Laporan dari Hong Kong

Seleksi Ketat, Susahnya Galeri Seni Indonesia Masuk Art Basel Hong Kong

Tia Agnes - detikHot
Rabu, 28 Mar 2018 09:21 WIB
Foto: Tia Agnes
Hong Kong -

Dari 248 galeri seni internasional di 32 negara, hanya dua galeri milik Indonesia saja yang berhasil masuk Art Basel Hong Kong. Sepanjang penyelenggaran sampai tahun ke-6 pun, galeri seni Indonesia yang masuk art fair masih hitungan jari. Mengapa?

"Seleksi booth galeri yang di sini itu ketat sekali. Semua galeri di seluruh dunia berebut masuk Art Basel Hong Kong karena jadi pasar Asia terbesar di dunia," ujar pendiri sekaligus pemilik NADI Gallery, Biantoro Santoso di sela-sela private preview, Selasa (27/3/2018).

Setiap tahunnya, galeri yang ingin masuk harus mengajukan proposal yang berisi seniman yang bakal diusung hingga konsep booth. Meski NADI Gallery kerap ikut Art Basel Hong Kong, tak lantas membuat galeri yang berdiri pada 2000 itu langsung lolos seleksi dengan mudahnya.

Seleksi Ketat, Susahnya Galeri Seni Indonesia Masuk Art Basel Hong KongFoto: (Agnes/detikhot)



"Nggak otomatis diundang terus lolos saja. Mereka juga melihat track record kita. Konsepnya apa dan harus lengkap sekali. Cukup ngejlimet juga," tutur Biantoro.

Direktur sekaligus pemilik galeri ROH Projects Jun Tirtadji menambahkan galeri yang didirikannya pada 2012 itu kerap masuk Art Basel Hong Kong karena program 'discoveries'. Program tersebut yang mendukung seniman muda untuk unjuk gigi di tingkat Asia dan dunia.

[Gambas:Video 20detik]

"Ini project khusus untuk Art Basel Hong Kong yang kalau dilihat dari sudut pandang sebagai kelanjutan dari praktik yang sudah ada," kata Jun.

Di setiap Art Basel Hong Kong yang diikuti ROH Projects, galerinya kerap menampilkan mini show dari satu seniman muda. Seperti tahun ini, ROH Projects mengenalkan Faisal Habibi dari Bandung.

Seleksi Ketat, Susahnya Galeri Seni Indonesia Masuk Art Basel Hong KongFoto: Tia Agnes


Selain seleksi yang ketat, ada persoalan lainnya yang membuat susahnya masuk Art Basel Hong Kong. Seperti yang dikemukakan Biantoro, dari art fair yang pernah diikuti NADI Gallery, Art Basel Hong Kong termasuk art fair yang termahal.

Setelah proses seleksi diterima oleh tim kurator, setiap galeri seni harus menyewa booth. Harganya pun tak bisa dibilang terjangkau.

"Di Asia, Art Basel Hong Kong ini yang termasuk termahal. Dari Shanghai sampai Singapura ini yang paling tertinggi. Semua galeri memperebutkan untuk ada di sini," tukas Biantoro.

(tia/doc)