DetikHot

art

Komunitas Polelea Sigi Bawakan Song'i di Panggung Pekan Teater Nasional

Rabu, 10 Okt 2018 12:30 WIB  ·   Tia Agnes - detikHOT
Komunitas Polelea Sigi Bawakan Songi di Panggung Pekan Teater Nasional Komunitas Polelea Sigi Bawakan Song'i di Panggung Pekan Teater Nasional Foto: Gigih Ibnur/Dewan Kesenian Jakarta/Instagram
Jakarta - Tiga buah dus berukuran sebesar kulkas berada di panggung Graha Bhakti Budaya (GBB), kompleks TIM. Alunan syair berbahasa Kaili dinyanyikan oleh dua musisi secara bergantian di sisi panggung yang membuat dus berisi manusia itu berontak keluar.

Berbalut plastik, ketiga manusia mencoba keluar dari peraduan. 'Dus' diibaratkan sebagai alam rahim, dan ketiganya berproses dari merangkak sampai bisa berjalan.

Di adegan berikutnya, empat pemain berada di dalam kotak yang terbuat dari bambu. Sesekali mereka mencoba mengucap 'sssttt' pada hadirin agar tak berbisik. Lalu melanjutkan aktivitas dengan bergerak tak karuan. Sesekali alunan syair berbahasa Kaili kembali dilontarkan.



Itulah potongan dari pertunjukan berjudul 'Song'i' yang dimainkan oleh Komunitas Polelea, Sigi, Sulawesi Tengah. Mereka turut berpartisipasi di ajang Pekan Teater Nasional 2018 bersama 15 grup teater lainnya dari 15 kota.

Pertunjukan 'Song'i' yang diambil dari bahasa Kaili berarti sebuah bilik kecil tempat kita merenung mengenai kehidupan. "Antara kehidupan kita menuju kehidupan abadi di negeri akhirat," tutur sutradara Teater Polelea Ais Manggala saat diwawancarai usai pementasan di GBB, semalam.

Komunitas Polelea Sigi Bawakan Song'i di Panggung Pekan Teater NasionalKomunitas Polelea Sigi Bawakan Song'i di Panggung Pekan Teater Nasional Foto: Gigih Ibnur/Dewan Kesenian Jakarta/Instagram


Ia menjelaskan selama 7 latihan, pementasannya terinspirasi dari semangat ritual yang ada di kampung halamannya. Ada dua ritual yang digunakan tim teater Polelea, yakni 'nokeso' saat pembukaan dan 'song'i' di bagian pertengahan sampai akhir.



"Di warga suku Kaila, song'i ini masih dipakai kalau dia ada salah kelakuannya yang brutal, nakal, ya harus dibuatin ritual ini. Ritual ini biasanya pada anak-anak menjelang remaja, song'i ini untuk perenungan agar menjaga mulut, penglihatan, mulut, dan pendengaran," katanya.

Di akhir pertunjukan, seorang aktor mengambil pasir yang ada dalam anyaman bambu. Pasir dan tanah itu ia hempaskan ke tubuhnya sampai menghujani. Material tersebut bisa dianggap sebagai 'penanda' bagi peristiwa gempa dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu.

Namun Ais tidak memikirkan hal sejauh itu. "Kalau mau dipikirkan sampai sejauh itu ya tidak apa-apa. Toh multitafsir juga. Sejak awal kami sudah berpikir ending-nya memang seperti itu," pungkasnya.

Selain Komunitas Polelea Sigi, masih ada belasan kelompok teater lainnya yang bakal pentas sampai 14 Oktober mendatang di Kompleks TIM. Saat penutupan nanti, ada pertunjukan dari Kala Teater asal Makassar yang bakal mementaskan karyanya.


(tia/doc)

Photo Gallery
1 1 2 3 4
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed