DetikHot

Cerita Pendek

Anggota Kongsi Kematian

Sabtu, 14 Apr 2018 10:08 WIB  ·   Yetti A.KA - detikHOT
Anggota Kongsi Kematian Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Jakarta - Pada waktu itu, ayahku pemilik satu-satunya toserba yang nyaris bangkrut di kawasan tempat tinggal kami. Ia menjual segala macam kebutuhan rumah tangga di toserba itu; barang pecah belah, sembako, baju, sepatu, perlengkapan bayi, alat kosmetik, aksesori, susu-segala macam merek susu.

Selain mengurus toko, ayahku menjadi anggota kongsi kematian. Ayahku sering bertugas mengumpulkan dana kesedihan bagi siapa pun yang meninggal dunia tanpa memandang agama dan tingkat kehidupan sosial. Ketika ayahku melakukan tugasnya, aku melihatnya seperti orang suci yang berjalan dari rumah ke rumah dan meninggalkan doa-doa keberuntungan di tiap pintu yang ia kunjungi. Umurku sepuluh tahunan dan aku sering membuntutinya. Ayahku tidak pernah mengizinkan aku ikut bersamanya. Ia berkilah, "Kau bukan anggota kongsi kematian. Tugas yang cocok untuk anak-anak adalah belajar dan bermain." Ayahku seolah mengabaikan fakta kalau aku sudah terlalu banyak belajar, sudah terlalu banyak bermain.

Ibu memberiku sebuah kitab untuk menyembuhkan rasa kecewaku atas penolakan Ayah dan aku mulai mempelajari sendiri kisah-kisah orang suci dan para nabi. Aku cukup puas dengan kesibukan baruku itu dan setelahnya hanya sesekali saja membuntuti ayahku.

Adikku pernah bertanya kepadaku, "Apakah kau bahagia punya ayah seperti dia?"

"Tentu saja," kataku cepat tanpa benar-benar tahu apakah aku memang bahagia atau tidak. Aku ingat, Ayah sering mengajak kami memancing, mewariskan beberapa pelajaran tentang cara memenangkan perkelahian, dan selalu memberi hadiah Natal yang memuaskan. Selain itu, ayahku tidak pernah memukul kami. Temanku sering menunjukkan bilur-bilur merah di punggungnya karena dipukuli ayahnya yang pemabuk. Maka, aku pun menambahi kalimatku, "Kita harus merasa beruntung memilikinya. Ayah tidak pergi mabuk. Tidak berjudi. Ia telah mengurus kita. Ia bekerja keras untuk keluarga ini."

"Entahlah, aku tidak terlalu yakin," kata adikku menyeringai.

Setelah adikku melontarkan pertanyaan itu, aku jadi benar-benar memikirkan ayahku dan kegiatan sehari-harinya. Pukul lima, ayahku sudah bangun. Ibuku yang lebih dulu bangun meminta Ayah untuk menyiapkan air panas di kamar mandi. Aku dan adikku harus berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali. Kami selalu tidak tahan mandi air dingin pada pagi buta. Nenekku bilang itu karena salah ibuku yang selalu memandikan kami dengan air panas dari bayi hingga tumbuh menjadi bocah. Begitu kami mencoba lepas dari air panas, semua sudah terlambat. Selama seminggu, Ibu memaksa kami mandi air dingin dari keran. Tubuhku rasanya membeku. Tubuh adikku gemetar tiada henti. Ibuku terpaksa kembali menyiapkan air panas untuk kami, seterusnya dan seterusnya, hingga kami memiliki keran yang bisa diputar-putar untuk mengatur tingkat panas yang diinginkan dan ayahku tetap menjadi seorang pengendali atas air itu. "Jangan sampai terlalu panas," kata ibuku. "Ya," kata ayahku.

Ayahku sudah lama belajar menjadi seorang ayah yang terlibat dalam mengurus anak-anak. Ia sama sekali tidak keberatan memandikan aku dan adikku waktu kami bayi dan menyiapkan air panas bila diminta ibuku. Nenekku bilang, "Putraku tidak dilahirkan untuk melakukan semua itu." Ibuku punya pandangan bahwa hari ini sudah terjadi kesetaraan antara lelaki dan perempuan dalam mengurus pekerjaan rumah. Nenekku mulai menyalahkan buku-buku yang dulu sering ibuku pinjam di perpustakaan gereja.

"Bagaimana bisa rumah ibadah mengoleksi buku-buku yang menyesatkan seperti itu," sungut nenekku. Ia membincangkan soal kelakuan ibuku itu dengan anggota klub gosipnya. Aku tahu itu dari temanku yang mengatakan neneknya bercerita tentang ibuku yang berkelakuan amat buruk setelah membaca banyak buku. Temanku itu memberi tahu jika tidak ada tindakan amoral yang terjadi di lingkungan tempat tinggal kami, maka anggota klub gosip itu terpaksa mengeluarkan aib keluarga masing-masing dan para menantu merupakan sasaran utama.

Akan tetapi, menurut ayahku, ia melakukan semua itu karena ia mencintai kami, aku dan adikku. Seperti juga ia nyaris punya alasan sama kenapa mau menjadi seorang pengumpul uang kesedihan bila ada yang meninggal dunia. Kata ayahku, "Itu karena rasa cinta kepada sesama."

Ibuku selalu menghadiahi ayahku sarapan roti dengan selai kacang. Ayahku mungkin menginginkan selai yang lain, tapi ia tidak pernah mengatakannya. Aku pernah melihat ayahku diam-diam mengambil roti sendiri dan mengolesinya dengan selai nanas saat ibuku sedang mengunjungi saudaranya. "Kenapa Ayah tidak mengatakannya kepada Ibu?" tanyaku. Ayahku bilang kalau ia tidak ingin merusak tatanan. Aku tidak mengerti apa yang dimaksud ayahku dengan tatatan itu dan tidak pernah menanyakannya. Adikku bilang, "Mungkin Ayah malas bertengkar." Aku menduga, ayahku lelaki baik hati yang tak mau menyakiti seorang perempuan.

Ibuku menikah dengan Ayah saat ia berusia sembilan belas tahun. Waktu itu ia seorang penyanyi gereja yang hidup hanya untuk memuja Tuhan. Ayahku tidak pernah meminta ibuku menjadi pacarnya. Ibu ayahku-nenekku itu-yang datang kepada ibuku dan menyodorkan ayahku yang terlalu pemalu. Ibuku tidak jatuh cinta kepada siapa pun, selain kepada guru olahraganya saat ia duduk di kelas tiga sekolah dasar. Guru olahraga itu menikah dengan guru sejarah di sekolahnya dan satu tahun kemudian mereka memiliki anak perempuan dan ibuku menjadi pengasuh bayi itu setiap jam sekolah berakhir. Ibuku memutuskan akan menjadi pelayan bagi keluarga guru yang dicintainya itu. Namun, karena ia masih kecil dan belum berhak membuat keputusan sendiri atas hidupnya, satu minggu kemudian ia dipaksa pulang oleh ibunya-nenekku dari garis ibu yang meninggal dunia sebelum aku lahir-dengan menarik pergelangan tangannya keras-keras dan ia menangis sepanjang jalan. Enam bulan setelah itu, guru olahraga yang dicintainya pindah ke sekolah di daerah lain dan mereka tidak pernah bertemu lagi. Selama bertahun-tahun ibuku tetap mencintai gurunya itu, hingga ia mulai rajin datang ke gereja dan menjadi salah satu penyanyi yang tampil pada hari Minggu dan hari-hari penting keagamaan.

"Jadi Ibu tidak pernah jatuh cinta kepada Ayah?" tanyaku ingin memastikan lagi.

Ibuku menggerakkan kepalanya dengan air muka menyesal. "Tapi, ayahmu begitu baik dan aku menyukainya," katanya menghibur hatiku.

Sementara itu, Ayah jatuh cinta kepada ibuku karena sepatu pantofel model lama warna hitam dan kaus kaki putih panjang yang sering dipakainya ke gereja. Tidak ada gadis yang seaneh ibuku di matanya. Sayangnya, setelah menikah, ibuku tak pernah lagi memakai sepatu dan kaus kakinya. Tak lama, ayahku menemukan alasan lain untuk terus bersama ibuku, yaitu kelahiranku, disusul kelahiran adikku. Dua anak lelaki sudah cukup bagi ayahku untuk menjadi pria paling bahagia di dunia.

Tidak sepanjang hari ayahku berada di toserba milik kami; bangunan bertingkat tiga yang terletak di pertigaan jalan dengan cat oranye yang abadi. Kadang-kadang ia ke sana pukul delapan dan menghilang selama beberapa jam untuk berbagai urusan dan baru kembali lagi di sore hari. Ayahku mengawasi keuangan toko dengan ketat. Ia tidak ingin kehilangan sepeser uang pun dari usaha itu.

"Ayahmu bukan pelit," kata ibuku, "Ia hanya memegang prinsip perniagaan." Selain berada di toko, ayahku sesekali mengunjungi sahabat lamanya yang tergabung dalam kongsi kematian. Bila bertemu, mereka lebih banyak membicarakan tentang siapa yang mati hari ini dan siapa lagi yang akan segera menyusul-ini tentu saja Nenek yang menceritakannya kepada kami karena ia kurang berkenan atas kegiatan ayahku dan berharap kami bersikap sama. Ayahku sangat menyukai tugas mengumpulkan dana kesedihan-katanya, dengan cara itulah ia mengisi kekosongan jiwa.

Kongsi kematian itu sendiri hanya beranggotakan laki-laki dewasa. Bila ada yang meninggal dunia, mereka langsung mengambil tugas masing-masing. Dari mengumumkan kematian itu kepada seluruh warga, membantu keluarga yang sedang berduka menyelenggarakan ritual keagamaan untuk jenazah, mengumpulkan santunan, hingga mengantar mayat itu ke peristirahatan terakhirnya. Dan keahlian ayahku hanya soal pengumpulan dana itu saja. Hidup ayahku memang tidak pernah jauh dari sesuatu yang berbau uang. Yang dilakukan ayahku hanya berdiri di pintu dan menunggu pemilik rumah menyerahkan dana suka rela ke dalam kantong hitamnya dan segera berlalu untuk kemudian mengetuk pintu berikutnya. Mungkin karena itulah ayahku menyukai pekerjaan itu. Ia tak perlu menjelaskan apa-apa sebab semua orang sudah mengerti tentang kewajiban sebagai warga. Ayahku bukan orang yang pintar bicara dan berbasa-basi-kecuali kalau ia berhadapan dengan relasi dagangnya atau karyawan di toserba kami.

Di lingkungan tempat tinggal kami, rasanya, orang mati setiap hari. Itu tentu pernyataan yang sudah kulebih-lebihkan. Aku memang berbakat soal itu. Ketika ayahku berkeliling mengumpulkan dana santunan, kukatakan kepada ibuku saat melakukan tugasnya itu tubuh Ayah diliputi cahaya keemasan dan ia tak menjejakkan kaki di atas tanah. Ibuku langsung membuat doa untuk ayahku. "Semoga ayahmu berumur panjang," kata ibuku takzim.

Tidak lama setelah aku membual tentang ayahku itu, ia ditemukan mati di ruang pribadinya di lantai tiga toserba milik kami. Nenekku orang pertama yang membawa kabar itu kepada ibuku. Ia pulang tergopoh-gopoh dan berdiri di pintu dan berseru, "Kau tahu, putraku baru saja ditemukan mati di toko yang sangat dicintainya." Ibuku menghentikan kegiatannya. Aku dan adikku belum pulang dari sekolah-cerita soal nenekku yang pertama kali membawa kabar kematian ayahku itu, dikisahkan Ibu setelah kami dijemput di kelas.

Aku menangis dan menangis. Adikku hanya menangis saat Ayah akan dikuburkan. Nenekku pingsan lima kali. Ibuku diam dan berdoa tiada henti.

Setelah Ayah tidak ada lagi, aku kerap berdiri di dekat jendela kamarku dan melihat ayahku berkeliling mengumpulkan uang kesedihan dari rumah ke rumah. Ayahku, dalam pandanganku itu, benar-benar diselimuti cahaya keemasan dan kakinya tidak menginjak tanah. Aku memanggil-manggilnya. Ayahku tidak pernah menoleh ke arahku.

Ibuku kembali mengenakan sepatu pantofel dan kaus kaki putih panjangnya saat ke gereja. Adikku lebih menurut kepada ibuku dan sikapnya jauh lebih manis dari biasa. Nenekku semakin banyak menghabiskan waktu di klub gosipnya. Aku tidak lama lagi akan belajar dengan keras cara mengurus toserba milik kami dan mungkin suatu hari nanti menjadi anggota kongsi kematian dan bertugas mengumpulkan dana kesedihan dari rumah ke rumah.

Satu sore, nenekku pulang dan berdiri di pintu, "Kalian tahu, lelaki yang mati di toserba itu setiap malam gentayangan di pintu-pintu rumah warga untuk mengumpulkan dana kesedihan bagi dirinya sendiri." Ibuku buru-buru memapah nenekku yang dianggapnya pikun begitu cepat setelah kematian Ayah.

Rumah Kinoli, 2017

Yetti A.KA buku kumpulan cerpen terbarunya Seharusnya Kami Sudah Tidur Malam Itu dan Penjual Bunga Bersyal Merah (2016). Novel terbarunya Peri Kopi terbit tahun lalu

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed