DetikHot

Cerita Pendek

Sampai Senja Tak Ada Lagi

Sabtu, 29 Des 2018 09:56 WIB  ·   D. Hardi - detikHOT
Sampai Senja Tak Ada Lagi Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom
Jakarta - Selalu ada yang tersembunyi di balik senja. Entah karena kata senja itu sendiri terdengar puitis, atau semesta memang terasa begitu mistis saat itu, yang meski sesaat, mampu membuat beberapa orang mencandu.

Mungkin tak melulu bercerita tentang romansa. Bisa saja, di suatu senja yang lain ada peristiwa getir yang pernah terjadi.

Kau mengamati sekeliling taman dengan seksama. Langit sehabis gerimis sisakan rinai mengudara. Sebelumnya, tanah di atas kursi besi yang kau duduki sekarang itu adalah sebuah lahan kumuh yang tak terawat. Kini, bunga-bunga baru bermekaran. Beberapa dandelion tumbuh liar di sekitarnya.

"Bagaimana jika hidup itu memang sekadar permainan?" tanya perempuan itu seolah meyakinkan dirinya sendiri. Sebuah pertanyaan retoris tak memerlukan jawaban yang pasti memang. Terkadang sebuah pertanyaan itu sendiri adalah jawabannya.

"Bagaimana jika kesedihan itu hanyalah permainan hormon semata? Senja membisikkan sesuatu ke amygdala di kepalamu yang lantas mengirimkan sinyal ke hypothalamus untuk melepas kortisol. Segala sesuatu ada penjelasan dan alasannya kecuali perasaanmu. Ya, perasaanmu. Aku rasa perasaanmu bukanlah sejenis permainan petak umpet."

Kalian saling membenamkan rasa di benak masing-masing, tak memiliki gagasan lain untuk bagaimana seharusnya mengisi waktu terbaik sebelum hari mulai gelap.

Biasanya kalian akan duduk beralaskan rumput hijau, menyesap senja ditemani kopi dan sedikit kudapan. Pancaran emas kemerahan dan siluet ranting yang jatuh membayanginya serupa diorama tepian danau Fendrod, lengkap dengan sambutan angsa-angsa liar yang terkadang jahil. Kau pernah terbirit diserbu beberapa angsa itu saat berlagak memberi makan.

"Mungkin angsa-angsa itu hanya ingin bermain, atau sekadar berkenalan dengan lelaki imigran dari Timur Jauh," perempuan itu tergelak, sewaktu kau pertama kali menginjakkan kaki di Swansea.

"Tradisi ramah-tamah yang aneh," timpalmu.

"Berbaik-baiklah dengan mereka kalau ingin selamat."

"Dasar pendukung Brexit!" Perempuan itu tersenyum. Kau tahu ia tak benar-benar menelan ucapanmu yang memang hanya lelucon, barusan.

Kau telah mengenalnya beberapa minggu lebih awal. Sebuah surel dari sejawat menuntunmu datang ke kota ini untuk assessment sebagai kurator di sebuah museum. Untuk turis, kau sedikit kesusahan. Beberapa orang yang kau temui tak berbicara bahasa Inggris. Mengejutkan.

"Mereka lebih mencintai bahasa ibunya, Wales," ucap perempuan itu ramah.

Kalian berkenalan. Percakapan mengalir begitu saja. Kau terkesan dengan gaya bicara dan pemikirannya yang terbuka. Mimiknya antusias setiap kali mendengar hal baru. Asalmu. Profesimu. Sesekali ia tertawa lepas saat kau melemparkan lelucon basi. Giginya sempurna. Mata bulatnya jernih. Lesung pipitnya memikat dengan rambut dibiarkan panjang terurai yang sering ia kibaskan. Pertemuan yang mengesankan. Sejak itu kalian acap memuntal janji. Perempuan itu akan menemuimu di stasiun kereta tua. Dari sana kalian memutuskan untuk berjalan kaki. Menikmati suasana. Bercerita apa saja.

Langit begitu cerah siang itu. Ia memperkenalkanmu pada arsitektur kota beserta sejarahnya. Setelah dari National Waterfront, Swansea Museum, kalian meneruskannya ke Mission Galery. Rautmu terlihat sumringah dengan berbagai seni kontemporer, fotografi, lukisan, instalasi kreatif yang ada di sana.

"Dulunya bangunan ini gereja untuk para pelaut," ujar perempuan itu. Kau terkesima-pada perempuan itu, saat ia tak sedang bicara menatapmu. Untuk mengulur waktu kau menanyakan Dylan Thomas Centre yang ternyata tak begitu jauh jaraknya. Tampak sekali ia tak sekadar lahir, tinggal, tetapi terasa begitu intim dengan kota ini.

"Sajak-sajaknya kuat. Rintihan, kelemahan, sekaligus hidup, gelora penuh perlawanan, meski pada akhirnya harus berserah," ujarnya menatap gambar sang penyair kenamaan di satu sudut dinding.

"Kau harus membaca Mistral. Yesenin. Atau Chairil Anwar."

"Bagaimana kalau sajakmu saja?"

"Haha. Aku bukan penyair. Kau akan terpingkal jika memaksa."

"Aku terbiasa dengan lelucon."

"Kalau begitu kau akan menangis"

"Itu keahlianku."

Kalian memisahkan diri sejenak di bangunan lama yang tegak sejak 1825 itu. Memperhatikan tiap artefak. Tulisan-tulisan itu tak melapuk terlupakan. Beberapa syairnya bahkan pernah kau dengar di sebuah film. Setengah jam pupus. Matamu melirik, tertangkap basah olehnya. Kau lemparkan pandang ke jendela. Di luar matahari menurun. Sepertinya kalian mulai kelaparan. Gegas mencari tempat duduk lalu memesan sesuatu di kafe sekitar Maritime Quarter. Setelah cukup mengisi perut, kalian melanjutkan perjalanan menuju Wellington Street untuk naik bus. Di sepanjang jalan ia bersenandung dengan langkah seperti menari. Menghayati Suede.

Just trash me and you. It's in everything we do...

Ya, serasa berdua saja di trotoar dan sisi boulevard itu. Sang aktris panggung tak sedang berpentas. Ia merona, laiknya dafodil yang bermekaran.

Melewati Stadion Liberty, ia mengajakmu menonton kesebelasan Swansea FC bertanding kapan-kapan.

"Aku bukanlah tipe pria yang terobsesi memperebutkan satu hal." Kau tak merasa yakin.

"Hmm. Bukan penyair, tidak sepakbola. Apa yang bisa menarik perhatianmu selain museum, Tuan Muda?" Ia bergaya menyelisik.

Kau berpikir matanya. Bibir. Tidak. Semua lekuk di oval wajahnya sempurna.

"Laut."

"Penyelam?"

"Pencari ombak. Kau pernah surfing?"

Ia menggeleng, "Tapi aku tahu pantai yang bagus di sini. Kita masih bisa mengejar sunset."

Apakah ini kencan?

***

Dari pusat kota, agak jauh jarak harus ditempuh sampai ke tempat ini. Kira-kira sejam perjalanan. Namun itu bukanlah aral bagi para pecandu senja: sepadan untuk sebuah nostalgia. Rhossili. Tiada batas sejauh mata memandang. Suasana tidak terlalu ramai. Bukan akhir pekan. Hanya terlihat lelaki tua yang duduk sendirian di bangku, wanita yang berjalan dengan seekor anjingnya, sepasang muda-mudi bercengkrama, dan beberapa orang memejam, terlentang di atas pasir.

Kau berdiri di atas tebing. Bunyi deburan ombak dan kicau burung sesekali melintas. Bau laut menyelusup, ditingkahi angin yang sebentar datang sebentar diam. Bau yang kau ingat lekat dalam benak. Hamparan pantainya membentang, dikelilingi bukit-bukit tinggi yang arahnya menghadap ke utara Atlantik. Laiknya persembahan alam di sebuah Colosseum raksasa, kau tercenung.

Kilau emas kemerahan leleh berselaputkan halimun. Telah lewat setahun sejak pertama kali kau ajak lelakimu ke tempat ini.

"Apa yang sesungguhnya kau temukan dari ombak?" mengenyah jeda, kau terpikirkan sesuatu.

"Pembebasan."

Kau ingat ia pernah bercerita. Tentang masa kecil. Tentang ayahnya, yang lenyap tertelan ombak saat hendak menyelamatkan seseorang sewaktu berenang terlalu jauh dari bibir pantai. Usianya masih belasan. Ia menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Tubuh sang ayah raib. Maut terasa begitu nyata menyambangi siapapun termasuk orang paling dicintai.

Pandangmu menanar. Senja melemparkan perangkapnya.

"Aku baru mengerti mengapa orang sering merayakan sesuatu. Merayakan hari kelahiran, kapan sepasang kekasih jadian, saat pertama kali kau diterima bekerja, hari kemerdekaan, kematian."

"Karena ingatan kita terbatas? Manusia sering lupa."

"Lupa dengan janji terhadap seseorang yang mengharapkanmu datang menonton pertunjukan perdananya demi sebuah obsesi?"

"Setidaknya bukan memperebutkan bola. Aku ingin mengenal tanah leluhurku."

"Mengapa tidak di hari yang lain saja?"

Lelakimu membisu. Ia tak memiliki alasan rasional, mengungkap hasrat seumur hidup yang belum pernah sekalipun terwujud terkecuali saat itu. Semacam takdir.

"Kenapa harus Talise? Kenapa harus berkeliling dunia hanya untuk menundukkan sebuah ombak. Kau mendendam pada masa lalu?"

"Hidup terlalu singkat untuk amarah."

Suasana hening. Cukup lama.

"Jadi, bagaimana pertunjukannya?" lelakimu berbasa-basi.

Kau menyeka sesuatu dari kelopak, "Bagus. Lancar. Semua yang hadir berdiri saat kami membungkukkan badan memberikan salam hormat. Malam itu kursi penonton penuh. Aku masih merasakannya. Semua bertepuk tangan. Cukup lama. Serasa di Broadway. Dalam gemuruh itu, aku masih mengharapkan kehadiranmu. Berdiri di antara mereka, berteriak, kau hebat gadisku! Tapi tentu saja semua itu hanyalah angan belaka."

"Mungkin kau sedang berada di sana. Ribuan kilometer jaraknya. Di negeri jauh yang tak terbayangkan. Perasaanku hampa. Tak lama berselang, kabar itu muncul di TV. Tsunami menggulung apapun di pantai impian yang pernah kau sebut. Ribuan orang meninggal dunia. Semua bangunan hampir rata dengan tanah. Menyesakkan. Aku berusaha mencari informasi tentang keberadaanmu. Sia-sia. Patah arang rasanya," lanjutmu.

Di langit, warna keemasan itu berubah semakin tua.

"Tapi aku di sini sekarang."

Ia menatapmu dalam-dalam. Seperti kebiasaan yang ia lakukan diam-diam.

"Sampai kapan?"

"Sampai senja tak ada lagi. Sampai kapan pun kau menginginkanku."

Kembali kau menyeka sesuatu yang mengalir dari mata.

"Kalau kangen, kau bisa mencariku di museum. Taman. Atau di stasiun kereta. Di Danau Fendrod, saat angsa-angsa itu pulang ke sarangnya. Di trotoar. Di sini. Di pelosok kota mana saja sewaktu senja meraja. Menyanyikan Trash. Kala menyesap kopi. Atau menunggu waktu bus datang di Wellington. Berkeliling kota tanpa tujuan pasti. Seperti masa lalu."

"Aku tak benar-benar menghilang, Sayang...."

Kau tersenyum. Masih tertegun di atas bukit pantai, mereka-reka percakapan yang mungkin terjadi.

Orang-orang sudah tak terlihat. Diorama kenangan berakhir. Dan sepertinya esok akan kembali, menceritakan kisah-kisah yang serupa di balik temaram senja.

(Bojongsoang, Oktober 2018)

D. Hardi menulis cerpen, puisi, dan resensi. Menetap di Bandung

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed