DetikHot

art

Jalan Kematian

Sabtu, 31 Mar 2018 08:06 WIB  ·   Dadang Ari Murtono - detikHOT
Jalan Kematian Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Jakarta - Pada hari yang sudah sejak lama kami ketahui akan tiba itu, kakek bangun pagi sekali, lalu mandi dan salin baju yang paling bagus, baju putih lengan panjang dengan sulaman burung derkuku di bagian ujung yang baru kemarin ia beli dari pasar pekanan. Ia mengenakan celana bahan yang juga berwarna putih. Ayah membelikan celana itu sebulan sebelumnya di sebuah toko di kota kabupaten atas permintaan kakek. Selanjutnya, ia menyemprotkan bibit minyak wangi di sekujur tubuhnya, membuat rumah kayu kami terasa pengap.

Kami --segenap cucu dan anak-anak serta menantunya-- yang tak bisa sekejap pun menutup mata malam sebelumnya, selain seorang sepupu yang masih berusia enam tahun, duduk melingkar beralaskan tikar plastik di ruang tengah. Kami sama-sama menundukkan muka, beberapa di antara kami tak kuat menahan tangis dan ratapan. "Terlalu cepat, terlalu cepat, ini semua terlalu cepat."

Ratapan itu telah terdengar sejak beberapa hari sebelumnya, bahkan tak menutup kemungkinan, sejak jauh hari sebelum kami memutuskan berkumpul di rumah ayah, anak pertama kakek. Namun kakek tidak setuju dengan perkataan itu. "Apanya yang terlalu cepat? Aku telah menunggu hari ini selama tujuh puluh satu tahun," kata kakek. Dan ucapan itu disambut ratapan yang lebih menyedihkan. Ratapan-ratapan semacam itu seakan mengulangi ratapan-ratapan sebelas tahun sebelumnya. Hanya saja waktu itu, ratapan tersebut ditujukan kepada nenek.

Kami meluangkan tempat ketika kakek selesai bersiap-siap dan keluar dari kamarnya. Lelaki dengan kepala plontos karena kebotakan itu menyulut sebatang rokok, lalu mengisap asapnya dalam-dalam, seolah hendak mengekalkan kenikmatan yang fana itu. Beliau terlihat begitu tegar. Tangannya bahkan tak tampak gemetar.

"Aku rindu nenekmu," katanya seraya menepuk pundakku. Aku berada tepat di sebelahnya. Bibi, adik kedua ayahku, meraung-raung mendengar ucapan kakek. Suaminya segera memeluknya, berusaha menenangkannya, namun bibiku yang lepas kendali menggigit tangan paman. Ayahku bergerak cepat dengan memegangi kedua tangan bibi yang mencakar-cakar. Tenaga ayah tidak cukup untuk menangani hal itu dan tiga paman yang lain segera turun tangan. Tubuh bibi terguncang meski tangan-tangan kekar telah mendekapnya. "Jangan pergi, jangan pergi!" raung bibi.

Kakek melihatnya sebentar. Lalu menerawang ke langit-langit seraya mengembuskan asap rokok kuat-kuat. "Yang datang akan pergi. Kau sudah tahu itu," katanya, lambat namun mantap. Kami juga pernah mendengar kalimat itu keluar dari mulut kakek ketika melepas nenek. Namun berbeda dengan kini, dulu kakek mengucapkannya dengan suara bergetar dan mata berair.

Itu adalah hari keempat puluh tujuh nenek terbaring di ranjang akibat demam yang parah. Dengan sangat ajaib, nenek bangkit dari ranjangnya, membersihkan diri, bersalin baju terbaik seperti yang dilakukan oleh kakek kini, lalu memulai perjalanannya. "Beginilah akhirnya," sambung kakek waktu itu, "dengan begini ia akan sembuh dari penyakitnya."

Beberapa tetangga terlihat di teras rumah. Pintu depan sengaja dibiarkan terbuka sejak kami berkumpul. Dan sejak itu pula, tak habis-habisnya tetangga berkunjung, cangkruk sampai malam hari, dan baru pulang setelah kantuk tak tertahankan. Dan selalu ada satu atau dua dari kami yang menemani para tetangga bercakap-cakap.

Sementara itu, anggota keluarga yang perempuan menyibukkan diri di dapur, membikin kopi dan camilan di antara tekanan menahan kesedihan atas takdir yang tak bisa dilawan ini. Berslop-slop rokok tak lupa disuguhkan. Tak sedikit biaya yang mesti disiapkan untuk itu semua. Alangkah mahalnya persiapan perjalanan kakek. Namun kami telah mengantisipasi hal itu sejak jauh hari. Kami menabung kopi dan tepung dan rokok. Para tetangga juga tidak datang dengan tangan kosong. Ada saja yang mereka bawa sebagai buah tangan.

Para tetangga menceritakan kisah-kisah lucu kepada kami. Dan semata demi kesopanan dalam menjamu tamu, kami selalu menyambut kisah-kisah itu dengan tertawa. Aku yakin para tetangga mengerti bahwa tawa kami bukanlah tawa yang tulus. Namun, demi kesopanan dan empati, dengan maksud mulia menghibur kami yang tengah bersedih, mereka terus saja mengisahkan banyolan-banyolan. Dan seperti siklus yang tak pernah berakhir, kami meresponsnya dengan tawa terpaksa lagi, tawa yang sesungguhnya membuat kami makin menderita.

Kami tidak keberatan dengan itu. Kami juga selalu melakukan hal serupa bila ada tetangga yang sedang mempersiapkan perjalanan salah satu anggota keluarganya. Ini adalah ajaran yang sudah kami jalani sejak dulu kala. Tepatnya, sejak leluhur kami mengembangkan sayap-sayapnya yang transparan dan melesat ke langit tinggi, lalu mengintip sebuah kitab dan menyalin isinya sebelum kembali ke bumi. Ia melakukannya dengan begitu rapi setelah persiapan matang hingga malaikat-malaikat penjaga langit baru mengetahui bahwa mereka kecolongan jauh hari setelahnya.

Kami yakin, Tuhan sendirilah yang memberitahu para malaikat perihal kebocoran tersebut. Mereka begitu marah hingga menugaskan tiga di antara mereka yang paling kuat untuk mengambil moyang kami pada suatu malam dan menyidangnya tanpa pembela di langit lapis pertama. Moyang kami, yang tak mendapat kesempatan berkelit dari dosa yang telah ia lakukan, hanya bisa pasrah ketika tiga malaikat itu memotong sayap-sayap transparannya menggunakan sembilu bambu betung. Dan begitulah awal mulanya sehingga kami tak lagi bisa terbang.

Namun bukan hilangnya sayap itu yang merupakan hukuman paling berat dari para malaikat, melainkan isi salinan kitab yang dibuat oleh moyang kami. Salinan kitab yang ia upayakan dengan susah payah itu, yang ia maksudkan untuk membuat hidup menjadi lebih tenang dengan mengantisipasi apa-apa yang akan terjadi, ternyata malah membuat anak turunnya dirundung ketakutan dan kecemasan.

Dan kami yakin, dengan pertimbangan bahwa isi salinan kitab tersebut akan bermuara pada ketakutan serta kecemasan, sebuah siksaan tak terperi, para malaikat penjaga memutuskan untuk membiarkannya tetap ada di antara kami, alih-alih mengambil dan memusnahkannya untuk menjaga agar masa depan selamanya misterius. Tiga generasi setelah moyang kami membuat salinan kitab tersebut, menyadari potensi siksaan yang dikandungnya, orang-orang membakar kitab itu dalam sebuah upacara api unggun.

Namun ternyata, hukuman waris itu tidak lantas berakhir. Sesaat sebelum dilahirkan, malaikat akan membisikkan bagian-bagian tertentu isi kitab tersebut di kuping kiri janin yang merupakan keturunan moyang kami. Kami percaya, itulah alasan satu-satunya kenapa setiap janin di kampung kami menangis begitu keras, jauh lebih keras ketimbang janin-janin lain.

Moyang kami, beberapa waktu setelah kehilangan sayap-sayapnya, membangun jalan menuju cakrawala. Awalnya, jalan itu sempit belaka, hanya merupakan jalan setapak. Namun seiring hari, jalan itu bertambah luas dan halus. Dan tidak bisa tidak, itu disebabkan oleh banyaknya kaki-kaki yang pernah melewatinya. Tak ada saksi hidup yang bisa mengatakan dengan pasti sepanjang apa jalan tersebut dan pemandangan seperti apa yang terbentang di ujung sana.

Itu adalah jalan satu arah. Hanya orang-orang yang telah tiba waktunya yang akan menempuhnya, dan mereka, seperti yang kami ketahui, tak akan kembali lagi. Nenek kami telah menyusuri jalan itu. Ayahku, sesuai dengan bisikan yang ia terima sesaat sebelum keluar dari rahim nenek, akan berjalan di sana tujuh setengah tahun dari sekarang, dan aku, entah beruntung entah tidak, akan menempuhnya lima puluh enam tahun lagi.

"Sudah tiba waktunya," kata kakek. Jam di dinding menunjukkan pukul setengah sembilan. Tetangga semakin banyak yang berkumpul. Bibi sudah jatuh pingsan dari setengah jam yang lalu. Dan semua anggota keluarga tenggelam dalam isak. Tubuhku begitu lemah seolah semua tulangku telah dilolosi paksa.

Kakek bangkit dari tempatnya duduk. Mengambil sebatang rokok lagi, menyulutnya, lalu mulai melangkahkan kaki. Paman, adik ketiga ayah, berusaha mencegah kakek dengan jalan memegangi kaki-kaki renta kakek. Itu usaha yang sia-sia. Siapa pun tahu itu. Orang yang telah tiba waktunya tidak bisa dihentikan, meski ia sendiri ingin berhenti. Seperti ada kekuatan ekstra yang menariknya, memberinya tenaga yang tidak bisa ditahan oleh siapa pun, seperti nenek dulu.

Di halaman rumah, para tetangga dengan tertib bergantian menyalami kakek. Mereka meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang pernah mereka lakukan terhadap kakek, baik yang disengaja mau pun tidak.

"Titip salam buat Amak. Katakan bahwa aku baik-baik saja," ujar salah seorang tetangga. Pesan itu diikuti oleh pesan-pesan lain yang serupa dari banyak tetangga yang lain. Kakek tersenyum dan berjanji akan menyampaikan semua pesan tersebut.

Kakek berjalan. Kami mengikutinya dari belakang. Sebelum memasuki jalan itu, beliau menoleh kepada kami, tersenyum, lalu melambai. Kami balas melambai. Kami terus melambai. Dan beliau terus berjalan. Ia tidak lagi menoleh. Dan seorang tetangga, yang berdiri tak jauh dariku, dalam upayanya mengurangi kesedihan kami, tiba-tiba mengatakan sebuah lelucon: di kampung kita, semua orang tahu kapan ia akan mati dan berjalan sendiri ke dunia kematian. Kukira malaikat kematian perlu dipotong gajinya karena ia tak perlu repot-repot menjemput.

Kami berusaha tertawa.

Dadang Ari Murtono lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed