DetikHot

art

Semua Burung Terbang Melawan Gravitasi

Sabtu, 04 Ags 2018 10:09 WIB  ·   Aris Rahman - detikHOT
Semua Burung Terbang Melawan Gravitasi Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom
Jakarta -
Gravitasi 1: Seekor Burung Kecil Belajar Terbang

Sebelum langit benar-benar telah menjadi gelap, kawanan burung bulbul masih terlihat terbang di atas Sungai Aare. Mereka membentuk semacam formasi berbentuk huruf V, memecah menjadi dua kelompok, dan menghilang di antara gumpalan awan-sampai kemudian muncul kembali dengan formasi tiga kelompok.

Seorang bocah laki-laki melihat kawanan burung itu dengan perasaan takjub dari atas balkon apartemen kecilnya di kawasan Brunngashalde. Setiap hari ia selalu membayangkan bagaimana rasanya bila di belakang punggungnya tumbuh sepasang sayap, bisa terbang bebas meliuk-liuk di antara toko-toko tua di Marktgasse, menembus gumpalan awan, terbang melewati celah di bawah jembatan di Kornhausbrücke, hinggap di pohon cemara, atau mencari spot terbaik untuk berfoto di puncak Pegunungan Alpen. Tetapi, bila kelak di kemudian hari di punggungnya benar-benar ditumbuhi sepasang sayap, hal yang pertama akan ia lakukan adalah terbang dan menemui ibunya yang sekarang entah di mana.

Kawanan burung bulbul yang semula terpecah menjadi tiga, bersatu lagi dalam satu kerumunan, menciptakan semacam lubang hitam yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini dalam kepala si bocah.

Sebuah keluarga kecil tengah menikmati waktu bersama di tepi Sungai Aare. Mereka duduk di sebuah restoran dan memilih sebuah meja di ruang terbuka yang menghadap langsung ke arah sungai. Langit kemerah-merahan. Sebuah perahu wisata kecil melintas menciptakan guratan gelombang di permukaan sungai. Di atas meja terhidang rivella, hopf, cheese fondue, dan berner platte. Pertengkaran sedang terjadi antara sepasang suami-istri itu. Sang suami beberapa kali berbicara keras sambil menggebrak meja. Sang istri juga sesekali membalas si suami dengan bentakkan dan sumpah serapah. Mereka berdua adalah pasangan yang mewarisi darah perseteruan antara Jerman dan Prancis pada 1940, perseteruan yang berakhir dengan jatuhnya Kota Dunkirk dan memaksa pemerintahan Prancis terusir dari Paris. Kesejukan Kota Bern sama sekali tak dapat meredam ledakan emosi sepasang suami dan istri tersebut. Sebuah ledakan yang tercipta dari api-api kecil yang dibiarkan menyala bertahun-tahun lamanya.

Pertengkaran mereka baru berhenti tatkala seorang bocah laki-laki, yang tak lain merupakan buah hati mereka, nyemplung dalam dinginnya Sungai Aare setelah ia berusaha mengejar seekor burung bulbul yang terbang rendah. Bocah itu melewati celah kecil pada pagar pembatas dan meloncat begitu saja. Si suami lalu dengan sigap meloncat ke dalam dinginnya sungai tanpa melepas pakaian, dan menyelam untuk menyelamatkan buah hatinya yang tenggelam. Si bocah merasa sesak karena dadanya kemasukan banyak air. Si suami memacu mobilnya begitu kencang menuju Inselspital di Freiburgstrasse yang letaknya tak jauh dari Universitas Bern.

Di sepanjang perjalanan, pasangan itu masih sibuk berdebat satu sama lain, saling menyalahkan satu sama lain; tentang rumah sakit yang terlalu jauh; tentang siapa yang sesungguhnya lalai; tentang rute mana yang lebih tepat; tentang menerabas lampu merah; tentang asuransi jiwa yang seharusnya sudah diurus sejak lama; tentang siapa yang menjadi orangtua yang buruk; tentang kasih sayang di masa lalu... mereka terus saling menyalahkan satu sama lain. Perdebatan yang bekerja seperti lingkaran tanpa pangkal.

Sesampainya di rumah sakit si bocah mendapat beberapa perawatan dan berhasil diselamatkan. Sayangnya, tidak dengan pernikahan orangtuanya. Mereka bercerai dua minggu kemudian. Si mantan istri memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya di Paris beberapa minggu lagi, meneruskan kariernya sebagai perancang busana yang terpaksa terhenti setelah menikah, dan untuk sementara ini ia mengungsi di rumah bibinya di Lucerne. Si mantan suami untuk sementara masih meneruskan pekerjaannya sebagai pengajar di Universitas Bern sembari merencanakan untuk kembali ke kota kelahirannya di Dusseldorf. Selama si mantan suami bekerja, si bocah dititipkan di tempat pengasuhan anak dan akan diambil lagi saat sore hari. Setelah dijemput, si bocah akan ditinggal di dalam apartemen sendirian, sementara si mantan suami akan kembali sejenak ke universitas untuk menyelesaikan ini dan itu, membeli makan malam, dan baru kembali ke apartemen saat langit sudah gelap.

Waktu-waktu menunggu itulah yang sering dimanfaatkan si bocah untuk berdiri di balkon sambil memandangi kawanan burung yang terbang di angkasa.


Kawanan burung bulbul mulai terbang mendekat ke arah si bocah. Si bocah tertawa. Ia merasakan di punggungnya kini benar-benar telah ditumbuhi sepasang sayap. Jari mungilnya mulai menunjuk-nunjuk ke arah kawanan burung. Si bocah menyusup ke dalam celah kecil pagar pembatas di balkonnya, kemudian meloncat begitu saja sambil berusaha mengepak-ngepakkan sayapnya. Ia ingin pergi bertemu ibunya. Sayangnya, sayapnya belum tumbuh sempurna. Ia terjatuh, tepat di depan sebuah mobil yang baru saja berhenti. Ayah si bocah baru saja tiba setelah membeli makan malam.

Gravitasi 2: Kawanan Burung Terbang Meninggalkan Sarang

Si ayah menggendong anaknya yang berlumuran darah masuk ke mobil. Ia tampak begitu shock melihat apa yang sedang terjadi. Langit menjadi sedikit gelap, barangkali sebentar lagi akan turun hujan di kota ini. Di atas langit, burung bulbul masih terlihat terbang di langit kota, bahkan jumlahnya bertambah dua kali lipat ketimbang sebelumnya. Mereka berputar-putar dan terbang melingkar. Si ayah menutup jendela mobil, menyalakan mesin, dan memacu mobilnya secepat mungkin menuju Inselspital.

Si ayah membalut tubuh si anak dengan handuk kecil dan mendudukkannya tepat di sebelahnya. Kawanan burung bulbul terbang merendah dan bergerak mengikuti pergerakan mobil yang dikemudikan si ayah. Si ayah melihat kawanan burung itu dari spion mobil dan mengumpat. Ia pernah punya pengalaman brengsek perihal sekawanan burung.

Hari wisuda telah tiba. Sekitar seratusan mahasiswa dan mahasiswi sudah berkumpul di depan lapangan Universitas Bern untuk menerima ijazah dan mendapat pengukuhan. Satu per satu mahasiswa dan mahasiswi dipanggil. Si ayah, yang saat itu masih berusia dua puluh dua tahun, ikut berbaris bersama ratusan mahasiswa dan mahasiswi yang lain. Ia berdiri di baris keempat. Langit yang sedang cerah sedikit terganggu oleh kemunculan belasan burung merpati secara tiba-tiba. Entah dari mana sesungguhnya mereka berasal, dan entah mengapa mereka terbang berputar-putar tepat di tempat acara wisuda. Tapi, apa pun alasannya, gara-gara kawanan burung itu seseorang mesti menanggung aib seumur hidup.

Kawanan burung itu menjatuhkan beberapa tai dan mengenai hanya seorang pemuda saja. Melihat kejadian itu semua orang yang melihat kejadian tersebut tak kuasa menahan tawa. Acara wisuda harus tetap berlangsung. Si pemuda itu naik ke atas panggung dan menjadi bahan tertawaan semua orang, bahkan sampai bertahun-tahun setelahnya. Ia diberi julukan sebagai si bocah tai merpati. Semenjak saat itu si pemuda menyatakan perang terbuka terhadap segala jenis burung yang ada di muka bumi.


Mengingat kejadian itu, si ayah secara refleks menggebrak klakson mobil dan membuat seorang pejalan kaki yang akan menyeberang meloncat dan menggelindingkan tubuhnya kembali ke belakang karena mengira ia akan tertabrak. Si ayah meraih ponselnya dan mencoba menghubungi si mantan istri.

Telepon tersambung.

"Apa kau masih di Lucerne?"

"Ya, kenapa?"

"Jurg jatuh dari balkon. Cepatlah ke Inselspital."

"Kau memang lelaki dungu, Klein!"

Telepon terputus.

Hujan turun. Si ayah memacu mobilnya semakin kencang dalam kondisi aspal yang licin. Kawanan burung tiba-tiba melintas di depan mobil yang dikendarai si ayah. Mobil itu menabrak beberapa burung, hilang keseimbangan, dan terperosok ke semak-semak setelah menghantam pembatas jalan di daerah Parkstrasse.

Gravitasi 3: Kawanan Burung Terbang dan Menghilang

Hujan makin lebat. Seorang wanita nekat meninggalkan kediamannya yang hangat menuju sebuah rumah sakit di kawasan Bern. Ia berkendara dengan mobil dari kota Lucerne, dan kini tinggal seperempat jalan lagi ia akan sampai di rumah sakit yang dimaksud. Ia sekarang sudah sampai di Parkstrasse. Dari dalam mobil, ia melihat kawanan burung yang ada di kejauhan. Burung itu mengingatkannya dengan suatu kejadian di masa lalu.

Dalam sebuah siang yang tenang di Gereja Jesuit di Lucerne-sebuah gereja dengan arsitektur bergaya barok-seorang wanita merasa terganggu oleh kelakuan seorang lelaki yang ada di depannya. Lelaki itu melepas sepatu dan berusaha mengepruk seekor burung gereja yang berseliweran di altar. Saat itu, hanya ada si wanita dan si lelaki dalam gereja. Si wanita menghampiri si lelaki, merebut sepatu yang ia pegang, dan menghantamkannya ke pipi kiri si lelaki.

"Apa kau seorang atheis, Brengsek?"

Si lelaki tidak menjawab. Si lelaki tampak tidak marah dengan apa yang baru saja dilakukan si wanita. Sebaliknya, si lelaki justru mengajak si wanita untuk berjalan-jalan di luar sambil mengobrol. Si wanita mengiyakan. Mereka berkeliling di sekitaran Danau Lucerne sambil bercerita tentang banyak hal; tentang wisuda yang berantakan gara-gara tai burung; tentang rasa kecewa karena ditinggalkan seorang kekasih; tentang cinta....Setelah percakapan itu, hubungan mereka semakin dekat, dan berlanjut menjadi sebuah pernikahan beberapa minggu setelahnya.

Di Stadbachstrasse, si wanita memelankan laju mobilnya karena melihat seorang lelaki dengan kepala bocor di sisi jalan. Lelaki itu berjalan terseok-seok sembari menggendong sesuatu yang berlumuran darah. Si wanita mendekati lelaki itu dan menawarkan tumpangan. Si wanita menitikkan air mata. Si wanita mendaratkan sebuah ciuman di bibir si lelaki, lalu menginjak pedal gas begitu kencang. Sampai kemudian sebuah truk....

Kawanan burung yang semula terlihat di langit, tiba-tiba lenyap, entah terbang ke mana.

(2017)

Aris Rahman aktif bergiat di Komunitas Bengkel Muda Surabaya. Kumpulan cerpen debutnya berjudul Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive akan segera terbit

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com

(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed