DetikHot

Cerita Pendek

Pada Hari Kematian Amber

Sabtu, 14 Jul 2018 10:56 WIB  ·   Kurnia Effendi - detikHOT
Pada Hari Kematian Amber Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Siapa bilang aku tak bisa melihat tubuhku secara utuh?

Kemarin malam aku sengaja menarik perhatian sang Pengarang. Kuganggu temanku yang sedang melingkar manja di sofa milik penulis cerita kolonial itu. Mulanya Jacky tak peduli. Hanya kaki depannya yang menggusahku, kemudian kepalanya kembali disembunyikan. Namun aku tidak berhenti mengusiknya, hingga Jacky tampak geram lalu mengejarku. Itu yang kuharapkan. Selanjutnya kami bergulingan saling membuka cakar. Bergantian menggigit tengkuk. Menabrak kaki meja. Melompat ke atas rak. Merubuhkan beberapa buku.

Oleh keributan itu, sang Pengarang yang memeliharaku sejak tiga tahun lalu memperingatkan. Ia bangkit dari kursinya dan mengembalikan buku-bukunya ke tempat semula. Mana mungkin aku berhenti mengerkah Jacky? Dia yang kesal kugoda tentu tak kalah sebal. Lepas tangkap, terkam hindar, dan kami bergiliran berada di atas atau di bawah. Terkadang saling melilit dan ekor kami mengibas-ngibas.

Kudengar suara sang Pengarang mengucapkan kata-kata, antara keras dan sayang. Aku hanya ingin ia melakukan sesuatu terhadap pertunjukan menarik ini. Untungnya, Jacky memiliki semangat meladeniku. Nah... sang Pengarang mengambil benda pintar dari meja kerjanya. Ia menyalakan dan kemudian mengarahkan permukaan benda bermata itu kepada aksi kami yang semakin seru. Aku harus menunjukkan kelincahanku yang terakhir kali. Beberapa menit saja. Dengan menanggung rasa sakit di bagian bawah perutku.

Seperti yang selalu dia banggakan sebagai seorang pengarang: membangkitkan kematian dalam sejumlah halaman. Setelah kenyataan yang sudah lama berlalu itu dihidupkan kembali, dia bagikan kepada teman-temannya. Dia, menurut percakapan yang pernah kudengar, mendapatkan hadiah karena mampu memutar balik waktu sehingga orang-orang di masa kini bisa mengunjungi abad yang sudah terkubur.

Kini, aku hanya ingin tersimpan abadi pada ingatannya. Ya, tentu dengan alat pintar itu. Aku akan hidup selamanya, sepanjang alat itu mampu memelihara dan sesekali sang Pengarang menyaksikan dengan memutar ulang.

Setelah itu, setelah malam itu, aku berencana sembunyi. Aku ingin menjalani kematianku yang ke....

***

"Amber, bertahanlah! Jangan mati dulu!" Itu yang kudengar melalui berlapis-lapis gema ke pusat telingaku.

Sang Pengarang menemukanku di balik tumpukan kardus bekas kiriman buku. Dalam buku-buku itulah himpunan kehidupan diawetkan. Bukan dengan balsam, formalin, atau proses hibernasi, melainkan dengan mantra kata-kata. Banyak orang terbius dan percaya bahwa para pesohor di masa lalu memiliki cara-cara aneh untuk dikenang.

Dalam guncangan kendaraan berkecepatan tinggi, aku dipangku penuh cinta. Didekap ke dadanya. Beberapa kali tanpa sengaja kami bertukar degup jantung. Sang Pengarang kembali meracaukan mantra-mantra yang aku sendiri hampir lelah melakoninya. "Ayolah, Amber! Bukankah nyawamu sembilan? Ini baru yang ketiga!"

Lalu pujangga itu meminta Pak Tetangga yang mengemudi agar lebih mempercepat laju mobilnya. Kukira masih bisa dikabulkan permintaannya karena di malam yang kelewat larut ini, kepadatan jalan raya mulai surut. Ini semacam pengetahuan umum saja. Beberapa kali aku pernah diajak melancong ke sejumlah tempat dan mudah mempelajari situasi di luar kaca kendaraan.

Tahukah kalian? Sang sopir yang cekatan itu sedang menjalani kehidupan keduanya. Pada suatu hari jantungnya diserang dan mendadak berhenti berdetak. Menjelang dia dimandikan sebagai jenazah, aku melompatinya. Para pembaca Surah Yasin yang mulai mengantuk terkejut saat si mendiang bangkit dari persemayaman. Subuh belum tiba, ketika sejumlah pelayat yang sedang mengobrol di halaman rumah berebut ingin tahu kehebohan di ruang tamu.

"Bagaimana mungkin?" tanya anggota keluarga yang keluar dari kamar.

"Tadi... tadi...." Seorang saksi mata tergagap lalu gagu selamanya.

Waktu Salat Subuh tiba, menjelang azan dikumandangkan, diumumkan melalui pelantang suara di masjid bahwa Pak Tetangga yang bernama Fulan bin Fulan batal meninggal. Dua orang kerabat menuntunnya bangkit dari dipan ke kamar mandi. Mereka menyarankan sang mantan almarhum untuk mengambil air wudu dan mengajaknya ke rumah ibadah.

Aku tak perlu ikut ke masjid. Tak seorang pun membicarakanku. Aku menyingkir ke dapur, menyelinap ke luar, melenting ke dinding rendah pembatas, dan masuk ke rumah sang Pengarang. Dialah pemilikku sejati. Biarlah para tetangga sibuk dengan berita baru.

Merasa tugasku telah selesai, aku mengambil tempat di lingir jendela dan melelapkan diri. Bukan tidur sebenarnya, tetapi sibuk mengunjungi kejadian di masa lalu dan masa depan. Membiarkan sang Pengarang mendengar dengkur halusku. Tampaknya ia leluasa meneruskan tulisannya, mengembangkan inspirasi yang kutiupkan melalui gelombang pikiran, merasuki benaknya.

"Sudah sampai, Amber! Dokter akan menyelamatkanmu!" kata sang Pengarang demikian optimistis. Sebagaimana yang dia tuliskan dalam sebuah cerita, kaumku selalu memiliki serep nyawa. Ia memang telah membuktikannya. Dalam catatannya aku sudah dua kali mati-tepatnya seharusnya tewas jika tak diselamatkan.

"Kenapa ini?" tanya dokter hewan jaga. Aku sendiri heran, yang berlangsung di luar pelupuk mata, terlihat terang benderang. Siapa bilang aku tak bisa melihat tubuhku secara utuh?

"Pendarahan!" Sang Pengarang tidak mengarang cerita, melainkan menyampaikan fakta-fakta. "Pagi tadi dia terlihat loyo, padahal semalam masih bercanda dengan si jantan. Baru dua langkah berjalan, ambruk lagi. Tidak mau makan. Selepas siang saya lihat kencingnya bercampur darah. Dia sudah disuntik vitamin dan antibiotik. Kami sedang menunggu reaksinya. Jam 8 tadi dokter di pet shop memberi tahu bahwa dia mengalami pendarahan dan disarankan agar dibawa ke rumah sakit."

"Saya tak berani mengambil tindakan sebelum di-rontgen.. Nanti kita lihat sama-sama hasilnya."

Setengah jam kemudian sang dokter menjelaskan bahwa kandung kemihku sudah kempis, tetapi ginjal dan liverku bengkak. Sudahlah, semua istilah dan dugaan yang disampaikan dokter hanya mengingatkan aku pada sakit yang panjang. Sakit yang harus kututupi dengan sikap manis, kelincahan, dan cara-cara menarik perhatian yang tak membosankan.

"Boleh ditinggal dulu. Biar kami tangani," kata dokter itu.

Aku tahu, sang Pengarang yang wajahnya tampak lebih tua dibanding tokoh-tokoh sejarah itu merasa berat meninggalkanku dalam ruangan yang dikepung malaikat maut. Sekalipun dia paling pintar menebak peristiwa, menafsir percakapan para raja dan tentara yang mangkat sia-sia, tak pernah bisa melihat aku bercakap-cakap dengan malaikat pencabut nyawa.

Tampaknya aku akan mendapatkan tugas baru.

***

"Tetangga, jika ada Pak Pungut, tolong tunggu saya di rumah. Amber tak tertolong, harus dikubur," sang Pengarang bicara melalui telepon pintarnya.

Tanpa penjelasan lebih lanjut, Tetangga yang semalam mengantar kami ke rumah sakit tahu maksud pemberitahuan itu. Kutinggalkan tubuhku pukul 4 pagi. Sang Pengarang mengikuti permintaan dokter agar mengambil jasadku pukul 9. Semua keterangan medis akan ditulis sebagai laporan kesaksian perawatannya atasku.

Aku tak mungkin lagi menghuni bekas tubuhku yang mengalami rusak organ dalam. Aku tak mau menanggung virus yang menetap dan membuatku tak bahagia.

Ketika tubuhku yang dibungkus mori putih sampai di rumah sang Pengarang, Tetangga sedang menggali tanah di bawah naungan pohon cempaka. Aku yang tak bernapas diletakkan di lantai. Jacky melompat turun dari genting, menghampiriku. Mencium tubuhku lalu beralih ke kaki bangku teras. Ia tahu aku duduk di situ.

"Terima kasih," ujar sang Pengarang kepada Tetangga yang kausnya basah keringat. "Kita tunggu Pak Pungut saja. Perlu lebih dalam lagi. Saya tak punya alat selain linggis itu."

"Akhirnya meninggal juga," kata Tetangga, antara menyesal dan lega. Seandainya dia tahu bahwa aku yang menghidupkannya dari kematian setahun yang lalu... Aku sedang memikirkan bagaimana cara dia membalas budi. Utang nyawa dibayar nyawa.

Ketika Pak Pungut tiba, pekerjaan menggali kubur lebih lekas diselesaikan. Lelaki perawat kebun itu memiliki sekop dan cangkul yang tajam. Kedalaman satu meter cukup untuk menghalangi bau busuk tubuhku yang mulai tersiar.

Menjelang perpisahan, sang Pengarang dihinggapi perasaan melankolia. Ia menyematkan dua kuntum lili pada ikatan kafanku.

"Biar aku yang menguburnya," kata Tetangga. Rasanya, gagasan itu merupakan caranya membayar utang.

Tanpa menarik perhatian, di dasar lahat kami bertukar ruh. Tetangga mengikhlaskan diri menginap selamanya di taman sang Pengarang. Pada akhir proses pemakaman, aku yang kini berdiri di samping sang Pengarang mengucapkan doa. Sebetulnya ini berlebihan, tetapi apa salahnya membuat pemilikku berbahagia. Sepanjang kejadian, istrinya yang bekerja dan anaknya yang sekolah tak bisa ikut menemani kecuali mendengarnya secara berkala melalui berita yang disampaikan.

Siang itu, hujan turun menderas menyegarkan gundukan tanah yang mengubur jiwa Tetangga. Aku perlu berlatih menggunakan tubuh baru termasuk menyusun perbendaharaan kata yang sudah terhimpun bertahun-tahun dalam otaknya. Tubuh laki-lakiku ditahan agar tak pulang, toh rumah kami bersebelahan. Hujan sedang menderas pula.

"Lihat, kemarin malam ia masih trengginas..." Sang Pengarang menunjukkan rekaman terakhir kali aku menghiburnya. Mungkin di sana aku abadi. Siapa bilang aku tak bisa melihat tubuhku secara utuh?

Aku mengangguk-angguk dan ikut senang. Ingatanku sepanjang tiga tahun tentu berbeda dengan kenangan yang dimiliki Tetangga selama setengah abad hidupnya. Kesamaan yang kami miliki adalah nilai persahabatan terhadap sang Pengarang.

"Biasanya sore-sore begini dia menemaniku menulis. Kamu tahu, kan?" Sang Pengarang kembali dihinggapi perasaan melankolia. Aku kembali mengangguk.

"Aku ingin tahu tentang mitos sembilan nyawa pada kucing," kata sang Pengarang. Ia menyambung saluran internet. Aku menarik kursi dan duduk di sebelahnya seperti yang biasa dilakukan Tetangga saat bertandang ke rumah ini.

Sang Pengarang tekun membaca. Tak lama lagi aku pun akan mampu membaca.

Setengah jam kemudian, sang Pengarang menunjukkan sesuatu: "Lihat, bahkan makhluk itu bisa masuk ke raga yang lain untuk melanjutkan hidup!"

Aku hampir mengaku, tetapi mengurungkan niat. Aku tak ingin melukai perasaannya, misalnya dengan memilih kehilangan Amber atau Tetangga. Terutama karena aku belum menguji suara yang keluar dari mulutku.

"Dari tadi kamu diam saja..." Sang Pengarang menatapku. "Jangan ikut sedih. Mudah-mudahan aku segera bisa melupakannya."

Oh, kini aku yang mendadak sedih.

"Aku harus menuliskan kisah Amber," sang Pengarang berjanji. "Roda mobilku pernah dua kali melindasnya. Sampai rahimnya harus diangkat. Meskipun kecelakaan tak sengaja, aku merasa berutang nyawa."

Aku mengelus-elus pundaknya, sampai ia terlihat tenteram. Itulah saatnya aku pamit. Kutunjuk keadaan di luar jendela.

"Terima kasih telah membantu dan menemaniku," katanya tersenyum getir. Seolah ini hari yang sangat berat.

Aku meninggalkan serambi rumah sang Pengarang, akan membiasakan alamat baruku. Sambil bersijingkat di bawah rintik gerimis, tak sadar aku mengeong.

Kudengar bunyi tergesa sang Pengarang membuka pintu depan dan melongokkan kepalanya. "Amber?"

Cibubur, 31 Maret 2018

Kurnia Effendi menulis cerpen dan puisi sejak 1978. Telah menerbitkan 21 buku dalam aneka genre (puisi, cerpen, novel, esai, dan memoar). Kumpulan cerpennya Kincir Api (GPU, 2005) masuk short list Khatulistiwa Literary Award 2006, dan kumpulan cerpennya Anak Arloji (Serambi, 2011) mendapatkan penghargaan sastra dari Badan Bahasa pada 2013. Pada 2017 mengikuti program residensi penulis Kemdikbud dan memilih negeri Belanda untuk riset calon novelnya tentang Raden Saleh.

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed