DetikHot

Cerita Pendek

Bangku Berhadapan pada Sebuah Gerbong Kereta

Sabtu, 28 Jul 2018 11:06 WIB  ·   Latif Pungkasniar - detikHOT
Bangku Berhadapan pada Sebuah Gerbong Kereta Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom
Jakarta - Dia duduk berhadapan dengan mantan kekasihnya, di sebuah bangku pada gerbong kereta ekonomi jurusan Malang-Jakarta. Di samping mereka duduk pasangan masing-masing. Saling tidak mengenal. Dia menatap mantan kekasihnya, sekadar ingin tahu bagaimana nasib lelaki tersebut setelah sekian tahun tidak bersamanya. Sesekali mantan kekasihnya juga menatapnya, seperti mencari jawab bagaimana mungkin di antara ratusan orang yang menjadi penumpang kereta mereka bisa menjadi orang yang berhadap-hadapan. Sesekali tatapan kedua orang tersebut saling bertemu, sesaat kemudian berpisah. Membuang pandangan menuju jendela, melihat peron stasiun yang beberapa saat lalu mereka tempati. Suasana canggung jelas menyelimuti mereka berdua. Namun, mereka berdua sama-sama memutuskan untuk berdiam diri.

"Maaf ya, Mas, Mbak, saya duduk di dekat lorong karena saya suka kepengen pipis kalau kedinginan, jadi saya dan suami sudah tidak bisa bertukar tempat," ujar istri mantan kekasihnya memecah suasana canggung.

"Kalau Mas keberatan menghadap saya atau Mbak keberatan menatap suami saya, Mbak dan Masnya saja yang tukar posisi ya, tapi kalau tidak juga gak papa kami tidak keberatan," lanjut perempuan itu.

"Gak papa, Mbak, istri saya selalu suka duduk di samping jendela dan saya selalu suka duduk dekat lorong, lebih lega. Saya pribadi tidak keberatan," ujar suaminya.

"Sayang tidak masalah kan?" tanya suaminya lagi.

"Eh, iya tidak masalah," dia menjawab dengan canggung.

Begitulah awal ceritanya, sepasang mantan kekasih itu akan terperangkap dalam perjalanan selama 16 jam saling hadap.

Kereta mulai berjalan dengan pelan-pelan. Mereka mulai melakoni peran basa-basi. Menanyakan hendak pergi ke mana. Turun di stasiun apa. Keperluannya apa. Saling bertukar jawaban yang sama persis. Jakarta. Stasiun Pasar Senen. Kembali dari mudik. Kemudian mereka berempat saling terdiam. Mulai asyik pada aktivitas masing-masing.

Dia dan mantan kekasihnya masih sesekali bertukar pandangan, masih dengan ekspresi wajah yang tidak bisa ditafsirkan. Istri mantan kekasihnya membaca buku dan suaminya bermain handphone. Sedang dia dan mantan kekasihnya entah berada di dunia yang mana, riuh pada pikiran mereka masing-masing. Dia mulai memasang earphone kemudian memainkan lagu dalam playlist secara random. Matanya menuju jauh menembus jendela. Hingga beberapa saat playlist random itu memutar lagu Float, Sementara. Dan sial, mau tak mau lagu itu membawa ingatannya pada sosok laki-laki yang saat ini sedang berhadapan dengannya.

Dulu, dulu sekali saat mereka berdua masih menjadi sepasang kekasih, mereka bertaruh untuk menerjemahkan makna lagu itu. Siapa yang terjemahannya paling masuk akal akan menjadi pemenangnya. Dia menerjemahkan lagu itu sebagai lagu dua orang yang tidak bisa saling memiliki, mereka berdua berjanji untuk melakukan kegilaan pada suatu hari, sementara saja. Kedua orang itu bisa saja mantan kekasih yang sudah tidak bisa saling memiliki.

Percayalah hati lebih dari ini/ pernah kita lalui/ takkan lagi kita mesti jauh melangkah/ nikmatilah lara/ untuk sementara/ saja.

Itu lirik yang menjadi dasar argumen-argumennya. Dia ngotot karena menemui kata 'pernah', dan 'pernah' berarti lampau, sesuatu yang lampau berarti sesuatu yang tidak bisa dijangkau lagi. Argumennya diperkuat, lagu itu menjadi soundtrack film Tiga Hari untuk Selamanya, muncul di akhir film setelah perjalanan aneh antara Yusuf dan Ambar, sepasang sepupu yang melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Jogja. Dua hal yang ia kemukakan semakin menguatkan tafsirannya. Dia sudah tidak ingat tafsiran kekasihnya pada saat itu, yang jelas dia menang karena menurut mereka berdua tafsirannya lebih masuk di akal.

Dia memencet tombol repeat lagu itu, dan ingatannya semakin jelas tentang mantan kekasihnya yang saat ini berada di sejengkalnya. Dibiarkan pikiran-pikiran tentang lelaki itu memenuhi otaknya. Diam-diam dia menikmatinya, kemudian tersenyum-senyum sendiri. Dia mencuri pandang sekali lagi. Saat dia memandang mantan kekasihnya, ada perasaan yang tidak biasa di hatinya. Semacam perasaan senang mulai membuncah pelan-pelan. Lelaki di depannya malah tampak semakin canggung saat lutut mereka berdua tidak sengaja beradu. Memecah kecanggungan itu, sang lelaki mengajak bicara istrinya, menceritakan hal-hal menarik yang dia baca. Sedangkan dia, masih tenggelam pada lagu dan ingatan.

Terlalu banyak taruhan yang mereka lakukan, menafsirkan sebuah lagu hanya satu dari banyak pertaruhan. Banyak hal yang lumrah dan berfaedah seperti menafsirkan lagu, membuat resensi, atau mengirim cerpen ke media massa. Banyak juga pertaruhan yang ganjil yang nirfaedah seperti menghitung toge dalam soto, beradu tahan napas saat menyelam di kolam renang, atau menebak nama seseorang yang mereka lihat di kejauhan. Mereka akan mengklarifikasi siapa pemenangnya dengan berkenalan dengan seseorang yang menjadi bahan taruhan mereka. Konyol memang, tapi mereka menyukai hal-hal yang konyol.

"Mas!" ucap mantan kekasihnya agak kencang memanggil pramugara kereta yang lewat membawa makanan. Suara lelaki itu sedikit membuyarkan lamunannya. Kemudian dia membatin, nasi goreng.

"Nasi gorengnya masih?" tanya lelaki itu. Tebakannya benar. Seketika kebahagiaan yang aneh membuncah di antara perasaan canggungnya. Ternyata lelaki itu masih menyukai hal-hal yang dulu disukai. Kemudian dia bertanya-tanya, masih adakah rasa tentang mereka yang tertinggal? Dia hanya bertanya-tanya, dan matanya sesekali menyiratkan binar kebahagiaan.

Mantan kekasihnya sengaja memesan nasi goreng pada pramugara kereta yang lewat. Lelaki itu ingin mengundang ingatan-ingatan untuk bernostalgia.

Dulu, dulu sekali saat mereka berdua masih bersama, Lelaki itu sering memintanya untuk memasakkan nasi goreng dengan telur mata sapi setengah matang. Dia tidak suka telur setengah matang. Menurutnya telur setengah matang selalu menyimpan bakteri yang membahayakan bagi tubuh, dia berargumen, ditambah dengan artikel-artikel yang dia lihat di internet, tetapi lelaki itu tidak peduli dan terus memuja telur setengah matang.

Lelaki itu mengunyah nasi gorengnya pelan-pelan setelah sebelumnya berbasa-basi menawari dia dan suaminya. Mengunyah nasi goreng dengan pelan dan menikmati ingatan yang datang. Dia sesekali melirik lelaki yang mengunyah nasi goreng dengan perlahan, dan hatinya berdesir semakin kencang.

Kereta berjalan dengan cepat melewati kota-kota, yang dulu beberapanya pernah mereka singgahi. Dulu mereka berdua adalah pasangan pelancong yang gemar menyusuri kota-kota yang asing. Nyaris setiap bulan mereka melakukan perjalanan tanpa rencana untuk mengunjungi tempat-tempat asing. Mereka berjalan sepanjang hari, dan hanya beristirahat saat perjalanan kembali dengan bus atau kereta. Mereka membaca On the Road dan mengimaninya. Ketika melihat ke luar jendela dari kereta yang berjalan cepat, perasaan mereka kembali pada saat-saat bebas itu. Mereka dengan bebas meninggalkan tugas-tugas kuliah. Mereka belum terikat dengan aturan kantor yang sangat mengungkung. Mereka berkelana menuju entah, berdua dengan bahagia.

Dia sudah mencabut earphone di telinganya. Melihat istri mantan kekasihnya membaca buku, dia merasa tidak mau kalah. Dia mengeluarkan buku tipis yang biasa dia baca berulang-ulang sampai dia fasih ketika harus diminta untuk menceritakan isinya, Metamorfosis karya Franz Kafka. Dia sangat mencintai Kafka, dan mantan kekasihnya tahu itu. Kecintaannya kepada Kafka bermula saat mantan kekasihnya membawa sebuah buku tipis yang dia pinjam dari perpustakaan kampus. Dia seperti biasa selalu ingin membaca apa yang kekasihnya baca. Dia mulai terpikat dengan kalimat pembuka, kemudian mencintai Kafka dengan tiba-tiba. Dia membujuk kekasihnya untuk mencuri buku tersebut untuknya. Hasilnya, buku tersebut tidak pernah kembali ke perpustakaan dan saat ini berada di dalam genggaman, masih lengkap dengan label perpustakaan fakultas di punggung bukunya.

Mau tak mau ingatannya menuju pada keusilan-keusilan yang pernah mereka lakukan. Mencuri buku di perpustakaan adalah satu hal, masih banyak keusilan yang lain. Keusilan yang paling dia ingat adalah saat mereka berdua mengikuti kelas di jurusan lain. Mereka mengidolakan profesor yang mengampu kelas tersebut. Mereka menganggap tulisan-tulisan profesor tersebut bernas dan bernyali. Seorang profesor tua yang punya semangat tinggi menghantam apa saja yang menurutnya harus ditata. Mereka berdua duduk di deretan depan, menyimak kuliah dengan saksama. Di belakang mereka, mahasiswa asli di kelas itu kasak kusuk, membicarakan siapa dua orang asing yang duduk di kelas mereka. Mereka berdua tak acuh dengan kasak kusuk itu, bahkan mengulanginya beberapa pertemuan lagi.

Dia melirik istri mantan kekasihnya. Sedikit banyak dia merasa istri mantan kekasihnya itu mirip dengannya. Postur yang kurus dan tinggi, juga potongan rambut yang tak begitu pendek diikat tinggi dengan karet, serupa buntut kuda. Juga matanya yang tajam melahap huruf demi huruf dari buku yang digenggamnya. Dia seperti melihat cermin yang buram karena nyatanya mereka berdua memang berbeda di detail-detail kecil. Melihat persamaan itu hatinya bergolak. Di satu sisi dia merasa sedih karena semirip apapun istri mantan kekasihnya, orang itu bukan dia. Tapi, di sisi lain dia merasa berbunga-bunga melihat mantan kekasihnya belum seratus persen melupakannya. Dia berpendapat bahwa memilih wanita itu sebagai istri pasti sangat didasari oleh kemiripan wanita itu dengannya.

Istri mantan kekasihnya mengangkat tatapannya dari buku. Kemudian berkata pada suaminya bahwa dia ingin ke toilet. Kemudian dia berdiri meninggalkan dia dan mantan kekasihnya berdua saja -suaminya pergi ke restorasi kereta beberapa saat yang lalu. Bagi mereka berdua suasana pada bangku berhadapan itu semakin aneh. Mereka saling tatap, dalam.

"Hai," katanya.

"Hai," kata mantan kekasihnya.

Keduanya hanya melempar masing-masing satu kata, dan memilih untuk saling memandang dan bertukar senyum. Kemudian kembali asyik dengan ingatan-ingatan tentang mereka masing-masing dengan lutut kaki yang sekarang sengaja untuk direkatkan. Pasangan mereka masing-masing telah kembali, dan mereka berdua masih tenggelam dalam ingatan-ingatan.

Di antara ingatan-ingatan yang kembali muncul, mereka benar-benar tidak mengingat dengan jelas, hal apa yang akhirnya memisahkan mereka. Perpisahan yang mungkin bukan merupakan perpisahan yang sebenarnya mereka inginkan. Mereka berdua sebenarnya hanya memberi jarak pada hubungan mereka yang tiba-tiba menjadi monoton. Namun, tiba-tiba saja mereka saling melupakan. Hingga sampai pada pertemuan yang aneh hari ini. Mereka berdua tidak bisa mengingat dengan jelas bagaimana mereka berpisah.

Tiba di Jatinegara, tepat satu stasiun lagi menuju stasiun pemberhentian. Mata mereka saling menatap lekat. Di samping mereka pasangan masing-masing yang tertidur. Pandangan mata yang menyiratkan ketidakrelaan dengan kenyataan bahwa sebentar lagi mereka akan berpisah. Sorot mata yang ingin berkata, berjalanlah kereta ini terus dan jangan berhenti. Membawa mereka berdua pergi entah ke mana.

Mata mereka terus bertemu, sangat lama, sangat dalam. Sebuah tatapan yang sulit diterjemahkan orang lain. Tetapi, mereka berdua tahu pasti tatapan mereka seperti berujar, bagaimana kita dulu bisa berpisah?

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed