DetikHot

art

Leluhur

Sabtu, 07 Jul 2018 11:07 WIB  ·   Jeli Manalu - detikHOT
Leluhur Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Jakarta - Aku di dalam sopo (gubuk) dengan jemari yang selalu siap menarik tali hotor-hotor, manakala burung silopak melayang ke bulir-bulir padi. Kulongokkan kepala. Kupandangi sekeliling yang tak lagi sehijau dulu. Hutan tampak bergelombang, pada bagian tertentu tumbuh-tumbuhan dipenggal tubuhnya. Ditebangi sembunyi-sembunyi. Pohon kemenyan kami diam-diam dimusnahkan. Sangkanya kami tak tahu? Sangkanya roh leluhur tidak jadi mimpi dalam tidur kami.

Keluar aku dari pintu sopo tak berpenutup. Kusisihkan daun-daun padi agar tidak basah, agar betisku tidak gatal karena aku pakai celana panjang yang digunting sampai lutut, dan yang dari lutut hingga ke ujung itu dijadikan ibu orang-orangan sawah. Pikirku, barangkali saja ada silopak yang kukira tak ada, ternyata asyik memberangus bulir-bulir padi karena telinganya telah kebal oleh berisik batu dalam kaleng susu.

Aku menjalani pematang sawah. Kutelusuri lapis demi lapis batang padi sambil berucap, "Hus, hus!" Sayup-sayup terdengar suara seruling bapak, seruling bambu yang belakangan sering digunakan ibu sebagai penawar rindu, atau peredam sakit hatinya kepada orang-orang asing itu. Pagi selepas menyendokkan gula pasir ke cangkir berisi bubuk teh yang direbus terlebih dahulu, ibu menyanyikan lagu O Tano Batak. Di sana, di antara bulir-bulir padi yang isinya masih susu, pelan sekali aku turut menyanyi sembari tak lupa meneriaki silopak di sela-sela menarik napas.

Hama sayap merah kupelintir. Isi perutnya muncrat. Aku mengibas-ngibaskan tangan agar baunya yang menusuk hidung itu lenyap. Tapi, darahku berdesir tidak biasanya. Bulu kudukku seakan tertarik dari kulit. Suara ibu lirih di sana: O tano Batak haholonganku, sai na masihol do au tu ho. Dang olo modom, dang nok matakku, sai namalungun do au, sae naeng tu ho (Hai tanah Batak yang kucintai, aku merindukanmu. Aku tak bisa lelap, mataku tak mau tertidur. Aku rindu padamu, selalu rindu padamu).

Apa ia sedang merayakan pedih ini? Tanyaku, menahan sesuatu yang kian bergejolak di dada. Kepadanya seperti digaritkan sebilah benda tajam, dan mengucurlah sesuatu yang basah dan amis. Aku ingat pagi itu, bapak terbangun dari tidur yang demam dan bicaranya sangat keras, "Muruk sahala ni opputa," bapak berkata, roh leluhur sudah marah, maka itu kami tak boleh membiarkan para penguasa itu membabat pohon-pohon kemenyan begitu saja.

Tapi, selalu saja kami kalah. Selalu mereka bilang telah ada izin. Juga, mereka itu kerap berkata hanya menggarap lahan yang belum dipunyai oleh siapa kemudian menganggap pohon-pohon kemenyan kami yang bahkan ukurannya dua kali pelukan orang dewasa itu merupakan pohon yang tumbuh dengan sendirinya. Katanya, itu semacam sesuatu yang lahir dari kotoran burung maka siapa pun berkuasa terhadapnya.

Kehidupan makin susah. Penduduk desa jadi budak orang-orang kaya di kota, sekadar mendapat upah kecil untuk memenuhi kebutuhan hari-hari. Ada juga yang jadi buruh pabrik. Ada pula yang menjadi pengkhianat; mereka berbalik membela orang-orang asing itu dengan cara menghajar warga sewaktu ada yang mencoba menghalang-halangi, karena sudah dibayar terlebih dahulu.

"Tunggulah sampai Bapak sehat," ibu membujuk bapak sambil membalurkan ramuan obat ke seluruh badan yang malam sebelumnya bapak mengeluhkan ngilu-ngilu, katanya, seperti ada yang merasuk serta menjalar-jalar. Ito-ku (abang) si Parutusan lagi mengasah pisau penyadap kemenyan saat itu. Aku menjemur kain di tali yang terbuat dari rotan lalu tiba-tiba tali penjemuran itu putus dan bapak berdiri sempoyongan karena kaget.

O tano Batak haholonganku --masih terdengar ibu yang memainkan seruling bapak-- entah sudah berapa putaran ia melagukannya. Aku sendiri terus menyisir pinggir-pinggir sawah. "Hus, hus, hus!" seruku tiga kali. Kesal aku setelahnya. Panas hatiku dibuatnya, kapan silopak, burung yang bagian kepalanya putih dengan rakus mematuk bulir-bulir padi kami yang isinya masih susu. Ia bukan hanya mengambil bulirnya saja, namun tanpa perhitungan burung-burung mematahkan tangkai padi dan bahkan pokok-pokoknya bertumbangan. Atau, bukan hanya silopakkah itu? Mungkinkah ada hewan jenis lain yang kehabisan makanan di hutan kemenyan sehingga ia merusak tanaman?

Perasaanku kian menggemuruh. Tanganku gemetar dan dingin. Jari kakiku mencengkeram tanah, berjaga-jaga seandainya saja terpeleset saat mendongak, serta menarik napas sedalam-dalamnya agar air yang hampir pecah itu kembali lagi ke ceruk mataku. Aku tak ingin bila nanti mataku kedapatan merah dan sayu.

Namun, tetap saja kelopak mataku basah. Aku teringat lagi saat bapak demam tinggi tujuh bulan lalu, ia memaksa akan ke hutan kemenyan selepas tali penjemuran dibaguskan ito-ku, si Parutusan. Dari bilik ibu membawakan selembar ulos warna hitam kemerahan. Dililitkan ulos itu ke kepala bapak dimulai dari dahi. "Ayo, Parutusan, bawa parangmu" ujar bapak, "Kita tak boleh lagi membiarkan 'babi-babi' itu bebas berkeliaran."

Bapak mendatangi satu per satu warga. Aku gemetaran melihat ibu yang juga gemetaran meski kami berpura-pura dengan perasaan sendiri. Beberapa kepala keluarga beserta anaknya yang sudah besar turut di belakang bapak. Bapak bilang, mulai hari itu semua laki-laki harus bergantian menjaga hutan. "Sudah cukup Belanda menjajah kita," seru bapak dengan suara seperti tercekik menahan sakit. "Masa bangsa sendiri menjajah negerinya? Bangsa apa itu? Bangsat!"

Orang-orang yang setuju dengan bapak gegas mengambil parang dan sejenisnya. Beberapa lainnya diam membisu, barangkali memang bukan membisu, melainkan diam-diam memikirkan cara agar informasi segera sampai ke telinga si orang asing.

Esok harinya ramai kabar bapak dan ito-ku si Parutusan telah berakhir. Kata warga yang berhasil meloloskan diri, mereka ditangkap polisi. Dimasukkan ke dalam truk dengan kedua tangan serta kaki dirantai. Orang-orang asing itu menuduh bapak dan ito-ku menganiaya pekerja yang sedang membuka lahan. Dibuat babak belur mulutnya. Digaritkan pisau penyadap ke dadanya. Mana buktinya? Bapak bukan orang jahat. Ia hanya sedang marah. Hanya sikukuh mempertahankan warisan leluhur yang dari sananyalah kami bermula.

Saat hutan yang tampak menggelombang dari kejauhan itu kami kira disebabkan oleh suatu penyakit sehingga pohon-pohon mati dengan sendirinya, kami segera berkumpul untuk melakukan ritual doa kepada Mulajadi Na Bolon. Para perempuan menumbuk beras merah, dijadikan itak gurgur. Laki-laki menyembelih seekor kerbau gemuk yang sehat kemudian dimasak dengan bumbu kuning. Namun, sewaktu kami sudah di mulut hutan lalu menjelajahi tubuhnya yang tak lagi sehijau dulu, hati kami remuk seremuk-remuknya. Hutan ternyata telah tergantikan oleh tanaman eukaliptus. Itu milik negara, katanya, semata-mata demi kesejahteraan nusa dan bangsa.

Sementara beberapa minggu sebelumnya kandang ayam kami kemasukan seekor harimau. Ayam-ayam dirobek lehernya. Ditarik kulitnya. Telur-telurnya diinjak. Aku dan ibu membekap mulut agar tak ketahuan karena si raja hutan tampak mendorongkan moncong ke pintu. Ia mendengus-dengus. Mengaum, membuat bulu kuduk kami berdiri dan kami terus mengisutkan badan di antara kain-kain yang belum sempat dilipat.

Tiga hari kemudian harimau datang lagi. Ia tidak mengganggu hewan ternak. Ia hanya kelihatan seperti sedang mengamat-amati. Lama ia berbaring di tengah perkampungan, dan sebisanya seluruh orang tak membuat sekecil apa pun benda untuk bunyi. Lalu harimau tiba-tiba lenyap, padahal mata kami tak bergeser sedetik pun dari lubang pengintaian.

Seruling bapak yang tadi dimainkan ibu sudah tak ada suaranya. Aku balik ke sopo. "Hus, hus!" teriakku, kesekian kalinya. Kutarik tali hotor-hotor sambil teringat pernah nyaris putus asa lalu meminta ibu agar membolehkanku bekerja di perkebunan. "Ibu dan Bapak tak mendidikmu agar jadi pengkhianat, Butet. Orang setia rela mati kelaparan," jawab ibu dengan gigi bergemelutuk, membuatku ingin nangis dan menghambur ke peluknya.

"Sudah lapar kau, Butet?"

"Belum Ibu minum teh manisnya?" aku bertanya balik mengalihkan pikiran ibu yang kutahu sama kacaunya denganku. Tadi kami hanya sarapan ubi kayu rebus. Siang ini seharusnya aku ke kilang padi, meminjam beras ke si pemilik kilang, yang nanti seusai panen akan kami ganti seluruhnya.

Aku lalu mengambil goni agar segera pergi. Segelas air kuteguk cepat saat kurasakan kepalaku sedikit menggasing disertai pandangan yang berbintik-bintik. Aku menggeliat, antara gerah dan dingin dan kehausan. Ibu mengambil air lebih banyak lagi, bahkan menyiramkannya ke sekujur diriku. Kulihat mata ibu yang melotot saat seberkas cahaya hijau memasukiku, aku tak bisa menebak apa yang terjadi.

Tak lama sesudahnya, di hadapan ibu mendadak ada sebatang pohon besar berukuran dua kali pelukan orang dewasa. Sebatang kemenyan yang pada akarnya dulu ari-ari leluhurku ditanam di sana.

Catatan:
1. Hotor-hotor: alat pengusir burung.
2. Ulos: kain tenun Batak
3. Itak gurgur: penganan yang diolah dari beras tumbuk dicampur kelapa dan gula merah.
4. Mulajadi na Bolon: Sang Pencipta.

Riau, Nopember 2017

Jeli Manalu buku kumpulan cerpennya berjudul Kisah Sedih Sepasang Sepatu segera terbit

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed