DetikHot

art

Rumah Kedua Ibu

Sabtu, 25 Ags 2018 10:48 WIB  ·   Udiarti - detikHOT
Rumah Kedua Ibu Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom
Jakarta - Aku menyeret mayat Ibu. Dari atas tempat tidurnya menuju rumah keduanya. Aku tidak tahu pasti bagaimana suasana rumah keduanya nanti. Apakah akan sejuk seperti kemauannya di rumah pertama, apakah akan selalu penuh dengan aroma mawar di sudut-sudut ruangannya, atau malah kumuh macam pinggiran stasiun Pasar Senen yang senantiasa dibenci Ibuku tapi juga berkali-kali harus ia lewati.

Aku menyeret mayat Ibu. Dari pinggir meja kamarnya yang gemerlap kalung-kalung permata. Juga setengah lingkaran kalung mutiara. Ada sekotak anting berbatu zamrud atau semacamnya bergeruntal di dalam sana. Aku juga tak begitu paham apakah rumah kedua Ibu akan penuh dengan manik-manik emas macam di meja kamarnya. Sepertinya Ibu akan bangkit lagi jika rumah keduanya ternyata mengecewakan.

Aku menyeret mayat Ibu. Setelah makan malam yang begitu panjang. Di atas meja makan ada buah apel kesukaannya, ayam panggang utuh yang berkilat-kilat kulitnya, juga segelas es teh tawar yang sisa esnya akan ia kunyah sampai lebur dari bekunya. Aku tak bisa memastikan pula apakah rumah kedua Ibu akan penuh makanan selama 24 jam non stop tanpa perlu berteriak pada pelayan untuk dibuatkan makanan. Ibu tak pernah tahan dengan laparnya. Jika ia terpaksa lapar maka sepiring kosong akan ia banting di atas lantai, memarahi pembantu yang tidak menyediakan masakan setiap saat ketika ia lapar.

Aku menyeret mayat Ibu. Pokoknya ini mayat Ibu. Akan kumakamkan sendiri bila perlu. Aku dan Ibu saling bahu membahu dalam kehidupan ini. Hanya ia yang aku miliki, tapi tidak sebaliknya. Ia punya banyak hal di hidupnya yang entah bagaimana muncul begitu saja macam bayi yang menetek puting Ibu.

"Sudah sampai mana?" mayat Ibu bertanya.

"Sebentar lagi sampai." Aku menyeret kantung kresek hitam itu yang berisi mayat Ibu. Menjawab pertanyaannya agar ia sedikit lebih tenang dan tidak gusar ketika hendak menemui rumah keduanya.

"Kita lewat jalan mana?" tanyanya lagi.

"Tidak tahu. Aku tidak pernah hafal nama jalan."

Lagi pula di sini gelap gulita, hanya duka yang ada. Ibu tak merasakan duka karena konon orang mati perasaannya dicabut. Aku yang mewakili kedukaan itu. Duka berkumpul rapi di depanku, sembari menuntun langkahku menyeret mayat Ibu. Oh, mayat Ibu sedikit lebih berat dari meter ke meter. Tapi, aku anak yang terlahir tegar, 60 kg pun tak boleh kurasakan beban yang berat. Berat di kamus hidupku sudah dihapus Tuhan.

"Tuhan akan mengutukmu jika kamu membawa Ibu dengan kasar," katanya. Ia masih sama seperti waktu hidup, bawel.

"Ibu, tenanglah dulu. Aku dituntun ribuan duka untuk mengantarmu."

Nyaris kuhentikan langkah kakiku untuk menaikkan nada bicara pada Ibu. Tapi, aku ingat pesan Tuhan bahwa anak tak boleh bernada tinggi pada Ibunya, meskipun bawel, meskipun menyebalkan. Toh aku tinggal menjawabnya dan dia akan tutup mulut lagi. Lagi, berarti sudah kesekian ia bertanya yang tak mutu, melontarkan pendapat tentang perjalanannya yang lebih banyak adalah dialog-dialog nyinyir tentang perjalanan yang kupilih.

Tapi, aku tetap menyeret mayat Ibu. Dari tanah ke tanah dan kembali ke tanah. Itu kata Pak Ustad, bahwa manusa sejatinya berasal dari tanah yang diberi nyawa. Padahal aku tahu betul aku keluar dari tubuh Ibu. Tubuh Ibu masih terbuat dari daging. Aku hangat di dalam dan sesungguhnya tak ingin keluar. Tubuh Ibu tempat terindah, rumah pertama dan kuminta pada Tuhan untuk jadi rumah terakhir pula untukku. Tapi, ibu mati duluan --bagaimana bisa Ibuku bangkit dan memasukkan kembali wujudku ke dalam tubuhnya?

"Apakah hidup seberat ini nak?" tanyanya, pertanyaan tolol kukira.

"Ibu sudah mati. Tak perlu tanya yang hidup-hidup," jawabku, peluh sudah menetes dari dahi ke pipi.

"Tapi kan Ibu pernah hidup."

"Ibu, hidup tak harus dipertanyakan lagi. Ibu bukan filsuf." Aku belum jengkel, nadaku masih biasa. Lebih tenang dari semula.

Aku melihat kami tak lagi dituntun oleh duka, tapi juga ada setumpuk kenangan. Kenangan itu berbaju abu-abu. Di kiri dan kananku. Beberapa memberikan bisikan tentang jawaban dari pertanyaan Ibu. Kubilang pada mereka, kenapa tak mereka saja yang mengkatakan pada Ibu tentang jawaban itu. Aku tak berselera menjawab apapun. Tapi, mereka bilang --kenangan-kenangan itu bilang-- Ibu tak akan mendengarkan mereka. Yang Ibu dengarkan hanya suaraku seorang. Iya, tapi aku benar-benar tak mau mayat Ibu jadi filsuf yang norak. Mempertanyakan hidup yang tak henti-hentinya mereka hujat, tapi tak enggan untuk meninggalkan hidup. Tak ada orang yang paling berani kecuali Ibuku. Mengambil keputusan untuk jauh-jauh dari hidup yang terlalu banyak aturan ini.

Bahkan untuk mati saja Ibuku harus diatur. Harus menghilangkan segala dosanya, bagaimana Ibuku tahu sebanyak apa dosanya? Kata dosa saja tidak bisa diperlihatkan. Bagaimana mungkin ibuku akan menurut begitu saja dengan menghapus dosa yang ia sendiri tak tahu wujudnya. Lalu, kenangan berbisik padaku, jika dosa berwujud niscaya manusia sudah tak berbentuk. Baiklah, aku kalah. Sesungguhnya aku tak mau ikut campur antara Ibu dan hal-hal yang akan ia bawa ke dalam rumah keduanya.

"Ini sudah sampai mana?" Ibu bertanya lagi, seolah tak ada yang akan kesal mendengar pertanyaannya.

"Ibu, diamlah dulu. Kita akan segera sampai. Tak penting Ibu tahu sekarang sudah sampai mana."

"Itu penting bagi Ibu, jika Ibu tidak tahu di mana saat ini Ibu berada. Bagaimana jika Ibu merindukanmu dan ingin melihatmu sebentar?"

"Aku yang akan ke rumah Ibu untuk menjenguk Ibu jika rindu."

"Lalu, bagaimana kamu bisa tahu jika Ibu sedang rindu kamu?"

"Aku akan selalu mendengar suara Ibu."

Ibu akhirnya diam. Ia barangkali percaya dengan perkataanku. Tapi, aku justru ragu. Di depan sana, setelah duka terlalu banyak memberikan jalan pulang kepada Ibu, kenangan membukakan jalan lain. Mereka berpendar lebih terang ketimbang duka. Ada kanak-kanak yang riang berkejaran di depan. Ada buah dada yang disesap bayi mungil tanpa tangis. Tapi aneh, perlahan pula pendar indah itu jadi hitam. Ada siluet menakutkan yang membuatku berhenti sejenak. Membuat ibu merasa terusik sebentar.

"Kenapa berhenti?" tanyanya.

"Tidak, Ibu aku hanya sedikit ingin menarik napas."

"Tariklah yang banyak, kurasa badan Ibu makin berat."

"Iya, Ibu." Aku masih berhenti. Kenangan itu makin legam. Makin tak mampu kulihat lagi. Tapi, aku harus sampai rumah kedua ibu tepat waktu. Jika tidak, ibu akan segera membusuk. Aku tak suka melihat wajah cantik ibuku busuk dimakan ulat. Aku tak bilang pada Ibu soal ini. Jika Ibu tahu, maka ia akan menyuruhku berlari padahal jika boleh jujur badannya sungguh berat.

Aku melanjutkan perjalanan, menabrak siluet kenangan yang menari-nari hitam di depan. Ibu kembali tenang, rasanya udara makin hangat. Seperti senja yang turun perlahan membawa rona jingga di langit. Tidak lagi menggigil. Sekujur tubuhku hangat macam pelukan. Baru aku sadar, di depan tak ada lagi kenangan yang legam. Kasih sayang mulai berjalan membawa kantong mayat Ibu. Kedua tanganku kini tak lagi merasa kaku dan berat. Kantong mayat ibu terasa lebih ringan.

"Ibu? Kau lihat itu?" aku kini mulai berani untuk bertanya.

"Ibu tak lihat apa-apa, hanya gelap."

Aku tak harus mengatakan pada ibu apa yang terjadi. Sepertinya tugasku menyeret mayat Ibu hampir selesai. Mereka, kasih sayang itu, membawa kantong mayat Ibu menuju pembaringan terakhirnya. Aku hanya diam, menatap bagaimana kantong mayat itu melayang-layang lembut di atas tanah. Aku yakin, Ibu tidak akan suka rumah keduanya. Terbuat dari gundukan tanah, tapi Ibu pasti sangat suka dengan aroma bunga mawar yang terbang mengelilinginya.

Lima jam yang lalu, aku masih melihat ibu secerah bunga melati yang baru dipetik. Aku melihatnya di depan meja rias yang penuh make up dan perhiasan. Lima jam yang lalu ia belum juga sepucat saat ini. Lima jam yang lalu ibu masih berbicara tenang.

"Ayahmu tidak pulang juga?" tanyanya.

"Ayah yang mana, Ibu?" tanyaku memastikan.

"Yang mana lagi, ayahmu yang sampai saat ini belum pulang."

"Ibu, dia sudah mati."

"Mati? Kamu bilang dia mati? Tidak mungkin! Dia harus pulang dan membayar utang-utangnya pada si bejat Warok itu!" Ibu melototiku.

"Ayah sudah tidak pulang satu bulan. Mayatnya diketemukan di pinggir sungai, Ibu. Ibu lupa?" Lebih tepatnya, Ibu sudah lupa ayah yang mana saja yang sudah mati. Ibu sudah menikah empat kali, tapi tak ada yang bertahan lama. Ayah pertama jelas adalah ayah yang membuat bibitku lahir ke dunia. Ayah yang pertama ini sudah pergi ke Jepang setelah menemukan istri baru pada perjalanan melayarnya. Ayah yang kedua kaya raya, tapi tak jelas uangnya dari mana. Sialnya ayah kedua ini suka memukul Ibu sampai pingsan. Karena tidak tahan, Ibu membunuh ayah kedua dengan menusukkan pisau dapur tepat di dadanya. Ibu dilaporkan polisi, dipenjara dua tahun dengan tuduhan pembunuhan, padahal Ibu hanya mempertahankan dirinya agar tetap hidup. Saat itu usiaku 15 tahun.

Dua tahun telah habis, Ibu keluar dari penjara. Aku sudah 17 tahun. Ibu kembali ke rumah, bertemu dengan ayah baru. Kali ini makin menarik, Ibu dengan senang hati menjual keperawananku pada teman ayah. Mahal, katanya. Keperawananku dihargai dua juta. Setelah itu aku rutin menyetor uang pada Ibu setelah tidur dengan pria-pria. Ibuku jadi sosialita. Ayah ketigaku berfoya-foya.

Ayah ketiga masuk penjara. Ia ditemukan di klab malam dengan sekantong narkoba. Ibu pun kawin lagi. Ini ayah keempat. Ayah keempat suka meniduriku lebih dari dua kali dalam semalam, waktu ibu sedang tidak ada di rumah. Aku diam saja. Kata ayah ini hal baik. Uang sakuku akan ditambah, dan aku tidak perlu menjual diri di luar lagi. Tidak apa-apa, pikirku.

Suatu pagi ayah keempat pamit pergi. Satu bulan tak kembali. Ibu selalu mendapat tamu dari si Warok, laki-laki yang doyan meminjamkan uang dan meniduri perempuan. Warok menagih ratusan juta utang ayah keempat. Ibu pun tak sanggup. Selama sebulan aku membayar utang dengan tidur bersama Warok, sampai pernah jadi anak. Tapi, Ibu membantuku dengan telaten menggugurkan kandunganku. Sampai pada suatu sore, mayat ayah keempat ditemukan di pinggir sungai. Telanjang.

Setelah itu Ibu jadi aneh. Utang masih ia bayar dengan tubuhku. Dan, Ibu masih berdandan dengan dempul lima senti. Lima jam lalu, sebelum kuseret kantong mayatnya, Ibu mengigau di depan meja makan, dengan racun tikus sebotol di tangannya, diminum dengan buah apel kesukaannya, dan minta dimasukkan ke dalam kantong mayat. Aku pun menurut. Menunggui Ibu yang kejang-kejang, pingsan, lalu tak ada denyut lagi. Aku memasukkan mayat Ibu seperti permintaannya. Menyeretnya malam-malam hingga menuju rumah keduannya.

Setelah kasih sayang memasukkan kantong mayat Ibu ke dalam rumah keduanya, aku harus bergegas pulang, menyiapkan sambutan esok pagi untuk Warok yang menunggu utang ayah keempat dibayar. kusambut ia dengan geliat luwes tubuhku. Ibu, hati-hati di rumah baru.

Udiarti lahir 27 Juli 1993 di Gunung Kidul, alumni S1 Seni Tari ISI Surakarta yang menyukai dunia sastra. Saat ini tengah menumpang di Jakarta

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed