Tak masalah. Lagi pula, memang aku baru cerita kan? Aku juga bukan tipe orang yang mudah cerita apa saja di akun media sosial."

"Ya, aku tahu, aku menghargai setiap privasi."

"O ya, aneh juga kalau sekarang aku punya pemikiran sedewasa ini. Pas kejadian, rasanya gejolak remajaku dikuras habis. Aku nangis seminggu lho. Setelah itu, waktu bangun dari mimpi, aku tukang mimpi ya, menyedihkan. Di mimpi itu, aku menangkap ikan-ikan lalu kubagikan di mana, kamu tahu? Di kaki lima pecel lele di negaramu! Aneh kan? Burung-burung itu kulepas di jalanan macet di sana. Mimpi yang lucu ya. Sampai-sampai aku berpikir, yang hidup barangkali lebih penting untuk dipikirkan daripada yang mati. Terutama yang hidup dalam penindasan, kemiskinan, atau ketidakadilan."

"Wah, kamu bijaksana sekali. Bahkan dalam mimpi," aku tetap tidak ingin kehilangan kesempatan. "Tapi, Mark kan tidak percaya Tuhan, surga, dan neraka. Dia bilang itu imajinasi kolektif, hasil revolusi kognitif sapiens. Kalau begitu, menurutmu, ada di mana entitasnya sekarang?"

"Dia membeku, di sini," kata Anne mengarahkan tangan kanan ke dadanya.

"Duh, hanya untuk Mark ya?"

"Aku paham maksudmu," kata Anne simpatik. "Tapi, aku sudah pernah bilang. Perasaanku ke kamu seperti ke negaramu, aku menyukai, tapi bukan mencintai. Tidak apa-apa kan?"

Eko Triono menulis cerita dan esai. Peserta residensi penulis di Belanda (2018)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA: Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed