DetikHot

art

Pendiri Studiklub Teater Bandung Meriahkan SIPFest 2018

Jumat, 10 Ags 2018 14:20 WIB  ·   Tia Agnes - detikHOT
Pendiri Studiklub Teater Bandung Meriahkan SIPFest 2018 Pendiri Studiklub Teater Bandung Meriahkan SIPFest 2018 Foto: Dok.Salihara
Jakarta - Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2018 dimeriahkan dengan kehadiran Jim Adhi Limas. Akhir pekan ini Institut Prancis di Indonesia (IFI) bekerja sama dengan Salihara akan menggelar ceramah dan pertunjukan Jim Adhi Limas pada 11-12 Agustus di Komunitas Salihara, Jakarta Selatan.

Di tahun 1958, Jim Adhi Limas mendirikan Studiklub Teater Bandung yang dikenal sebagai salah satu kelompok teater tertua. Sejak pertama pentas, kelompok tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat terutama penikmat seni.

Peran Jim saat itu menarik perhatian Pierre Labrousse, ilmuwan Prancis yang menawarkannya beasiswa Centre Regional Des Oeuvres Universitaires Prancis. Pada 1967, ia pun berangkat ke Prancis untuk belajar seni peran di Comedie Francaise Conservatoire dan Unierversitaire Internationale du Theatre de Paris.



Untuk pertama kalinya, ia pulang ke Indonesia dan turut memeriahkan SIPFest 2018.

"Ada kerinduan pada Indonesia dan teman-teman saya yang ternyata sudah banyak yang telah tiada. Saya juga ingin membukakan kembali cerita tentang STB yang sebetulnya masih ada hingga sekarang," katanya dalam keterangan pers yang diterima detikHOT.

Di dunia teater, ia pernah bermain sebagai Slima yaitu pemeran utama dalam naskah Slimane ou l'homme-cailloun karya Jean Pelegri, orang Prancis asal Afrika Utara. Di dunia perfilman, ia pernah membintangi antara lain film Diva (1981), Bitter Moon (1992) dan Un amour de sorciere (1997).

Di pentas-ceramah di Galeri Salihara pada Sabtu (11/8), ia mengambil kisah tentang awal pertumbuhan teater kontemporer di Indonesia. Sehari berikutnya, bersama dengan Joind Bayunanda dan Wawan Sofwan akan mementaskan sketsa-sketsa pendek dari penulis Prancis Roland Dubillard (1923-2011) yang ia terjemahkan sendiri.

Karya yang akan dibawakan oleh dua suara tersebut berisi tentang percakapan sehari-hari yang bersifat absurd. Dubillard sekadar mengutip dan melaporkan percakapan orang-orang biasa dalam urusan keseharian yang absurd. Ia menangkap dan menyampaikan pesan bahwa manusia pada dasarnya membuang dan menghabiskan waktu untuk yang bukan-bukan.


(tia/tia)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed