DetikHot

art

Sepasang Pohon Sawo di Halaman Langgar

Sabtu, 22 Sep 2018 11:20 WIB  ·   Majenis Panggar Besi - detikHOT
Sepasang Pohon Sawo di Halaman Langgar Ilustrasi: Anggi Dimas Ramadhan
Jakarta - --untuk almarhum Ayah

Terimalah cintanya, demi cintamu padaku. Tapi, bila kau tak mencintaiku, maka terimalah cintanya demi cintaku padamu. Karena, cintaku adalah kepastian yang tak perlu engkau ragukan.

***

Entah siapa dan dari mana berita itu bermula sebenarnya belum jelas. Tapi, tak butuh waktu lama berita itu langsung menjadi topik hangat perbincangan kerumunan para ibu di gerobak tukang sayur, bapak-bapak pelanggan warung kopi, bahkan menjadi bahan perbisikan di antara pasangan-pasangan di dalam kamar tidur sebelum mereka terlelap. Mungkin benar bahwa gosip itu bermula dari beberapa anak muda tanggung yang punya hubungan dekat dengan keluarga ndalem. Gus Muslih mandul.

Berita itu sendiri sebenarnya bukan tak berdasar, sebab pernikahan Gus Muslih dan Mbak Nisa sudah berjalan lima tahun lamanya. Dan, sampai sekarang belum ada tanda-tanda kehamilan yang menyambangi Mbak Nisa. Pernah suatu kali Mbak Nisa hoek-hoek di samping pondok putri, tapi tak ada kelanjutannya. Sore itu Mbak Nisa sedang mengajar qiraah di kelas pondok putri, mengenalkan kepada para santriwati nada-nada bayati, sika, dan hijazi. Lalu, tanpa ada angin atau hujan Mbak Nisa tiba-tiba membekap mulutnya sendiri dan berlari ke samping pondokan.

Belakangan diketahui bahwa mual Mbak Nisa kala itu hanyalah karena mabuk kopi. Dalam sehari itu, sebelum mengajar Mbak Nisa dikabarkan telah menandaskan tiga gelas kopi tubruk dengan alasan untuk mengusir kantuk. Sebab, semalam Mbak Nisa begadang menemani Gus Muslih menonton pertunjukan wayang. Wajarlah Mbak Nisa mual, asam lambungnya pasti melonjak drastis berkat kopi. Dan, penonton pun kecewa.

Sampai berbulan-bulan kemudian warga ndalem nyaris tak pernah diserang harap-harap cemas seperti kejadian keracunan kopi tadi, kecuali sesekali saat ada teman Gus Muslih atau Mbak Nisa yang sambang ke pondok dengan membawa pasangan dan menggendong buah hati mereka.

"Ih lucunya, dedek siapa namanya?" celetuk Mbak Nisa sambil mencubit anak Mbak Maisyaroh, temannya semasa kuliah dulu.

"Mau? Bikin sendiri. Hihihi," sambar Mbak Maisyaroh dengan nada menggoda.

Mereka berdua tertawa bersama, termasuk si balita. Bercanda. Dan, mereka berdua langsung melupakan kekonyolan itu. Tapi, tidak demikian dengan warga ndalem, mereka menjadikan 'Mau? Bikin sendiri' menjadi semacam kata mutiara. Berbulan lamanya kalimat tanya sederhana yang dimaksudkan Mbak Maisyaroh itu sebagai sekadar guyonan, berbalik menjadi kata setajam pisau yang merobek hati Gus Muslih dan Mbak Nisa. Bagaimana tidak, setiap kali Mbak Nisa tertangkap basah memandang lama kepada seorang bocah, maka meluncurlah kalimat itu kepadanya. Memerah tentu saja pipi Mbak Nisa. Bahkan belakangan penggunaan kalimat itu menjadi semakin absurd saja rasanya.

Mengenai kehamilan yang belum juga menyambanginya, Mbak Nisa bukannya tanpa usaha. Semua anjuran dokter kandungan yang rutin dikunjunginya selalu ia lakukan, termasuk mengurangi aktivitas fisik. Sudah sekitar satu tahun belakangan ini Mbak Nisa berhenti mengajar di pondok putri, dan hanya anteng di rumah. Mbak Nisa juga rutin minum jamu penyubur kandungan dan makan toge, yang konon bagus untuk kandungan. Tapi, memang mungkin belum waktunya saja.

Gus Muslih adalah putra tunggal Kiai Hamid. Kiai Hamid sendiri telah kapundut, tahun ini adalah haulnya yang ketiga. Nyai Hamid juga sudah mulai menurun kesehatannya. Pernah juga secara empat mata, Nyai Hamid mengusulkan poligami kepada putra semata wayangnya itu. Namun, ditolak dengan halus tapi tegas oleh putranya, dengan alasan tidak mau menyakiti istrinya lebih jauh lagi.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat menikah dulu, mereka berdua tidak saling mencintai. Kondisi dana kas pondok sedang goyah kala itu. Beberapa kali ladang padi punya Kiai gagal panen disebabkan tikus. Sementara, santri-santri yang kebanyakan dari keluarga kurang berada tidak mungkin dibiarkan kelaparan.

Adalah Kang Dirman, pengusaha mebel sukses dari desa sebelah, sudah lama ngidam punya menantu keturunan Kiai. Nisa--putri tunggalnya--kebetulan santriwati tingkat akhir di Pondok Darus Sa'adah asuhan Kiai Hamid. Lalu, semuanya terjadi begitu saja. Undangan disebar. Terop didirikan. Lalu, ucapan "sah!" yang disambut hamdalah oleh para hadirin yang berjejal di langgar komplek Pesantren Darus Sa'adah pagi itu. Semua itu sudah berlalu lima tahun lamanya.

Setelah mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu senthir yang temaram cahayanya, Gus Muslih menyusul Mbak Nisa yang telah menunggu di pembaringan.

"Kang ..."

"Ya?"

"Bener nggak sih, kata Mbak Minten aku harus minta diinjak jempol kaki aku sama perempuan hamil supaya aku ketularan hamil?"

"Ah, takhayul itu. Kamu kayak nggak pernah belajar ngaji aja."

"Tapi, kan nggak ada salahnya juga dicoba, Kang. Namanya usaha. Ikhtiar. Panas telinga aku dijadikan bahan bebisikan terus. Mbah Girah, tukang pecel keliling itu juga pernah cerita padaku. Katanya dulu anaknya juga susah hamil, lalu menantunya pergi nyekar ke sebuah goa di lereng Gunung Lawu dengan membawa seekor ayam jantan. Tak sampai berganti bulan, alhamdulillah anak Mbah Girah udah mbobot."

"Astaghfirullah. Istighfar, Nduk. Nyebut."

"Kang Mus nggak tahu sih gimana rasanya dijadiin gunjingan. Bahkan sama murid sendiri." Mbak Nisa membuang muka sambil terisak, air matanya tumpah.

"Aku punya cerita, begini: Ada dua orang berjalan melewati satu kaum di mana mereka memiliki berhala yang tak seorang pun dibiarkan berlalu sebelum mempersembahkan sesuatu bagi berhala tersebut. Dan, berkatalah mereka kepada salah seorang dari kedua orang tersebut, 'Persembahkanlah bagi berhala itu walaupun dengan seekor lalat!' Maka, orang pertama ini mempersembahkan seekor lalat sehingga diperkenankan meneruskan perjalanannya, dan masuklah ia ke dalam neraka. Kemudian mereka berkata kepada orang kedua, 'Persembahkanlah sesuatu!' Maka orang kedua ini menjawab, 'Tidak patut aku mempersembahkan sesuatu kecuali kepada Allah saja.' Maka mereka memenggal lehernya, dan masuklah ia ke dalam surga."

Mbak Nisa masih terisak saat Gus Muslih mengakhiri ceritanya. Lalu, Gus Muslih melanjutkan dengan nada yang lembut, "Tidur, Nduk. Udah malem."

Gosip mandulnya Gus Muslih sampai juga ke telinga Hayati. Setelah menuntaskan kegiatan menjemur pakaian, ia bergegas menuju dapur. Rumah sepi. Dengan tanpa perasaan, Hayati memasukkan dua sendok kopi ke dalam cangkirnya. Menyeduhnya begitu saja tanpa menambahkan gula. Cahaya matahari pagi membanjiri ruangan melalui jendela-jendela yang sengaja dibuka lebar. Tangan kiri memegang gagang cangkir, tangan kanan mengaduk kopi. Hayati menarik napas panjang, tangan kanannya kini tergeletak lemas di meja. Bayangan cangkir kopi jatuh di telapak tangannya yang kuning langsat. Kalau bukan karena desakannya, mungkin Gus Muslih tak akan menikah dengan Nisa.

Hayati punya ikatan emosional tersendiri dengan Pesantren Darus Sa'adah. Atau, sebagaimana orang-orang kadang menyebutnya sebagai Pondok Selawe atau kadang Pondok Telu. Kakek Hayati, Mbah Lutfi, adalah satu dari dua puluh lima santri awal Kiai Hanafi. Satu dari dua puluh lima santri yang ikut mbabat alas bersama Kiai Hanafi untuk mendirikan Pesantren Darus Sa'adah. Pernah suatu malam sepulang Tarawih, Hayati kecil tidur-tiduran di samping Mbah Lutfi yang asik merokok klobot. Sering--meski tanpa diminta--Mbah Lutfi bercerita tentang masa awal berdirinya pesantren kebanggaannya itu.

***

Di halaman langgar hujan jatuh perlahan, seperti memang diperlambat oleh tangan-tangan tak kelihatan. Di sana, tumbuh dua pohon sawo yang ditanam oleh Kiai Hanafi sendiri. Ada dua puluh lima santri yang setia menyertai perjuangan Kiai Hanafi, Mbah Lutfi salah satunya. Selain bangunan utama pondok berupa langgar sederhana yang di halamannya tumbuh dua pohon sawo, ada dua pondokan sederhana di kanan-kiri langgar. Dari sanalah kemudian pesantren Kiai Hanafi sering juga disebut sebagai Pondok Selawe atau kadang Pondok Telu. Selawe, berdasar pada jumlah santri di pondok, dua puluh lima dalam bahasa jawa. Telu, tiga dalam bahasa jawa yang mengacu dari tiga bangunan awal pondokan.

Pagi itu Kiai Hanafi kapundut. Orang baik itu telah tiada. Suara pelayat yang sedang mengaji berdengung dari arah langgar yang tak seberapa luasnya itu. Mbah Lutfi duduk di beranda pondokan menikmati hujan. Menikmati kesedihan.

Lalu, ingatan itu membanjiri kepalanya. Hari itu Lebaran kedua, cuaca cerah. Dijadwalkan hari ini Pangeran Diponegoro dan pasukannya akan singgah sebentar ke pondok Mbah Lutfi di Brangkal sebelum pergi ke rumah Residen Kedu di Magelang dan mengadakan perundingan dengan de Kock. Mbah Lutfi muda turut mengantar rombongan pasukan Pangeran sampai ke muara, karena Pangeran memiliki kepercayaan untuk tidak menyeberangi Sungai Bogowonto. Pangeran menyeberang di dekat muara, baru dari sana rombongan menyusuri tepi kanan Sungai Progo sampai di seberang kediaman Residen.

Perundingan gagal. Pangeran ditangkap lalu diasingkan. Bagi Belanda, mungkin itu adalah akhir perang besar yang telah menghabiskan lebih dari separuh penduduk Yogyakarta pada masa itu. Tapi, bagi para pengikut Pangeran justru ini adalah awal dari peperangan yang sesungguhnya. Rapat darurat di Brangkal yang diadakan sisa pasukan Pangeran memutuskan mengubah arah perjuangan, dari perang bersenjata menjadi perang mencerdaskan masyarakat di bidang pendidikan. Para Kiai yang menjadi perwira tinggi dalam kesatuan tempur menyebar diri lalu mendirikan sebuah masjid maupun merintis pendirian pondok pesantren untuk mengajar ngaji para penduduk kampung. Sebagian besar menyebar dari wilayah Kedu, Yogyakarta, dan Magelang, dan juga wilayah timur Pulau Jawa. Mereka berkomitmen dengan penanda di lokasi masing-masing sebagai wujud persatuan dan satu tekad melawan Belanda. Penanda itu adalah adanya dua pohon sawo di depan tempat tinggal masing-masing. Pohon sawo ini mengandung filosofi sawwu shufufakum yang artinya 'rapatkan barisanmu'.

***

Hayati ingat, di bawah salah satu pohon sawo itulah terakhir kali ia bertemu dengan Gus Muslih. Kopi di meja telah menjadi dingin tanpa Hayati berniat meminumnya. Hayati menjadi sangat sedih, terlalu bersedih hanya untuk sekedar minum kopi.

Kecuali Nisa dan Hayati, sebenarnya Gus Muslih sendiri tidak kalah galau. Apalagi sebagai putra tunggal Kiai Hamid, dari keturunannyalah kelak kepengasuhan pondok diwariskan. Pernah juga Gus Muslih berbincang dengan Kang Taslim, sahabatnya dari kecil yang sekarang sudah mempunyai dua orang putra, perihal masalah yang menghantuinya.

"Mus, percayalah. Nisa nggak akan pernah hamil sampai kamu bisa benar-benar bisa menerima dia dengan ikhlas."

"Aku sudah iklhas, Lim. Seikhlas-ikhlasnya."

"Benarkah kamu sudah mencintai Nisa seperti kamu mencintai Hayati dulu?"

"Aku sudah ikhlas, Lim. Hayati juga sekarang sudah bahagia bersama Kang Dulah kan? Jangan sebut lagi namanya, kasihan. Hancur hatinya tentu sama hancurnya dengan hatiku ketika Abah memanggilku malam kedua Hari Tasyrik itu, dan menceritakan tentang perjodohanku dengan Nisa."

"Ckckck, lalu benarkah kamu sekarang sudah mencintai Nisa seperti kamu mencintai Hayati dulu?"

Gus Muslih tak menjawab pertanyaan Kang Taslim, ia kembali teringat surat yang diberikan hayati di halaman langgar. Di bawah pohon sawo yang tengah digelayuti bakal buah pada ranting-rantingnya, sesaat sebelum Gus Muslih mengajar kelas sore. Gus Muslih masih ingat betul kata-katanya, semuanya kembali membanjiri kepalanya seperti sebuah sajak lagu yang pernah terlupakan: Kang, nikahilah Nisa, demi cinta Kang Mus kepada Yati. Tapi, bila yang dulu Yati anggap sebagai cinta itu hanyalah angan-angan Yati saja, maka nikahilah Nisa demi cinta Yati kepada Kang Mus. Karena cinta Yati kepada Kang Mus adalah kenyataan yang tak perlu Kang Mus ragukan.

Surat itu beraroma laut, beraroma garam. Asin. Surat itu beraroma air mata.

Majenis Panggar Besi terlahir di Banyuwangi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @magarsi_

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed